E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Manusia Umat Yang Terbaik

Dibaca: 631 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Nurul Qibtiyah, S.Ag lihat profil
pada tanggal: 2015-08-15 19:42:31 wib


MANUSIA UMAT YANG TERBAIK
Oleh: Nurul Qibtiyah
Manusia berarti makhluk yg berakal budi (kamus Indonesia) dan Menurut pandangan filosof Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia hakekat dasarnya adalah makhluk yang kompetitif, yang senantiasa bersaing. Dalam bukunya, Leviathan, Hobbes menegaskan, manusia itu menurut pembawaan kodratinya bersifat kejam. Dan alam bukanlah merupakan suatu taman firdaus atau lingkungan hidup utopis dan romantis bagi siapa saja yang ingin menikmatinya. Alam hanya dapat dinikmati lewat perjuangan penuh persaingan untuk merebutnya. Maka, seperti dikatakan Hobbes dalam bukunya De Dive, dalam persaingan itu, siapa yang menang, dialah yang dapat bertahan dan dapat menjadi penguasa semesta. (Prabang Setyono, Etika, Moral, dan Bunuh Diri Lingkungan dalam Perspektif Ekologi (Solusi Berbasis Environmental Insight Quotient) . Cetakan 1. Surakarta UNS Press dan LPP UNS. 2011, hal. 28
Dari kodrati manusia tersebut pada dasarnya manusia itu cenderung serakah, suka bersaing dan lain-lain. Maka ketika kita berbicara tentang kodrati manusia tersebut menjadi cambuk bagi manusia untuk selalu meningkatkan diri menjadi umat manusia yang terbaik, sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 110.
  •  ••                     
Artinya: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imran 110).
Dalam ayat ini menjelaskan tentang manusia sebagai umat yang terbaik, meskipun dalam al Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa manusia itu dalam keadaan rugi ( Al Ashr 2).
•    
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”,
Manusia diciptakan oleh Allah yang terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Dengan demikian manusia akan menjadi makhluk yang terbaik jika manusia itu sendiri telah memenuhi syarat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas bahwa manusia adalah umat yang terbaik jika memiliki karakter “menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah”.
Ketika kita berbicara tentang ma’ruf pada manusia ternyata tidak ketinggalan dengan munkar. Antara dua sisi yang berbeda tersebut, sejauh mana manusia bisa menempatkan pribadinya dalam menempa keimanannya kepada Allah swt. Maka derajat manusia itu akan ditentukan oleh manusia itu sendiri dalam menempatkan diri pada prilaku sehari-hari sebagai aplikasi keimanan seseorang, sehingga mampu meningkatkan amar ma’rufnya dan nahi munkarnya.
Keistimewaan dan keunggulan manusia dibandingkan makhluk lain adalah akl yang dibekalkan Allah swt untuk sebagai bekal pemamangku amanah hidup di dunia untuk mencapai tujuan hidup dan juga dibekali buku panduan yaitu Al Quran dan Al Hadits. Akal sebagai alat pengembang diri, tubuh sebagai reliaksi atau diri dan buku panduan sebagai petunjuk pemakaian tubuh dalam menjalani kehidupan di alam semesta yang telah disiapkan oleh Allah swt.
Iman merupakan kekuatan yang kokoh pada diri manusia dalam menjalankan roda amar ma’ruf dan nahi munkar baik untuk diri sendiri, keluarga dan umat serta lingkungan. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat al Anfal ayat 2-5:
                                     
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. * (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. * Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.
Dalam kontek ayat tersebut di atas Allah mempertegas bahwa kesempunaan iman seseorang itu dengan bukti pada perbaikan diri sendiri mulai penataan hati sampai menafkahkan rizki, yang semua deretan tersebut beraplikasi pada ummat dan lingkungan sekitarnya. Sehingga dengan penataan dan peningkatan keimanan seseorang akan mencapai pada target hablun minallah dan hablun minannas. Setelah mencapai hablun minallah dan hablun minannas secara seimbang dengan ibarat 100 % - 100 %, maka derajat sebagai umat yang terbaik sebagaimana firman Allah swt surat Ali Imran ayat 110 di atas.
Pada dasarnya manusia akan mampu menjadi makhluk yang sempurna dan istimewa jika bisa menempatkan diri dalam posisi yang ingin selalu berbuat kebajikan baik untuk diri sendiri, keluarga maupun untuk orang lain. Dari dasar kodrat manusia sebenarnya sangatlah ego dalam pendapat, prilaku, jika seseorang tidak menyadari maka akan mudah sekali terjerumus pada jurang kesesatan.
Meskipun ada yang berpendapat bahwa seseorang janganlah memperbaiki orang lain, namun cobalah perbaiki diri sendiri, sehingga jika semua umat Islam berusaha memperbiki diri sendiri, maka secara otomatis kebaikan akan muncul dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Namun pendapat tersebut tidak menjawab firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 110 di atas.
Dengan demikian gerakan membangun harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan umat serta lingkungan, sehingga islam atau ajaran Islam benar-benar menjadi rahmatallil’alamiin.

Bagikan Artikel ini ke Facebook