E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BILANGAN BULAT DAN PECAHAN BERBANTUAN ALAT PERAGA SEDERHANA

Dibaca: 2176 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: MADE CAHYADI,S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-10-25 13:45:27 wib


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  BILANGAN BULAT DAN PECAHAN  BERBANTUAN ALAT PERAGA SEDERHANAUPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
BILANGAN BULAT DAN PECAHAN
BERBANTUAN ALAT PERAGA SEDERHANA


Abstrak
Oleh :
Made Cahyadi
SMP Negeri 4 Tejakula

Penelitian ini betujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII 2 SMP Negeri 4 Tejakula. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dengan 4 tahap yaitu: (i) perencanaan, (ii) pelaksanaan tindakan, (iii) observasi, (iv) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII 2 SMP Negeri 4 Tejakula semester Ganjil tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah 36 siswa yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.
Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar dalam bentuk soal obyektif. Hasil yang dicapai siswa dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah minimal 85% siswa mendapat nilai lebih dari sama dengan 75. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari siklus I dengan rata-rata 69,81 menjadi 88,89 pada siklus II. Dari hasil yang diperoleh diharapkan guru-guru dapat menerapkan model pembelajaran bilangan bulat dan pecahan berbantuan alat peraga sederhana.

Kata Kunci : Alat peraga Sederhana, Hasil Belajar

Abstract
This research aims is to improve the math learning result of the students Grade VII 2 SMP Negeri 4 Tejakula. This research is held in two cycles, each cycle is held with four stages namely: (i) planning, (ii) implementation of action, (iii) observation, (iv) reflection. The subject of this research is the students of grade VII 2 SMP Negeri 4 Tejakula on the first semester academic year 2012/2013 with 36 students which consists of 21 boys and 15 girls.
The instrument used is the result-learning test in the form of objective test. The students` achievement is analyzed in quantitative descriptive way. The achievement indicator in this research is at least 85% of the students get 75 point or more. The result of this research shows that there was an improvement from cycle I, with the average 69,81 to 88,89 in the cycle II. From the gained result, hopefully the teachers can apply this learning model of integer and fraction number with the help of simple media.
Keywords : simple media, learning result


