E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

UNTUKMU SANG GURU: RAHASIA KEBERHASILAN PENDIDIKAN DI FINLANDIA

Dibaca: 1107 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: SAHWIRUL YATI, M.A. lihat profil
pada tanggal: 2016-02-12 05:34:24 wib


Mendengar kata Finlandia, kita jadi teringat semboyan “Connecting people”nya HP Nokia. Mengapa demikian? Karena memang negara inilah produsen HP selular kenamaan yang sempat merajai pasaran dunia beberapa tahun yang lalu.
Finlandia adalah sebuah negara yang terletak di bagian utara Skandinavia. Letaknya yang dekat dengan Kutub Utara menjadikan negara ini memiliki iklim yang dingin. Meskipun negaranya hanya seluas 338.145 KM2 , dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa, namun keberadaan negara ini telah berhasil menyita perhatian dunia. Bukan hanya terkenal dengan teknologi selularnya yang sudah diakui dalam peringkat pertama oleh program teknologi PBB bebrapa tahun lalu, namun yang lebih mencengangkan lagi Finlandia terkenal dengan sistem pendidikannya yang telah berhasil mengantar siswanya unggul dalam prestasi akademik tertinggi di dunia, terutama di bidang membaca, matematika dan Ilmu pengetahuan dari seluruh negara yang disurvey oleh UNICEF. Bahkan, pendidikan siswa Finlandia ini telah berhasil melampaui Amerika Serikat dan negara-negara Erofah lainnya, sehingga menjadi sorotan dunia beberapa dekade terakhir ini. Bagaimana mungkin sebuah negara sekecil Finlandia dapat menjadi sebuah negara yang sukses dengan sistem pendidikan yang begitu menghebohkan ini? Ternyata inilah rahasianya.
Sejak 40 tahun lebih Pemerintah Finlandia telah menerapkan sistem pendidikan yang sama dan cukup sederhana. Meskipun rezim dan pemerintahan diduduki oleh partai yang berbeda namun sistem pendidikan yang diterapkan tetap sama. Pemerintah Finlandia telah mengatur usia, jam sekolah dan biaya pendidikan menjadi semudah mungkin bagi rakyatnya. Di antara beberapa kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Anak-anak Finlandia dibolehkan sekolah hanya jika sudah berusia 7 tahun
Negara Finlandia mengatur warganya memulai sekolah pada saat usia 7 tahun. Hal ini berdasarkan pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan oleh guru hingga mereka mencapai kelas 4 SD. Meski ke jenjang SMA pun permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran.

2. Siswa SD-SMP Cuma sekolah 4-5 jam / hari, siswa SMP dan SMA sistem pendidikan mereka sudah seperti di bangku kuliah
Siswa SD di Finlandia kebanyakan berada di sekolah hanya sekitar 4-5 jam per hari, siswa SMP dan SMA mengikuti sistem seperti layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka datang ke sekolah tidak karena terpaksa karena ada beberapa mata pelajaran yang tidak mereka sukai, tetapi mereka datang atas dasar pilihan mereka sendiri. Sehingga jam belajar yang ada justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Pada awal semester biasanya guru-gurur mereka telah menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap dengan apa yang akan mereka pelajari di kelas, namun mereka juga sudah tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri. Dengan cara seperti ini otomatis kreatifitas siswa jadi terasah.


3. Waktu belajar dalam satu jam tatap muka hanya 45 menit, kemudian 15 menit istirahat
Tahukah Anda bahwa untuk setiap belajar 45 menit, siswa di Finlandia berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang jika mereka memiliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Siswa juga lebih produktif di jam-jam belajar karena berpikir sebentar lagi mereka akan dapat bermain. Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka menjadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Kebiasaan ini menghindarkan siswa untuk tidak terlalu banyak duduk yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

4. Semua sekolah di Finlandia bebas dari biaya. Sekolah swasta pun di atur secara ketat oleh pemerintah agar tetap terjangkau semua lapisan masyarakat.
Semua sekolah yang ada di Finlandia dianggap setara bagusnya, karena semua sekolah di negara itu dibangun atas dasar kesetaraan. Tidak memberikan subsidi hanya kepada mereka yang membutuhkan, tetapi menyediakan pendidikan murah dan berkualitas untuk semua. Sekolah swasta telah diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Pemerintah Finlandia juga memfasilitasi tiap sekolah dengan pendukung proses pembelajaran, seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma.

5. Guru digaji dengan pendapatan paling tinggi di Finlandia, mereka juga dibiayai pemerintah untuk meraih gelar Master
Di samping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang terdapat di semua sekolah adalah mutu guru-gurunya yang sangat berkualitas. Mereka memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Oleh karena itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya dengan menerapkan sistem pendidikan S2 gratis untuk para calon guru. Profesi guru merupakan profesi yang paling terhormat dan membanggakan. Seorang guru dianggap memiliki strata yang cukup tinggi di masyarakat. Saking bergengsinya pofesi seorang guru hingga dianggap sejajar dengan dokter dan pengacara. Hal ini memang sesuai saja dengan gaji perbulan yang mereka terima, yakni sekitar 40 juta perbulan. Menurut sebuah situs, masuk fakultas keguruan di Finlandia juga lebih sulit daripada masuk fakultas kedokteran. Untuk menjadi seorang guru negara ini lebih selektif dan cukup sulit, hanya mereka yang berpendidikan S2 dengan nilai kelulusan 10 besar saja yang akan berhasil diterima. Tidak peduli apakah mereka mengajar di SD atau SMA dengan memastikan rasio 1 orang guru untuk 12 siswa. Dengan demikian guru dapat memberikan perhatian khusus untuk tiap siswa.

