E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Gaya Mengajar Tak Sebanding dengan Pencapaian Nilai Siswa

Dibaca: 1000 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-11-08 09:14:23 wib


Gaya Mengajar Tak Sebanding dengan Pencapaian Nilai SiswaSebagai guru terkadang kita selalu disibukkan dengan mencari cara yang tepat dalam mengajar. Segala strategi sudah dilaksanakan. Hasilnya berbanding terbalik dengan yang diupayakan.

Daya Dukung Siswa Rendah

Ibarat gelas yang bocor, transfer ilmu dari guru cenderung mengalir melaui bocoran itu. Rendahnya daya dukung kompetensi siswa menjadi sebab kegagalan siswa memperoleh nilai yang baik.

Minat Siswa yang Berbeda dengan Mapel

Apakah kita pernah bertemu dengan murid kita yang sudah lulus ?
Ada yang bekerja sebagai anggota Polri, ada yang kuliah di statistik, ada yang menganggur, ada yang menjadi juru parkir, ada yang menyetop kendaraan di perempatan atau dipertigaan sambil meminta uang dan sebagainya.
Semua hal tersebut belum tentu bersesuaian dengan mata pelajaran atau mata diklat yang kita ajarkan.

Tak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi penganggur atau yang meminta uang dengan cara-cara yang mudah. Begitu pun bagi yang bekerja, tak harus sama dengan yang kita ajarkan. Setidak-tidaknya, yang bekerja adalah hasil dari pengajaran semua guru di sekolahnya dan peran orang tua.

Peran Orang Tua

Orang tua atau wali memiliki peran yang besar dalam membekali anak-anaknya atau yang diwalikannya untuk hidup di masa depan. Peran guru hanya sebatas di sekolah dan tidak mendukung secara finansial.

Peran Guru di Sekolah

Dalam beberapa kesempatan menulis di internet, penulis sering menyebutkan "guru sekolah". Apa ada guru yang tidak di sekolah ? Jawabannya tentu ada. Misalnya guru privat, guru pencak silat, guru seni tari, guru karate, guru mengaji dan lain-lain.

Tentang hal guru privat, menurut penulis adalah guru yang bekerja pada bidang pengajaran per bidang studi atau mata pelajaran yang tak terikat oleh aturan dan administrasi sekolah. Guru privat tidak disibukkan membuat RPP, silabus, skenario pembelajaran, pelatihan kurikulum, rapat kenaikan kelas, penilaian rapot dan lain-lain.

Peran guru di sekolah membimbing siswa untuk menguasai bidang studi, mata pelajaran atau mata diklat. Guru bukanlah dosen. Gaya mengajar guru tentu berbeda jauh dengan gaya mengajar dosen. Guru lebih diidentikan sebagai sosok yang multitalenta. Betapa tidak, seorang guru selain harus mentransfer ilmunya, juga menjadi sosok pengayom bagi anak-anak asuhannya. Yang semestinya "sosok pengayom" ini hanya ruang bagi orang tua/wali di rumah atau lingkungan tempat tinggalnya.

Tidak seperti halnya seorang dosen, yang tanggung jawabnya hanya sebatas mata kuliah.

Seberapa bagusnya seorang guru dalam mengajar, meskipun sudah mengerahkan segenap kemampuannya, namun bila siswa yang diajarkan memiliki kemampuan rendah, maka hasilnya pasti tidak sesuai harapan. Itulah gaya mengajar guru tak sebanding dengan output siswanya.

Teruslah Mengajar

Tugas guru adalah mencerdaskan anak bangsa ini. Siapakah yang akan mengajar, jika bukan guru? Bagaimana bila guru tak ada ? Tentu akan ada guru yang lain dan itu pasti disebut guru. Misalnya penjaga sekolah yang diberi tugas mengajar kepada siswa-siswa SD, karena guru yang ada sudah pergi meninggalkan sekolah yang terpencil. Mau tak mau, penjaga tadi dinamakan guru juga, karena bertugas mengajar.
Teruslah mengajar, sebab itulah tugas kita. Jangan pikirkan hasilnya. Selama kita menjadi guru, tentu banyak kendala di kelas. Siasat, metode dan macam-macam pergumulan telah kita lalui. Bila hasilnya tak sesuai, bukan sepenuhnya salah guru.

Keberhasilan atau kegagalan, karena faktor-faktor
1. kompetensi siswa
2. minat siswa
3. orang tua/wali
4. masyarakat atau lingkungan tempat tinggal
5. sumber pembelajaran
6. media pembelajaran
7. sarana dan prasarana
8. pekerja dapur
9. tenaga kebersihan
10. staf keamanan
11. tata usaha
12. kepala sekolah
13. kualitas guru

Kualitas guru penulis tulis sebagai faktor terakhir, karena guru terkait dengan input siswa, output siswa, juga kompetensi diri, termasuk kualifikasi bidang studi atau mapel atau mata diklat.

Jika siswa berhasil, maka siswa itu sendirilah asalnya. Jika siswa gagal, maka gurulah terakhir yang menanggungnya. Jadi kesalahan guru bukan mutlak menjadi sebab kegagalan siswa.

Bagikan Artikel ini ke Facebook