1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Upaya meningkatkan mutu pendidikan merupakan salah satu aspek dalam pembangunan pendidikan Indonesia dewasa ini. Keberhasilan suatu proses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal, antara lain pemilihan media pembelajaran yang tepat, penggunaan model, pendekatan dan metode yang efektif, kesiapan guru dalam mengajar, dan partisipasi aktif dari peserta didik.
Oleh karena itu, agar mutu pendidikan dapat meningkat semaksimal mungkin, seorang guru harus dapat memilih media pembelajaran yang tepat, menggunakan model, pendekatan dan metode yang efektif, membuat persiapan dalam mengajar, dan menciptakan pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan bagi peserta didik.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, yang materinya meliputi fakta, pengertian, keterampilan penalaran, keterampilan algoritmik, keterampilan menyelesaikan masalah dan keterampilan melakukan penyelidikan.
Penyelenggaraan pembelajaran Matematika tidaklah mudah, karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa para siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi matematika. Di samping itu, dalam kegiatan pembelajaran matematika di SMP Negeri 4 Tejakula banyak siswa yang tidak hanya merasa sulit, tetapi juga kurang tertarik terhadap pelajaran matematika. Dalam hal ini penulis berusaha melakukan pendekatan dengan para siswa untuk mencari tahu apa yang menyebabkan mereka merasakan hal seperti itu. Dari hasil pendekatan itu diketahui bahwa ketidaktertarikan pada matematika itu karena mereka merasa matematika merupakan pelajaran yang rumit dan membosankan, sehingga banyak siswa yang tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, akibatnya mereka tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mereka menjadi takut dan tidak suka dengan pelajaran tersebut, bahkan yang lebih parah lagi ada beberapa siswa yang sudah pergi dari rumah mengurungkan niatnya untuk datang ke sekolah karena pada hari itu ada pelajaran matematika. Meskipun demikian ada beberapa siswa yang menyenangi matematika, namun sering kali saat mereka mengerjakan tugas di rumah mereka merasa tidak semudah mengerjakan tugas itu di sekolah, karena mereka lupa tentang konsep pelajaran yang telah diberikan.
Bilangan bulat dan pecahan merupakan salah satu materi yang dipelajari pada mata pelajaran Matematika di SMP, bahkan Kompetensi Dasar pertama yang harus dimiliki oleh seorang siswa SMP pada pelajaran matematika adalah mampu melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan. Namun sangat disayangkan setelah proses pembelajaran selesai dan diadakan evaluasi, ternyata hasil belajar siswa pada KD Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan ini sangat rendah. Memahami konsep cara melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan sangatlah penting, karena selain merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang siswa kelas VII SMP, operasi hitung pada bilangan bulat dan pecahan juga merupakan materi prasyarat bagi siswa dalam mempelajari materi lainnya. Bagaimana mungkin seorang siswa dapat memahami materi lainnya jika materi prasyaratnya saja belum mereka kuasai.
Berdasarkan pengalaman mengajar selama ini, setiap kali memberikan apersepsi tentang operasi hitung bilangan bulat dan pecahan, penulis melihat bahwa kebanyakan siswa tidak menguasai konsep operasi hitung bilangan bulat dan pecahan, bahkan terkadang penulis harus menggunakan waktu yang relatif lebih lama dari waktu yang seharusnya digunakan untuk apersepsi
Beranjak dari kondisi di atas, penulis berasumsi bahwa kemungkinan munculnya permasalahan tersebut antara lain dikarenakan (1) guru tidak menggunakan alat peraga sebagai media dalam kegiatan pembelajaran, (2) model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran selama ini belum efektif. (3) metode yang digunakan selama ini masih kurang tepat. (4) rendahnya motivasi siswa dalam mempelajari matematika. (5) suasana belajar matematika yang tegang dan kurang menyenangkan. (6) siswa masih merasa takut untuk bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahaminya. Sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa pada materi tersebut.
