E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ ( Artistik, Konvensional, Ilmiah Dan Klinis) Untuk Meningkatkan Profesional Guru PAI SD Di Kota Probolinggo

Dibaca: 2475 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: MUH. TAUFIQ, S.Ag., M.Pd.I lihat profil
pada tanggal: 2016-02-17 14:10:45 wib


Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ ( Artistik, Konvensional, Ilmiah Dan Klinis) Untuk Meningkatkan Profesional Guru PAI SD Di Kota Probolinggo  SURAT PERNYATAAN



Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : MUH. TAUFIQ, S.Ag., M.Pd.I

Tempat/Tanggal lahir : Lumajang, 03 Pebruari 1971
NIP : 19710203 200003 1 007
Pangkat/Golongan : Pembina / IV.a
NUPTK : 6535 7496 5120 0022
Unit Kerja : Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya Pengembangan Model Supe rvisi Pembelajaran PAI dengan judul :

Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ ( Artistik, Konvensional, Ilmiah Dan Klinik) Untuk Meningkatkan Profesional Guru PAI SD Di Kota Probolinggo

Adalah benar-benar :

1. Buatan saya sendiri dan bukan karya orang lain.

2. Mengacu pada Kurikulum PAI 2013.

3. Belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis pada tingkat regional, nasional maupun inte rnasional.
Apabila terbukti tidak sesuai dengan pernyataan tersebut di atas, saya bersedia didiskualifikasi.

Surat pe rnyataan ini dibuat secara sadar, sehat jasmani dan rohani.


Probolinggo, 03 Desember 2015 Pengawas Sekolah





MUH. TAUFIQ, S.Ag., M.Pd.I
NIP. 19710203 200003 1 007


PENGESAHAN





Yang bertanda tangan di bawah i ni Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo mengesahkan karya pengembangan model supervisi pembelajaran PAI berjudul :

Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ ( Artistik, Konvensional, Ilmiah Dan Klinik) Untuk Meningkatkan Profesional Guru PAI SD
Di Kota Probolinggo




Dibuat oleh :

Muh. Taufiq, S.Ag., M.Pd.I




Probolinggo, November 2015

Yang Mengesahkan :
Kepala Kantor Kementerian Agama
Kota Probolinggo




H. Muhammad, S.Sos., M.Pd.I
NIP. 19650208 198603 1 003







KATA PENGANTAR


Alhamdulllah, Puji syukur selalu kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Nikmat dan Karunia-Nya, sehingga Penyusunan Makalah yang berjudul : “Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ (Artistik, Konvensional, Ilmiah Dan Klinis) Untuk Meningkatkan Profesional Guru PAI SD Di Kota Probolinggo”, dapat kami selesaikan.

Makalah ini dapat kami susun dengan baik sebagai Prasyarat Mengikuti Lomba Apresiasi Pengawas PAI Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Dan penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Kepala Kemenag Kota Probolinggo, atas bimbingan dan pengarahannya
2. Bapak/ibu pengawas kemenag Kota Probolinggo selaku teman sejawat yang memberikan motivasi selama ini
3. Dan semua pihak yang memberikan dukungan selama ini

Tak ada gading yang tak retak, kami mohon saran kritik dari semua pihak agar dalam pelaksanaan kepangawasan, kami dapat memperbaiki kekurangan yang ada. Untuk itu tidak lupa kami sampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada seluruh pihak terkait terutama dibidang pendidikan , mudah – mudahan dapat memberi manfaat bagi kita semua. Amiin Amiin Yaa robbal ‘Aalamiin.

Probolinggo, November 2015
Penulis,



MUH. TAUFIQ, S.Ag., M.Pd.I
NIP. 19710203 2000031 007


ABSTRAK
Muh. Taufiq, S.Ag., M.Pd.I, 2013; “Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ (Artistik, Konvensional, Ilmiah, dan Klinis) untuk meningkatkan Profesional Guru PAI SD di Kota Probolinggo”.

