E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Pesantren Unggul Berbasis Digital

Dibaca: 317 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2016-07-11 09:38:24 wib


PESANTREN UNGGUL
BERBASIS DIGITAL
(Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah
dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren)
Oleh: Utawijaya Kusumah



A. Pendahuluan
Dalam upaya menghadapi era globalisasi yang penuh dengan tantangan, Pondok Pesantren dituntut untuk lebih aktif merespon kemajuan zaman tanpa melupakan jati diri Pondok Pesantren, yaitu dengan senantiasa mengedepankan jiwa keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan, persaudaraan, dan kebebasan.
Secara sederhana pondok pesantren mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai agen pewarisan budaya (agent of conservative) dan sekaligus sebagai agent of change (agen perubahan). Pada fungsinya sebagai pewarisan budaya, maka posisi pesantren tidak dapat diragukan bahwa semua pondok pesantren melakukan fungsi itu dengan baik dan kuat, ia senantiasa mewariskan budaya khas pendidikan Islam tradisional kepada para santrinya dalam bentuk kesederhanaan, ketawadluan, keikhlasan, dan lainnya. Namun ketika pondok pesantren berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change), tidak semua pesantren dapat melakukan dan menerima fungsi tersebut. Sebab, masih ada di antara pimpinan pesantren yang menolak perubahan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Namun perubahan dan perkembangan IPTEK tersebut tidak bias dihindari oleh pesantren.
Tantangan bagi pesantren saat ini adalah bagaimana pesantren mengupayakan pengembangan sistem dan metodoloogi pembelajarannya, setidak-tidaknya agar proses pembelajarannya lebih efektif dan efisien. Pengembangan ini dapat berarti pemberdayaan dan pemerkayaan sistem dan metodologi pembelajaran konvensional, atau berarti perubahan sistem dan metodologi yang berimplikasi pada disingkirkannya sistem dan metodologi yang tidak efisien dari sistem konvensional. Pengembangan pembelajaran di Pondok Pesantren ini juga dapat dibedakan dari dua poros, yaitu pengembangan ke dalam (internal) dalam arti pemberdayaan dan pemerkayaan; dan pengembangan keluar (external) yang berarti bahwa pesantren mengakomodasi sistem dan metodologi pembelajaran modern untuk melengkapi atau bahkan mengganti sistem dan metodologi konvensional.
Sistem dan metodologi pembelajaran konvensional yang dianut pesantren pada umumnya berkisar pada varian-varian seperti: sorogan, wetonan/bandongan, halaqah, dan hafalan/tahfidz. Keempat metode itulah yang banyak diterapkan di pondok-pondok pesantren, dan antara metode yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat dan mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing, sehingga pondok-pondok pesantren sampai sekarang masih mempertahankan metode tersebut, dan itu menjadi lambang supremasi serta ciri khas pengajaran di pondok pesantren.
Perkembangan berikutnya, banyak pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan seperti pendidikan formal sekolah atau madrasah. Dengan adanya perkembangan tersebut maka metode pengajarannya tidak lagi hanya berkisar pada sistem bandongan, halaqah, sorogan dan hafalan semata, tetapi sudah menerapkan metode belajar mengajar seperti sekolah. Namun, tidak semua pesantren menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran sekolah/madrasah. Hal ini disebabkan karena di sementara pondok pesantren masih ada norma-norma yang bersifat doktrinal yang belum bisa di reformasi, seperti siswa/santri tidak boleh banyak bertanya, harus menundukkan wajah ketika berhadapan dengan guru/kyai, dan semacamnya.
Terlepas dari kelemahan dan kelebihan penggunaan dan penerapan sistem serta metodologi pembelajaran di pesantren, sebenarnya pondok pesantren sedang menghadapi sistem kehidupan yang multidimensi, yakni dengan berkembangnya era multimedia, seperti komputer. Dalam perkembangan tersebut seyogyanya pesantren mampu menyesuaikan diri dan mengantisipasi dengan mencari format baru sistem pembelajaran yang mengakomodir perkembangan multimedia. Artinya, pesantren perlu mengembangkan media pembelajaran bermedia sebagai alternatif metode pembelajaran yang selama ini digunakan.