Berdasarkan masalah tersebut maka pemecahan masalah yang digunakan adalah dengan menggunakan alat peraga sederhana dalam pembelajaran bilangan bulat dan pecahan. Model ini diyakini akan dapat menanggulangi permasalahan karena memiliki keunggulan-keunggulan seperti: (1) siswa terlatih untuk mempertanggung jawabkan jawaban yang diberikan, (2) Bekerja secara sistematis dan (3) selalu berpikir tentang cara atau strategi yang digunakan sehingga didapat suatu kesimpulan yang berlaku umum. Hal ini sesuai teori Bruner yang menyatakan bahwa proses belajar terjadi secara optimal jika pengetahuan yang dipelajari dalam tiga tahap, yaitu (1) tahap enaktif, dimana informasi atau pengetahuan itu dipelajari secara aktif oleh peserta didik dengan menggunakan benda-benda kongkrit atau situasi nyata, (2) tahap ikonik, di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk bayangan visual, gambar, diagram yang menggambarkan kegiatan kongkrit yang terdapat pada tahap enaktif, (3) tahap simbolik, di mana pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak ( Bruner dalam depdiknas, 2005 ).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah berikut: Apakah dengan menggunakan alat peraga sederhana dapat meningkatkan hasil belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Dan pecahan siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tejakula. Penelitian tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bilangan Bulat dan Pecahan berbantuan alat peraga sederhana di kelas VII SMP Negeri 4 Tejakula. Manfaat yang akan dirasakan adalah : (1) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada KD Melakukan Operasi Hitung Bilangan Bulat dan Pecahan, menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi siswa. (2) dapat menjadi masukan bagi guru dalam memilih alat peraga yang tepat dalam kegiatan pembelajaran, membangkitkan kreativitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang banyak melibatkan siswa, hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi stimulus bagi rekan-rekan guru yang lain untuk membuat penelitian yang sejenis. (3) Dengan meningkatnya hasil belajar siswa akan meningkatkan mutu sekolah, mendorong terciptanya budaya/iklim akademis di sekolah, dapat memperkaya model dan metode pembelajaran disekolah.
Belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dan hubungan-hubungan serta simbol-simbol, kemudian diterapkannya ke situasi nyata. Schoenfeld (dalam Uno, 2003:25), belajar matematika berkaitan dengan apa, dan bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Hasil utama dari belajar matematika adalah pengetahuan. Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu atau merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung turut memperkaya kehidupan kita. Dengan belajar matematika didapatkan stuktur ilmiah matematika yaitu menyusun atau membentuk pengertian, hubungan antara pengertian, prinsip dan hukum yang berlaku secara umum.
Belajar matematika memerlukan kontinuitas dalam pemahamannya, sebab unit-unit atau bidang-bidang yang dipelajari berkaitan satu sama lain bahkan ada beberapa yang sifatnya berulang untuk dipelajari akan tetapi tingkat pemahamannya yang berbeda sesui dengan tingkat pendidikan yang diikuti. Obyek matematika bersifat abstrak, maka belajar matematika memerlukan daya nalar yang tinggi.
Belajar matematika harus berjenjang dan berstruktur sesuai hirarki, artinya peserta didik belajar matematika harus menggunakan pikirannya dalam memahami matematika dengan mengikuti aturan dan urutan yakni mulai dari memahami unsur-unsur yang tak didefinisikan.
Dengan demikian bahwa belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar terstruktur yang terikat dengan aturan dan urutan yang menuntut aktivitas dan kemampuan berpikir secara logis, analitis, dan kritis dalam memahami keterkaitan antara fakta satu dengan fakta lain, antara konsep satu dengan konsep lain, prinsip satu dengan prinsip lain, operasi satu dengan operasi lainnya, serta menuntut keterampilan peserta didik dalam menerapkan konsep dan prinsip tersebut dalam pemecahan masalah.
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Mempunyai arti kurang lebih prestasi adalah standart test untuk mengukur kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang didalam satu atau lebih dari garis-garis pekerjaan atau belajar. Dalam kamus populer prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai (Purwodarminto, 1979 : 251)
Matematika berasal dari bahasa latin ‘manhenern’ atau ‘mathema’ yang berarti belajar atau hal yang harus dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut ‘wiskunde’ atau ilmu pasti yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Jadi matematika itu memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, terstruktur yang berkaitan antara konsep yang kuat. (Soemadyono, 2003:1).