Kata Kunci : Supervisi Akademik, Profesional Guru
Pengawas profesional adalah pengawas sekolah yang melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial serta kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dengan optimal. Selain itu untuk meningkatkan profesionalisme pengawas sekolah maka perlu dilaksanakan pengembangan profesi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks dan untuk lebih mengarahkan sekolah ke arah pencapaian tujuan pendidikan nasional yang efektif, efisien dan produktif.
Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, menyebutkan bahwa seorang pengawas sekolah wajib mempunyai enam dimensi kompetensi minimal yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik evaluasi pendidikan, penelitian pengembangan, dan kompetensi sosial.
Pengemba ngan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ yaitu adanya komunikasi pengawas dengan guru maupun kepala sekolah, diantaranya: 1). Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakan-nya, 2).Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran, 3). Membantu guru mengembangkan keterampilannnya menggunakan strategi pengajaran, 4). Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya, 5). Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan.







DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
HALAMAN PENGESAHAN (Ketua Pokjawas & Kepala Kantor)
KATA PENGANTAR RINGKASAN/ABSTRAK DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Permasalahan
C. Desain Pemecahan Masalah
D. Tujuan
E. Manfaat
BAB II LANDASAN TEORI
A. Model Supe rvisi Akademik yang Dikembangkan
B. Langkah-langkah Penerapan Model Supervisi yang Dikembangkan
BAB III DESAIN PENGEMBANGAN MODEL SUPERVISI AKADEMIK
A. Ide Dasar
B. Proses Pembuatan
C. Kompete nsi GPAI Yang Ingin Dikembangkan
D. Indikator
E. Tujuan Pengemba ngan Model Supervisi Akademik
F. Langkah-langkah Pengembangan Model Supe rvisiAkademik
G. Evaluasi
H. Referensi
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan
B. Rekome ndasi
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
1. Biodata Penyusun
2. Rencana Kepengawas (Supervisi) Akademik (RKA) untuk satu tema.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat terkait erat dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) tanpa menafikan faktor-faktor lainnya seperti sarana dan prasarana dan pembiayaan. Pengawas sekolah merupakan salah satu pendidik dan tenaga kependidikan yang posisinya memegang peran yang signifikan dan strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah.
Kegiatan pengawasan adalah kegiatan pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru. Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru pada pasal 15 ayat 4 dijelaskan bahwa pengawas sekolah harus melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Dengan demikian pengawas sekolah dituntut mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang memadai untuk dapat menjalankan tugas kepengawasannya.
Pengawas profesional adalah pengawas sekolah yang melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial serta kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dengan optimal. Selain itu untuk meningkatkan profesionalisme pengawas sekolah maka perlu dilaksanakan pengembangan profesi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks dan untuk lebih mengarahkan sekolah ke arah pencapaian tujuan pendidikan nasional yang efektif, efisien dan produktif.
Begitu pentingnya peran pengawas sekolah dalam memajukan mutu pendidikan nasional hingga tak terasa tuntutan dan tanggungjawab yang harus dipikul pengawas sekolah juga menjadi besar pula. Peraturan Pemerintah no 74 tahun 2008 tentang Guru pada pasal 15 ayat 4 menyatakan bahwa guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Tugas pengawasan yang dimaksud adalah melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Untuk implementasi tugas tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.
Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, menyebutkan bahwa seorang pengawas sekolah wajib mempunyai enam dimensi kompetensi minimal yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik evaluasi pendidikan, penelitian pengembangan, dan kompetensi sosial.
Penerapan standar nasional pendidikan (SNP) merupakan serangkaian proses meningkatkan penjaminan mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat serta memenuhi hak tiap warga negara mendapat pendidikan yang mutu. Pelaksanaannya diatur secara bertahap dan berkelanjutan melalui terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Dalam proses pemenuhan standar diperlukan indikator dan target, baik dalam keterlaksanaan prosedur peningkatan dan produk mutu yang dapat diwujudkan.
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang merupakan implementasi dari Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menuntut para pengelola dan pelaksana pendidikan melakukan perubahan dan penyesuaian semua aspek dan perangkat pendidikan dengan standar yang telah ditentukan. Hal ini diharapkan agar output pendidikan dapat memenuhi kebutuhan tuntutan era global, sesuai dengan keberagaman kebutuhan daerah.
Fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab II pasal 3 adalah; ”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Sebagai implikasi dari tujuan tersebut, Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai bagian dari pengawas sekolah/madrasah adalah tenaga kependidikan yang secara institusional bertanggung jawab terhadap penjaminan mutu pendidikan memiliki peranan sangat penting dalam mengawasi, membina, memantau, mensupervisi dan mengembangkan kemampuan profesional para kepala sekolah/madrasah dan tenaga kependidikan lainnya dan teruatama guru PAI di sekolah serta melaksanakan penilaian terhadap semua hasil kegiatan profesi mereka, agar sekolah/madrasah yang dibinanya dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut memerlukan perencanaan yang matang, akurasi substansi program yang tajam, serta daya pikir yang inovatif. Hal ini sebagaimana Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengawas Madrasah Dan Pengawas Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah. Menimbang: Bahwa Dalam Rangka Pelaksanaan Ketentuan Pasal 39 Ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Perlu Menetapkan Peraturan Menteri Agama Tentang Pengawas Madrasah dan Pengawas Pendidikan Islam Pada Sekolah; Selanjutnya pada Pasal 4 disebutkan bahwa fungsi pengawas madrasah dan pengawas PAI sebagai berikut :
1. Pengawas Madrasah mempunyai fungsi melakukan :
a. Penyusunan program pengawasan di bidang akademik dan manajerial;
b. Pembinaan dan pengembangan madrasah;
c. Pembinaan, pembimbingan, dan pengembangan profesi guru madrasah;
d. Pemantauan penerapan standar nasional pendidikan;
e. Penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan; dan
f. Pelaporan pelaksanaan tugas pengawasan.

