E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

MASIHKAH KITA TIDAK BERSYUKUR?

Dibaca: 725 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Dr. NURSANJAYA, S.Ag.M.Pd lihat profil
pada tanggal: 2016-03-18 08:15:49 wib


MASIHKAH KITA TIDAK BERSYUKUR?Pernahkah kita menyadari dan me-renungkan betapa besarnya nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita? Jika kita menyadarinya, pasti kita tidak akan memiliki alasan apa pun untuk mendurhakai-Nya sedikit saja. Apa yang ada di sekeliling kita, keluarga, kerabat, sanak saudara, harta benda, jabatan dan kedu-dukan, semuanya itu semata-mata adalah anugerah Allah ‘Azza wa Jalla.
Tidak ada satu detik pun yang dilalui oleh seorang hamba melainkan ia selalu berada dalam karunia Allah. Segala sesuatu yang dialami seorang hamba dari sejak bangun tidur hingga ia tertidur lagi, bahkan dalam tidur pun, semuanya itu tidak lepas dari pengawasan dan karunia Allah SWT. Bahkan apa yang ada pada diri kita sesung-guhnya adalah pemberian dari Allah yang Maha Kaya.
Ambillah mikroskop dan lihatlah bagian dalam tubuh kita. Pernahkah kita menghitung jumlah sel-sel yang ada dalam tubuh kita, yang selalu mendukung kehidupan dan keberfungsian seluruh jaringan dalam tubuh kita? Manusia dewasa dibangun oleh 75 triliun hingga 100 triliun sel. Pernahkah kita, sekali saja mengabsen satu-persatu sel-sel tersebut, sekaligus melakukan pengecekan, tune-up, dan memperbaikinya saat terjadi kerusakan?
Amati juga jantung kita. Dalam keadaan normal pada orang dewasa, jantung berdetak sebanyak 60-100 kali permenit. Dan dalam sekali detak memompa kurang lebih 70ml darah. Rata-rata detak jantung pada manusia sehat adalah 70 kali permenit, sehingga dalam semenit jantung memompa darah sekitar 4.900ml darah. Jika dihitung jumlah darah yang dipompa jantung dalam perjam adalah 249.000ml atau 249 liter darah. Dan jumlah darah yang dipompa jantung dalam sehari adalah sebanyak 7.056.000ml atau 7.056 liter darah perharinya. Apakah kita yang memerintahkan atau menyuruh jantung itu untuk berdetak sedemikian rupa?
Pikirkan pula saat kita tidur. Riset mengungkapkan bahwa jika seseorang tidur selama 8 jam, maka tubuhnya akan bergerak sedikitnya 400 kali gerakan. Sebab, jika tubuh hanya diam dalam satu posisi saja, maka akan terjadi kelumpuhan pada tubuh. Apakah kita yang memprogram secara otomatis tubuh kita sendiri?
Renungkan juga sistem kekebalan tubuh kita. Jika kita tidak memiliki sistem imunitas yang kuat, maka setelah beberapa kali tarikan nafas saja kita akan sakit karena terlalu banyak toksin (racun) yang masuk ke dalam tubuh. Berapa kali kita menarik nafas? Berapa kali kita terhindar dari penyakit karena sistem imunitas tubuh yang kita miliki sejak lahir sebagai anugerah Allah itu?
Cobalah ambil cermin dan lihat dengan seksama seluruh bagian anggota tubuh kita. Lihatlah dengan akal yang bersih dan hati yang bening, tanyakan pada diri sendiri, bagian yang mana dari tubuh kita adalah buatan tangan atau kreasi kita sendiri? Mana bagian yang – seukuran atom saja, adalah kita sendiri yang membuatnya? Dan bagian mana dari tubuh yang kita menjadi pengawas, pengurus, yang menjalankan, yang memenuhi kebutuhannya di tiap detik, sepanjang hari, sepanjang hidup, bahkan saat kita tidur?
Tidakkah kita menyadari bahwa hanya Allah Yang Maha Kuat saja yang mampu melakukan itu semua? Pernahkah kita berpikir, sekiranya Allah Ta’ala “melempar” tanggung jawab tugas-tugas setiap anggota tubuh kepada kita, sanggupkah kita mengatur jantung kita, hati, ginjal dan semua sel-sel tubuh kita? Sudah pasti tidak akan mungkin bisa, tapi kenapa kita masih saja berani mendurhakai-Nya dan tidak bersyukur kepada-Nya? Bukalah lagi dalam QS. An-Nahl:53 dan QS. Al-Waqi’ah:29.
Ada seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku adalah orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, maka nasihatilah aku”.
Ibrahim berkata, “Jika engkau menerima lima perkara dariku, dan engkau sanggup melaksanakannya, lakukanlah perbuatan dosa semaumu”.
Orang itu berkata, “Apakah itu?”
Ibrahim berkata, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan engkau makan rezeki dari-Nya”.
Orang itu menjawab, “Kalau begitu, darimana aku makan? Sedangkan semua yang ada di muka bumi ini adalah rezeki-Nya!”
“Apakah pantas engkau bermaksiat kepada Allah, sedangkan rezeki-Nya engkau makan?”, tukas Ibrahim.
Orang itu menjawab, “Tidak. Lalu apa yang kedua?”
Ibrahim berkata, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan engkau tinggal di bumi-Nya!”
Orang itu berkata, “Ini lebih besar dari yang pertama. Dimana aku harus tinggal?”
Ibrahim berkata, “Apakah pantas engkau bermaksiat kepada Allah, sedangkan engkau makan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya?”
Orang itu menjawab, “Tidak. Kemudian apa yang ketiga?”
Ibrahim berkata, Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka carilah tempat yang Allah tidak melihatmu!”
Orang itu berkata, “Hai Ibrahim, ini mustahil! Kemana aku harus pergi, sedangkan Dia Maha Mengetahui yang terlihat dan tersembunyi?”
Ibrahim berkata, “Apakah pantas engkau bermaksiat kepada Allah, sedangkan engkau makan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terang-terangan bermaksiat di depan-Nya?”
Orang itu menjawab, “Tidak, kemudian apa yang keempat?”
Ibrahim berkata, “Jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya: Berilah aku waktu untuk dapat bertaubat dan beramal shalih”.
Orang itu berkata, “Itu tidak mungkin dan tidak akan dikabulkan, dia tidak akan menunda kematianku”.
Ibrahim berkata, “Jika engkau tidak dapat menghindar dari kematian yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, kenapa engkau masih berani bermaksiat kepada-Nya?”
Orang itu berkata, “Lalu apa yang kelima?”
Ibrahim berkata, “Jika di Hari Kiamat nanti, malaikat penjaga neraka datang untuk menyeretmu masuk ke neraka, maka jangan engkau menurutinya”.
Orang itu berkata, “Tidak mungkin! Mereka tidak akan melepaskan aku dan tidak akan menghiraukan permintaanku!”
Ibrahim berkata, “Jika demikian, bagaimana kamu berharap dapat selamat dari adzab Allah?”
Orang itu menangis tersedu-sedu sambil berkata, “Cukup ya Ibrahim. Cukuplah ini bagiku. Sungguh, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”.
Mudah-mudahan dialog di atas menjadi peringatan kepada kita semua, betapa selama ini begitu banyak kita melalaikan rahmat dan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Bagikan Artikel ini ke Facebook