E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Kesetaraan Gender Berbasis Self Science dalam Membentuk Keluarga Harmonis

Dibaca: 450 kali, Dalam kategori: Keluarga, Diposting oleh: Dr.H.Syarifuddin,M.Pd. lihat profil
pada tanggal: 2016-06-14 11:16:41 wib


Kesetaraan Gender Berbasis Self Science dalam Membentuk Keluarga HarmonisKESETARAAN GENDER BERBASIS SELF SCIENCE
DALAM MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS

A. Pendahuluan
Kehidupan yang sejahtera atau dalam bahasa al-Qur`an hayatan thayyibah merupakan dambaan setiap manusia. Salah satu sarana untuk meraihnya adalah dengan membangun rumah tangga yang menjadi wahana persemaian generasi qurrata a’yun (Nashir, 2013:27). Lebih lanjut, generasi tersebut nantinya akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Oleh karena itu, jelaslah betapa pentingnya eksistensi pemuda yang tangguh untuk menggapai masa depan bangsa yang gemilang. Bahkan, hilangnya sebuah generasi berdampak jauh bagi masa depan bangsa. Ibarat hutan jati yang ditebang, tetapi, tidak disiapkan generasi pohon yang muda sebagai penggantinya, maka hutan itu akan mengalami kerusakan panjang dengan berbagai dampaknya (Hidayat, 2015:97).
Lantas, bagaimana kondisi generasi muda Indonesia saat ini?. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita maraknya kekerasan seksual yang terjadi pada anak perempuan. Ditambah lagi, yang melakukan kekerasan tersebut sebagian besar juga masih anak-anak. Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan kasus Yuyun, bocah SMP yang meninggal setelah diperkosa oleh 14 orang. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang sifnifikan dari 2.178 kasus pada tahun 2011 meningkat menjadi 5.066 kasus pada tahun 2014.
Hal tersebut diperparah dengan temuan dari Komisi Nasional Perempuan yang dilansir pada halaman komnasperempuan.go.id. dalam Lembar Fakta Catatan Tahunan (Catahu) 2016, terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan. Ironinya, 305.535 kasus yang dilaporkan oleh Badan Peradilan Agama merupakan kekerasan dalam rumah tangga. Data tersebut menunjukkan lemahnya peran keluarga dalam melindungi dan membentengi anggota keluarga dari kekerasan dan pengaruh-pengaruh negatif.
Padahal, keluarga merupakan benteng utama dan pertama yang harus memproteksi anak sejak dini. Jika dicermati lebih dalam, perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak disebabkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang yang diperoleh anak dalam keluarga. Menurut Dr. Ir. Euis Sunarti, pakar gender dan ketahanan keluarga IPB, salah satu penyebabnya adalah maraknya pemikiran kesetaraan dan keadilan gender (KKG) yang menuntut perempuan untuk ikut aktif bekerja di luar rumah (Salim, 2014:146-148). Senada dengan hal tersebut, Goleman (2016:276) menjelaskan bahwa generasi yang suka membuat onar, seperti berkelahi dan melakukan kekerasan, merupakan akibat dari pendidikan emosi (emotionalintelligence) yang tidak memadai dari orang tua.
Oleh karena itu, dapat diambil benang merah bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang gemilang. Selain itu, dari keluarga yang harmonislah akan lahir generasi-generasi penerus yang berkualitas. Hanya saja, yang menjadi permasalahannya adalah cara memahami kesetaraan gender dalam rangka membentuk keluarga harmonis serta solusi yang ditawarkan oleh al-Qur`an dalam membentuk keluarga harmonis dengan asas keadilan dan kesetaraan.
Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan mendasar yang patut dikaji adalah peran gender dalam membentuk keluarga harmonis. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas beberapa poin, diantaranya membangun kesetaraan gender berbasis self science, relasi antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur`an, pembagian peran suami dan istri, serta aktualisasinya dalam kehidupan modern.

B. Kesetaraan Gender Berbasis SelfScience
Memahami konsep gender tidak dapat dilepaskan dengan perbedaan antara kata gender dan seks. Gender adalahsifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, sedangkan seks merupakan sifat biologis yang melekat pada laki-laki dan perempuan (Fakih, 2013:8). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa posisi gender bukanlah berasal dari sifat fisik biologis, tetapi, pemahaman masyarakat yang terus mengalami perkembangan.