2. Pengawas PAI pada Sekolah mempunyai fungsi melakukan :
a. Penyusunan program pengawasan PAI;
b. Pembinaan, pembimbingan, dan pengembangan profesi guru PAI;
c. Pemantauan penerapan standar nasional pendidikan PAI;
d. Penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan; dan
e. Pelaporan pelaksanaan tugas pengawasan.

Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pengawasan akademik, maka pengawas seyogyanya mampu menyusun Model Pengembangan Supervisi Akademik Pembelajaran Kreatif, Interaktif, Inovatif, Kolaboratif, dan Kolegial yang disesuaikan dengan tema-tema yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (untuk supe rvisi pembelajaran PAI di PAUD/TK) dan Kurikulum 2013 PAI dan Budi Pekerti (untuk supervisi pembelajaran PAI di SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB & SMK). Dalam rangka menjaga pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013 kerberadaan pengawas PAI urgen diperlukan, terutama dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah yang sudah berbasis ICT yang berorientasi pada Kurikulum 2013.
Dari latar belakang tersebut diatas penulis dalam pelaksanan supervisi akademik mengambil judul : Pengembangan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ (Artistik, Konvensional, Ilmiah dan Klinik) untuk meningkatkan Profesional Guru PAI SD Di Kota Probolinggo.

B. Permasalahan
Melihat permasalahan dalam latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah Guru Pendidikan Agama Islam sudah memanfaatkan lingungan sekitar sekolah sebagai sumber Belajar?
2. Apakah Guru Pendidikan Agama Islam mampu menciptakan pembelajar-an yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran di kelas?
3. Sejauhmanakah Guru PAI memahami kuriulum 2013?
C. Desain Pemecahan Masalah
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran.
Refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas? Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan peserta didik di dalam kelas? Aktivitas- aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan peserta didik? Apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya? Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja bukan berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program tindak lanjut.
D. Tujuan
Supervisi akademik memiliki beberapa tujuan. Salah satu tujuannya adalah membantu guru mengembangkan kompetensinya, mengembangkan kurikulum, mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK).

