E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

PENTINGNYA MENGKONSUMSI MAKANAN HALAL

Dibaca: 1131 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: ALIANOOR, S.AG lihat profil
pada tanggal: 2015-11-02 22:02:57 wib


Allah SWT menciptakan manusia dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Allah SWT juga telah menyediakan di muka bumi segala kebutuhan yang diperlukan manusia. Untuk melengkapi anugerah-Nya kepada manusia, Allah telah menurunkan tuntunan dan aturan-aturan agar hidup manusia lebih terarah dan bertujuan.

Termasuk aturan yang diberikan Allah SWT bagi manusia adalah dalam hal makanan. Allah memerintahkan agar manusia hanya memakan makanan yang halal, baik zat makanan ataupun cara mendapatkan makanan tersebut.
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Qs. An-Nahl : 114)

1. Mengkonsumsi makanan halal merupakan bagian yang sangat penting dalam Islam karena ia menyangkut kesempurnaan ibadah seseorang kepada Allah SWT. Al-Qur’an sangat menekankan kepada setiap manusia untuk memakan makanan halal ini, baik zat-nya atau cara mendapatkannya, sebagaimana firman-Nya ;
ياَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى اْلاَرْضِ حَللاً طَيّبًا وَّ لاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوتِ الشَّيْطنِ، اِنَّه لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ.
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (bergizi) dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. [QS. Al-Baqarah : 168]

Dalam hadits juga Rasulullah SAW bersabda;
طَلَبُ اْلحَلاَلِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ.
“Mencari yang halal adalah wajib atas setiap orang Islam”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath]

2. Bahwa sesuatu yang banyak menyebabkan manusia masuk neraka adalah karena mereka tidak menjaga mulutnya dari memakan dan mengkonsumsi sesuatu barang yang tidak halal, baik zatnya atau sifat / cara mendapatkannya ;
سُئِلَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ. قاَلَ: اَلْفَمُ وَ اْلفَرْجُ.
Dan beliau SAW ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka. Beliau SAW menjawab, “Sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka adalah mulut dan kemaluan”. [HR. Tirmidzi, no. 2072, dan ia berkata : Ini hadits shahih, gharib]

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ، وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ، وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا اَنْفَقَهُ، وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا اَبْلاَهُ.
Tidak akan bergerak kedua tapak kaki seorang hamba (pada hari qiyamat) sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia membelanjakannya, dan tentang badannya untuk apa dia memanfaatkannya”. [HR. Tirmidzi, no. 2532, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

3. Do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT jika ia mengkonsumsi makanan dari sumber usaha yang tidak halal termasuk juga zat makanan tersebut ;
اَيُّهَا النَّاسُ، اِنَّ اللهَ طَيّبٌ لاَ يَقْبَلُ اِلاَّ طَيّبًا، وَ اِنَّ اللهَ اَمَرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِمَا اَمَرَ بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ: يَا اَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا، اِنّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ. وَ قَالَ: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ اَشْعَثَ اَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ اِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبّ، يَا رَبّ، وَ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَ مَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَ غُذِيَ بِاْلحَرَامِ، فَاَنَّى يُسْتَجَابُ لِذلِكَ؟
“Hai para manusia, sesungguhnya Allah itu Baik (Suci). Tidak mau menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman, “Hai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik (yang halal) dan beramal shalih lah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan”. [Al-Mukminuun: 51]. Dan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezqikan kepada kalian”. [Al-Baqarah : 172] Kemudian (Rasulullah SAW) menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sering bepergian jauh, rambutnya acak-acakan lagi berdebu. Dia berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku”. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia dikenyangkan dengan barang yang haram. Maka bagaimana mungkin dia dikabulkan doanya ?”. [HR. Muslim]

Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa seseorang terhalang dari masuk surga jika ia memakan dan mengkonsumsi sesuatu yang bersumber dari makanan dan usaha yang haram ; seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Ka’ab:
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ اِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ لَحْمٌ وَ دَمٌ نَبَتَا عَلَى سُحْتٍ، اَلنَّارُ اَوْلَى بِهِ. يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ، اَلنَّاسُ غَادِيَانِ. فَغَادٍ فِى فِكَاكِ نَفْسِهِ فَمُعْتِقُهَا، وَ غَادٍ مُوْبِقُهَا. يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ، اَلصَّلاَةُ قُرْبَانٌ وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ اْلخَطِيْئَةَ كَمَا يَذْهَبُ اْلجَلِيْدُ عَلَى الصَّفَا.
Nabi SAW bersabda, “Hai Ka’ab bin 'Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari barang yang haram, neraka lebih pantas baginya. Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, manusia itu memasuki waktu pagi ada dua macam : (pertama), orang yang mampu menahan nafsunya, maka dia membebaskannya dari neraka. (Kedua), orang yang membinasakan dirinya. Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, shalat itu pendekatan diri kepada Allah, shadaqah itu tanda bukti keimanan, dan puasa itu perisai. Shadaqah bisa menghapus kesalahan sebagaimana meluncurnya hujan es di atas batu licin”. [HR. Ibnu Hibban, hadits no. 5567]

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ جَسَدٌ غُذّيَ بِحَرَامٍ.
“Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan barang yang haram”. [HR. Abu Ya’la Al-Maushiliy, hadits no. 78]

يَا سَعْدُ اَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ: اِنَّ اْلعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ اْلحَرَامَ فِى جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلٌ اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، وَ اَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ اَوْلَى بِهِ.
“Hai Sa’ad, carilah yang baik (halal) pada makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang dikabulkan doanya”. Dan demi Rabb yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya seorang hamba yang memasukkan makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama 40 hari. Dan barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih pantas baginya”. [HR. Thabrani di dalam Ash-Shaghir]

Dari beberapa keterangan hadits shohih di atas, ternyata mengkonsumsi makanan yang halal sangat penting sekali sebab ia merupakan syarat untuk mencapai kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT, karena itu seyogyanya kita sebagai seorang muslim sangat waspada dan berhati-hati agar daging yang ada dalam tubuh kita terkontaminasi (tercemar) oleh makanan, minuman yang bersumber dari usaha atau pekerjaan yang haram.

Sekarang Kementerian Agama RI telah menggulirkan program Sadar Halal untuk seluruh warga Negara RI yang beragama Islam, bahkan Pemerintah RI telah membentuk Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (LPOM). Hal ini disebabkan telah banyaknya bererdar berbagai makanan dan minuman yang tidak jelas sumber dan bahan dalam pembuatannya termasuk juga cara pembuatannya.

BINATANG DAN LAIN-LAIN ADALAH HALAL KECUALI JIKA ADA DALIL SYAR’I YANG MENGHARAMKANNYA.

Kaidah ini disimpulkan oleh para ulama dari beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya firman Allah SWT :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu (termasuk makanan dan binatang) yang ada di bumi adalah nikmat dari Allah, maka ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal dikonsumsi dan boleh dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, karena Allah tidaklah memberikan nikmat kecuali yang halal dan baik.

Dan berdasarkan firman-Nya pula:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”. (QS. Al-An’am: 119)

Maka semua makanan yang tidak ada pengharamannya dalam syari’at Islam berarti hukumnya adalah halal sepanjang tidak menimbulkan mudharat kepada dirinya.

Demikian pula binatang yang tidak ada pengharamannya dalam dalil-dalil syar’i (Al-Qur’an dan Hadits Shohih) dan tidak termasuk ke dalam golongan binatang yang haram dikonsumsi, baik karena kesamaan jenis, bentuk atau sifat, maka hukumnya halal dikonsumsi dan boleh dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti dijadikan kendaraan, perhiasan, hiburan atau selainnya.

PENYEBAB MAKANAN BISA HARAM

Sebab Pertama: Menimbulkan bahaya pada badan dan akal.
Contoh sebab ini amat banyak.

(1) Di antaranya adalah makanan yang sifatnya beracun baik dari hewan seperti ikan beracun, cecak, kalajengking, ular beracun, lebah atau tawon, dan setiap yang mengeluarkan penyakit yang beracun. Bisa pula dari tumbuhan seperti pada sebagian bunga atau buah-buahan yang beracun atau dari benda padat seperti arsenic. Ini semua diharamkan berdasarkan firman Allah SWT,
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri.” (QS. An Nisa’: 29).