Alat peraga matematika merupakan alat yang biasanya dipakai untuk membantu siswa dalam memahami sebuah konsep dasar dalam materi pembelajaran matematika sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman materi dalam ruang lingkup dan kesukaran yang lebih tinggi. Peragaan untuk konsep dasar digunakan untuk mempermudah konsep selanjutnya. (http.www.alat peraga.com).
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (constextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Berat rasanya bagi siswa SMP untuk mengkonstruksi sendiri prinsip-prinsip operasi hitung bilangan bulat dan pecahan yang bersifat abstrak tanpa bantuan alat peraga. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana membuat alat peraga yang sederhana, mudah didapat, murah, menarik dan bisa dipakai untuk membantu anak dalam memahami konsep operasi pada bilangan bulat dan pecahan.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Tejakula, Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2012/2013. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Juli 2012 sampai dengan bulan Agustus 2012. Pelaksanaan pada tahap pertama hari Senin, 23 Juli 2012 pada jam pelajaran ke 2,3 yaitu pukul 08.10 – 09.30 wita. Sedangkan pelaksanaan pada tahap kedua pada hari hari Kamis, 26 Juli 2012 pada jam ke 3,4 yaitu pukul 08.50 - 09.50 – 10.30 wita. Maka pada pertemuan selanjutnya dilakukan tes untuk menilai prestasi belajar di siklus I pada hari Senin, 30 Juli 2012. Selanjutnya pada siklus II, pelaksanaan pada tahap pertama pada hari Rabu, 1 Agustus 2012, pertemuan kedua tanggal pada hari Senin, 6 Agustus 2012, pertemuan ketiga tanggal pada hari Rabu, 8 Agustus 2012, dan pertemuan ke empat direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal pada hari Senin, 13 Agustus 2012. Setelah pertemuan keempat selesai, maka dilakukan tes untuk menilai prestasi belajar di siklus kedua. Tes akan dilaksanakan tanggal pada hari Rabu,15 Agustus 2012.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII 2 SMP Negeri 4 Tejakula semester Ganjil tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah 36 siswa yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Adapun pengelompokan peserta didik mempertimbangkan tingkat kecerdasan, jenis kelamin dan sikap berani tampil setiap peserta didik. Penelitian ini dilakukan sebanyak 2 siklus, dimana setiap siklus terdiri dari 4 tahapan kegiatan yakni : perencanaan (planing), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). dengan merancang langkah-langkah pembelajaran pada siklus I, perencanaan yang dilakukan adalah menyusun silabus dan RPP, menyusun LKS dan membuat alat peraga yang sesuai untuk proses pembelajaran, menentukan model, pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan, menyiapkan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran, menyiapkan lembar pengamatan, menyusun soal tes, menyusun rencana pengolahan data. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan sintaks pembelajaran dengan Alat Peraga Sederhana. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan I, dilakukan refleksi sebagai acuan untuk menyusun tindakan II.
Untuk siklus II, perencanaan yang dilakukan adalah menyusun rencana perbaikan yang dapat menunjang tercapainya indikator kinerja, menyusun silabus dan RPP, menyusun LKS dan membuat alat peraga yang sesuai untuk proses pembelajaran, menentukan model, pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan, menyiapkan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran, menyiapkan lembar pengamatan, menyusun soal tes, menyusun rencana pengolahan data. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini juga sama seperti pada siklus I, dimana hasil refleksi pada siklus II ini menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun laporan
Setelah pelaksanaan tindakan, maka tahap berikutnya melaksanakan post test. Post tes berfungsi menentukan tingkat keberhasilan dan pencapaian tujuan tindakan. Selain itu untuk mengetahui jika ada hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan baik yang bersifat positip maupun negatif. Hal ini dilaksanakan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan yang terjadi setelah dilaksanakan tindakan, dalam hal ini proses pembelajaran terhadap hasil belajar.
Analisis dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan pada setiap akhir siklus pembelajaran. Analisis data hasil kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar peserta didik diolah sesuai pemaknaan. Hasil analisis ini digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan tindakan selanjutnya. Adapun klasifikasi sebagai berikut : (90–100) = Baik sekali, (75–89) = Baik. (60–74) = Cukup, (40–59) = Kurang, (0–39) = kurang sekali

