E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

DATUK MARINGGIH : SANG NASIONALIS YANG TERABAIKAN

Dibaca: 2088 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: SAHWIRUL YATI, M.A. lihat profil
pada tanggal: 2016-02-19 05:57:35 wib


Siapa yang tak kenal dengen Datuk Maringgih? Tokoh antagonis dalam roman Siti Nurbaya yang digambarkan sebagai lelaki tua, jahat, pelit, rentenir dan doyan wanita? Semua kita tentu tahu bahwa itulah sifat Datuk Maringgih, semua orang benci dengan perilaku Datuk Maringgih, bahkan rasanya semua ibu di dunia ini tidak ada yang ingin melahirkan seorang anak seperti Datuk Maringgih, benarkah demikian? Tentu saja karena memang itulah tujuan roman itu diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Yakni, Menimbulkan citra negatif terhadap tokoh Datuk Maringgih, yang mewakili bangsa Timur

Siti Nurbaya ditulis oleh Marah Rusli, seorang Minang berpendidikan Belanda yang ahli dalam bidang ilmu kedokteran hewan. Untuk pertama kalinya roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, pada tahun 1922. Balai Pustaka itu sendiri merupakan sebuah perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara pemerintahan Hindia Belanda. Balai Pustaka didirikan pada tanggal 14 September 1908 dengan nama Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat). Kemudian pada tanggal 22 September 1917 Commissie voor de Volkslectuur berubah nama menjadi "Balai Poestaka". Balai Pustaka menerbitkan kira-kira 350 judul buku per tahun yang meliputi kamus, buku referensi, keterampilan, sastra, sosial, politik, agama, ekonomi, dan penyuluhan.

Tujuan didirikannya Balai Pustaka ialah untuk mengembangkan bahasa-bahasa daerah utama di Hindia Belanda. Bahasa-bahasa ini adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan bahasa Madura. Sedangkan visi alternatifnya disebutkan bahwa pendiriannya kala itu untuk mengantisipasi tingginya gejolak perjuangan bangsa Indonesia yang hanya bisa disalurkan lewat karya-karya tulisan. Berbagai tulisan masyarakat anti-Belanda bermunculan di koran-koran daerah skala kecil, sehingga perusahaan penerbitan ini lalu didirikan Belanda dengan tujuan utama untuk meredam dan mengalihkan gejolak perjuangan bangsa Indonesia lewat media tulisan dan menyalurkannya secara lebih manusiawi sehingga tidak bertentangan dengan kepentingan Belanda di Indonesia. Dan Roman Siti Nurbaya ini adalah salah satu roman yang dianggap sesuai dengan visi misi Hindia Belanda tersebut. Meskipun roman ini ditulis oleh seorang pribumi, namun Roman ini dianggap cocok untuk dijadikan sebagai alat yang memang sengaja ditebarkan oleh pemerintah Hindia belanda untuk menebarkan kekuatannya pada rakyat pribumi di Indonesia. Karena pada umumnya, keberhasilan Bangsa Erofah modern dalam menguasai koloni-koloninya tidak semata-mata diakibatkan oleh kekuatan fisik, peralatan perang berteknologi canggih, akan tetapi keberhasilan Bangsa Erofah tersebut juga didukung oleh kekuatan lain yang dalam beberapa hal justru lebih besar peranannya, yaitu wacana. Demikianlah kelompok intelektual Barat mengembangkan proyek ilmu pengetahuan tentang Bangsa Timur yang disebut mereke dengan orientalisme. Dengan dihasilkannya aspek kajian mengenai Bangsa Timur, maka dapatlah diketahui kekuatan sekaligus kelemahan Bangsa Timur, sehingga lebih mudah untuk dikuasai .

Sebagai penjajah yang telah mempersiapkan diri dengan tujuan-tujuan tertentu, maka ilmu pengetahuan, terjemahan dan studi-studi yang dihasilkannya, termasuk karya sastra, tidak seluruhnya mengandung objektivitas yang sesungguhnya, melainkan ada penekanan-penekanan tertentu dari pihak penjajah terhadap diskriminasi dan analisis teks oriental yang bersifat berat sebelah. Dan ternyata sipat ini kita temukan dalam roman Siti Nurbaya. Dalam roman Siti Nurbaya objektivitas adalah menurut pikirannya sendiri, yaitu pikiran yang sesuai dengan Bangsa Barat. Jadi, sastra berbau orientalis bukanlah sebuah mitos, melainkan mesin yang sengaja diciptakan dalam bentuk wacana imperialism antropologis yang digunakan untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan yang berbeda dengan Dunia Timur.

Siti Nurbaya cenderung dianggap mempunyai tema anti-pernikahan paksa, atau menjelaskan perselisihan antara nilai Timur dan Barat. Roman ini juga pernah dinyatakan sebagai suatu "Monumen perjuangan pemuda-pemudi yang berpikiran panjang" melawan adat, pembanding pandangan Barat dan tradisional terhadap pernikahan yang dilengkapi dengan kritik sistem mas kawin dan poligami. Namun yang lebih penting dari itu, ada sisi lain yang ternyata selama ini kita abaikan, yakni sisi nasionalisme. Sebagian orang menganggap tidak ada nasionalisme dalam cerita Siti Nurbaya, namun jika kita telaah secara saksama roman ini ternyata mempunyai sisi nasionalisme yang cukup kontras, tetapi sayangnya nasionalisme itu sendiri ternyata kita temukan dalam diri tokoh antagonis, tokoh hitam, yakni sang Datuk Maringgih. Justru letaknya yang ada pada tokoh antagonis inilah nasionalis sang Datuk Maringgih selama ini tak tampak dalam pandangan para pembaca. Keberadaan tokoh Datuk Maringgih memang sudah terlanjur hitam, ditutupi oleh noktah kejahatan, kelicikan, tukang hutang, bahkan perebut cinta seseorang. Sedangkan tokoh Samsul Bahri selama ini kita anggap sebagai tokoh protagonist yang herois, tampan, berpendidikan dan penganut cinta sejati.

