E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Kurikulum 2013

Dibaca: 826 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Agus Riyanto, S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-10-16 09:24:38 wib


Kurikulum sejatinya merupakan program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Tujuan yang dimaksud adalah terwujudnya manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU RI No. 20/ 2003). Pergantian kurikulum mutlak diperlukan karena salah satu sifat kurikulum adalah dinamis (menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman).
Mulai tahun ajaran 2013/ 2014, sekolah-sekolah yang menjadi Piloting Project penerapan kurikulum 2013 telah melaksanakannya. Di tingkat Sekolah Dasar, kurikulum 2013 diterapkan pada dua tingkat yaitu kelas 1 dan kelas 4. Bahkan, pada tahun ajaran 2014/2015 bukan hanya sekolah Piloting Project, tetapi hampir seluruh SD sudah menerapkannya untuk 1, 2, 4, dan 5.
Menurut Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan - KIB 2), Kurikulum 2013 ini telah melalui tahapan-tahapan dan kajian yang matang sejak tahun 2011. Sehingga, penerapan kurikulum 2013 ini bukan sesuatu yang dipaksakan dan bukan sesuatu yang membebani sekolah-sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, akan tetapi justru akan memudahkan dan sangat membantu guru-guru dalam pembelajaran.
Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan, antara lain; (1) Jika menurut kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka pada Kurikulum 2013 pola pikir tersebut dibalik; (2) Kurikulum baru 2013 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Sehingga diharapkan, siswa akan memperoleh pengalaman dalam belajarnya. Pengalaman belajar tersebut akan memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap; (3) Didisain berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA. Hal ini bertujuan agar proses belajar siswa menjadi lebih terarah dan tidak menghilangkan pengalaman pada tingkatan belajar sebelumnya, ketika siswa berada ditingkatan lebih tinggi (SMP, SMA, dan PT); dan (4) Dalam kurikulum 2013, yang utama adalah proses belajarnya (analisa), bukan semata hasilnya (mekanisme). Idris harta dan Djumali (2009: 15-19) menuliskan bahwa penekanan pada keterlibatan/ keaktifan siswa dalam proses belajar merupakan gagasan belajar bermakna yang diprakarsai oleh William Brown pada awal abad ke-20. Teori ini kemudian dikenal dengan teori belajar konstruktivisme. Teori ini dikembangkan oleh Brownell, Jean Piaget, Jerome S. Bruner, dan Zoltan P. Dienes. Tiga gagasan dalam teori ini yaitu; a) Pengetahuan tidak diterima secara pasif; b) siswa harus menciptakan pengetahuan yang baru; dan c) pembelajaran merupakan proses sosial.
Akan tetapi, kurikulum 2013 ini bukan tanpa kelemahan. Wuryadi (Ketua Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta) mencatat ada beberapa kelemahan kurikulum 2013, antara lain; (1) Kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan. Hal ini yang menjadi fenomena saat ini, betapa banyak guru yang merasa kebingungan, karena minimnya sosialisasi dan belum siapnya buku ajar dalam bentuk cetak. Padahal, tidak dipungkiri bahwa peranan guru dalam pelaksanaan dan penerapan kurikulum atau dalam pembelajaran merupakan hal paling pokok yang hingga saat ini belum bisa digantikan oleh teknologi paling mutakhir sekalipun.; (2) Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Kesenjangan antara desa dengan kota di Indonesia yang membentang dari Sabang danpai Merauke seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah sebelum menerapkannya; dan (3) Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.
Melihat berbagai penemuan dan argumen diatas, kita bisa mengibaratkan kurikulum 2013 seperti sebuah komputer jinjing (Laptop). Kurikulum 2013 selayaknya sebuah komputer jinjing (Laptop) dengan spesifikasi dan fitur-fitur canggih yang hanya bisa beroperasi jika dioperasikan oleh pengguna yang mengerti dan memahami cara pengoperasian dan pemanfaatan fitur-fitur tersebut. Jika pengguna tidak mengerti dan memahami maka komputer jinjing tersebut hanya akan digunakan sebatas untuk mengetik dan bermain game.
Pengguna dalam pengoperasian fitur-fitur yang ada dalam kurikulum 2013 bertitik berat pada peran seorang guru. Guru harus mau mempelajari, mengerti, dan memahami agar bisa memfasilitasi siswa-siswanya dalam pembelajaran.
Di era teknologi dan informasi yang serba canggih ini, tidak ada lagi alasan seorang guru kesulitan menemukan sumber-sumber belajar, media belajar, materi ajar, dan bahkan sistem penilaian sekalipun. Semua informasi yang dibutuhkan oleh guru sudah difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menerbitkan portal belajar Rumah Belajar ( belajar.kemdikbud.go.id ), sedangkan di Provinsi Jawa Tengah kita bisa mendapatkannya di Jateng Pintar ( pintar.pdkjateng.go.id ). Hanya dibutuhkan kemauan dari guru untuk mengerti dan memahami cara melaksanakan kurikulum 2013, karena semua fasilitas sudah disediakan oleh Pemerintah.
Marilah bersama kita renungkan dengan sesungguhnya dan percayalah bahwa kurikulum 2013 yang direncanakan dan diterapkan ini merupakan cara terbaik pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompetitif.
Kepada sesama rekan guru di Indonesia khususnya di soloraya, jadikanlah suatu kebanggan dalam diri, bahwa kita menjadi bagian dalam sejarah dan perubahan negeri ini menuju kearah kemajuan, dan ingatlah pesan bijak berikut ini bahwa “guru yang biasa, berbicara; guru yang bagus, menerangkan; guru yang hebat, mendemonstrasikan; dan guru yang agung, memberi inspirasi” (William A. Ward dalam M. Furqon Hidayatullah (2009: 1)).

*) Artikel diterbitkan di agusriyanto86.blogspot.com

Daftar Referensi:

Damanik, C. Kelemahan-kelemahan Kurikum 2013. http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/19/12564532/Ini.Kelemahan-kelemahan.Kurikulum.2013 , diakses 23 juli 2013.

Djumadi dan Harta I., 2009. Pendalaman Materi Metode Pembelajaran. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 41 Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hidayatullah, F.,M. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.

Johari, Joy. Keunggulan Kurikulum 2013. http://petir-fenomenal.blogspot.com/2013/03/keunggulan-kurikulum-2013.html , diakses 23 juli 2013.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wibisono Kunto, B. Keunggulan Kurikulum 2013. http://www.antaranews.com/berita/376659/wamendikbud-paparkan-keunggulan-kurikulum-2013 , diakses 23 juli 2013.

Bagikan Artikel ini ke Facebook