E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

BUKTI CINTA KEPADA RASULULLAH SAW

Dibaca: 859 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: ALIANOOR, S.AG lihat profil
pada tanggal: 2015-12-13 12:35:15 wib


Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai Rasulullah SAW. Mencintai beliau SAW berarti mencintai Allah dan menaatinya berarti menaati Allah SWT. Dan mencintai beliau SAW akan berdampak pada kehidupan yang berkah baik di dunia maupun di akhirat.

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia-manusia lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana kita mengekspresikan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW?

Pertama dan yang paling penting adalah mengikuti beliau SAW dengan ketulusan, meneladani petunjuknya, mencontoh sunnahnya, dan berpegang teguh dengan apa yang ia bawa. Ini adalah tanda cinta yang nyata dan jujur atas kecintaan kita kepada beliau.

Allah SWT berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah wahai Muhammad kepada ummat-mu: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. (QS. Ali Imran: 31).

Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani ra, Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ [HR Ibnu Majah (no. 209), syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” (no. 173).].

Apabila ia mengikuti Rasulullah SAW dengan sebenar-benarnya, maka ini adalah tanda yang nyata dari kebenaran cintanya. Lantaran inilah banyak hadits-hadits yang memperingatkan kita dari membuat-buat amalan dalam agama (bid’ah). Hal ini menutup kemungkinan agar seseorang yang mengaku mencintai Nabi SAW tidak menempuh jalan yang tidak semestinya. Nab Muhammad SAW bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Karena itu orang yang melakukan praktek bid’ah dalam urusan agama berarti dia telah mematikan sunnah Rasulullah SAW dan telah menyelisihi Rasulullah SAW walaupun dia mengaku mencintai Rasulullah SAW. Dan kelak tidak akan bisa meminum air yang bersumber dari telaga al-kautsar di dalam surga sebagaimana hadits berikut ini ;
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى اْلحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ اِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتىَّ اِذَا اَهْوَيْتُ ِلاُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوْا دُوْنِى فَاَقُوْلُ أَيْ رَبّ اَصْحَابِى فَيَقُوْلُ: لاَ تَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Aku adalah pendahulu kamu di telaga (haudl) di surga. Sungguh ada orang-orang diantara kalian yang diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan untuk menjangkau mereka, maka mereka ditarik dariku. Lalu aku berseru, “Wahai Tuhanku, mereka itu ummatku”. Maka Allah berfirman, “Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu”. [HR. Bukhari juz 8, hal. 87]

Kedua, di antara tanda cinta yang jujur kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjaga adab terhadapnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63).

Kita harus beradab terhadap Nabi Muhammad SAW, mengetahui kedudukannya, dan mengangungkannya. Tentu saja dengan pengagungan yang selayaknya (tidak meremehkan dan tidak berlebihan).

Mengagungkan dengan hati dengan mencintai dan mengetahui kedudukan beliau SAW.

Mengagungkan dengan lisan dengan memujinya dengan tidak berlebihan dan bershalawat kepadanya.

Mengagungkannya dengan anggota tubuh yaitu dengan mengikuti petunjuk beliau SAW. Allah SWT berfirman;
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Ketiga adalah dengan banyak menyebut beliau SAW dan mengharapkan perjumpaan dengan beliau SAW. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta.” (HR. Muslim).

Termasuk tanda cinta kepada beliau SAW adalah banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW. Terutama saat menyebut nama beliau SAW dan di hari Jumat. Nabi Muhammad SAW bersabda:
أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الجُمُعَة
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat.”

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda:
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً
“Manusia yang paling utama (dekat) denganku hari kiamat kelak adalah yang paling banyak bershalawat atasku.” (HR. Al-Tirmidzi, dan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:
مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطيئاتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ.
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)-nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak).” (HR An-Nasa’i No. 1297 dan Ahmad, shahih.)

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang bakhil ialah mereka yang apabila disebut nama-Ku mereka tidak bershalawat.” (HR At Tirmidzi, shahih).

Membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang agung dan merupakan salah satu tanda kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah untuk membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW datang setelah Allah SWT memberitahu bahwa Dia bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu atasnya, serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Qs. Al-Ahzab: 56)

Terdapat beberapa riwayat yang menukilkan bahwa beberapa orang Shahabat Nabi SAW telah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara atau kaifiyat untuk bershalawat atas beliau SAW , maka diajarkannya kepada mereka.

Di antaranya ialah riwayat dalam Shahih Al Bukhari no. 2497 dari Ka’ab bin ‘Ujrah ra. Shahabat yang mulia ini menceritakan bahawa para Shahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana cara bershalawat kepada beliau SAW. Beliau SAW menjawab dengan mengatakan: “Katakanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Inilah antara kaifiyat bershalawat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada para Shahabat sebagai jawaban kepada pertanyaan mereka mengenai cara bershalawat untuk beliau. Maka adalah lebih baik apabila lafazh shalawat ini yang diamalkan dalam membaca shalawat untuk Nabi SAW, bukan lafaz-lafaz shalawat susunan seseorang, sebab shalawat-shalawat selain yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari kekeliruan, baik dalam pemilihan bahasa, maupun –dan ini yang paling parah– kesalahan dalam akidah! Sebab banyak lafazh sholawat-sholawat yang di buat oleh manusia (syaikh-syaikh thoriqat shufiyah) yang kandungannya mengandung kesyirikan dan berlebih-lebihan terhadap Rasulullah SAW.

Keempat adalah mencintai keluarganya, istri-istrinya, dan para sahabatnya. Allah SAW berfirman;
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab: 6)

Dalam hadits yang shahih, Nabi SAW bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
“Atas nama Allah, aku ingatkan kalian akan keluargaku.” (HR. Muslim). Beliau mengulang sabdanya ini tiga kali.

Kelima adalah mencintai sunnah-sunnah beliau SAW. Mencintai orang-orang yang berpegang teguh dengannya dan mendakwahkannya. Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata;
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum namun mereka tidak berjumpa dengannya”? Rasulullah SAW menjawab, ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai’.”
Inilah di antara tanda-tanda yang benar terhadap Nabi Muhammad SAW. Wallahu A’lam Bish-Showab.****

Bagikan Artikel ini ke Facebook