E. Manfaat
Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari permasalahan tentang supervisi akademik, sebagai berikut:
1. Mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi guru dalam pembelajaran; dan Supervisi ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan dijadikan acuan dlam supervisi, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
2. Supervisi merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan
guru/kepala sekolah dalam suatu bidang pembelajaran.
3. Manfaat Supervisi itu sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya.
4. Supervisi bisa dijadikan untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Model Supe rvisi Akademik yang Dikembangkan
Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003).
Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan, .
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. (Razik, 1995: 559). Hal ini sejalan pula dengan pandangan L Drake (1980: 278) yang menyebutkan bahwa supervisi adalah suatu istilah yang sophisticated, sebab hal ini memiliki arti yang luas, yakni identik dengan proses mana-jemen, administrasi, evaluasi dan akuntabilitas atau berbagai aktivi- tas serta kreatifitas yang berhubungan dengan pengelolaan kelembagaan pada lingkungan kelembagaan setingkat sekolah.
Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan penga- wasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan profesional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervisi akademis, dan supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum.
Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari kea- daan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supevisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Setelah diuraikan pengertian supervisi secara umum, tentu perlu pula dipaparkan pengertian supervisi manajerial dan supervisi akademik. Hal ini sesuai dengan dimensi kompetensi yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Dalam Peraturan tersebut, Pengawas satuan pendidikan dituntut memiliki kompetensi supervisi manajerial dan supervisi akademik, di samping kompetensi kepribadian, sosial, dan penelitian dan pengembangan. Esensi dari supervisi manajerial adalah berupa kegiatan pemantauan, pembi- naan dan pengawasan terhadap kepala sekolah dan seluruh elemen sekolah lainnya di dalam mengelola, mengadministrasikan dan melaksanakan seluruh aktivitas sekolah, sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan sekolah serta memenuhi standar pendidikan pendi- dikan nasional. Adapun supervisi akademik esensinya berkenaan dengan tugas pengawas untuk untuk membina guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Peraturan Menteri ini juga mengisyaratkan bahwa dalam profesi pengawas di Indonesia secara umum tidak dibedakan antara supervisor umum dengan supervisor spesialis, kecuali untuk mata pelajaran dan/atau jenis pendidikan tertentu. Sebagaimana dikemukakan oleh Made Pidarta (1995: 84-85) bahwa supervisor dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu supervisor umum dan supervisor spesialis. Supervisor umum tugasnya berkaitan dengan pemantauan pelaksanaan kurikulum serta upaya perbaikannya, dan memoti- vasi guru untuk bekerja dengan penuh gairah, dan menangani masalah-masa- lah pendidikan secara umum. Sedangkan supervisor spesialis lebih berkon-sentrasi pada perbaikan proses belajar mengajar, terutama berkaitan dengan spesialisasi mereka. Mereka disebut pula dengan supervisor bidang studi, dan dipandang sebagai ahli dalam bidang tertentu sehingga mampu mengembang- kan materi, pembelajaran, media dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan.
Menurut Sahertian (2008), model supervisi terdiri dari:
1.Model supervisi konvensional
Model supervisi konvensional adalah model supervisi yang menganut paham bahwa supervisor sebagai seseorang yang memiliki power untuk menentukan nasib kepala sekolah dan guru. Dalam praktek supervisinya supervisor dengan gaya konvensional akan mencari-cari kesalahan kepala sekolah dan guru bahkan sering kali memata-matai guru. Perilaku memata-matai ini disebut dengan istilah snoopervision atau juga sering disebut supervisi korektif.
2. Model supervisi artistik
Model supervisi artistik menuntut seorang supervisor dalam melaksanakan tugasnya harus berpengetahuan, berketerampilan, dan memiliki sikap arif. Seperti diungkapkan oleh Jasmani dan Mustofa (2013) model supervisi artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang lain (working for the other), bekerja dengan orang lain (workingwith the other), dan bekerja melalui orang lain (working trough the other). Oleh karena itu, pelaksanaan supervisi tentunya mengandung nilai seni (art).
Menurut Sergiovannimodel supervisi artistic memiliki beberapa ciri khas, antara lain:
a. Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada
berbicara.
b. Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup.
c. Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka
mengembangkan pendidikan bagi generasi muda
d. Menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses
kehidupan kelas.
e. Memerlukan suatu kemampuan berkomunikasi yang baik dalam cara mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu.
f. Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang
diungkapkan.
3. Model supervisi ilmiah
Model supervisi ilmiah adalah sebuah model supervisi yang digunakan oleh supervisor untuk menjaring data atau informasi dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket.
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dilaksanakan secara berencana dan berkelanjutan.
b. Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu.
c. Menggunakan instrumen pengumpulan data.
d. Dapat menjaring data yang obyektif.
4. Model supervisi klinis
Supervisi klinis adalah supervisi yang dilakukan berdasarkan adanya keluhan atau masalah dari guru yang disampaikan kepada supervisor.
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan pembelajaran dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.