Lebih lanjut, pada tataran realitas sosial, perbedaan peran gender tersebut memperlihatkan pandangan-pandangan yang diskriminatif terhadap perempuan, misalnya perempuan adalah makhluk domestik, sedangkan laki-laki adalah superior dan makhluk publik (Muhammad, 2016:119). Pandangan yang diskriminatif tersebut pada akhirnya akan melahirkan ketidakadilan gender, secara umum ada beberapa bentuk ketidakadilan gender, yaitu (Fakih, 2013:13-21) marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban kerja.
Menurut Huzaemah (2010:x), perbedaan gender yang melahirkan peran gender sebenarnya tidak menimbulkan masalah. Namun, persoalan itu muncul manakala ada kesan yang dipublikasikan secara cepat, misalnya anggapan bahwa beban laki-laki (beban produksi dan mencari nafkah) lebih berat dari beban istri (beban reproduksi: mengandung, melahirkan, menyusui). Pola pikir semacam itu tidak dapat dilepaskan dari pemahaman umum masyarakat yang telah berkembang secara luas. Oleh karena itu, persoalan utama yang harus dijawab dalam menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah dengan menyikapi kembali pola pikir yang telah berkembang. Disinilah letak kunci self science memainkan perannya dalam membantu memahami perbedaan gender.
Self science merupakan proses pembelajaran dengan tujuan meningkatkan kadar keterampilan emosional dan sosial. Dengan kata lain, self science berusaha memahami perasaan-perasaan yang ada di sekitar manusia, atau kecerdasan emosional (Goleman, 2016:369). Dalam bahasa lebih sederhana dikenal dengan istilah kecerdasan emosional.
Menurut Salovey sebagaimana dikutip oleh Goleman (2016:56), ada lima wilayah utama kecerdasan emosional, yaitu:
a. Mengenali diri, kemampuan memantau perasaan dari waktu ke waktu (kesadaran diri). Ketidakmampuan mencermati perasaan membuat seseorang dalam kekuasaan perasaan.
b. Mengelola emosi, menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas sesuai dengan kesadaran dirinya.
c. Memotivasi diri sendiri, menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
d. Mengenali emosi orang lain, sikap empatik yang mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain.
e. Membina hubungan, keterampilan mengelola emosi orang lain/seni membina hubungan.
Jika melihat wilayah kecerdasan emosional tersebut, dapat ditarik hubungannya dengan relasi gender dalam keluarga. Seorang istri maupun suami harus mampu mengenali diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi pasangan, dan membina hubungan dalam keluarga. Dalam Islam, pembinaan rumah tangga tersebut dilakukan dalam rangka menjaga keluarga dari siksa api neraka. Hal ini menurut Usman Najati merupakan salah satu metode al-Qur`an dalam proses pengendalian emosi (2004:131). Allah Swt berfirman dalam Surah al-Tahrim ayat 6:
••
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Memahami ayat tersebut, al-Razi (jilid 30, 1981:46) mengutip pendapat Muqatil menyatakan bahwa hendaknya seorang muslim membina dirinya dan keluarganya dengan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan. Penafsiran serupa juga dipaparkan oleh al-Thabari (jilid 23, 2001:103) bahwa ayat tersebut menunjukkan adanya proses pengajaran dan pembinaan dalam keluarga agar terhindar dari api neraka.
Selain itu, dalam ayat tersebut terdapat kata anfusakum yang berasal dari kata nafs. Kata nafs memiliki beberapa makna di dalam al-Qur`an (Lajnah, jilid 8, 2014:52), salah satunya adalah sisi dalam diri manusia yang melahirkan tingkah laku. Hal ini ada kaitannya dengan proses pendidikan, pengajaran, dan pembentukan watak dan kepribadian manusia. Oleh karena itu, kata nafs tersebut sesungguhnya mencakup juga emosional seseorang yang membentuk kepribadiannya. Sehingga dapat dikatakan ayat tersebut juga mengajarkan umat Muslim untuk mengasah kecerdasan emosionalnya dan juga keluarganya agar terhindar dari api neraka.
