Itulah keseharianku di lingkungan tempatku tinggal dulu. Bekerja sebagai guru, memang tidak bisa dirahasiakan. Tidak seperti pekerja kantoran yang lain, yang mungkin saja bisa dirahasiakan.

Tentu mudah sekali tetanggaku atau orang lain menerka" />
Itulah keseharianku di lingkungan tempatku tinggal dulu. Bekerja sebagai guru, memang tidak bisa dirahasiakan. Tidak seperti pekerja kantoran yang lain, yang mungkin saja bisa dirahasiakan.

Tentu mudah sekali tetanggaku atau orang lain menerka" name="description"/>

E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Tugas Guru adalah Mengajar, yang Lainnya Embel-embel

Dibaca: 914 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-11-08 14:35:29 wib


Tugas Guru adalah Mengajar, yang Lainnya Embel-embel " Ru, berangkat?" tanya tetanggaku. Aku menjawabnya : "Iya!"

Itulah keseharianku di lingkungan tempatku tinggal dulu. Bekerja sebagai guru, memang tidak bisa dirahasiakan. Tidak seperti pekerja kantoran yang lain, yang mungkin saja bisa dirahasiakan.

Tentu mudah sekali tetanggaku atau orang lain menerka pekerjaanku. Mulai dari baju batik putih hitam PGRI yang kupakai sampai obrolan dengan anak-anak tetanggaku yang aku ajar. Bagiku profesiku ini dikenal, karena aku mengajar. Faktor lain selain mengajar adalah embel-embel yang kusandang, seperti pendidik, pembimbing dan sebagainya. Profesi guru ini kutujukan kepada pengajaran mata pelajaran. Sebab dari sanalah aku memulai.


Profesi yang Idealis

Hanya profesi inilah yang terbilang pelakunya berpikir idealis. Meskipun sesungguhnya ini adalah sebuah tekanan berat, yang tidak disadari. Guru harus begini, harus begitu, jangan begini, jangan begitu, harus menjadi contoh di masyarakat dan lain-lain. Memang sejak semula citra guru ini sudah mengkultus atau dikultuskan orang. Sebutan "guru" adalah orang yang perilakunya menjadi acuan yang lain, sebagai tempat bertanya, orang suci, yang tidak mungkin berbuat salah, perkataannya selalu benar dan menginspirasi orang lain dalam kehidupan. Asal-usul inilah yang kemudian menjadikan profesi guru sebagai profesi yang terhormat, sekaligus kekangan terhadap kepribadiannya.


Kompetensi Sosial

Kecenderungan masyarakat menganggap guru adalah profesi teladan dan serba bisa, yang mengharuskannya tampil di muka publik. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya bisa disetujui. Mengingat tidak semua guru memiliki keterampilan tertentu, yang bisa saja mengganggunya. Pencitraan guru yang harus serba bisa inilah, yang membuat guru harus berpikir realistis di masyarakat. Kita hidup di masyarakat adat, misalnya pada sebuah kendurian, dia diminta memimpin doa atau sebagai pembuka acara. Eksistensinya sebagai pengajar menjadi dirusak oleh kemungkinan-kemungkinan itu. Sehingga guru menjadi tidak fokus mengajar, yang sesungguhnya menjadi tugasnya di sekolah. Bukankah guru terbagi-bagi menjadi beberapa bidang studi atau mata pelajaran atau mata diklat ?


Kompetensi Profesional

Kesibukan guru di masyarakat, yang memang sudah didaulatkan itu, akhirnya mengganggu kualitas pengajarannya di sekolah. Sekarang profesinya sebagai pengajar menjadi nomor dua, terkalahkan dengan rasa kepedulian embel-embelnya itu. Sehingga mengabaikan nilai-nilai akademik yang seharusnya menjadi sasarannya.

Maka tidak mengherankan, apabila selama ini, ada guru yang dengan cara sengaja mengutak-atik lembar jawaban ujian nasional siswa, yang mustinya dapat jelek, namun karena diakali sehingga mendapatkan nilai yang memuaskan. Di sini tidak ada lagi kompetensi profesional, yang ada adalah kompetensi akal-akalan. Demi bonus pencitraannya itu tadi. *Penulis.



Bagikan Artikel ini ke Facebook