Jika kita telaah dari sisi dekonstruksi dan postcolonial, sebenarnya Samsul Bahri bukanlah seorang pemuda hero, seperti yang selama ini kita kenal. Melainkan seorang lelaki cengeng yang berperasaan dangkal. Hanya kegagalan cintanya terhadap seorang gadis ia menjadi lupa akan dirinya, kemudian putus asa bahkan hendak mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Hal ini menunjukkan, bahwa secara mental bahwa ia bukanlah seorang pemuda yang kuat. Setelah usaha bunuh dirinya gagal, ia memutuskan untuk masuk serdadu kompeni. Belakangan, ketika di Sumatra Barat, di tanah kelahirannya, terjadi pemberontakan karena masalah belasting, ia ditugaskan untuk menumpas pemberontakan itu. Dengan bersemangat, ia berangkat ke medan tempur karena sekaligus bermaksud membalas dendam terhadap Datuk Maringgih yang menjadi biang keladi kegagalan cintanya. Apapun alasannya, hal itu berarti bahwa ia memerangi bangsanya sendiri dan justru berdiri di pihak kepentingan penjajah. Dari tindakan demikian, Samsul Bahri dianggap sebagai penghianat bangsa. Terhadap bangsa sendiri ia sampai hati memeranginya semata-mata didorong oleh motivasi pribadi. Ia sama sekali bukan seorang pahlawan, melainkan seorang penghianat bangsa yang tunduk kepada penjajah.

Di sisi lain ada Datuk Maringgih yang dikenal sebagai tokoh jahat. Namun jika secara saksama kita telaah, justru Datuk Maringgihlah yang pantas disebut sebagai hero dalam roman ini. Datuk maringgih memperlihatkan sebagai tokoh yang kuat dan berdimensi baik. Dialah yang menjadi salah seorang tokoh yang menggerakkan pemberontakan terhadap Belanda. Meskipun hal ini juga dilatarbelakangi motivasi pribadi (agar terbebas dari pajak besar), namun apapun motivasinya dialah sang tokoh pemberontak. Dia adalah tokoh pejuang bangsa, yang seberapa kecilpun andilnya bermaksud mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Dengan demikian, dialah yang pantas disebut sebagai pahlawan nasionalis bangsa, bukanya Samsul Bahri.

Mungkin kita jadi penasaran dan bertanya-tanya, mengapa sipat nasionalis diletakkan pengarang pada tokoh hitam (jahat), sedangkan sifat khianat ditempatkan pada tokoh yang kita anggap baik? Nah, justru di sinilah letak keunikannya. Justru cerita seperti inilah yang diinginkan pemerintah Belanda. Justru karena letaknya yang demikianlah roman ini jadi lulus sensor dan akhirnya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Belanda ingin menebarkan paham kepada Bangsa Indonesia, bahwa seorang bangsa yang baik adalah seorang seperti Samsul Bahri, bependidikan, tampan, bekerja pada kolonial, tunduk dan patuh kepada penjajah. Sedangkan pemberontak Belanda adalah seseorang yang tidak baik, jahat, pelit, dan pasti doyan wanita seperti Datuk Maringgih. Akibat pencitraan yang demikian, selama beberapa dekada Bangsa Indonesia menjadi terbuai dan berpikiran bahwa Pemerintah Belanda-lah yang baik, mereka berpendidikan, tampan, rapi dan akhirnya ingin meniru gaya hidup ala Belanda dan akhirnya benar-benar ingin menjadi orang Belanda. Jika demikian, tidak ada lagi pemberontakan dan tidak ada lagi perjuangan ingin meraih kemerdekaan. Bangsa Indonesia tunduk patuh kepada Belanda, bangsa pujaannya. Dengan demikian, kaum penjajah akan dapat dengan mudah menancapkan koloninya di Indonesia.

Usaha Belanda membuai Bangsa Indonesia dalam mimpi melalui roman ini ternyata memang cukup berhasil. Selama beberapa abad citra Samsul Bahri menjadi idola kawula muda. Banyak orang tua yang memberi nama anaknya Samsul Bahri, karena terinspirasi dari cerita tersebut. Banyak orang Indonesia meniru gaya Belanda, dari cara berpakaiannya, atau dari cara budayanya. Banyak orang Indonesia menganggap bahwa bekerja di pemerintahan Belanda adalah hal yang terhormat, punya strata tertinggi di masyarakat. Padahal justru itulah awal kemunduran Bangsa Indonesia. Mereka tidak lagi bangga dengan budaya sendiri. Mereka tidak lagi mencintai tanah airnya, bangsanya, dan pada akhirnya terhapus hilang, meninggalkan kebanggaan tersendiri untuk menjadi orang Belanda. Akibat pemikiran demikian, bukan sesuatu yang tidak mungkin menjadikan peta Indonesia hilang dari permukaan dunia dan yang ada hanyalah peta Pemerintahan Hindia Belanda. Hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan Belanda, mengikis habis suatu budaya, menghilangkan rasa percaya diri bangsa sehingga tidak ada lagi identitas yang menjadi kebanggaan untuk dipertahankan.

Dengan demikian, hal ini membuktikan bahwa sebuah wacana memang alat yang cukup mumpuni untuk melumpuhkan suatu bangsa. Wassalam.

Bagikan Artikel ini ke Facebook