Pembelajaran bermedia (mediated learning) merupakan salah satu bentuk pengembangan pembelajaran yang ditawarkan kepada pesantren, yang terutama dimaksudkan untuk lebih meningkatkan hasil-hasil pembelajarannya. Secara sederhana, pembelajaran bermedia adalah pembelajaran yang menyertakan atau melibatkan media pembelajaran dalam sistem dan proses pembelajarannya. Pelibatan media yang dimaksud adalah menjadikan media pembelajaran sebagai salah satu komponen integral dalam sistem pembelajaran, dan karenanya media pembelajaran senantiasa diperhitungkan dalam desain dan operasional pembelajaran.
Pentingnya media pembelajaran sebagai alternatif sistem dan proses pembelajaran di pondok pesantren adalah karena pengajaran yang dilaksanakan kebanyakan pesantren adalah pengajaran verbalistik. Semua bentuk metode pembelajaran yang dikembangkan pesantren pada hakikatnya tergolong pembelajaran verbalistik. Pembelajaran verbalistik adalah pembelajaran yang hanya melibatkan penyajian lisan dan tulisan, tidak melibatkan visualisasi dan penjelajahan atas apa yang dipelajari. Para santri hanya diperkenalkan oleh kata-kata istilah yang belum tentu dimengerti oleh siswa. Misalnya, para kyai atau guru memperkenalkan istilah-istilah demokrasi, struktur, sistem, dan semacamnya, yang tentunya sangat dulit dipahami jika guru atau ustadz hanya menggunakan penyampaian lisan.
Atas dasar itu, dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era multimedia, maka sudah saatnya sistem pembelajaran di pondok pesantren dapat memanfaatkan perkembangan perangkat multi media sebagai media pembelajarannya. Hal ini menjadi penting bagi pesantren, karena mengingat kemajuan teknologi informasi yang demikian pesatnya dan merambah hampir seluruh institusi dan kebutuhan masyarakat. Kemajuan ini tentunya dapat memuaskan baik untuk kajian maupun untuk hiburan.
Salah satu media pembelajaran alternatif di pondok pesantren adalah komputer. Sebab, pesantren sampai saat ini masih disebut-sebut sebagai gudang pengkajian kitab al-Dirasat al-Islamiyah. Juga sering disebut sebagai pusat kajian Islam, di samping sebagai basis dakwah dan pendidikan Islam. reputasi dan posisi sentral ini tentunya harus tetap dipertahankan oleh pondok pesantren. Namun, pertahanan diri semacam itu tentunya harus diimbangi oleh kemampuan pondok pesantren untuk terus menerus memperbaiki kualitas pelayanan, di samping memperluas akses untuk memasuki perkembangan dunia yang semakin progresif. Salah satu bentuk perkembangan mutakhir adalah intervensi teknologi informasi yang semakin meluas. Teknologi komputer merupakan salah satu yang terpesat, baik menyangkut software (perangkat lunak/program) maupun hardware (perangkat keras).
Atas dasar itu, maka dalam pendekatan Sistem Informasi Manajemen, sudah saatnya komputer dijadikan sebagai media alternatif dalam pembelajaran di pondok pesantren. Sebab, salah satu fungsi pondok pesantren adalah sebagai lembaga pusat pelayanan masyarakat, khususnya dalam bidang keagamaan. Salah satu prinsip pelayanan kepada masyarakat yang dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan. Melalui media komputer inilah diharapkan kecepatan dan ketepatan pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik oleh pesantren.
Berdasarkan uraian di atas, maka penggunaan media komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren adalah penting dan perlu dikembangkan. Pertanyaannya adalah bagaimana menggunakan komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka makalah ini ditulis.


B. Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren
Pondok pesantren hingga saat ini masih merupakan institusi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman yang harus memposisikan dirinya sebagai agen perubahan (agent of change) . Reputasi ini perlu dikembangkan dengan menerapkan sistem pelayanan informasi ilmu keislaman yang handal dan akurat dengan menggunakan teknologi modern.
