E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Dampak Langsung UKG

Dibaca: 1681 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-11-14 14:57:17 wib


Bila dahulu sebelum ada UKG pertama kali tahun 2012, perhatian guru akan pentingnya kompetensi profesional belum tampak sama sekali. Setelah UKG 2012 dan sekarang UKG 2015, para guru mulai menyadari untuk meningkatkan penguasaan bidang studi, mata pelajaran atau mata diklat yang diajarkannya.

A. Dampak

1. Dampak kepada Para Pasda atau Motivator Pendidikan

Dahulu kita manut-manut saja bila widia iswara memberikan pelatihan pendidikan. Kita menganggap kemampuan mereka memang tak tertandingi. Tapi sekarang kita bisa bernapas lega, bahwa para pasda atau motivator pendidikan adalah manusia biasa, yang pasti punya kelemahan.

Kita tidak sedang membicarakan motivator yang sebenarnya bukan guru. Kita abaikan dulu mereka. Mereka sering banyak omong, padahal mereka bukan guru, yang tentu tidak merasakan profesi kita.

Yang perlu kita garis bawahi adalah para motivator yang berprofesi sebagai guru atau para pasda/pelatih/penatar K-13. Jika ternyata nilai mereka kacangan atau bahkan di bawah 5,50, kita bisa bernapas lega. Ternyata hanya segitu kemampuan mereka.

Hendaknya memang para motivator pendidikan, yang bukan guru atau pun guru perlu mawas diri. Bila mereka bukan guru, hendaknya memberikan statement yang sesuai keterbatasan mereka, yang bidangnya bukan guru. Dosen sekali pun itu bukanlah guru. Siapa bilang dosen juga guru ? Kalau ada yang bilang dosen merupakan guru, silakan baca Undang-undang Guru dan Dosen (UU RI No.14 tahun 2005).

Jika mereka guru, hendaknya berpikir ribuan kali dalam memberi pernyataan. Apalagi sewaktu menjadi pasda Kurikilum 2013. Jika nilai mereka dalam UKG 2015 ini rendah, mereka tidak akan begitu malu. Apalagi bila nilainya kalah dari guru yang sedang dibimbingnya. Jadi sepatutnya mulai sekarang para guru menanyakan nilai UKG para pasdanya. Tapi bila pasdanya belum pernah ikut UKG, bisa ditanyakan mengapa ?

2. Dampak kepada Kepala Sekolah dan Pengawas

Bila dahulu para guru sulit membantah sang kepala pemerintahan sekolah, tapi sekarang para guru bisa membuktikan kualitas kepala sekolahnya dan membalikkan keadaan. Ternyata kemampuan kepala sekolah tidak lebih baik daripada para gurunya. Sehingga guru semakin yakin, bahwa dirinya bukan satu-satunya yang paling buruk ataupun terbaik.

Dengan begitu kepala sekolah bisa adil dalam memberikan penilaian kepada guru-guru di sekolahnya. Mengukur kemampuan sendiri tentu lebih baik daripada sering memberikan penekanan kepada guru.

Begitu pun kepada para pengawas guru, supaya bisa meningkatkan keprofesionalannya. Serta bisa mengukur kemampuan diri sendiri, sebelum memberikan arahan yang ternyata omong kosong.

3. Dampak kepada Para Guru dan Murid

Dengan adanya uji kompetensi guru (UKG),para guru menjadi tahu kompetensinya saat ini, di mana kekurangannya dan kelebihannya.

UKG itu tidak seperti UN (ujian nasional). Bila ujian nasional ada tim usek-useknya (tim suksesnya), maka UKG ini tidak ada tim suksesnya. Sebab memang tidak ada untungnya terhadap guru melibatkan tim pencari fakta bocoran kunci jawaban. Di samping tidak tersedia, ujian ini juga tidak menentukan bagi guru diterima bekerja atau melanjutkan pendidikan seperti anak sekolahan.

Bagi murid, dampaknya secara langsung bisa mengetahui kualitas guru-gurunya dan menjadi sebuah keyakinan, bila guru-gurunya memang sudah teruji.

4. Dampak kepada Masyarakat

Kadang orang yang bukan guru merasa 'sok pintar' menasihati guru. Ternyata dasarnya mereka bukan guru, bagai ' melempar batu sembunyi tangan '. Meminta agar guru diperlakukan begini, begitu, agar kualitas pendidikan bagus dan murid mendapat pengajaran yang baik. Yang babak belur itu guru, bukan yang ngomong sana-sini.

Dengan adanya UKG ini, masyarakat diminta obyektif dalam menilai pendidikan.
Khususnya kepada mahasiswa calon guru, jangan hanya pandai berteori. Kalian juga nantinya akan mendapat ujian semacam ini. Jadi kalau belum teruji dengan UKG, sebaiknya simpan dulu teori tersebut. Nanti gunakan pada saat yang tepat.

B. Siasat

Umumnya guru yang memiliki nilai di bawah 5,50 adalah guru yang penguasaan pengetahuannya rendah. Contohnya begini : dari 60 soal yang diujikan, guru “A” memperoleh benar pedagogik 15 (berarti salahnya hanya 3), tetapi pengetahuannya 17 (salahnya 25). Berarti setelah dijumlahkan benarnya adalah 32. Kemudian dibagi 6, hasilnya 5,33. Masih belum mencapai 5,50. Tapi lumayan hampir mendekati.

Bandingkan dengan guru “B” yang lemah pedagogik. Betul pedagogik hanya 5 (salahnya 13), tetapi pengetahuan betul 31 (salahnya 11). Maka 5 + 31 = 36. Maka 36 : 6 = 6,00.
Ini berarti memang kompetensi profesional masih bisa menjadi ukuran kompetensi guru, dibandingkan kompetensi pedagogik. Dalam UKG memang porsi kompetensi pedagogik 30% dan kompetensi Profesional 70%. Memang porsi kompetensi profesional harus lebih besar.

*Penulis adalah Guru IPA yang sudah UKG tahun 2012 dan 2015.
UKG 2012 memperoleh nilai 7,25 dan UKG 2015 memperoleh nilai 5,83.

Bagikan Artikel ini ke Facebook