Hal pertama yang dapat dilakukan dalam rangka mengasah kecerdasan emosional adalah dengan menumbuhkan sikap kesadaran dan kepedulian terhadap pasangan. Allah Swt berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 187:
...••...
...mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka....
Ayat tersebut menurut Quraish Shihab (2014:173) merupakan penegasan bahwa antara suami dan istri saling membutuhkan layaknya sebuah pakaian yang berfungsi menutup aurat dan kekurangan jasmani, sebagai perhiasan, dan sebagai pelindung dari sinar matahari. Tetapi, perlu ditekankan juga bahwa pakaian yang dimaksud disini adalah pakaian khusus (eksklusif) yang tidak dapat dibuang begitu saja setelah usang atau dilepaskan dan ditukar dengan yang lain. ‘Pakaian suami istri’ adalah pakaian unik yang tidak ada duanya dan senatiasa diliputi oleh mawaddah dan rahmah. Pakaian unik itu tidak dapat ‘dipinjamkan’ kepada orang lain, karena hanya dapat ‘dipakai’ oleh orang yang sah memilikinya (Lajnah, jilid 3, 2014:93).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa memahami gender tidak sebatas melihat perbedaan-perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Tetapi, lebih dari itu, saling memahami satu sama lain terkait peran dan fungsinya masing-masing harus menjadi semangat hidup agar tidak terjadi diskriminasi gender.

C. Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam al-Qur`an
Relasi hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur`an dapat ditemukan dalam banyak tempat. Menurut Rasyid Ridha (1984:7), setidaknya ada empat ayat dalam al-Qur`an yang menjelaskan hal tersebut, satu diantaranya adalah surah al-Hujurat ayat 13:
••••
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat tersebut menyebutkan posisi laki-laki dan perempuan sejajar tanpa ada perbedaan. Unsur yang membedakan antara tiap hamba adalah ketakwaannya kepada Allah Swt. Hal ini senada dengan hadis Nabi Saw yang berbunyi (Abu Dawud, t.th: 45):
إِنَّمَاالنِّسَاءُشَقَائِقُالرِّجَالِ
“Sesungguhnya perempuan itu setara dengan laki-laki.”
Oleh karena itu, dari dalil al-Qur`an dan hadis tersebut dapat disimpulkan, bahwa sejatinya semangat yang dibawa oleh Islam adalah semangat kesetaraan. Tetapi, pertanyaannya adalah apakah setara itu harus‘sama persis’?. Menurut Muhammad Chirzin (2015:265), Islam mengakui persamaan dan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Secara lahiriah, tentu saja ada perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan. Namun, perbedaan aspek lahiriah itu tidak mempengaruhi aspek rohani. Jika dikaji secara terperinci, ada beberapa konsep Islam tentang kesetaraan gender (Yanggo, 2010:91-95):
a. Perspektif pengabdian (QS. Al-Hujurat:13, al-Nahl:97).
b. Perspektif asal kejadian perempuan (QS. Al-Nisa: 1).
c. Perspektif kejiwaan (QS. Al-A’raf:20).
d. Perspektif kemanusiaan (QS. Al-Nahl:58-59).
e. Perspektif kepemilikan harta (QS. Al-Nisa:32).
f. Perspektif kewarisan (QS. Al-Nisa:7).
g. Perspektif pendidikan dan pengajaran (Hadis Nabi Saw).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa konsep kesetaraan dalam Islam tidaklah sama persis dengan hitungan matematis. Sebab, ada peran-peran yang menjadi hak suami dan merupakan kewajiban istri, dan sebaliknya, ada pula kewajiabn suami yang merupakan hak istri. Oleh karena itu, kesetaraan dapat terwujud ketika hak dan kewajiban itu dpaat terpenuhi. Hal ini senada dengan pendapat dari al-‘Aqqad (t.th:63):
وليس من العدل او من المصلحة أن يتساوى الرجال والنساء في جميع الاعتبارات, مع التفاوت بينهم في أهم الخصائص التي تناط بها الحقوق والواجبات.