B. Langkah-langkah Penerapan Model Supervisi yang Dikembangkan
Pengawas sekolah merupakan salah satu unsur penjamin mutu pendidikan. Pelaksanaannya terbagi beberapa tahapan, yaitu: (a) penyusunan program pengawasan, (b) pelaksanaan program pengawasan, (c) evaluasi program pengawasan, dan (d) pelaporan program pengawasan.
Supervisi akademik meliputi; menyusun program supervisi yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan hasil supervisi akademik. Agar kepala sekolah dapat melaksanakan kegiatan supervisi, maka kepala sekolah harus memiliki kompetensi membuat program supervisi akademik. Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan dokumen perencanaan.
Program supervisi disusun dengan memperhatikan ketentuan tentang pelaksanaan pengawasan dan supervisi yang diatur dalam Permendikbud No.65 tahun 2013 tentang standar proses yaitu: Pengawasan proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, serta tindak lanjut secara berkala dan berkelanjutan. Pengawasan proses pembelajaran dilakukan oleh kepala satuan pendidikan dan pengawas.
Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis, (2) analisis kebutuhan, (3) mengembangkan strategi dan media, (4) menilai, dan (5) revisi. Rincian penjelasannya sebagai berikut:

a. Menciptakan Hubungan yang Harmonis.
Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik memang diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa kejelasan informasi, guru akan kebingungan, tidak tahu yang diharapkan kepala sekolah, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik, adalah hanya untuk mengidentifikasi guru yang baik dan yang kurang terampil dalam mengajar. Padahal seandainya ada kejelasan informasi, tentu tidak akan terjadi guru yang demikian.
b. Analisis Kebutuhan
Sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah analisis kebutuhan (needs assessment). Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan yang secara nyata dimiliki.

c. Pelaksanaan Supervisi Akademik
Setelah tujuan-tujuan pembinaan keterampilan pengajaran berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan yang diperoleh melalui analisis kebutuhan di atas, kepala sekolah menganalisis setiap tujuan untuk menentukan bentuk-bentuk teknik dan media supervisi akademik yang akan digunakan. Menurut Gwynn (1961), teknik-teknik supervisi bila dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Tujuan pengembangan strategi dan media supervisi akademik ini adalah sebagai berikut.
1) Mendaftar pembinaan-pembinaan keterampilan pengajaran yang akan
dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual.
2) Mendaftar pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan
melalui teknik supervisi kelompok.
3) Mendaftar mengidentifikasi dan memilih teknik dan media supervisi yang
siap digunakan untuk membina keterampilan pengajaran guru yang
diperlukan.
Setelah mengembangkan teknik dan media supervisi akademik, mulailah dilakukan pembinaan keterampilan pembelajaran guru dengan menggunakan teknik dan media tertentu sebagaimana telah dikembangkan.