3. Hasil dan Pembahasan
Kompetensi Dasar Melakukan Operasi Hitung Bilangan Bulat dan Pecahan merupakan Kompetensi Dasar pertama yang harus dikuasai oleh siswa kelas VII SMP, karena KD ini terdapat pada Standar Kompetensi (SK1) artinya pengalaman belajar yang di dapat siswa pada saat itu akan merupakan pengalaman belajar yang mereka dapatkan pertama kali di SMP. Kesan yang siswa dapatkan pada proses pembelajaran di pertemuan pertama biasanya akan membawa pengaruh pada pembelajaran selanjutnya. Di samping itu, karena berdasarkan pengalaman peneliti pada tahun sebelumnya pada kelas-kelas yang berkemampuan rendah walaupun subyek tidak sama bahwa nilai ketuntasan pada KD ini secara klasikal hanya mencapai 40%, sedangkan nilai tertinggi siswa tidak pernah melebihi 75, dan motivasi belajar siswa untuk materi ini hanya mencapai 60 %, untuk itu tim peneliti berkolaborasi untuk berdiskusi demi membuat persiapan-persiapan yang akan dilakukan selama penelitian, agar nilai ketuntasan pada materi ini dapat ditingkatkan antara lain: (1) Berdiskusi dengan rekan-rekan guru tentang keadaan siswa kelas VII, (2) Menentukan kelas mana yang akan dijadikan sebagai subyek dalam penelitian, (3) Berdiskusi bersama tim peneliti untuk saling berbagi tugas.
Pelaksanaan tindakan siklus I : Menyusun silabus dan RPP yang meliputi: kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup, yang mengacu pada Permendiknas no. 41 tahun 2007, tentang standar proses, Menyusun LKS dan menentukan alat peraga yang sesuai untuk proses pembelajaran. Untuk pertemuan pertama peneliti menggunakan alat peraga charta, sedangkan untuk pertemuan kedua menggunakan media tutup botol minuman, menentukan bahwa model pembelajaran yang akan digunakan pada pertemuan pertama adalah Think Pair and Share, sedangkan pada pertemuan kedua menggunakan model pembelajaran jigsaw, menyiapkan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran yang digunakan observer untuk mengamati proses pembelajaran, menyiapkan lembar pengamatan yang akan digunakan untuk mengamati motivasi siswa, menyusun soal tes yang digunakan setelah pertemuan kedua selesai, berupa soal bentuk pilihan ganda sebanyak 8 buah, menyusun rencana pengolahan data untuk mengetahui ketercapaian indikator kinerja. Sebelum proses pembelajaran dilakukan, pada masa-masa MOS siswa diberitahukan tentang : (1) materi pembelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan pertama adalah tentang bilangan bulat yang sebelumnya juga pernah di kenalkan di SD, (2) membagikan buku paket sebagai bahan reverensi siswa sebelum tatap muka dilakukan. Observer mengamati proses pembelajaran, melalui cara guru mengajar dan bagaimana aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan pengamatan terhadap pelaksanaan tes dilakukan tim peneliti secara bersama-sama. Hasil reflesi pada siklus I antara lain: (1) persentase ketuntasan belajar belum mencapai 75%. (2) siswa yang mengajukan pertanyaan masih kurang. (3) Siswa yang berani menjawab pertanyaan masih sedikit. (4) Kerjasama siswa antar kelompok masih kurang, (5) sehingga tindakan perbaikan pada siklus II difokuskan pada: peningkatan nilai hasil belajar, memberikan tugas mandiri, memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memancing respon siswa agar menjadi lebih aktif, membentuk ulang kelompok. Hasil refleksi pada siklus pertama dijadikan bahan untuk membuat perencanaan di siklus II.
Pelaksanaan tindakan siklus I adalah berdasarkan hasil refleksi Pada siklus I, tim peneliti melakukan tindakan pada siklus II berupa : Mendiskusikan tentang tugas mandiri untuk siswa, Berdiskusi sesama tim peneliti tentang cara memberi pertanyaan yang dapat memancing respon siswa, Menyusun RPP yang meliputi: kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup, yang mengacu pada Permendiknas no. 41 tahun 2007, tentang standar proses, Menyusun LKS dan menentukan alat peraga yang sesuai untuk proses pembelajaran. Untuk pertemuan pertama peneliti menggunakan alat peraga buah apel, pisau dan bambu yang sudah dibalut dengan kertas yang menunjukkan bilangan 1, pecahan , , , dan sedangkan untuk pertemuan kedua, ketiga dan keempat menggunakan bambu yang sudah dibalut dengan kertas yang menunjukkan bilangan 1, pecahan , , , dan , Memutuskan model pembelajaran yang akan digunakan pada pertemuan pertama adalah Think Pair and Share, sedangkan pada pertemuan kedua, ketiga dan keempat menggunakan model pembelajaran jigsaw, Menyiapkan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran yang digunakan observer untuk mengamati proses pembelajaran, Menyiapkan lembar pengamatan yang akan digunakan untuk mengamati motivasi siswa, Menyusun soal tes yang digunakan setelah pertemuan keempat selesai, berupa soal bentul pilihan ganda sebanyak 8 buah, Menyusun rencana pengolahan data untuk mengetahui ketercapaian indikator kinerja. Sebelum proses pembelajaran dilakukan, siswa diberitahukan tentang : (1) Materi pembelajaran yang akan dipelajari pada pertemuan pertama nanti adalah tentang bilangan pecahan yang sebelumnya juga pernah di kenalkan di SD, (2) Model pembelajaran yang akan dipakai pada proses pembelajaran nanti adalah model pembelajaran kooperatif. Observer mengamati proses pembelajaran, melalui cara guru mengajar dan bagaimana aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan pengamatan terhadap pelaksanaan tes dilakukan tim peneliti secara bersama-sama. Hasil refleksi pada siklus II, antara lain : (1) Hasil prestasi belajar siswa meningkat. (2) Jumlah siswa yang bertanya meningkat. (3) Jumlah siswa yang mau menjawab pertanyaan semakin banyak. (4) Kerjasama dalam kelompok semakin tinggi. Hasil refleksi pada siklus kedua dijadikan bahan untuk membuat laporan.
Dari hasil tes hasil belajar pada tiap siklus adalah pada siklus I siswa yang tuntas ada 23 orang (63,88%), sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas mencapai 32 orang (88,89%). Berdasarkan data tersebut, terdapat kenaikan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 25%. Adanya kenaikan persentase ketuntasan menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan peneliti berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa. Dan pada siklus I hanya ada 4 siswa yang memperoleh nilai ≥ 75, sedangkan pada siklus II yang mendapat nilai ≥75 sudah mencapai 13 orang.
Besarnya minat siswa terhadap proses pembelajaran matematika terlihat adanya peningkatan motivasi siswa terhadap pembelajaran matematika sebesar 16,8 %
Berdasarkan analisis data pada siklus I : (1) Indikator kinerja yang pertama pada penelitian ini belum tercapai. Persentase nilai siswa yang tuntas pada siklus I baru mencapai 63,88 %, sedangkan pada indikator kinerjanya 75 %. (2) Pada indikator kinerja yang kedua telah ditentukan harus ada 5 orang yang mendapat nilai ≥ 75, sedangkan pada siklus 1, siswa yang mendapat nilai ≥ 75 baru ada 4 orang.
Berdasarkan analisis data pada siklus II : (1) Indikator kinerja yang pertama pada penelitian ini sudah tercapai, karena persentase ketuntasan siswa pada siklus II sudah mencapai 88,89 %, (2) Pada indikator kinerja yang kedua telah ditentukan harus ada 5 orang yang mendapat nilai ≥ 75, sedangkan pada siklus II, siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sudah ada 13 orang, Artinya indikator kinerja yang kedua juga telah tercapai. Ini berarti penggunaan alat peraga sederhana mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bilangan bulat dan pecahan.

