E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Guru dan Sinetron Sangat Menentukan Moral Anak

Dibaca: 792 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: ONESIMUS OSIAS PULING,S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-11-29 22:49:43 wib


Guru dan Sinetron Sangat Menentukan Moral AnakGuru dan Sinetron Sangat Menentukan Moral Anak
Oleh: Onesimus O. Puling
Guru SMPN Satap Batulai

Diera teknologi sekarang ini anak sudah disuguhkan dengan berbagai macam teknologi yang dalam pemanfaatannya bukan saja menimbulkan hal positif, tetapi ada hal negatif yang didapat juga, sehingga mengakibatkan penurunan terhadap moral anak. Contohnya seperti, banyak media televisi yang mempertontonkan hiburan atau sinetron yang sebenarnya belum pantas untuk dikonsumsi oleh mata dan telinga anak. Oleh karena itu, guru dan sinetron sangatt menentukan moral anak. Apakah kedua-duanya dapat memberikan dampak positif atau negative pada moral anak?

1. Apa sih sebenarnya guru itu?
Guru dikenali sebagai “pengajar”, “pendidik”, dan “pengasuh” merupakan tenaga pengajar dalam institusi pendidikan seperti sekolah maupun kelas bimbinangan yang tugas atau peran utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Guru sebagai pengajar Ialah orang yang memiliki kemampuan pedagogi sehingga mampu mengutarakan apa yang ia ketahui kepada peserta didik sehingga menjadikan kefahaman bagi peserta didik tentang materi yang ia ajarkan kepada peserta didik. Seorang pengajar akan lebih mudah mentransfer materi yang ia ajarkan kepada peserta didik, jika guru tersebut benar menguasai materi dan memiliki ilmu atau teknik mengajar yang baik dan sesuai dengan karakteristik pengajar yang professional. Sebagai contoh pengajar yang kompeten sehingga berhasil mencetak siswa-siswa yang pandai dan menguasai materi.
Peran guru yang dianggap sangat penting dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, dapat saya uraikan sebagai berikut:


- Peran guru dalam memperbaiki moral anak

Pada proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (Character Building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan.Kalau kita lihat secara terminology, peran guru merupakan manifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian mulianya posisi guru, sampai Tuhan “Sang Maha Guru”, Oleh karena itu, kita sebagai hamba-Nya mempunyai kewajiban yaitu belajar, mencari ilmu pengetahuan. Orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi guru dalam menyebarkan ilmu pengetahuan merupakan infestasi amal dan ibadah. Selain itu, guru juga berperan sebagai pendidik (nurturer) yang berperan dan berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugastugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual.
Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan moral dan norma norma yang ada. Selain sebagai kewajiban, mengajar juga merupakan profesi dalam meningkatkan kompetensi kualifikasi akademik. “Apabila dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya maka yang terjadi adalah sebuah kehancuran.
Walaupun dibayar murah tetapi guru mempunyai tugas dan kewajiban, tidak hanya mengajar, mendidik dan membimbing siswa tetapi juga patut sebagai model dalam pembelajaran Moral kepada anak, sehingga mampu memperbaiki moral yang telah dirusaki oleh pesinetron yang dibayar mahal. Disini, guru sangat berperan untuk menjadi contoh sekaligus motivator dan inspirator sehingga peserta didik akan lebih tertarik dan antusias dalam belajar pengetahuan, sehingga hasil belajar yang didapat berdaya guna dan berhasil.

- Peran guru sebagai pendidik

Menurut pendapat ahli, Pendidik adalah seiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi (Sutari Imam Barnado, 1989:44). Oleh karena itu sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki kesadaran atau merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik. Tugas mendidik adalah tugas yang amat mulia atas dasar “panggilan” yang teramat suci. Sebagai komponen pusat dalam system pendidikan, pendidik mempunyai peran utama dalam membangun fondamen-fondamen hari depan untuk membentuk pola kemanusiaan. Pola kemanusiaan yang dibangun dalam rangka pembangunan nasional kita adalah “manusia Indonesia seutuhnya”, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya diri disiplin, bermoral dan bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal itu, keteladanan dari seorang guru sebagai pendidik sangat dibutuhkan.
subtansi yang akademis maupun non akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran.
Mutu dalam konteks “hasil Pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir semester, akhir tahun, 2 tahun, atau 5 tahun bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misal : ulangan harian, ujian semester atau ujian nasional). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olahraga, seni atau keterampilan tambahan tertentu. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan lain-lain.
Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (output) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap kurun waktu lainnya. Beberapa input dan proses harus selalu mengacu pada mutu hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain, tanggung jawab sekolah dlam school based quality improvent bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai.

2. Apakah sinetron merusak moral anak?
Hampir sebagian besar rumah tangga di Indonesia saat ini mempunyai pesawat televisi.Selain harganya semakin murah juga menjadi media hiburan yang praktis dan menarik,apalagi siaran televisi saat ini hamper 24 jam mengudara ditambah stasiun televisi yang semakin banyak.Peran pemerintah yang masih lemah mensensor acara-acara televisi yang ada membuat semakin nekatnya stasiun-stasiun pemancar televisi mengudarakan acaranya tanpa memandang efek negatip bagi pemirsanya yang penting bisa mengeruk keuntungan sebanyk-banyaknya dari siaran yang ditampilkannya.
Anak-anak kita yang waktunya sangat luang akhirnya menghabiskan kegiatannya dengan melihat televisi sehari penuh. Anak-anak mudah sekali mendapatkan info dari banyak industri yang tidak tersaring dengan baik seperti perilaku orang dewasa serta siaran siaran yang belum pantas dilihat dan didengar olehnya. Banyak tayangan untuk anak di televisi menampilkan adegan kekerasan, vulgar, atau bahkan cenderung destruktif. Selain itu tayangan yang tidak mendidik akan cepat sekali ditiru oleh anak-anak kita belum lagi perilaku bintang film dan artis-artis yang tidak mengindahkan norma susila dan norma agama.Hal ini bila dilihat oleh anak-anak kita maka langsung akan terekam diotaknya sehingga akan ditiru dan menjadi perilaku sehari-hari.Bila sudah setiap hari kegiatannya melihat televise maka akhirnya akan menjadi kecanduan sehingga otaknya sudah teracuni acara-acara televise dan belajarnapun akan semakin malas.Akibatnya bisa kita tebak anak kita menjadi pemalas dan prestasi sekolahnya rendah.
Sampai saat ini belum ada penanganan maksimal untuk melindungi anak dari gempuran teknologi yang terus berkembang baik dari masyarakat maupun pemerintah.Untuk itu peran orang tua sangat penting untuk mengarahkan anaknya agar tidak kecanduan siaran televisi.
Bila diantara pembaca ada yang mempunyai stasiun televise maka program siaran yang tidak sesuai dengan norma agama akan menghancurkan moral anak bangsa ini dan salah satu dosa yang menyebabkan adalah pemilik stasiun televise yang menyiarkan program-program amoral tersebut.
Pada momen Hari Guru Nasional 2015 ini, guru dituntut untuk berperan lebih aktif dalam memperbaiki moral anak .Ayo selamatkan anak-anak kita dari sinetron televise yang tidak mendidik dan membuat mereka jadi generasi yang pemalas .Semoga Yang Kuasa selalu memberi kekuatan kepada kita.





Bagikan Artikel ini ke Facebook