Kehadiran komputer di pondok pesantren tidak dapat terelakkan lagi, kendatipun sampai saat ini penggunaan komputer masih terbatas pada penyelesaian tugas-tugas administrasi rutin, seperti membuat surat, menyimpan data administratif, dan semacamnya. Komputer belum dimanfaatkan untuk mempertahankan citra pondok pesantren sebagai basis kajian Islam, dan untuk memajukan pembelajaran Islam.
Perkembangan era globalisasi yang ditandai dengan maraknya sistem informasi yang menggunakan alat multimedia seperti komputer saat ini, sebenarnya informasi ilmu-ilmu keislaman klasik maupun kontemporer sudah diintegrasikan ke dalam program-program komputer dan sudah sangat banyak diproduksi, terutama oleh pemerintah dan pengusaha di negara-negara muslim, seperti Saudi Arabia, Irak, Libanon, Iran, Mesir, Malaysia, dan negara-negara muslim lainnya, termasuk Indonesia. Program-program ini dikemas dalam bentuk CD (Compact Disc) yang dioperasikan dalam sistem operasi Windows.
Satu CD atau DVD saja termuat ribuan kitab dan jilid, yang jika kitab-kitab yang disimpan dalam satu CD itu disimpan secara manual di dalam gedung perpustakaan, akan menghabiskan ruang yang sangat besar dan luas. Lebih dari itiu, semua CD program kajian ilmu keislaman (al-Dirâsat al-Islâmiyah) itu dibuat sedemikian rupa dalam bentuk digital, sehingga pembacaan dan pengkajian kitab akan lebih cepat ratusan bahkan ribuan kali jika dibandingkan dengan cara-cara konvensional membaca kitab. Maka, seperti pernah dikatakan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid, bahwa dengan kemajuan seperti itu lembaga pesantren lebih mudah mencetak ulama. Ijtihad dilakukan lebih mudah dan tentunya lebih cepat daripada masa mujtahidin, seperti masa imam yang empat: Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i. Dengan satu klok saja kita dapat memeriksa ratusan bahkan ribuan ayat Al-Qur’an, Hadiš, dan pandangan ulama dalam berbagai kitab yang dipilih. Dengan sendirinya, hal ini berarti lebih cepat daripada belajar dengan membuka kitab secara manual.
CD program kajian keislaman yang sudah beredar luas di masyarakat, terutama di kalangan perguruan tinggi Islam adalah CD The Holy Qur’an, yang memuat teks Al-Qur’an 30 juz, terjemah dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Malaysia, tafsir Al-Qur’an oleh Al-Qurthuby, Ibnu Katsir, dan Al-Jalalain. The Holy Qur’an juga dilengkapi dengan ilmu tajwid dan bacaan Al-Qur’an. CD ini menyajikan menu-menu yang beragam sebagai fasilitas dalam memproses apa yang kita kehendaki. Untuk mencari kata zakat, misalnya, dalam seluruh surat Al-Qur’an, ada menu pencarian (bahts). Dengan satu atau dua kali klik, semua informasi yang dibutuhkan akan tersedia dalam hitungan detik.
CD lain adalah Maktabah al-Hadiš al-Syarif atau Mausu’ah al-Hadiš al-Syarif yang berisi sembilan kitab Hadiš (al-Kutub al-Tis’ah) beserta kitab-kitab syarah masing-masing. Menu-menu yang disediakan juga sangat beragam dan semua itu untuk memudahkan akses dan penggunaannya. Dengan CD ini orang dapat membandingkan hadiš-hadiš yang dimuat oleh masing-masing kitab hadiš, dan pendapat para ulama mengenai hadiš itu, yang dapat ditemukan dalam syarahnya. Melakukan takhrij hadiš dapat pula dilakukan hanya dengan beberapa kali klik dan dalam waktu yang singkat. Lain halnya dengan dulu (sebelum CD ini dikenal), sebuah disertasi doktor di IAIN Jakarta mengenai takhrij tiga hadiš Nabi diselesaikan selama bertahun-tahun. Hal demikian tentulah sangat wajar karena ketika itu sarana dan prasarananya belum memadai seperti sekarang.
