E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

UANG, PEMIMPIN DAN KEPALSUAN

Dibaca: 920 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: ONESIMUS OSIAS PULING,S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-10-25 10:40:54 wib


UANG, PEMIMPIN DAN KEPALSUAN
Jangan bingung mengenai uang dalam soal jabatan, baik itu dilingkungan pemerintah maupun dilingkungan swasta. Jangan bingung pula manakala kita merenungkan kembali pengakuan Nicolaas Engelhard, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, dalam memorinya tanggal 15 April 1805. Sebagaimana dikisahkan Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Engelhard menjadi kaya raya karena uang sogokan orang-orang pribumi yang menginginkan jabatan. Seorang pribumi yang ingin memperoleh jabatan memberi upeti kepada dia berupa uang, barang, dan jasa lain, yang jumlahnya sesuai jenjang jabatannya. Untuk satu jabatan yang diincar beberapa orang, dia mendapat upeti dari semua orang itu. Dia tinggal memilih pemberi upeti terbesar untuk menentukan siapa yang layak diberi jabatan.
Ceritanya sama, untuk menyogok, dia harus mengambil uang rakyat. Dan, bila sudah menjabat dia akan mengambil uang negara dan uang rakyat. Jabatan, dengan demikian, bukan amanah untuk kemaslahatan orang banyak, bukan pula untuk kebanggaan demi pengabdian. Jabatan identik dengan uang. Karena itu, harus dibeli dengan uang pula.
Ada pula sebuah kejadian lucu, juga terjadi pada sebuah Perguruan Tinggi Swasta dalam merebut kekuasaan pucuk pimpinan. Waktu itu tampil seorang tokoh yang terkenal di kalangan mahasiswa dan kata-katanya banyak dijadikan pedoman. Dengan gencar dia membuat pernyataan bahwa Si Jagoannya harus menjadi Pucuk Pimpinan. Kalangan mahasiswa pun meramalkan Si Jagoan pasti akan menang. Sebab, bukankah pendukungnya adalah orang terkenal dengan kelicikan? Maka, berjalanlah proses pemilihan. Si Jagoan Menang dengan aklamasi, menurut banyak isu di lingkungan PTS tersebut, dia sudah mengeluarkan banyak uang. Betapa banyak pun dia sudah mengeluarkan uang, kata orang, dia menang karena lawannya tak sanggup mengeluarkan uang lebih banyak. Tokoh yang terkenal pun bisa kehilangan ketenarannya karena uang.
Kira-kira pada Januari 2014 yang mungkin menarik. Tanpa ada yang menggerakkan, di lapangan terbuka di sebuah kampus PTS tersebut, dalam waktu singkat, sekonyong-konyong Puluhan mahasiswa berkumpul, dengan spontanitas tinggi, tanpa direncanakan. Lalu, dengan serempak mereka berjalan mengelilingi kampus dengan menyanyikan lagu "Maju Pasti Menang" yang liriknya secara spontan pula diubah menjadi lirik antipemimpin dalam kepalsuan saat itu.
Mengapa ada gerakan yang demikian spontan? Tak lain, inilah yang dinamakan ketidaksadaran bersama, yang diakibatkan karena UANG, PEMIMPIN dan KEPALSUAN. Para mahasiswa, sebagai bagian masyarakat intelektual, selama bertahun-tahun tidak sadar bahwa mereka sebetulnya sudah tidak lagi menyukai pemimpin yang penuh dengan kepalsuan. Begitu ketidaksadaran ini mencapai titik puncak nadi, meledaklah gerakan spontan dijalan umum dgn nada geram. Inilah yang terjadi pada masa itu: ketidaksadaran bersama telah menggerakkan mahasiswa luas (aliansi mahasiswa) untuk bersatu padu menantang kepalsuan.
Tetapi, akhirnya, dalam keadaan kebingungan, optimisme dari mahasiswa masih muncul juga: The Sun Also Rises, Matahari bagaimana pun akan terbit kembali, demikian juga segala macam kebobrokan dalam Jalan Tak Ada Ujung.
When we meet the end of the way? And, when the Sun soon re rises?
Kapan kita menemukan ujung jalan? Dan, kapan Matahari segar akan terbit kembali?

Bagikan Artikel ini ke Facebook