E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

MENUJU PENDIDIKAN BERBASIS HOLISTIK.

Dibaca: 980 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Dr. NURSANJAYA, S.Ag.M.Pd lihat profil
pada tanggal: 2016-03-15 09:15:18 wib


Sejatinya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, tentu akan semakin membentuk kepribadian yang sejati pula; seperti pribadi yang luhur, bertanggung jawab, berbuat dengan ikhlas, dedikasi yang tinggi, memiliki integritas, berbudi pekerti, kepedulian sosial yang kuat, dan sebagainya. Tetapi, output yang diharapkan dari berbagai kriteria tersebut tampaknya masih belum menemukan suatu kebanggaan bila melihat kualitas dan kuantitas sarjana-intelektual dan calon-calon sarjana-intelektual hari ini.
Mahasiswa dan pelajar dewasa ini sangat jarang menunjukkan sikap sebagai calon sarjana-intelektual yang konon katanya mereka disebut sebagai agent of social change dan berperan sebagai moral force. Fenomena tawuran pelajar antar sekolah, seleberasi yang sangat berlebihan saat pengumuman kelulusan, begitu juga dengan kehidupan mahasiswa yang telah mengidap penyakit hedonisme, materialisme, free sex, dan obat-obatan, bukan lagi hal yang tabu ditemui dikalangan mereka. Mahasiswa juga tidak jarang melakukan tindakan anarkhis dan bentrokan fisik antar sesama mereka sendiri hanya karena persoalan yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan membangun budaya akademik yang baik.
Begitu juga dengan para seniornya (baca: alumni) yang duduk di kursi kekuasaan, baik di pemerintahan maupun di parlemen. Dari pemberitaan selama ini, kejahatan yang bersifat white color crime, semuanya didominasi oleh mereka yang menyandang predikat intelektual, ilmuwan, atau orang-orang jebolan dari perguruan tinggi ternama. Kita masih sangat ingat dengan kasus Bank Century, kasus penggelapan pajak, dan berbagai kasus korupsi memalukan di negeri ini yang terus berkembang bak jamur di musim hujan. Semua yang melakukannya adalah mereka yang bertitel doktor, bahkan profesor dari perguruan tinggi terkemuka.

