Tapi bagi yang sudah menjadi ASN, maka "bumerang" baginya : dicopot jabatannya atau dipecat sebagai ASN, bila tidak netral dalam Pilkada." />
Tapi bagi yang sudah menjadi ASN, maka "bumerang" baginya : dicopot jabatannya atau dipecat sebagai ASN, bila tidak netral dalam Pilkada." name="description"/>

E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Perjuangan Calon ASN di Pilkada

Dibaca: 590 kali, Dalam kategori: Politik, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-12-13 09:08:17 wib


Perjuangan Calon ASN di Pilkada"Pilkada" adalah lahan yang bagus bagi calon "ASN" berjuang. Siapa menang di Pilkada, maka beruntunglah orang yang mengusung pasangan calon pimpinan daerahnya.

Tapi bagi yang sudah menjadi ASN, maka "bumerang" baginya : dicopot jabatannya atau dipecat sebagai ASN, bila tidak netral dalam Pilkada.

Terutama "guru", yang jumlah tenaga honornya jutaan, mudah terhipnotis dan tergiur janji masuk ASN. Tapi itu sah-sah saja selama tidak merugikan orang lain. Asalkan pengalaman mengajarnya sebagai guru honor, sudah masuk kategori untuk diperjuangkan.

Kita tidak bisa memungkiri, kita kadang "buta" terhadap pasangan yang kita usung. Ada indikasi korupsi atau keluarganya sudah masuk bui, tapi masih dicalonkan oleh partai pengusungnya. Atau banyak anggota keluarganya menjadi "anggota dewan", padahal kerabat atau orang tuanya masuk bui akibat korupsi.

Pesan moral "belum ada", sehingga mereka melenggang dengan santai. Uang banyak, mau apa lagi, kedudukan terhormat, siapa sih yang tak tergiur mengusungnya. Setelah terpilih, sudah banyak bukti, bahwa pembangun di daerahnya sulit berkembang.

Sekolah-sekolah banyak yang sudah lapuk, tapi masih saja menunggu uluran tangan swasta untuk merehabnya. Jalan-jalan dibagusi hanya pada saat menjelang Pilkada. Rakyat yang miskin tetap saja miskin, hanya dijanjikan beberapa lembar uang puluhan ribu atau sembako, kemudian lupa, bahwa calon pemimpin daerahnya hanya jualan tampang dan kedudukan.

Cerdas, tapi korupsi untuk apa dipilih. Mereka tetap kaya dan setelah tak terpilih, malah makin kaya. Pilkada ke depannya musti ada pesan moralnya.

Jangan usung calon pemimpin daerah bermasalah atau kerabat dan orang tuanya bermasalah.

Bagikan Artikel ini ke Facebook