Bahkan akhir-akhir ini sudah beredar CD program yang khusus memuat ribuan kitab klasik. Program tersebut dikenal dengan nama Al-Maktabah Asy-Syamilah yang bergenre e-book. Kalau dulu, buku-buku atau kitab bahasa Arab ditulis di kertas dan diterbitkan dalam bentuk buku-buku atau kitab yang jumlahnya cukup banyak sehingga untuk buku-buku atau kitab hadits sudah lebih ratusan jilid untuk matan dan syarh nya. Untuk tafsir sudah lebih dari 50 judul tafsir Al-Qur’an yang juga lebih dari ratusan jilid kitab/buku. Untuk dua disiplin ilmu ini saja sudah memenuhi lemari buku. Belum lagi dari ilmu Fiqh, lughah, sirah, buku-buku modern dan lain sebagainya, sehingga bagi setiap kyai atau muslim memiliki semua disiplin ilmmu itu sangatlah tidak mumngkin, dikarenakan bukunya mahal, atau karena ruangan yang tidak mencukupi, atau karena biaya perawatannya juga mahal.
Program Al-Maktabah Asy-Syamilah yang sekarang sudah ihdar tsani (jilid 2) adalah sebuah e-book. Pada edisi atau jilid 1 sudah memuat 1800 judul kitab dalam CD dan 6.250 dalam DVD terdiri dari 29 bidang keilmuan, kemudian jilid 2 sudah mencakup 2500 judul buku trediri dari 48 bidang keilmuan. Bahkan sekarang sudah dipersiapkan untuk jilid 3 yang memuat 12.000 judul kitab dan terdiri dari ratusan bidang keilmuan.
Saat ini dapat diasumsikan sudah banyak pesantren yang mengenal komputer dan sudah banyak pula yang mengetahui—walau belum mendalami—program-program CD dimaksud. Dengan satu unit komputer multimedia dan beberapa puluh CD program kajian keislaman, maka sebuah pesantren dapat membangun perpustakaan digital (e-digital library) dengan kecepatan akses ribuan kali lebih cepat dari perpustakaan manual. Lebih-lebih jika dilengkapi dengan fasilitas Local Area Network (LAN) dan internet, maka pesantren tersebut dapat menjadi lebih progresif dari biasanya. Perpustakaan digital atau pusat sumber belajar digital akan sangat menghemat ruang, waktu dan manajemen perawatan. Ratusan ribu kitab secara digital disimpan hanya dalam puluhan CD atau DVD, dan hanya membutuhkan ruang penyimpanan seukuran satu rak lemari. Dengan satu unit komputer hanya membutuhkan satu ruang kecil, dan jika menggunakan LAN cukup menyita satu ruang kelas. Daya tahan CD atau DVD lebih dari 100 tahun, dengan demikian akan sangat menguntungkan dari segi konservasi dan pembiayaannya, terlebih lagi jika mengingat bahwa CD tersebut dengan mudah dapat digandakan dengan menggunakan perangkat CD Recorder (CD Writer) atau CD Duplicator.
Dengan melihat keunggulan media komputer dalam pembelajaran ilmu-ilmu keislaman, maka berarti bisa saja di masa mendatang pesantren dapat menggunakan media tersebut untuk lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan sistem pembelajarannya. Hal ini tentu saja harus ditunjang oleh kemampuan SDM pengajarnya. Artinya, minimal kyai atau ustadz di pesantren tersebut mampu mengoperasikan komputer secara handal. Namun walaupun belum bisa, hal itu dapat dilakukan dengan cara menggunakan asisten yang bisa mengoperasikan komputer.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan komputer dalam pembelajaran di pondok pesantren sudah saatnya dilakukan, terutama dalam upaya memudahkan dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan media komputer, santri akan dengan mudah memahami kitab-kitab yang diajarkan ustadznya. Di samping itu, ustadz juga akan dengan mudah memberikan materi pelajarannya.

D. Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas, maka kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah sistem manusia atau mesin yang terintegrasi untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi organisasi. Pelaksanaannya dapat menggunakan media komputer sebagai alat informasi canggih.
2. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman. Dalam perkembangannya, pesantren mengalami perubahan-perubahan seeiring dengan berkembangnya zaman. Dengan perubahan zaman tersebut seyogyanya pesantren tampil dengan jati dirinya sebagai lembaga pusat kajian ilmu-ilmu keislaman secara modern yang mampu menggunakan media-media teknologi modern yang canggih seperti komputer dalam proses pembelajarannya.
3. Dalam upaya meningkatkan keunggulan pesantren sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman di masa perkembangan teknologi saat ini, maka pesantren perlu menggunakan media pembelajaran modern seperti komputer untuk memudahkan teknik pengkajian keilmuan Islam tersebut.







KEPUSTAKAAN

Abdul Mukti Bisri, dkk. Pengembangan Metodologi Pembelajaran di Salafiyah. Cetakan Pertama. Jakarta: Depag RI, 2002.

Bedjo Siswanto. Manajemen Modern: Teori dan Aplikasi. Cetakan Pertama. Bandung: Sinar Baru, 1990.

Cushing, Barry E. Accounting Information System and Business Organization 3rd Edition. USA: Addison Wesley Publishing Co., 1982.
































PESANTREN UNGGUL
BERBASIS DIGITAL
(Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah
dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren)
Oleh: Utawijaya Kusumah



A. Pendahuluan
Dalam upaya menghadapi era globalisasi yang penuh dengan tantangan, Pondok Pesantren dituntut untuk lebih aktif merespon kemajuan zaman tanpa melupakan jati diri Pondok Pesantren, yaitu dengan senantiasa mengedepankan jiwa keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan, persaudaraan, dan kebebasan.
Secara sederhana pondok pesantren mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai agen pewarisan budaya (agent of conservative) dan sekaligus sebagai agent of change (agen perubahan). Pada fungsinya sebagai pewarisan budaya, maka posisi pesantren tidak dapat diragukan bahwa semua pondok pesantren melakukan fungsi itu dengan baik dan kuat, ia senantiasa mewariskan budaya khas pendidikan Islam tradisional kepada para santrinya dalam bentuk kesederhanaan, ketawadluan, keikhlasan, dan lainnya. Namun ketika pondok pesantren berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change), tidak semua pesantren dapat melakukan dan menerima fungsi tersebut. Sebab, masih ada di antara pimpinan pesantren yang menolak perubahan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Namun perubahan dan perkembangan IPTEK tersebut tidak bias dihindari oleh pesantren.
Tantangan bagi pesantren saat ini adalah bagaimana pesantren mengupayakan pengembangan sistem dan metodoloogi pembelajarannya, setidak-tidaknya agar proses pembelajarannya lebih efektif dan efisien. Pengembangan ini dapat berarti pemberdayaan dan pemerkayaan sistem dan metodologi pembelajaran konvensional, atau berarti perubahan sistem dan metodologi yang berimplikasi pada disingkirkannya sistem dan metodologi yang tidak efisien dari sistem konvensional. Pengembangan pembelajaran di Pondok Pesantren ini juga dapat dibedakan dari dua poros, yaitu pengembangan ke dalam (internal) dalam arti pemberdayaan dan pemerkayaan; dan pengembangan keluar (external) yang berarti bahwa pesantren mengakomodasi sistem dan metodologi pembelajaran modern untuk melengkapi atau bahkan mengganti sistem dan metodologi konvensional.
Sistem dan metodologi pembelajaran konvensional yang dianut pesantren pada umumnya berkisar pada varian-varian seperti: sorogan, wetonan/bandongan, halaqah, dan hafalan/tahfidz. Keempat metode itulah yang banyak diterapkan di pondok-pondok pesantren, dan antara metode yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat dan mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing, sehingga pondok-pondok pesantren sampai sekarang masih mempertahankan metode tersebut, dan itu menjadi lambang supremasi serta ciri khas pengajaran di pondok pesantren.
Perkembangan berikutnya, banyak pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan seperti pendidikan formal sekolah atau madrasah. Dengan adanya perkembangan tersebut maka metode pengajarannya tidak lagi hanya berkisar pada sistem bandongan, halaqah, sorogan dan hafalan semata, tetapi sudah menerapkan metode belajar mengajar seperti sekolah. Namun, tidak semua pesantren menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran sekolah/madrasah. Hal ini disebabkan karena di sementara pondok pesantren masih ada norma-norma yang bersifat doktrinal yang belum bisa di reformasi, seperti siswa/santri tidak boleh banyak bertanya, harus menundukkan wajah ketika berhadapan dengan guru/kyai, dan semacamnya.
