E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

“Pendidikan di NTT Memasuki Era Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA)”

Dibaca: 1083 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Semi Ndolu, S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-10-28 09:38:56 wib


“Pendidikan di NTT Memasuki Era Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA)”A. Pendahuluan

Berhenti sejenak di traffic light depan kantor Gubernur NTT sambil mengamati anak-anak usia sekolah yang sibuk menjual koran, cukup memberi daya tarik tersendiri bagi saya selaku seorang guru pendidikan menengah kejuruan di Kota Kupang. Suatu kalimat yang muncul di benak saya adalah “kewirausahaan”. Ya, saya lalu berpikir semestinya Model Pendidikan berwawasan kewirausahaan diberikan pada para siswa sejak dini sebelum mengenyam bangku Perguruan Tinggi. Hal ini penting karena rata-rata mentalitas serta motivasi masyarakat berpendidikan di NTT lebih terfokus untuk menjadi PNS, sehingga hal ini berpotensi pada kurangnya upaya pengembangan potensi diri di bidang kewirausahaan, dan sekolah dijalani yang penting mendapat ijazah. Bisa jadi ini merupakan salah satu faktor pemicu rendahnya mutu pendidikan di NTT karena motivasi belajar yang “salah” tersebut. Hal ini bisa diukur dari Hasil Ujian Nasional 3 (tiga) tahun terakhir misalnya, yang menempatkan provinsi NTT pada posisi tingkat kelulusan siswa terendah nasional. Tahun 2012 sedikitnya terdapat 1.994 siswa atau 5,50% yang dinyatakan tidak lulus ujian nasional dari jumlah peserta UN tingkat SMA/MA sebanyak 36.228 orang. Angka ini jauh dibawah rata-rata nasional 0,50 %. Sementara pada tahun 2011, sebanyak 1.813 orang atau 5,57 % dari 32.532 siswa peserta UN tingkat SMA/MA yang dinyatakan tidak lulus. Sedangkan untuk tahun 2010 sebanyak 18.000 atau 52% siswa peserta UN dinyatakan tidak lulus. Tentunya ini sebuah ironi di tengah gencarnya pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan di berbagai tingkatan.
Untuk itu perlu adanya pencerahan motivasi bagi warga belajar termasuk para stakeholders pendidikan agar mulai mengitegrasikan wawasan kewirausahaan dalam materi pembelajaran di sekolah. Apalagi mulai terbukanya kran pasar bebas yang konsekuensinya adalah tenaga kerja kita dalam berbagai sektor kehidupan harus mampu bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara luar.

B. MENGAPA KEWIRAUSAHAAN ?
Jiwa kewirausahaan tidak tumbuh begitu saja tapi melalui sebuah proses panjang dari sebuah pembelajaran baik secara formal maupun informal, maka dunia pendidikan harus mampu berperan aktif menyiapkan sumberdaya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Ia tidak cukup hanya menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial. Ia tidak hanya mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah/ kuliah, tetapi juga mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan jiwa entrepreneurship (kewirausahaan), yakni jiwa keberanian dan kemauan menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar, jiwa kreatif untuk mencari solusi dan mengatasi problema tersebut, jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Salah satu contoh jiwa entrepreneurship yang perlu dikembangkan melalui pendidikan pada anak sejak usia pra sekolah dan sekolah dasar, adalah kecakapan hidup (life skill).
Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan, adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum terintegrasi yang dikembangkan di sekolah.
Secara sederhana dapat dibuat skema pembagian kecakapan hidup yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, sebagai berikut :









Hal ini penting dipahami sebab pendidik adalah ‘agent of change’ yang diharapkan mampu menanamkan ciri-ciri, sifat dan watak serta jiwa kewirausahaan atau jiwa ‘entrepreneur’ bagi peserta didiknya. Disamping itu jiwa ‘entrepreneur’ juga sangat diperlukan bagi seorang pendidik, karena melalui jiwa ini, para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produktif serta mandiri. Secara detail tak dapat diuraikan dalam ruang media ini, namun setidaknya hal ini bisa menjadi setitik dorongan yang baik untuk selanjutnya dikembangkan dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah sejak dini. Pertanyaannya, apakah konsep kewirausahaan benar-benar dipahami oleh seorang pendidik sebelum “ditularkan” kepada peserta didik ?

