E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Lima Nilai Budaya Kerja, Ruhnya Kemenag

Dibaca: 4032 kali, Dalam kategori: Pemerintahan, Diposting oleh: Admin lihat profil
pada tanggal: 2015-08-21 13:51:28 wib


Lima Nilai Budaya Kerja, Ruhnya KemenagMenteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya bekerja dengan makna. Dalam bekerja di Kementerian ini, kita mempunyai ruh. Lalu bagaimana kalau bekerja seperti layaknya mesin, bekerja dari waktu seperti itu tanpa ada jiwa yang menggerakkan. “Kita tidak ingin kerja tanpa makna,” ujar Menag saat memberikan arahan kepada seluruh pimpinan satuan kerja di lingkungan Kemenag Provinsi Jambi yang terdiri dari pejabat eselon III dan IV Kanwil Jambi, Kakankemenag, Kepala KUA, dan Kepala Madrasah negeri, Kamis (20/8).

Dikatakan Menag, untuk mencapai kerja bermakna, dibutuhkan ruh nilai yang mengikatnya dan menjiwainya. Diungkapkannya, langkah pertama berdiskusi dengan seluruh elemen Kemenag termasuk dengan satpam hingga cleaning service melalui diskusi berseri untuk bagaimana Kemenag ini lebih baik. Maka hasilnya diperlukan nilai yang kemudian dirumuskan.

“Harapannya nilai ini jadi jiwa dalam diri kita, bagaimana memaknai kerja di bidang masing-masing dalam ruang lingkup kerja, kemudian muncul 5 nilai budaya yaitu; Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, dan Keteladanan,” tutur Menag.

Diuraikan Menag, nilai pertama yaitu Integritas. Dalam pandangannya kita semiua sudah tahu maknanya. Bedanya dengan mahluk lain, kalau kita kehilangan integritas, maka tidak bedanya dengan mahluk lain. “ Identitas kita ada dalam integritas tersebut,” terangnya.

Kedua, profesionalitas. Dikatakannya, bahwa setiap kita di bidang kita masing-masing, kalaulah kita profesional, yaitu orang yang menguasai tidak sekedar mampu dan mengetahui tapi menguasai di bidangnya, dnan ke arah mana, implikasi, konsekwensi yang muncul, kita memahami betul.

“Kita ingin punya spirit itu, kalau tidak bisa mewujud dalam tindakan setidaknya ada kesadaran dulu,” imnuhnya.

Ketiga, Inovasi. Dijelaskan Menag, di antara beberapa problem kita dalam birokrasi, birokrasi terbelenggu dalam rutinitasnya, yang dia lakukan hari ini, besok melakukan yang sama, begitulah setiap harinya. “Apa bedanya dengan mesin, kita tidak ingin seperti itu,” ungkapnya.

Ia menandaskan bahwa perubahan masyarakat sangat dinamis, maka ironi kalau kita di dalamnya statis. Tuntutan di masyarakat dinamis kita, maka harus muncul dengan kreasi, bagaimana menjalankan fungsi pelayanan dan pembinaan. “Inovatif, keniscayaan harus ada dalam diri kita,” imbuhnya.

Tanggung jawab. Nilai keempat, Menag menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang dilakukan ada tanggung jawab pada manusia dan Tuhan. Menag minta kesadaran harus sudah given. Menurutnya, sudah terlalu banyak pengalaman rekan sejawat yang bermasalah dengan hukum, ini sudah lebih dari cukup, ini setidaknya jangan menambah deretan panjang.

“Sudahilah praktek dan tindakan korupsi, dihentikan. Saya ingin ini bagian dari perubahan termanifestaiskan dalam institusi Kemenag,” Menag menekankan.

Nilai kelima yaitu Keteladanan. Kepada seluruh ASN Kemenag tanpa terkecuali, Menag minta untuk menanamkan dalam diri masing-masing ASN Kemenag, karena persepsi publik bahwa kita ngerti agama. Menag berpesan, untuk menjaga ucapan, prilaku dan tindakan karena dilihat publik.

“Kita dijadikan contoh, rujukan dan tempat bertanya dalam hal tertentu. saya ingin keteladanan jadi nilai dari masing-masing,” harap Menag.

Dengan penanaman nilai budaya kerja sebagai tahap pertama mewujudkan lima nilai budaya kerja dengan pembangunan sistem dan kepemimpinan sebagai tahap kedua dan ketiga, kini Kemenag mengalami perubahan lebih baik.

Menag menjelaskan, indikasi adanya perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu penilaian sejumlah lembaga survei ternama yang menempatkan Kemenag ranking kedua dari 34 Kementerian dengan kinerja yang memuaskan.

“Sekedar tahaddust binni’mah, ada sejumlah lembaga survei ternama menempatkan Kemenag sebagai institusi yang mengalami perubahan mendasar, yang menempatkan dari 34 Kementerian dalam kabimet kerja yang dinilai memenuhi kepuasan masyarakat dengan menduduki ranking kedua setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan,” imbuh Menag.

Menag menilai langkah perubahan yang dilakukan sudah on te track. Menag selanjutnya menjelaskan sejumlah capaian positif. Pelayanan haji kita dinilai banyak perubahan positif. KUA kita sudah dilakukan perubahan mendasar, menjalin kerjasama dengan lembaga PPATK, KPK, ini dilakukan karena tekad untuk menolak gratifikasi. “Perubahan didambakan publik juga kita sendiri,” ujar Menag yang juga menjelaskan bahwa madrasah kita sudah jadi pilihan utama orangtua menyekolahkan anaknya.

“Ada capain kita yang sudah membaik, namun kita tidak boleh berbangga diri, karena ada pekerjaan rumah yang masih banyak ke depan,” kata Menag. (dm/dm).

Sumber: http://kemenag.go.id

Bagikan Artikel ini ke Facebook