Tiga Domain Taksonomi Pendidikan
Mengapa mereka yang dijuluki kaum intelektual justru banyak yang melakukan berbagai kejahatan dan terlibat skandal? Apa yang menyebabkan pendidikan di negeri ini menghasilkan manusia-manusia kerdil yang akrab dengan penyalahgunaan arti penting dari makna pendidikan? Menurut hemat penulis, karena selama ini pendidikan kita salah orientasi. Selama ini, prioritas pendidikan yang dilaksanakan hanya menekankan pada aspek nilai akademik dan IQ semata. Contoh hal ini seperti penyelenggaraan Ujian Nasional yang hanya melahirkan pembodohan baru dengan mengatasnamakan banyaknya calon sarjana-intelektual baru yang ditandai dengan tingginya angka kelulusan siswa.
Pendidikan yang hanya memfokuskan pada kecerdasan kognisi akan melahirkan manusia bermental ambisius yang ingin cepat kerja, cepat kaya, terkenal, dan berbagai imej lainnya. Pendidikan seperti ini melahirkan manusia yang bersikap pragmatis, manusia pekerja yang tidak memiliki visioner dan sense of belonging, karena mereka belajar hanya untuk mendapat kerja. Dan yang sangat memprihatinkan, hal ini telah dilegitimasi secara terang-terangan oleh berbagai lembaga penyelenggara pendidikan dengan menawarkan bahwa hanya lembaganya saja yang menjamin lulusannya mendapatkan pekerjaan. Kenyataan ini menjadikan pendidikan mengalami pembajakan besar-besaran, terutama terhadap taksonomi domain pendidikan.
Selama ini kita masih mencermati adanya berbagai ketimpangan pelaksanaan sistem pendidikan. Salah satu evaluasi kritis itu bahwa hampir di semua lembaga pendidikan di Indonesia hanya mengedepankan aspek kognitif yang berorientasi pemenuhan materi pelajaran. Sangat jarang ditemukan lembaga pendidikan—bahkan perguruan tinggi, yang menerapkan metode pendidikan problem solving oriented (orientasi pemecahan masalah), disamping memenuhi kebutuhan lainnya terhadap peserta didik, baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Metode pemecahan masalah akan sangat membantu peserta didik dalam mencermati secara kritis terhadap berbagai problematika yang terjadi disekelilingnya sekaligus mampu mencarikan solusi yang tepat.
Berbagai kritikan tentang pendidikan model seperti ini juga dialamatkan pada sistem pendidikan perguruan tinggi agama Islam. Basis pendidikan agama Islam ini sudah lama dinilai kurang begitu peduli dengan dinamika sosial yang semakin kompleks dan berjalan sangat cepat. Bahkan, terkesan ingin “lari” dari berbagai problematika sosial yang terjadi disekelilingnya yang semakin tidak jelas ujung-pangkalnya. Ini terlihat dengan adanya beberapa kelemahan, yakni wacana intelektual yang masih sangat terbatas, dan hanya menjadikan lembaga sebagai mesin pencetak baut dalam dunia kerja/industri.
Bloom (1973) menyebutkan bahwa pendidikan yang holistik harus menyentuh pada tiga domain taksonomi, yaitu domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik. Domain kognitif adalah domain yang menekankan pada kemampuan mengingat dan mereproduksi informasi yang dipelajari. Domain afektif menekankan pada ketahanan emosi, sikap, dan apresiasi nilai serta tingkat penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu dengan kebijaksanaan. Sedangkan domain psikomotorik menekankan pada kemampuan melatih dan kemampuan untuk mengaplikasikan keilmuan setelah kedua domain sebelumnya dikuasai.
Inilah yang dijabarkan oleh UU Sisdiknas, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bahkan pada pasal 36 ayat 3, dijelaskan bahwa dalam membuat kurikulum, disamping harus memperhatikan peningkatan potensi kecerdasan dan minat peserta didik, tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dinamika perkembangan global, juga harus memperhatikan dan memfokuskan pada peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, agama, serta persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.
Akan tetapi, walaupun UU Sisdiknas telah menyebutkan demikian, namun dalam implementasinya masih “jauh panggang dari api”. Sebab, hingga saat ini persoalan krusial pendidikan yang terjadi adalah sistem pendidikan nasional kita ibarat “uang recehan”. Begitu banyak materi yang dijejalkan kepada peserta didik sementara pendalamannya sangat minimal. Dan materi yang disampaikan pun selalu diulang-ulang tanpa ada kejelasan target dan orientasinya.
Dari segi rencana pengajaran dalam satuan acara perkuliahan (SAP) juga, masih banyak lembaga pendidikan tinggi yang hanya menekankan pada aspek kognitif saja, yakni menekankan bahwa tujuan perkuliahan adalah agar mahasiswa mengetahui, menafsirkan, mengkritisi, menguraikan, mampu membaca teks dan menghafal. Hampir tidak ada disebutkan dalam SAP agar mahasiswa menerapkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari dan atau mendakwahkan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat yang lain.
Akhirnya peserta didik yang lahir dari sistem seperti ini adalah sarjana-intelektual yang penuh dengan sekumpulan teori dan hafalan tetapi tidak untuk dipraktekkan. Belajar hanya sekedar untuk mengetahui, mengkritisi, menghafal, bukan untuk internalisasi apa yang telah diperolehnya selama ini dibangku kuliah dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika kita mau jujur, semua visi dan misi perguruan tinggi agama Islam bermuara pada upaya menciptakan suasana pendidikan yang Islami yang mengintegrasikan iman, ilmu, amal, dan akhlak.
Dan memang secara umum, pendidikan seharusnya menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pendidikan hendaknya tidak hanya mengedepankan IPTEKS saja, tetapi juga dilandasi dengan IMTAQ serta didukung dengan kemampuan analisis berpikir yang memadai. Singkat kata, kedua kutub tersebut, yakni knowledge dan skills harus terus dikembangkan. Dan itu hanya akan terjadi jika ketiga domain taksonomi pendidikan tersebut dijalankan secara bersama dalam kesatuan penyelenggaraan pendidikan nasional. Semoga.

Bagikan Artikel ini ke Facebook