d. Penilaian Keberhasilan Supervisi Akademik
Penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi akademik, penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pembelajaran adalah untuk: (1) menentukan apakah pengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan, dan (2) untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya.
e. Perbaikan Program Supervisi Akademik
Sebagai langkah terakhir dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan. Revisi ini dilakukan seperlunya, sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan.
BAB III
DESAIN PENGEMBANGAN MODEL SUPERVISI AKADEMIK

A. Ide Dasar
Ide Dasar pengembangan model supervisi akademik pengawas sekolah adalah:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional,
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
3. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru,
4. Peraturan Peme rintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.
5. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya,
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah,
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 2009 tentang Beban Kerja Guru dan Pengawas,
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27
Tahun 2010 tentang Program Induksi Guru Pemula.

B. Proses Pembuatan
Pengawas profesional adalah pengawas sekolah yang melaksanakan tugas pokok kepengawasan yang terdiri dari melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial serta kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dengan optimal yang didukung oleh standar dimensi kompetensi prasyarat yang dibutuhkan yang berkaitan dengan (1) pengawasan sekolah, (2) pengembangan profesi, (3) teknis operasional, dan wawasan kependidikan. Selain itu untuk meningkatkan profesionalisme pengawas sekolah melakukan pengembangan profesi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin komplek dan untuk lebih mengarahkan sekolah ke arah pencapaian tujuan pendidikan nasional yang efektif, efisien dan produktif.

Seorang pengawas profesional dalam melakukan tugas pengawasan harus memiliki (1) kecermatan melihat kondisi sekolah, (2) ketajaman analisis dan sintesis, (3) ketepatan dan kreatifitas dalam memberikan treatment yang diperlukan, serta (4) kemampuan berkomunikasi yang baik dengan setiap individu di sekolah.
C. Kompete nsi GPAI Yang Ingin Dikembangkan
Supervisi Akademik dilaksanakan dengan harapan Guru Pendidikan Agama Islam kompetensnya dapat berkembang :
1) Meningkatkan pemahaman kompetensi guru terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalisme (Tupoksi guru, Kompetensi guru, pemahaman KTSP).
2) Meningkatkan kemampuan guru dalam pengimplementasian Standar Isi. Standar Proses, Standar Kompetensi Kelulusan dan Standar Penilaian (pola pembelajaran KTSP, pengembangan silabus dan RPP, pengembangan penilaian, pengembangan bahan ajar dan penulisan butir soal);
3) Meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Penelitian
Tindakan Kelas ( PTK ).

E. Indikator
Supervisi Akademik dikatakan berhasil apabila Guru Pendidikan Agama Islam dapat :
1) Meningkatkan kompetensinya terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalisme (Tupoksi guru, Kompetensi guru, pemahaman KTSP).
2) Meningkatkan kemampuannya pengimplementasian Standar Isi. Standar Proses, Standar Kompetensi Kelulusan dan Standar Penilaian (pola pembelajaran KTSP, pengembangan silabus dan RPP, pengembangan penilaian, pengembangan bahan ajar dan penulisan butir soal);
3) Meningkatkan kemampuannya dalam menyusun Penelitian Tindakan
Kelas ( PTK ).
F. Tujuan Pengemba ngan Model Supervisi Akademik
Tujuan Pengemba ngan Model Supervisi Akademik ‘AKIK’ yaitu adanya komunikasi pengawas dengan guru maupun kepala sekolah, diantaranya:
1. Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakannya.
2. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran.
3. Membantu guru mengembangkan keterampilannnya menggunakan strategi pengajaran.
4. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya.
5. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan.