Bukanlah suatu keadilan atau kemaslahatan dengan penyamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspek, sedangkan, ada perbedaan-perbedaan di antara mereka pada karakteristik yang terpenting yang karenanya disandarkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
Lantas, mengapa masih sering terjadi kekerasan dan diskriminasi dalam rumah tangga Islam?. Muhammad Abduh dan Yusuf al-Qaradhawi sebagaimana dikutip oleh Syamsuddin Arif (2008:112) menyatakan bahwa ketimpangan dan penindasan yang sering terjadi di kalangan umat Islam lebih disebabkan oleh praktik dan tradisi masyarakat setempat, ketimbang oleh ajaran Islam.
Lebih lanjut, relasi antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur`an salah satunya terdapat dalamSurah Al-Nisa ayat 34:
...
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...
Menurut al-Shobuni (jilid 1, 1978:265), kata qawwamun merupakan bentuk mubalaghah dari kata qiyam yang bermakna menjaga dan memelihara perempuan. Penafsiran ini mirip dengan penafsiran mufasir terdahulu seperti al-Thabari, al-Zamakhsyari, al-Razi, Ibn Katsir, al-Alusi dan Rasyid Ridha yang yang memahami ayat tersebut dengan konteks suami adalah pemimpin atas isterinya (Ilyas, 2015:202-203). Konteks tersebut menurut al-Sya’rawi bukan sebatas suami terhadap istri, tetapi, juga berbicara tentang laki-laki dan perempuan secara umum, bapak terhadap anak perempuannya, saudara laki-laki terhadap saudara perempuannya, dll (Istibsyaroh, 2004:107). Penafsiran semacam ini didukung pula oleh Ibn ‘Asyur sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah (volume 2, 2002:511).
Sedikit berbeda dengan mufasir terdahulu, Sardar (2014:535) mengajukan terjemahan kata qawwam dengan pencari nafkah atau orang yang menyediakan nafkah. Menurutnya istilah ini lebih netral secara gender, sebab, menurutnya makna laki-laki sebagai pelindung dan pemelihara perempuan hanya ada dalam konteks masyarakat kesukuan dan patriarkal.
Jika memahami munasabah ayat tersebut, menurut Quraish Shihab (volume 2, 2002:511) ayat sebelumnya (ayat 32) melarang sikap iri terhadap keistimewaan masing-masing manusia, sebab, masing-masing mempunyai fungsi yang harus diembannya dalam masyarakat, sesuai dengan potensi dan kecenderungan jenisnya. Salah satu fungsi dan kewajibannya dijelaskan dalam ayat ini yaitu peran laki-laki sebagai qawwam terhadap perempuan. Lebih lanjut, menurut beliau kata qawwamun merupakan bentuk jamak dari kata qawwam yang berasal dari kata qama, maknanya bukan sekadar mendirikan, tetapi, juga melaksanakannya dengan sempurna. Sehingga menurut beliau terjemahan kata qawwamun dengan pemimpin belum menggambarkan seluruh makna yang dikehendaki, sebab, didalamnya tercakup pula pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan, pembelaan, dan pembinaan.
Oleh karena itu, sejatinya al-Qur`an membawa nilai-nilai kesetaraan dan keadilan dalam memandang relasi antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan tersebut berupa persamaan menjalankan dan menerima hak dan kewajiban antara suami dan istri dengan penuh kesadaran. Selain itu, segala macam bentuk penafsiran yang mendiskriminasi harus dihindari, sebab, hal tersebut telah keluar dari spirit ajaran al-Qur`an.

D. Peran Suami dan Istri dalam Keluarga
Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah setara. Meski demikian, keseteraan yang dibangun bukanlah kesetaraan kuantitatif, melainkan secara kualitatif sesuai dengan perannya masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk dikaji relasi dan peran antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Sebab, kegagalan dan ketimpangan dalam membagi peran antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga akan menyebabkan ketidakharmonisan.
Sebenarnya al-Qur`an sejak awal telah menggariskan salah satu tujuan dari sebuah pernikahan adalah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Allah Swt berfirman dalam al-Qur`an Surah al-Rum ayat 21:
•••
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Ayat tersebut cukup populer ketika resepsi pernikahan berlangsung. Sebab, makna dari ayat tersebut mendorong terciptanya keluarga yang harmonis. Menurut Quraish Shihab (volume 10, 2002:187), kata taskunu berasal dari kata sakana yang berarti diam, tenang setelah sebelumnya guncang dan sibuk. Oleh karena itu, rumah disebut sakan karena dia tempat memeroleh ketenangan setelah sebelumnya si penghuni sibuk di luar rumah, begitupula pernikahan seharusnya melahirkan ketenangan batin. Hal ini senada dengan pernyataan Husein Muhammad (2016:211) bahwa rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang dibangun di atas pilar relasi yang saling mengasihi, memberikan kebaikan, dan saling melayani dengan kelembutan dan ketulusan dalam tindakan maupun tutur kata serta saling rela atas kekurangan masing-masing.
