E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

NIKAH DISAAT HAMIL

Dibaca: 663 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Duryat, S. Pd. I lihat profil
pada tanggal: 2015-12-22 15:56:42 wib


NIKAH HAMI
Pelayanan Konsultasi Hukum Islam Tentang Nikah Hamil


Klien : Pak, saya akan konsultasi dengan bapak tentang kawin hamil, apa maksudnya pak…?
Konsultan : Yang dimaksud dengan kawin hamil itu adalah perkawinan/pernikahan wanita hamil diluar perkawina yang sah.
Klien : Lalu bagaimana kawin/nikah hamil itu menurut hokum Islam Pak….!?
Konsultan : Bila berbicara dengan kawi hail, umumnya ada dua pembahasa yang berkaita dengan masalh itu, yang pertama hukum munakahat bagi wanita hamil dengan pria yang menghamilinya, yang kedua hokum menikah bagi wanita hamil dengan pria yang bukan menghamilinya.
Hukum menikah bagi wanita hamil dengan pria yang menghamilinya,para Im madzhab sepakat tentang kebolehannya dan kesahannya, mereka boleh nenggaulinya sebagaimana layaknya suami istri. Hal ini juga tidak bertentangan denga nisi surat A Nur ayat 3 yang berbunyi :


Artinya : Pezina laki-laki tidak oleh menikah kecuai dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik dan pezina perempan tdak oleh menikah kecuali denga pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik dan yang demikianitu diharamkan bagi orang-orang Mukmin ( QS. Annur ayat 3)
Sedangkan hokum menikah bagi wanita hamil dengan pria yang bukan menghamilinya, para imam madzhabberbeda pendapat tentang kebolehannya. Imam Syafii berpendapat bahwa meniahi wanita hamil sebab zina hukumnya boleh, baik oleh laki-laki yang menghamilinya maupun oleh laki-laki lain, dianaranya berdasarkan Firman Allah SWT :



Artinya : Diharamkan atas kamu (menikahi) Ibu2 mu, anak2 mu, yang perempuan, audara2 mu yang perempuan, saudara2 ayahmu yang perempuan, saudara2 ibumu yang perempuan……….(QS.Annur: 3)
Dari ayat diatas dapat difahami bahwa perempuan yang hamil dari perbuatan tidak termasuk dari kalangan perempuan yang haram dinikahi.
Iam Abu Hanifah berpendapat boleh mengawini wanita hamil dari perbuatan zina dengansyarat kalua yang mengawininya itu bukan orang yang menhamilinya tidak boleh menggaulinya sehingga ia melahirkan diantaranya berdasarkan hadits Nabi SAW :

Artinya : Sesungguhnya nabi Muhammad SAW, bersabda : Tidak boleh digaulu wanita hamil sehingga ia melahirkan.
Sesungguhnya Imam mMalik dan Imam Ahmad ibnu Hambal berpendapat tidak boleh mengawini wanita hamil dari perbuatan zinaoleh pria yang bukan menghamilinya kecuali telah melahirkan dan telah habis masa iddshnya. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi,selain syarat yang tersebut bahwa boleah menikahi wanita hamil dari perbuatan zina oleh pria yang bukan menghamilinya yaitu perempuan hamil itu telah tobat dari perbuatan ma’siatnya dan jika ia belum tobat maka tidak boleh mengawininya meskipuntelah habis masa iddahnya. Alasan mereka bberdasarkan firman Allah SWT, surat ANnur Ayat 3 dan hadits nabi tersebut diatas.
Klien : Dariperbedaan Madzhad Imam itu, kira-kira pendapat mana pak yang lebih relepan danbijaksana …?
Konsultan : Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukakan tampaknya pendapat Imam syafi’I lebih kuat dalilnya, disampin itu juga manusiawi dan cocok untukmengatasi masalah yang dihadapi wanita hamil akibat zina. Tidak sedikit diantara meareka karena penyesalan yang egitu mendalam, kemudian menglamifrustasi dan depresisehingga tidak jaran mereka mengasingkan diri dari orang anyak tanpa ada gairah hidup bahkan melakukan bunuh diri. Adapun diantara mereka melakukan aborsi bahkan ada pula yang membunuh bayinya setelah lahir menjadi manusia yang sempurna. Hal ini desebabkan mereka merasa kehilangan harga diri, karena itu hidup mereka tidak berguna lagi. Dengan perkawinan ditemukankemal karena perkawinan mencerminkan adanya pengakuan dari seseorang terhadap harga diri pasangan hidupnya.
Klien : Pertanyaan yang terakhir pak….!? Apa harus nikah ulang setelah bayi lahir…?
Konsultan : Jawabanya terdapat pada buku kompilasi Hukum Islam diIndonesia BAB VIII pasal53, sebagaiberikut :
1. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya .
2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat(1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
3. Dengn dengan dilangsungkanya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelahanakyang dikandung lahir.
Klien : Trima kasih pak…? Atas penjelasanya.

Bagikan Artikel ini ke Facebook