6. Tidak ada Ujian Sekolah dan Ujian Nasional
Pemerintah Finlandia menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada guru di sekolah dengan garis pedoman nasional yang longgar. Pemerintah Finlandia meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan mengetahui cara penilaian terbaik sesuai dengan kondisi siswa yang mereka didik. Hal ini dianggap perlu karena setiap siswa pada sebuah sekolah memiliki keberagaman tingkat sosial dan latar belakang kultur yang berbeda. Jadi, dengan caranya sendiri-sendiri siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal di bawah bimbingan seorang guru. Oleh karena itu, gurulah yang dianggap paling tahu kemampuan siswanya masing-masing, guru juga dianggap paling tahu jenis evaluasi apa yang cocok untuk siswanya, sehingga tidak diperlukan lagi Ujian Sekolah yang hanya menghasilkan kesenjangan siswa dan juga tidak diperlukan lagi Ujian Nasional yang notabene soalnya dibuat oleh pemerintah pusat.

7. Tidak ada sistem ranking di kelas
Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat menjadi pintar tanpa terkecuali. Oleh karena itu mereka tidak menerapkan sistem perangkingan atau kompetisi yang mereka anggap hanya menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’. Meskipun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, namun siswa-siswa tersebut tetap ditempatkan di kelas dan program yang sama dengan siswa lain. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif, dan ternyata sistem ini telah berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.

Bagaimana dengaan pendidikan di Indonesia? Ternyata, sistem pendidikan di Indonesia jauh lebih sulit dan berat dengan hasil pendidikan yang masih belum jelas. Hal ini terjadi karena Indonesia masih menggunakan kebijakan pendidikan yang tentatif, suka coba-coba dan sering berganti-ganti. Benarkah demikian? Inilah buktinya :
1. Di indonesia kita masih asik membombardir siswa dengan sekian banyak tes seperti ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid semester, ulangan umum, ulangan kenaikan kelas dan Ujian Nasional yang menjadi momok menakutkan bagi siswa, membuat siswa tertekan, putus asa, bahkan sebagian menganggap tidak manusiawi, karena Ujian Nasional diawasi oleh pengawas dengan ketat, didampingi oleh polisi dan dipantau oleh CCTV. Akibatnya pada beberapa kasus bahkan ada yang berakhir bunuh diri karena gagal di Ujian Nasional. Di Finlandia hal seperti ini tidak pernah dilakukan, mereka justru mengurangi tes kepada siswa mereka seminimal mungkin. Tidak ada Ujian Nasional sampai siswa meyelesaikan pendidikan SMA, mereka baru mengikuti Matriculation Examination untuk masuk Perguruan Tinggi.
2. Kita masih getol menerapkan KKM (Kriteria Ketuntsan Minimal), sehingga siswa yang gagal tes harus mengikuti tes remedial dan masih ada yang ketinggalan kelas. Sebaliknya Finlandia menganut kebijakan Automatic Promotion (Naik Kelas Otomatis) guru siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas.
3. Kita masih berpikir bahwa PR amat penting untuk membiasakan siswa disiplin belajar. Bahkan, di sekolah tertentu tiada hari tanpa PR, sebaliknya di Finlandia PR masih bisa ditolerir, dengan aturan maksimum hanya boleh menyita waktu setengah jam waktu belajar anak di rumah.
4. Akibat banyaknya evaluasi yang diterapkan oleh sekolah, maka muncullah pengkotakan-pengkotakan siswa, ada kelas regular, ada kelas unggulan (anak pintar), ada sekolah berstandar Nasional, Internasional, Sekolah Plus, dan penganaktirian anak sekolah swasta dari negeri oleh pemerintah. Di Finlandia pengkotakan siswa dan pengkastaan sekolah seperti ini tidak ada. Anak yang pintar dipacu dan dididik untuk meningkatkan prestasinya, anak yang kurang berhasil dibina agar dapat selaras dengan anak yang lain. Tidak ada istilah ketinggalan kelas atau rengking di kelas. Begitu pula dengan sekolah swasta dan negeri mendapat besaran dana yang sama dari pemerintah. sehingga kesenjagan di tingkat siswa dan sekolah tidak terjadi.

Ternyata hanya sesederhana itukah system pendidikan di Finlandia? Jadi, bagaimana menurut Anda? Kalau memang sistem pendidikan yang sederhana di atas oleh Finladia terbukti telah berhasil menelurkan siswa unggulan tingkat dunia, mengapa kita ragu untuk mencobanya? Jawabannya ada di tangan kita, wahai insan pendidik dan aparatur negara. Wassalam..

Bagikan Artikel ini ke Facebook