E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Pembelajaran Bermakna

Dibaca: 575 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-11-05 17:58:03 wib


Pembelajaran BermaknaSering kita sebagai guru kurang puas atau tidak puas dengan hasil belajar siswa. Bahkan rasa puas itu makin bertambah, ketika hasil ujian nasional ( UN ) siswa diperoleh dengan cara-cara yang tak halal. Meskipun nilai siswa besar-besar dan banyak diterima di sekolah atau perguruan tinggi pavorit, tampaknya itu hanya topeng kita sebagai guru. Bahkan pada sekolah yang berbasis keagamaan, muka topeng itu bisa saja ada, bukan mustahil.
Pembelajaran bermakna itu adalah :
1. Tidak bermain-main saat di kelas
Hal yang dilakukan :
a) Guru berkonsentrasi pada materi yang dibahas
b) Siswa diberikan arah pembelajaran dan sesekali membahasnya sampai memahami

2. Siswa tidak terlalu sering ke luar kelas
Saat belajar, sering siswa meninggalkan kelas dan sering diperparah dengan panggilan melalui pengeras suara dari ruang guru atau meja piket. Padahal untuk hal yang tak penting.
Hal yang dilakukan :
a) Koordinasikan hal ini di dalam dewan guru atau komite sekolah, bahwa bila siswa dipanggil saat belajar dapat mengganggu perkembangan belajarnya, terutama dengan seringnya rapat OSiS, Pramuka atau PMR.
b) Sesekali guru boleh mengingatkan siswa, supaya tidak meninggalkan kelas, kecuali untuk ke toilet atau memfoto kopi. Itu pun bila terpaksa harus ke sana.

3. Tidak terlalu sering berkegiatan
Faktor ke-3 ini sering kejadian. Banyak siswa yang sibuk di OSIS dan ekstrakurikuler sering mendapat dispensasi untuk tidak belajar. Ini dimanfaatkan oleh siswa yang lemah dalam akademik, sehingga ikut sebagai anggota OSIS atau ekstrakurikuler. Misalnya pada jam belajar , anggota OSIS selama 30 menit sampai 1 jam bertugas mengumpulkan dana jumat peduli keliling kelas dan setelah selesai, lalu menghitung jumlah uang yang didapatkan. Tentu saja bagi siswa yang malas belajar, ini adalah aji mumpung. Ekstrakurikuler seperti karate, Paskibra, futsal, Pramuka, PMR, Marawis atau Bola Basket, Bola Voli atau Bulu Tangkis mengambil latihan di jam-jam belajar dan sering ikut lomba, sehingga anggotanya banyak yang tidak mengikuti pelajaran. Mereka mendapat nilai bagus, bukan karena kompeten di akademiknya atau mata pelajaran, tapi karena seringnya dapat juara, sehingga mengharumkan nama sekolah. Hal ini membuat pembelajaran menjadi tidak bermakna.

Bagikan Artikel ini ke Facebook