Minggu lalu," />
Minggu lalu," name="description"/>

E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Ganti Kurikulum Harus Menyenangkan Guru

Dibaca: 482 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: nnnnn nnnnn lihat profil
pada tanggal: 2015-12-16 10:49:38 wib


Ganti Kurikulum Harus Menyenangkan Guru 16 Desember 2015

Pada pemberitaan dalam minggu ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tampaknya sedikit geram dengan pemberitaan yang mengatakan " Kembali ke Kurikulum 2006 mulai tahun depan " dan akan menuntut pihak-pihak yang memelintir berita lama, sehingga terkesan baru.

Minggu lalu, penulis sudah membaca berita akan adanya pergantian K-13 menjadi K-Nas (Kurikulum Nasional).

Sebaiknya memang berita harus akurat, bukan hanya katanya.


Kemendikbud Lamban

Menyikapi permasalahan "kurikulum" di Indonesia terkesan simpang-siur. Kenyataannya Kemendikbud lamban menyikapi aspirasi yang berkembang. Terutama aspirasi para guru, yang jelas-jelas melaksanakan kurikulum yang ditetapkan.

Seharusnya Kemendikbud, Mendikbud dan pemerintah mau mendengarkan yang dirasakan guru. Dan bukan hanya katanya, kata pakar, kata orang dan kata-kata.

K-13 tidak dihapus, tapi akan disederhanakan. Seperti apakah kesederhanaannya?

Bayang-bayang cara penilaian ala kurtilas tersebut, yang membuat energi guru terkuras masih terasa sampai sekarang.

Ribuan sekolah tetap menjalankan Kurikulum 2013. Ada yang menganggap cocok, ada pula yang menganggap penyiksaan.

Yang merasa cocok, bisa jadi menyembunyikan perasaannya atau bukanlah dari kalangan guru.

Atau hanya menjadi "mandor" dalam pendidikan. Tentu saja pelaku yang benar-benar adalah guru itu sendiri.

Menteri, dinas pendidikan, pengawas, kepala sekolah dan masyarakat umum bukanlah guru yang ada di kelas.

Mereka tidak terlibat secara langsung mengajar di sekolah. Mereka tidak melaksanakan penilaian yang menjadi kewajiban guru.

Oleh karena itulah, kurikulum apa pun janganlah memberatkan guru.

Mau diganti menjadi kurikulum apa pun, hendaknya membuat guru "masih tetap senang".

Tidak boleh untuk alasan begini : "Guru kan sudah ditingkatkan kesejahteraannya, harus cape dong?".

Itu hanya alasan untuk memberi penyiksaan.

Bagikan Artikel ini ke Facebook