Menurut Hamka (2016:264), kesepakatan dan sehaluan dalam rumah tangga merupakan kunci ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Hal tersebut tidak diukur berdasarkan kekayaan dan kemuliaan pangkat, tetapi cinta dan saling menghormati di antara kedua pihak.
Salah satu bentuk kesepakatan antara suami dan istri adalah dengan membagi tugas dan peran serta menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Sikap tanggung jawab ini penting untuk diperhatikan, sebab, Nabi Saw telah mengingatkan dalam salah satu hadis, beliau bersabda (Bukhari, 1998:179):
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا...
Setiap diri kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin rumah tangganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya...
Sikap bertanggung jawab tersebut akan lahir ketika setiap pasangan memahami dan menjalankan peran dan tugasnya masing-masing. Dalam kehidupan rumah tangga, ada peran yang saling menjalankan satu sama lain, dan ada juga peran yang saling melengkapi. Peran yang saling menjalankan satu sama lain yaitu:
a. Menjadi pasangan secara biologis
Tidak dapat diingkari bahwa salah satu kebutuhan biologis manusia adalah melakukan aktivitas reproduksi (Lajnah, jilid 3, 2014:90). Dalam Islam, aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam bahtera kehidupan rumah tangga yang sah. Tanpa ikatan tersebut, maka aktivitas itu menjadi haram.
b. Menjadi pasangan secara psikologis
Hubungan interpersonal antara suami dan istri harus diupayakan berlangsung dengan hangat, bersahabat, saling menghormati, dan saling mempercayai (Lajnah, jilid 3, 2014:91).
c. Mendidik anak
Sebagian suami beranggapan bahwa tanggung jawab pendidikan anak hanya ditumpahkan pada ibu semata. Seorang suami hanya bertugas menacari nafkah dan menghabiskan banyak waktunya di luar rumah. Ini merupakan anggapan keliru, sebab, seorang suami juga harus punya andil dalam mendidik anak secara langsung. Menurut Yanggo (2010:80), seorang suami juga harus dapat berperan sebagai mitra dialog anak-anak.
d. Menjalin komunikasi yang baik dengan mertua
Salah satu pintu kehancuran rumah tangga yang sering terjadi adalah kesalahpahaman dan komunikasi yang kurang baik antara pihak menantu dengan mertua sehingga terjadi perpecahan antara suami dan istri (Majelis Tarjih, 2015:13).
Sedangkan peran yang saling melengkapi antara suami dan istri adalah:
a. Suami sebagai pencari nafkah utama
Meski demikian, Islam tidak melarang istri membantu suaminya dalam mencari nafkah dengan izin suaminya, sepanjang tidak mengganggu tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga (Yanggo, 2010:72). Hasan al-Bana menambahkan perempuan dapat bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan primer, bukan untuk memenuhi kebutuhan lainnya (Syahatah, 2004:140). Begitupula menurut al-Ghazali (2015:65), Guru Besar Universitas al-Azhar, seorang wanita boleh saja bekerja di luar rumah, tetapi, diperlukan adanya jaminan-jaminan yang menjaga masa depan keluarga dan rumah tangganya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan tugas utama dalam mencari nafkah adalah peran suami, walaupun istri dapat membantu dengan beberapa kondisi yang melatarbelakanginya. Nafkah disini mencakup makanan, pakaian, dan rumah (Engineer, 2009:245).
b. Istri sebagai manajer dalam mengatur rumah tangga
Kecakapan mengatur rumah tangga, kepandaian memasak serta menjahit, dan terutama mendidik anak merupakan keterampilan pokok bagi seorang istri atau ibu rumah tangga(Majelis Tarjih, 2015:14). Sebagai manajer, seorang istri menata berbagai sarana yang diperlukan oleh semua anggota keluarga sehingga fungsional dan menyenangkan, mengatur urusan belanja sehari-hari sehingga tertata dan terprogram dengan baik (Lajnah, jilid 3, 2014:93).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kesetaraan dalam keluarga dapat tercapai manakala setiap elemen menjalankan tugas sesuai dengan perannya masing-masing. Disinilah perlunya sikap saling melengkapi, menghargai, menghormati, dan membantu satu sama lain yang dapat dioptimalkan dengan meningkatkan kecerdasan emosional (self science).