G. Langkah-langkah Pengembangan Model Supe rvisi Akademik
Langkah-langkah Pengembangan Model Supervisi Akademik sebagaimana yang diungkapkan oleh Cogan, ada delapan tahap yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut ; (1) tahap membangun dan memantapkan hubungan guru-supervisor, (2) tahap perencanaan bersama guru, (3) tahap perencanaan strategi observasi, (4) tahap observasi pengajaran, (5) tahap analisis proses pembelajaran, (6) tahap perencanaan strategi pertemuan, (7) tahap pertemuan, dan (8) tahap penjajakan rencana pertemuan berikutnya.

H. Evaluasi
Pengembangan Model Supervisi Akademik yang kita laksanakan pengawas sekolah adalah sebagai upaya evaluasi semua kegiatan yang dilakukan guru, kepala sekolah maupun pengawas dalam rangka penjaminan mutu pendidikan dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan.


BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil telaah dan penjabaran penulis yang telah dipaparkan tersebut diatas, maka hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kegiatan pengawasan adalah kegiatan pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program,dan melaksana- kan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru. Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru pada pasal 15 ayat 4 dijelaskan bahwa pengawas sekolah harus melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Dengan demikian pengawas sekolah dituntut mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang memadai untuk dapat menjalankan tugas kepengawasannya.
2. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, menyebutkan bahwa seorang pengawas sekolah wajib mempunyai enam dimensi kompetensi minimal yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik evaluasi pendidikan, penelitian pengembangan, dan kompetensi sosial.
3. Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis, (2) analisis kebutuhan, (3) mengembangkan strategi dan media, (4) menilai, dan (5) revisi.
4. Terkait dengan Model supervisi yang dilakukan oleh pengawas sekolah terdiri dari:1. Model supervisi konvensional, 2. Model supervisi artistik, 3. Model supervisi ilmiah, 4. Model supervisi klinis





B. Rekomendasi
Dari hasil penulisan makalah tentang model pengembangan supervisi akademik ini maka disampaikan Rekomendasi sebagai berikut:
1. Seyogyanya guru dan kepala sekolah bisa melakukan perbaikan-perbaikan dari hasil supervisi akademik maupun majareial untuk dijadikan rujukan dalam peningkatan mutu pendidikan.
2. Kepala sekolah dan pengawas sekolah bisa membangun komitmen bersama dalam melaksanakan supervisi akademik.
3. Pengawas sekolah hendaklah mampu memberikan pelayanan secara maksimal demi peningkatan mutu pendidikan.
4. Pemerintah hendaklah malakukan evaluasi terkait dengan perkembangan pendidikan yang sedang berjalan.

















DAFTAR PUSTAKA

Alfonso, RJ., Firth, G.R., dan Neville, R.F.1981. Instructional Supervision, A Behavior System, Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Danim, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1982. Alat Penilaian Kemampuan Guru: Buku I. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.
----------------. 1982. Panduan Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.
--------------. 1996. Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi, Jakarta: Depdikbud
-------------- .1996. Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya
Jakarta: Depdikbud.
--------------.1997. Pedoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar
--------------. 1997. Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah: Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, TK dan SLB
--------------.1998. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya, Jakarta: Depdikbud.
---------------. 2003. Pedoman Supervisi Pengajaran. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.
Glickman, C.D 1995. Supervision of Instruction. Boston: Allyn And Bacon Inc.
Gwynn, J.M. 1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.
McPherson, R.B., Crowson, R.L., & Pitner, N.J. 1986. Managing Uncertainty: Administrative Theory and Practice in Education. Columbus, Ohio: Charles E. Merrill Pub. Co.
Oliva, Peter F. 1984. Supervision For Today’s School. New York: Longman.
Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, Ngalim.2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya
Sergiovanni, T.J. 1982. Editor. Supervision of Teaching. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.
Sergiovanni, T.J. 1987. The Principalship, A Reflective Practice Perspective. Boston: Allyn and Bacon.
Sergiovanni, T.J. dan R.J. Starrat. 1979. Supervision: Human Perspective. New York: McGraw-Hill Book Company.



