Terlepas dari kelemahan dan kelebihan penggunaan dan penerapan sistem serta metodologi pembelajaran di pesantren, sebenarnya pondok pesantren sedang menghadapi sistem kehidupan yang multidimensi, yakni dengan berkembangnya era multimedia, seperti komputer. Dalam perkembangan tersebut seyogyanya pesantren mampu menyesuaikan diri dan mengantisipasi dengan mencari format baru sistem pembelajaran yang mengakomodir perkembangan multimedia. Artinya, pesantren perlu mengembangkan media pembelajaran bermedia sebagai alternatif metode pembelajaran yang selama ini digunakan.
Pembelajaran bermedia (mediated learning) merupakan salah satu bentuk pengembangan pembelajaran yang ditawarkan kepada pesantren, yang terutama dimaksudkan untuk lebih meningkatkan hasil-hasil pembelajarannya. Secara sederhana, pembelajaran bermedia adalah pembelajaran yang menyertakan atau melibatkan media pembelajaran dalam sistem dan proses pembelajarannya. Pelibatan media yang dimaksud adalah menjadikan media pembelajaran sebagai salah satu komponen integral dalam sistem pembelajaran, dan karenanya media pembelajaran senantiasa diperhitungkan dalam desain dan operasional pembelajaran.
Pentingnya media pembelajaran sebagai alternatif sistem dan proses pembelajaran di pondok pesantren adalah karena pengajaran yang dilaksanakan kebanyakan pesantren adalah pengajaran verbalistik. Semua bentuk metode pembelajaran yang dikembangkan pesantren pada hakikatnya tergolong pembelajaran verbalistik. Pembelajaran verbalistik adalah pembelajaran yang hanya melibatkan penyajian lisan dan tulisan, tidak melibatkan visualisasi dan penjelajahan atas apa yang dipelajari. Para santri hanya diperkenalkan oleh kata-kata istilah yang belum tentu dimengerti oleh siswa. Misalnya, para kyai atau guru memperkenalkan istilah-istilah demokrasi, struktur, sistem, dan semacamnya, yang tentunya sangat dulit dipahami jika guru atau ustadz hanya menggunakan penyampaian lisan.
Atas dasar itu, dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era multimedia, maka sudah saatnya sistem pembelajaran di pondok pesantren dapat memanfaatkan perkembangan perangkat multi media sebagai media pembelajarannya. Hal ini menjadi penting bagi pesantren, karena mengingat kemajuan teknologi informasi yang demikian pesatnya dan merambah hampir seluruh institusi dan kebutuhan masyarakat. Kemajuan ini tentunya dapat memuaskan baik untuk kajian maupun untuk hiburan.
Salah satu media pembelajaran alternatif di pondok pesantren adalah komputer. Sebab, pesantren sampai saat ini masih disebut-sebut sebagai gudang pengkajian kitab al-Dirasat al-Islamiyah. Juga sering disebut sebagai pusat kajian Islam, di samping sebagai basis dakwah dan pendidikan Islam. reputasi dan posisi sentral ini tentunya harus tetap dipertahankan oleh pondok pesantren. Namun, pertahanan diri semacam itu tentunya harus diimbangi oleh kemampuan pondok pesantren untuk terus menerus memperbaiki kualitas pelayanan, di samping memperluas akses untuk memasuki perkembangan dunia yang semakin progresif. Salah satu bentuk perkembangan mutakhir adalah intervensi teknologi informasi yang semakin meluas. Teknologi komputer merupakan salah satu yang terpesat, baik menyangkut software (perangkat lunak/program) maupun hardware (perangkat keras).