E. Keluarga Harmonis: Implementasi Kesetaraan Gender BerbasisSelf Science
Sebagaimana pembahasan sebelumnya, kesetaraan gender dalam Islam tidak menuntut kesetaraan kuantitatif matematis, tetapi, kualitatif fungsional, sehingga yang dituju adalah kesetaraan tugas dan fungsinya sesuai dengan perannya masing-masing. Dalam kehidupan keluarga, ada dua gender yang berperan di dalamnya yaitu suami dan istri.
Menyikapi relasi gender tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan dalam membangun keluarga harmonis adalah dengan mengasah kecerdasan emosional manusia. Sebab, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi, sehingga dibutuhkan kecerdasan emosional untuk berinteraksi dengan cerdas. Berikut relasi gender dan kecerdasan emosional yang terbangun dalam rangka membentuk keluarga harmonis.











Dalam gambar tersebut, suami dan istri terpisah dalam kotaknya masing-masing. Hal ini menyiratkan bahwa mereka memiliki tugas dan perannya masing-masing. Meski demikian, kotak tersebut dalam posisi sejajar, yang menyimbolkan kesetaraan dalam menjalankan perannya, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, keduanya setara. Lebih lanjut, ada garis-garis pengubung antar kotak, disitulah self science memainkan perannya dalam berinteraksi satu sama lain.
Dengan demikian, keluarga harmonis dapat tercapai manakala setiap pasangan menjalankan perannya masing-masing dengan sadar dan penuh tanggung jawab disertai interaksi yang mengedepankan self science. Lebih lanjut, dengan memahami gender berbasis self science, setidaknya ada beberapa unsur yang diajukan oleh Goleman (2016:428-429), yaitu:
a. Kesadaran diri
b. Pengambilan keputusan pribadi
c. Mengelola perasaan
d. Menangani stress
e. Empati
f. Komunikasi
g. Membuka diri
h. Pemahaman
i. Menerima diri sendiri
j. Tanggung jawab pribadi
k. Ketegasan
l. Dinamika kelompok
m. Menyelesaikan konflik
Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam menjalankan peran suami dan istri. Misalnya suami yang berperan mencari nafkah, ia mengetahui keputusan yang ia pilih dan konsekuensinya sehingga seorang suami akan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Disamping itu, ia juga mampu mengelola perasaannya dan memupuk sikap empati terhadap istrinya, sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dan tidak didasari dengan sikap ego masing-masing.
Dengan demikian, kesetaraan gender dapat terwujud manakala seseorang dapat memahami tugas dan perannya masing-masing dan dapat menerima tugas dan peran orang lain terhadapnya. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memahami tugasnya sebagai suami sekaligus menerima tugas istri terhadapnya, begitupula sebaliknya. Proses itulah yang akan melahirkan ketenangan dan ketentraman, jauh dari unsur kekerasan dan penindasan sehingga terwujudlah keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah dengan mencetak generasi-generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak.
F. Penutup
Salah satu dasar pokok dari ajaran Islam adalah keadilan dan kesetaraan, sehingga pada dasarnya Islam menolak segala unsur diskriminasi dan kekerasan. Hanya saja, seringkali praktik yang berkembang di masyarakat, berbeda dengan semangat dari Islam itu sendiri, misalnya sikap diskriminasi dan kekerasan gender yang saat ini marak di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Disinilah perlunya memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur`an dan hadis secara benar.
Al-Qur`an secara tegas menyatakan sikap egaliter dalam persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Meski demikian, patut digarisbawahi bahwa kesetaraan yang dimaksud bukanlah kesetaraan yang menuntut kesamaan secara ‘persis’. Tetapi, kesetaraan yang dibangun adalah kesetaraan fungsional yang menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan perannya masing-masing.
