E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Salam rindu untuk sang guru....

Dibaca: 637 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: H. Erdiyansyah, S.H.I lihat profil
pada tanggal: 2015-11-19 22:35:43 wib


Salam rindu untuk sang guru....Salam rindu utk sang guru.... 


Pak Hamid duduk termangu.
Dipandanginya benda2 yg berjajar di depannya dg masygul.
Bertahun-tahun dimilikinya dg penuh kebanggaan.

Dirawat dg baik hingga selalu bersih & mengkilap.
Jk ada org yg bertanya,
Pak Hamid akan bercerita dg penuh kebanggaan.

Siapa yg tdk bangga memiliki benda2 itu? Brbagai plakat pnghargaan yg diterimany selama 35 th pengabdiannya sbg guru di daerah terpencil.
Daerah terisolasi yg tdk diminati oleh guru2 yg lain.

Namun Pak Hamid ikhlas mnjalaninya, walau dg gaji yg trsendat & minimny fasilitas sekolah.
Cinta Pak Hamid pd anak2 kecil yg bertelanjang kaki & rela berjalan jauh utk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya utk pindah ke daerah lain yg lbh nyaman.

Kini masa itu sdh lewat. Masa pengabdiannya usai sdh pd usianya yg ke 60 . Meskipun berat hati,
Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya.

Mrk tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota.
Jauh dari anak didik yg dicintainya, jauh dari jln tanah, sejuknya udara & beningnya air yg selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jgn sambil melamun!”
Teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya.
Pak Hamid tergagap.

“Tawarkan jualanmu itu pd org yg lewat.
Klu kamu diam sj, sampek elek ra bakalan payu!” (sampai butut ga akan laku) kt pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,”
ujar pedagang kaos kaki lg.

“Apa ada yg mau beli barang2 seperti itu ?
Mgk kamu mesti berjualan di tempat brg antik.
Bkn di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjwb.
Itu pula yg sdg dipikirknnya.
Siapa yg tertarik utk mmbeli plakat-plakat itu?
Bukanlah benda2 itu tdk ada gunanya bg org lain, sekalipun sgt berarti baginy

“Sebenarnya knp sampai kau jual tanda penghargaan itu ?
Tanya pedagang akik.
Saya butuh uang..kt pak Hamid.

“Apa istri atau anakmu sdg sakit ?”

“Tidak.
Anak bungsuku hendak masuk SMU.
Sy butuh uang utk mmbayar uang pangkalnya.

“Knp tdk ngutang dulu.
Siapa tahu ada yg bisa mmbantumu.

Sudah. Sdh kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”

“Hei, bknkah kau pny gaji...
Eeeh... pensiun maksudku.”

“Habis buat nyicil motor utk ngojek si sulung & buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam.

Mgk merasa maklum, sesama org kecil yg mncoba bertahan hidup di kota dg brjualan di kaki lima

“Kau yakin jualanmu itu akan laku?
Penjual kaos kaki bertanya lg setelah beberapa saat. Matany menyiratkan iba.

“Insya Allah.
Jika Allah mnghendaki aku memperoleh rejeki, mk tak ada yg dpt mnghalanginya.”

Siang yg panas.
Terik matahari tdk mngurangi hilir mudik org2 yg berjalan di kaki lima itu.

Beberapa org berhenti, melihat-lihat akik & satu dua org mmbelinya.
Penjual akik bgt brsemangat merayu pembeli.
Rejeki tampakny lbh brpihak pd pnjual kaos kaki.

Lbh dari 20 pasang kaos kaki terjual.
Sdgkan jualan Pak Hamid, tak satupun yg meliriknya.

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yg mulai renta dimakan usia.
Sekali lg dipandanginya plakat-plakat itu.
Kegetiran mmbuncah dlm dadanya.
Brbagai pnghargaan itu ternyt tak menghidupinya.

Pnghargaan itu hny sebatas penghargaan sesaat yg kini hny tinggal sebuah benda tak berharga.

Sebuah ironi yg sgt pedih.

Tak terbayangkan seblmnya
Predikatnya sbg guru teladan berthn yg lalu, tak sanggup menghantarkan anakny memasuki sekolah SMU.
Sekolah utk mnghantarkan anakny mnggapai cita2, yg dulu selalu dipompakan ke anak2 didiknya. 

Saat kegetiran & keputusasaan msh meliputinya,
Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.

“Bapak hendak mnjual plakat-plakat ini?
Seorg lelaki muda perlente berjongkok sambil mngamati jualan Pak Hamid.
Melihat baju yg dikenakannny & mobil mewah yg ditumpanginya dg supirnya, ia sepertiny lelaki berduit yg kaya. 

Pak Hamid tiba2- berharap.

“Ya...ya..saya mmg menjual plakat-plakat ini,”
Jawab Pak Hamid gugup.