4. Penutup
Adapun yang menjadi kesimpulan dari hasil penelitian tindakan kelas, adalah sebagai berikut : (1) Alat Peraga sebagai salah satu media dalam pembelajaran pada bidang studi Matematika, khususnya, pada KD Melakukan Operasi Hitung Bilangan bulat dan Pecahan ternyata cukup efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa per siklusnya cukup menunjukkan hal yang menggembirakan. (2) Berdasarkan hasil penelitian, terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar matematika dari pra tindakan terhadap pasca tindakan. Ini berarti bahwa alat peraga juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap matematika.
Guru diharapkan dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat, dan menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan agar bisa menarik minat, dan menimbulkan motivasi peserta didik, sehingga peserta didik dapat berpartisipasi aktif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Adapun yang menjadi saran-saran yang dapat penulis kemukakan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut : (1) Guru hendaknya senantiasa membuka diri terhadap penggunaan inovasi pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. (2) Hendaknya guru menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika sesuai karakteristik materi dan peserta didik, (3) dalam proses pembelajaran, hendaknya guru matematika lebih memilih model dan metode pembelajaran yang banyak melibatkan siswa, (4) dalam proses pembelajaran hendaknya guru matematika dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.


DAFTAR PUSTAKA

Edi Prajitno dan Ali Mahmudi, 2002. Media Pemebelajaran, PPPG Matematika : Yogyakarta
Muhibbin (1999).Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Baru). Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Nasution, S (1995). Azas-azas Kurikulum . Bumu Aksara Jakarta
Slameto (1996) , Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya : Bina Aksara Jakarta
Syahbuddin dan Burhanuddin Yasin (2002) Pedoman dan Materi Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas, Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Wahyana (1996) Mengajar Dengan Sukses

Bagikan Artikel ini ke Facebook