E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

RENUNGAN BAGI PENYULUH PERTANIAN

Dibaca: 1151 kali, Dalam kategori: Umum, Diposting oleh: Joesoef Soegiarto,SP lihat profil
pada tanggal: 2015-11-26 05:52:57 wib


Sistem kerja laku ( Latihan dan Kunjungan ) sangatlah penting bagi seorang penyuluh di wilayah binaan, karena hampir tiap hari bertemu dengan petani dan kelompok tani, pengalaman pertama waktu masuk di dunia penyuluhan sudah akrab sekali, namun saat ini mulai ada pegeseran dengan tehnologi baru, sehingga arah pembinaan hanya simbolis saja. Saya tidak tahu apakah pendampingan petani masih dibutuhkan dalam masa reformasi, demokrasi dan keterbukaan media massa seperti sekarang. Pendampingan dengan terlibat langsung, tinggal di desa dan bersama membangun agenda bersama untuk mengatasi masalah petani, menggalang kebersamaan dan pembelajaran sosial serta memasyarakatkan pertanian yang ramah lingkungan adalah sebuah pendekatan yang mungkin cocok untuk masa itu. Pembelajaran dan diskusi petani berkembang tidak hanya melulu pada soal hama dan agro-ekosistem namun juga soal hak hak petani. Bersamaan masa reformasi, petani mulai berani mengatakan pendapatnya. Tak jarang terjadi pertentangan.
Pengalaman dalam pendampingan lapangan membuat saya menjadi paham urat nadi masalah pertanian di lapangan. Tahun berikutnya, bergerak pada level pengorganisasian belajar lintas wilayah. Membangun jejaring antar sesama petani yang sudah pernah sekolah lapang PHT, atau petani alumni SLPHT. Kami merancang sebuah early warning system untuk ledakan hama dan cara mengatasinya. Sempat berjalan ketika mengatasi persebaran serangan wereng coklat dengan pengendalian non pestisida kimia. Namun usaha ini bertentangan dengan pemerintah yang masih mempromosikan pestisida sebagai cara satu satunya dalam mengendalikan hama.
Jaman sekarang, pendampingan petani terkesan kurang keren dan heroik. Tak banyak lembaga yang konsisten mengembangkan program pendampingan petani. Jikapun ada, pola pendampingan lebih bersifat instan, pendamping hanya datang pada saat pertemuan. Semakin kabur siapa yang mendampingi dan siapa yang didampingi. Pertisipasi direduksi menjadi mobilisasi. Tidak terbangun social learning, pendamping hanya mengerjakan profesi sesuai arahan proyek. Program pendampingan sekilas nampak seperti wisata kunjungan sosial dalam waktu singkat saja di desa.
Perubahan juga pada komunitas petani, yang lebih terbuka. Informasi tersedia luas, internet masuk ke pedesan.Petani semakin kritis dan pintar. Maunya yang praktis praktis saja. Strategi pendampingan pun mengalah disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika sosial ekonomi petani pada saat ini. Petani pun sudah sangat akrab dengan teknologi HP, WhatsUps,komputer dan teknologi audiovisual.Makin modern.
Modernisasi pendampingan dan penyuluhan petani menawarkan sisi kepraktisan dan efisiensi dengan adanya teknologi informasi. Pendamping membawa peralatan canggih, kamera foto digital, perekam gambar dengan presentasi power point ke lapangan. Bagaimana dampaknya? Toh persoalan petani tidak kunjung usai. Pertanian ekologis tidak banyak berkembang luas. Pendamping semakin atraktif, namun petani semakin pragmatis.▌Maz. Joe’s

Bagikan Artikel ini ke Facebook