“Brp bpk jual setiap satuannya?

Pak Hamid berfikir,
Brp ya?
Bodoh benar aku ini.
Dari tadi blm terpikirkan olehku harganya.”

“Berapa, Pak?”

“Eee...tiga ratus ribu.”

“Jadi semuanya satu juta lima ratus.
Blh saya beli semuanya ?”

Hah??
Dibeli semua, tanpa ditawar lg.
Kenapa tdk kutawarkan dg harga yg lbh tinggi?
Pikir Pak Hamid sedikit menyesal.
Tp ia segera menepis sesalnya.
Sdhlah, sdh untung bisa laku.

“Apa Bpkk pny yg lain.

Tanda penghargaan yg lain misalnya ...”

Tanda penghargaan yg lain?
Pak Hamid buru2 mngeluarkan bbrp piagam dari tasnya yg lusuh.

Piagam sbg peserta penataran P4 terbaik,
piagam guru matematika terbaik se kabupaten,
bahkan piagam sbg peserta Jambore dan lain-lain piagam yg sebenarnya tdk begitu berarti.

Semuanya ada 10 buah.

“Bpk kasih harga brp satu buahnya ?”

“Dua ratus ribu.”
Hny itu yg terlintas di kepalanya.

“Baik.
Jd semuany seharga tiga juta lima ratus ribu.

Bpk tunggu sebentar, sy akan ambil uang di bank sana itu.”
Kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yg berdiri megah tak jauh dari situ.

“Ya...ya..sy tunggu.”
Kata Pak Hamid msh tak percaya.

Menit2 yg berlalu sungguh menggelisahkan.
Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat2 & brbagai tanda penghargaanny?
Atau dia hny penipu yg menggoda sj?
Pak Hamid pasrah.

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali jg akhirnya dg sebuah amplop coklat di tangannya.
Pak Hamid mnghitung uang dlm amplop, lalu buru2 mmbungkus plakat2 & brbagai tanda penghargaan miliknya dg kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.

Dipandangny lelaki muda itu pergi dg gembira bercampur sedih.
Ada yg hilang dari dirinya.

Kebanggaan atau mgk jg harga dirinya.
Pak Hamid kini melipat alas dagangannya & segera beranjak meninggalkan tempat itu,
Meninggalkan pedagang akik & kaos kaki xyg terbengong-bengong.
Entah apa yg mrk pikirkan.

Namun, ia tak sempat berfikir soal mrk, pikirannya sendiri pun masih kurang dpt mmpercayai apa yg baru saja terjadi.

“Lbh baik plg jln kaki sj.

Mgk sepanjang jln aku bisa menata perasaanku.
Sebaik mgk.
Aku tdk ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat2 itu.
Aku tdk ingin ia melihatku menyesal telah mnjualnya.

Krn aku ingin anakku sekolah,
Aku ingin dia sekolah!”
Pak Hamid bertutur panjang dlm hati.

Ia melangkah gontai menuju rumah.
Separuh hatinya bgt gembira, akhirnya si bungsu dpt sekolah.
Tiga setengah juta cukup utk mmbiayai uang pangkal & bbrp bulan SPP.
Namun, separuh bagian hatinya yg lain menangis, kehilangan plakat2 itu, yg sekian thn lamanya selalu menjadi kebanggaannya.

Jarak tiga kilometer & wkt yg terbuang tak dipedulikannya.

Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dg wajah khawatir.

“Ada apa, Pak?
Apa yg terjadi dgmu?
Tadi ada lelaki muda yg mncarimu.
Dia memberikan bungkusan ini & sebuah surat.
Aku khawatir sampeyan ada masalah.”

Pak Hamid tertegun.
Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu.
Dibukany kantong itu dg terburu2.
Dan...plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya!
Semuanya!

Tak ada yg berkurang satu bijipun!
Apa artinya ini?
Apakah lelaki itu berubah pikiran?
Mgk ia bermaksud mengembalikan semuanya.

Atau mgk harga yg diberiknnya terlalu mahal.

Batin Pak Hamid brgejolak riuh.
Segera dibukany surat yg diangsurkan istriny ke tangannya.
Sehelai kartu nama terselip di dlm surat pendek itu.

"Pak Hamid yg sy cintai.
Sy kembalikan plakat2 ini.

Plakat-plakat ini bkn hny berarti utk Bapak, tp jg buat kami semua, murid-murid Bapak.
Kami bangga mnjadi murid Bapak.
Terima kasih atas semua jasa Bapak."
Suryo, lulusan tahun 76.

Tak ada kata-kata.
Hanya derasnya air mata yg membasahi pipi Pak Hamid.

Terima kasih...salam cinta utk mu wahai guru dan sahabat ....

Bagikan Artikel ini ke Facebook