E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

GENERASI MUDA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN

Dibaca: 1176 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: AFIFUDDIN, S.Ag. lihat profil
pada tanggal: 2015-11-30 12:03:07 wib


Masa depan sebuah bangsa, sebuah negara semua bergantung pada generasinya, pewarisnya, mau dibawa kemana dan mau berwarna apa kedepannya. Dalam hal ini adalah pemuda sebagai generasi penerus haruslah mempunyai arah dan tujuan, harus mempunyai prinsip cemerlang, sebuah akar moralitas yang kuat.
Jika generasi penerus sudah mempunyai prinsip yang kuat, moralitas dan inteligensi yang tinggi, menjunjung profesionalitas, maka akan tegak kokoh sebuah bangsa dan sebuah negara.
Kita tahu pasang surutnya zaman, naik turunnya sebuah peradaban, diwarnai oleh pemikir dan tangan kreator- kreator ulung. Bagaimana kerajaan Sulaiman as, kerajaan Saba dengan ratu Bilqis-nya mencapai keagungan dan bagaimana pula dinasti Umayah dan dinasti Abbasiyah serta yang lain mengalami kejayaan. Serta bagaimana pula kerajaan Majapahit dan Mataram mengalami kejayaan kemudian hancur, semuanya ada ditangan para kreator dan generasinya.
Bagaimanakah dengan kita sebagai generasi penerus bangsa dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan ragam warna ? apakah kita sudah siap untuk mewarnai zaman ? ataukah kita hanya sebagai anai- anai ( laron: Jawa ) penghias lampu jalanan saja ?.
Didalam kesadaran, semua mengakui bahwa manusia pada dasaranya mempunyai
potensi yang kreatif akan kemajuan dan kebenaran, hanya saja kita mampu atau tidak untuk melestarikan dan mempertahankan potensi positif tersebut, karena banyak sekali fenomena yang faktual akan ironi yang ada dimasyarakat. Kyai jadi koruptor dengan sublimasi proposal untuk pembangunan pondok pesantren hingga kyai terjun kekancah politik demi maksud keduniaan yang tak dieksplisitkan ( meskipun masih banyak Kyai yang murni berjuang demi kebenaran melalui jalur politik). Pejabat yang harusnya jadi imam contoh rakyat terjerat dalam penyalah gunaan kepercayaan rakyat, bahkan kitapun ikut berperan secara tidak sadar akan hal itu. Jika fenomena- fenomena tersebut disuguhkan pada kita secara terus menerus, maka tertanam sebuah nilai kelaziman akan sebuah deviasi sistematis. Bahwa korupsi dianggap sebuah kewajaran.
Teladan- teladan yang ditayangkan dalam pemikiran kita menjadi sebuah prototype yang menginternalisasi yang selanjutnya diwariskan kegenarsi selanjutnya.
Jika kita mampu untuk memilah mana yang baik moralis dan buruk, maka sebuah bangsa akan lestari dalam keagungan. Hanya saja untuk dapat memilah dan melestarikan keagungan sebuah peradaban membutuhkan suatu generasi yang inteligensinya smart, sikap mentalitas yang kokoh, mandiri serta kompetitif yang dilandasi moralitas yang tinggi.
Sementara kita bercita- cita luhur ( masih dalam dataran cita- cita ), meniti sebuah agenda agung, diluar sana masih banyak yang terisolir dan asyik terjajah dengan nafsu, mengumbar kesombongan tiada norma. Inilah fakta. Memang dalam hidup ada hitam ada putih, ada benar dan salah sebuah perjalanan hidup pasti ada keseimbangan, sunatullah.
Hanya saja mampukah kita untuk mnyeimbangkan dan menahan sebuah arus besar zaman yang lebih banyak cenderung deviasif ; westernisasi dianggap suatu keyakinan gaya hidup modern ( life style ), sikap nyleneh dianggap mujahid padahal hanya
keinginan memperjuangkan pengakuan akan keaku-an saja.
Ketika life style yang deviasif dan nyleneh tidak lagi bereksplorasi, masih ada ketenangan dihati kita untuk tidur dengan tatanan hidup moralis, akan tetapi manakala sebuah deviasi sudah menjadi virus yang bukan lagi berepidemik dalam satu wilayah saja, bagaimana kita mampu untuk mengisolirnya jika globalisasi tiada filter tidak lagi hanya diluar rumah namun sudah masuk keruang tidur bahkan soulmate- nya hingga kemanapun ikut mendampingi, ikut terbawa ( contoh HP, dengan beragam feature, meskipun tetap masih ada banyak segi positifnya ).
Disinilah kita perlu memproteksi generasi muda sebagai penerus dan pewaris peradaban secara global dari virus immoralisasi, yaitu dengan mensosialisasikan nilai bobot diri yaitu :


Karena ditangan pemudalah hidup dan matinya suatu bangsa.
Bobot diri disini dengan menanamkan pada generasi penerus ( pemuda ) nilai- nilai yang kokoh berbasis keimanan, disamping praksis juga punya nilai eskatis :


( diantara tujuh golongan yang mendapatkan perlinduingan Allah nanti diakhirat adalah : pemuda yang taat beribadah pada Allah).
Bukanlah dikatakan pemuda jika pola berfikir lemah, semangat kompetitif hilang yang hanya disuapi oleh generasi tuanya. Tapi pemuda yang berani unjuk gigi dengan membangun peradabannya yang moralis, tidak hanya mengandalkan hasil dari jerih payah peradaban sebelumnya :


Bukan pula dikatakan pemuda yang ketika berhadapan dengan sedikit problematika dilampiaskan pada alkohol, pada obat- obat yang mengandung zat adiktif, juga bukan dikatakan seorang pemuda yang selalu asyik tertidur dinina bobokan mamahnya ( ngempeng = jawa ) hingga terbuai mimpi- mimpi indah hedonistic; free sex, dsb. Pemuda macam ini hakikatnya bukanlah pemuda akan tetapi orang tua renta yang bermuka dan berfisik muda.

Bagikan Artikel ini ke Facebook