LAMPIRAN
1. Biodata Penyusun
2. Rencana Kepengawas (Supervisi) Akademik (RKA) untuk satu tema.






























































RENCANA KEPENGAWASAN AKADEMIK (RKA)
PADA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PADA SEKOLAH

A. Aspek/Masalah : Pembinaan penyusunan KTSP dokumen 2
(Silabus dan RPP) sesuai rambu-rambu
dengan TEMA : BERSIH ITU SEHAT
B. Tujuan : Memberikan bimbingan/arahan/contoh
merevisi/ membuat KTSP dokumen 2
(silabus dan RPP) melalui KKG sekolah
C. Indikator : Guru-guru memiliki KTSP dokumen 2
(silabus dan RPP) sesuai rambu-rambu
D. Waktu (Hari/Tanggal & Jam) : ...................................................................................................................................
E. Tempat : ...................................................................................................................................
 Jumlah Guru : ..................... Orang
 Jumlah Siswa : ..................... Orang
F. Strategi/Metode Kerja/
Teknik Supervisi : IHT, Metode Delphi, Refleksi, Focused
Group Discussion, Panel Discussion.
G. Skenario Kegiatan :
1. Pertemuan Awal (dilakukan 1 minggu sebelumnya : 60 Menit):
 Menanyakan informasi perkembangan terakhir tentang program tahunan sekolah terkait dengan Adiwiyata Sekolah.
 Menyampaikan hasil kinerja guru/ review kinerja yang telah dilakukan pengawas
 Menyepakati agenda/skenario pertemuan inti untuk pembinaan.
2. Pertemuan Inti (4 x 60 Menit):
 Kepala sekolah membuka acara dan menjelaskan tujuan IHT (15 menit)
 Pengawas sekolah melekukan refleksi/reviu/evaluasi hasil kinerja guru (15 menit)
 Pengawas sekolah melakukan diskusi tentang skenario merevisi/membuat silabus dan RPP melalui KKG sekolah (15 menit)
 Pengawas refleksi implementasi standar nasional pendidikan (15 menit)
 Guru berkelompok berdasarkan berdasarkan KKG untuk melakukan Focused Group tentang revisi/membuat silabus dan RPP sesuai rambu-rambu (75 menit)
 Panel Discussion hasil revisi/ membuat silabus dan RPP sesuai rambu-rambu (75 menit)
 Pengawas mengadakan konfirmasi/penguatan tentang silabus dan RPP hasil karya KKG (30 menit)
 Apakah silabus dan RPP sudah sesuai rambu-rambu? Apa yang bapak/ibu lakukan setelah membuat silabus dan RPP?
3. Pertemuan Akhir (60 Menit):
 Refleksi dari kegiatan IHT
 Penguatan dan pemberian motivasi kepada guru pemanfaatan silabus dan RPP
 Menyepakati agenda berikutnya untuk melihat tindak lanjut dari program.
H. Sumber daya yang diperlukan:
 SK dan KD mata pelajaran
 SKL
 Standar proses, Standar Penilaian, Model pembelajaran yang efektif
 LCD
 Komputer

I. Penilaian dan Instrumen:
 Penilaian : Produk hasil revisi/membuat silabus dan RPP
 Instrumen : Format evaluasi silabus dan RPP

J. Rencana Tindak Lanjut:
Implementasi silabus dan RPP di sekolah (selama sebulan dilakukan pemantauan)
Catatan :
..................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................
Probolinggo, ..........................................
Pengawas Pendais
Pada TK/RA, SD/MI



MUH. TAUFIQ, S.Ag., M.Pd.I
. NIP. 19710203 200003 1 007








Bagikan Artikel ini ke Facebook