Salah satu nilai penting dari menjalankan kesetaraan fungsional itu adalah adanya sikap saling memahami dan menghormati satu sama lain. Oleh karena itu, self science dibutuhkan dalam rangka menerima dan menghormati perbedaan serta bekerja sama dalam membangun keluarga harmonis. Tentunya, keluarga yang harmonis dapat terwujud ketika setiap anggota keluarga mengedepankan nilai-nilai kasih sayang dan komunikasi yang terjalin baik, bukan mengunggulkan ego masing-masing terlebih sampai pada tindak kekerasan. Segala bentuk kekerasan merupakan jalan menuju hancurnya keharmonisan dan segala bentuk penghargaan dan kasih sayang merupakan gerbang menggapai keluarga idaman.

Daftar Pustaka

al-‘Aqqad, ‘Abbas Mahmud. Al-Mar`ah fi al-Qur`an. Mesir: Nahdlah Mishr, t.th.
Arif, Syamsuddin. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani, 2008.
al-Bukhari, Abdullah Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Riyadh: Bait al-Afkar, 1998.
Chirzin, Muhammad. Mengerti Asbabun Nuzul. Jakarta: Zaman, 2015.
Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Fakih, Mansour. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
al-Ghazali, Muhammad. Dari Hukum Memakai Cadar hingga Hak Istri yang ditalak Tiga. Terj. Muhammad al-Baqir. Jakarta: Mizania, 2015.
Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. Terj. T. Hermaya. Jakarta: Gramedia, 2016.
Hamka. 1001 Soal Kehidupan. Jakarta: Gema Insani, 2016.
Hidayat, Komaruddin. Penjara-penjara Kehidupan. Jakarta: Noura, 2015.
Ilyas, Yunahar. Kesetaraan Gender dalam al-Qur`an: Studi Pemikiran Para Mufasir. Yogyakarta: Itqan, 2015.
Istibsyaroh. Hak-hak Perempuan: Relasi Jender Menurut Tafsir al-Sya`rawi. Jakarta: Teraju, 2004.
Kementerian Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahnya. Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur`an. Tafsir al-Qur`an Tematik. Jilid 3 dan 8. Jakarta: Kamil Pustaka, 2014.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Adabul Mar`ah fil Islam. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015.
Muhammad, Husein. Perempuan, Islam & Negara: Pergulatan Identitas dan Entitas. Yogyakarta: Qalam Nusantara, 2016.
Najati, M. Utsman. Al-Qur`an dan Ilmu Jiwa. Terj. Ahmad Rofi Usmani. Bandung: Pustaka, 2004.
Nashir, Haedar. Ibrah Kehidupan: Sosiologi Makna untuk Pencerahan Diri. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2013.
al-Razi, Muhammad Fakhr al-Din. Mafatih al-Ghaib. Jilid 30. Beirut: Dar al-Fikr, 1981.
Ridha, Muhammad Rasyid. Huquq al-Nisa` fi al-Islam. Beirut: al-Maktab al-Islamiy, 1984.
Salim, Fahmi. Tafsir Sesat: 58 Essai Kritis Wacana Islam di Indonesia. Jakarta: Gema Insani, 2013.
Sardar, Ziauddin. Ngaji Quran di Zaman Edan: Sebuah Tafsir untuk Menjawab Persoalan Mutakhir. Terj. Zainul Am, (dkk.). Jakarta: Serambi, 2014.
al-Sijistani, Abi Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats. Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, t.th.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Jilid 2 dan 10. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
_________________. Perempuan. Jakarta: Lentera Hati, 2005.
al-Shobuni, Muhammad Ali. Shafwah al-Tafasir. Jilid 1. Kairo: Dar al-Shobuni, 1978.
Syahatah, Husein. Ekonomi Rumah Tangga Muslim. Terj. Dudung Rahmat Hidayat dan Idhoh Anas. Jakarta: Gema Insani, 2004.
al-Thabari, Abi Ja’far Muhammad ibn Jarir. Tafsir al-Thabari Jami’ al-Bayan ‘An Ta`wil Ay al-Qur`an. Jilid 23. Kairo: Dar Hijr, 2001.
Yanggo, Huzaemah Tahido. Fikih Perempuan Kontemporer. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.

Bagikan Artikel ini ke Facebook