C. KONSEP KEWIRAUSAHAAN
Salah satu terobosan kebijakan pemerintah yang pernah dikeluarkan yakni Instruksi Presiden No. 4 Th 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Inpres tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan. Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga harus digenjot sedemikian rupa melalui berbagai Departemen Teknis maupun Institusi-institusi lain yang ada di masyarakat. Melalui gerakan ini pada saatnya budaya kewirausahaan diharapkan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia, sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal, tangguh dan mandiri.
Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya.
Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausahawan asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Belajar merupakan suatu upaya penyiapan diri sebelum terjun ke dunia kerja. Sebab dalam berwirausaha terdapat dua unsur pokok yakni; (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang. Unsur yang terakhir inilah yang seringkali menjadi masalah bagi angkatan kerja kita karena untuk memiliki pengetahuan/ kemampuan membaca peluang diperlukan suatu kreatifitas dan daya saing pasar.
Karena itu, saatnya sekolah dan pemangku pendidikan perlu mengelolah sekolah secara bisnis asal jangan membisniskan sekolah. Agar sekolah mulai terbiasa dengan menyelaraskan proses pendidikan secara formal dengan kondisi non formal yang terjadi di luar sekolah (pasar global) berdasarkan 2 (dua) prinsip kewirausahaan yang telah disebutkan di atas. Apalagi saat ini kita sedang diperhadapkan dengan kompetisi pasar ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

D. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan suatu bentuk integrasi ekonomi regional yang diwacanakan akan dimulai pada tahun 2015. Dengan demikian ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil/ terdidik serta aliran modal yang bebas. Dengan adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan dapat menjadikan ASEAN sebagai kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan merata serta dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial-ekonomi di kawasan ASEAN.
Dengan demikian suasana kompetisi ini pada suatu sisi merupakan peluang tapi pada sisi yang lain merupakan tantangan bagi masyarakat kita. Dalam lingkup kota Kupang saja, justru pelaku usaha didominasi oleh orang luar NTT sedangkan warga lokal banyak bergerak dibidang usaha kecil seperti kios, penyewaan lahan, ojek, dll yang sangat mudah tergerus oleh pemilik modal besar. Hal ini terjadi bukan karena minimnya tingkat pendidikan melainkan karena tidak memiliki jiwa wirausaha dan kemampuan menangkap peluang.
Karena itu, tenaga-tenaga kerja kita perlu dipersiapkan secara baik melalui pendidikan dan pelatihan yag cukup pada lembaga pendidikan formal maupun non formal (lembaga kursus, dll). Sebagai contoh untuk pendidikan formal, fokus pengembangan SDM melalui pendidikan vokasi kejuruan (SMK) akan sangat efektif karena di SMK, siswa lebih banyak melakukan pembelajaran produktif.
E. PENUTUP
Jiwa wirausahawan seseorang bukanlah merupakan faktor keturunan, namun dapat dipelajari secara ilmiah dan ditumbuhkan bagi siapapun juga. Yang penting dan yang utama adalah semangat untuk terus mencoba dan belajar dari pengalaman. “Gagal itu biasa, tapi bagaimana untuk bisa bangkit setelah gagal itu yang luar biasa”, mungkin seperti itulah gambaran yang harus dikembangkan oleh warga NTT agar dapat eksis dalam pertarungan bisnis yang semakin transparan dan terbuka terutama dalam kompetisi pasar bebas ASEAN (MEA). Dalam hal ini, MEA bukanlah sesuatu yang amat menakutkan tapi juga bukan sesuatu yang dapat dipandang enteng. Akankah kita mampu membuktikan diri sebagai “pemain” atau justru hanya menjadi “penonton” di negeri sendiri ? Semoga.

Bagikan Artikel ini ke Facebook