Begitu pula sabda Nabi Muhammad SAW,
وَمَنْ تَحَسَّى سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَسَمُّهُ فِى يَدِهِ ، يَتَحَسَّاهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Barangsiapa meminum (mengkonsumsi) racun, hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya.” [HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109, dari Abu Hurairah]

Dengan alasan seperti ini pula para ulama muta’akhirin telah memfatwakan bahwa “Rokok” itu haram Karena mudhoratnya lebih banyak dari manfa’atnya. Wallahu A’lam bish-Showab.

(2) Yang termasuk dalam hal ini juga adalah makanan yang membawa efek bahaya akan tetapi tidak bersifat racun. Telah disebutkan dalam berbagai kitab fiqh seperti tanah liat (clay), tanah, batu, batubara sebagai contoh. Benda-benda semacam ini diharamkan jika membawa efek bahaya.

Sebab Kedua: Membawa efek memabukkan

Diharamkan segala sesuatu yang memabukkan. Yang dimaksudkan memabukkan di sini adalah yang menghilangkan akal, tapi masih bisa merasakan sesuatu disertai dengan mabuk kepayang dan sambil bergoyang-goyang (fly). Contohnya adalah khomar (arak) yang berasal dari perasan anggur dan seluruh yang memabukkan lainnya baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.

Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad SAW tentang masalah khomar (arak), yaitu beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat khomar itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Oleh karena itu bahan apapun yang nyata nyata memabukkan berarti dia itu khomar, betapapun merek dan nama yang dipergunakan oleh manusia; dan bahan apapun yang dipakai. Oleh sebab itu Beer dan sebagainya dapat dihukumi haram.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs. Al-Maidah : 90)

Sebab Ketiga: Karena najis

Contoh sesuatu yang terkena najis adalah minyak samin yang kemasukan bangkai tikus. Karena bangkai tersebut, jadinya samin tersebut menjadi najis. Namun jika minyak samin tadi beku (masih dalam bentuk padatan), maka yang najis hanyalah sekeliling bangkai tikus itu saja. Jika bangkai tersebut disingkirkan minyak yang terkena dan bangkai dari minyak samin yang padat tadi, maka jadilah suci minyak samin yang lainnya.

Sebab Keempat: Dianggap jijik bagi orang yang memiliki tabiat bersih.

Ulama Syafi’iyah mencontohkan seperti menelan ludah, menelan keringat dan menelan sperma. Contoh-contoh yang disebutkan tadi asalnya sesuatu yang suci yang berasal dari manusia.

Ulama Hanbali mencontohkan sesuatu yang dianggap jijik dan terlarang untuk dikonsumsi, seperti kotoran manusia atau hewan, kencing, dan kutu. Namun patut dipahami di sini bahwa ulama Hanbali berpendapat bahwa kotoran hewan yang hewan tersebut halal kita makan dagingnya, kotoran tersebut tetap suci, begitu pula kencingnya. Yang dinyatakan haram adalah mengonsumsi kotoran atau kencing tersebut karena itu adalah suatu hal yang menjijikkan.

Jadi kaedah yang patut dipahami, sesuatu yang kotor belum tentu tidak suci dan tidak semua yang suci boleh dikonsumsi.
Sebab Kelima: Tidak diizinkan oleh syari’at karena menjadi milik orang lain. Contohnya adalah makanan yang bukan menjadi milik orang yang memakannya, tidak pula makanan tersebut diizinkan untuk dimakan oleh pemilik atau pun oleh syari’at.

Contohnya adalah sesuatu yang dicuri, diambil dengan cara berjudi dan lainnya. Atau memakan makanan yang diambil dari hasil transaksi suap menyuap (Risywah). Berdasarkan firman Allah SWT ;
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan Janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui (QS al-Baqarah: 188).( In-syaa Allah bersambung)****

Bagikan Artikel ini ke Facebook