Atas dasar itu, maka dalam pendekatan Sistem Informasi Manajemen, sudah saatnya komputer dijadikan sebagai media alternatif dalam pembelajaran di pondok pesantren. Sebab, salah satu fungsi pondok pesantren adalah sebagai lembaga pusat pelayanan masyarakat, khususnya dalam bidang keagamaan. Salah satu prinsip pelayanan kepada masyarakat yang dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan. Melalui media komputer inilah diharapkan kecepatan dan ketepatan pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik oleh pesantren.
Berdasarkan uraian di atas, maka penggunaan media komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren adalah penting dan perlu dikembangkan. Pertanyaannya adalah bagaimana menggunakan komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka makalah ini ditulis.


B. Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren
Pondok pesantren hingga saat ini masih merupakan institusi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman yang harus memposisikan dirinya sebagai agen perubahan (agent of change) . Reputasi ini perlu dikembangkan dengan menerapkan sistem pelayanan informasi ilmu keislaman yang handal dan akurat dengan menggunakan teknologi modern.
Kehadiran komputer di pondok pesantren tidak dapat terelakkan lagi, kendatipun sampai saat ini penggunaan komputer masih terbatas pada penyelesaian tugas-tugas administrasi rutin, seperti membuat surat, menyimpan data administratif, dan semacamnya. Komputer belum dimanfaatkan untuk mempertahankan citra pondok pesantren sebagai basis kajian Islam, dan untuk memajukan pembelajaran Islam.
Perkembangan era globalisasi yang ditandai dengan maraknya sistem informasi yang menggunakan alat multimedia seperti komputer saat ini, sebenarnya informasi ilmu-ilmu keislaman klasik maupun kontemporer sudah diintegrasikan ke dalam program-program komputer dan sudah sangat banyak diproduksi, terutama oleh pemerintah dan pengusaha di negara-negara muslim, seperti Saudi Arabia, Irak, Libanon, Iran, Mesir, Malaysia, dan negara-negara muslim lainnya, termasuk Indonesia. Program-program ini dikemas dalam bentuk CD (Compact Disc) yang dioperasikan dalam sistem operasi Windows.
Satu CD atau DVD saja termuat ribuan kitab dan jilid, yang jika kitab-kitab yang disimpan dalam satu CD itu disimpan secara manual di dalam gedung perpustakaan, akan menghabiskan ruang yang sangat besar dan luas. Lebih dari itiu, semua CD program kajian ilmu keislaman (al-Dirâsat al-Islâmiyah) itu dibuat sedemikian rupa dalam bentuk digital, sehingga pembacaan dan pengkajian kitab akan lebih cepat ratusan bahkan ribuan kali jika dibandingkan dengan cara-cara konvensional membaca kitab. Maka, seperti pernah dikatakan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid, bahwa dengan kemajuan seperti itu lembaga pesantren lebih mudah mencetak ulama. Ijtihad dilakukan lebih mudah dan tentunya lebih cepat daripada masa mujtahidin, seperti masa imam yang empat: Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i. Dengan satu klok saja kita dapat memeriksa ratusan bahkan ribuan ayat Al-Qur’an, Hadiš, dan pandangan ulama dalam berbagai kitab yang dipilih. Dengan sendirinya, hal ini berarti lebih cepat daripada belajar dengan membuka kitab secara manual.
CD program kajian keislaman yang sudah beredar luas di masyarakat, terutama di kalangan perguruan tinggi Islam adalah CD The Holy Qur’an, yang memuat teks Al-Qur’an 30 juz, terjemah dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Malaysia, tafsir Al-Qur’an oleh Al-Qurthuby, Ibnu Katsir, dan Al-Jalalain. The Holy Qur’an juga dilengkapi dengan ilmu tajwid dan bacaan Al-Qur’an. CD ini menyajikan menu-menu yang beragam sebagai fasilitas dalam memproses apa yang kita kehendaki. Untuk mencari kata zakat, misalnya, dalam seluruh surat Al-Qur’an, ada menu pencarian (bahts). Dengan satu atau dua kali klik, semua informasi yang dibutuhkan akan tersedia dalam hitungan detik.
CD lain adalah Maktabah al-Hadiš al-Syarif atau Mausu’ah al-Hadiš al-Syarif yang berisi sembilan kitab Hadiš (al-Kutub al-Tis’ah) beserta kitab-kitab syarah masing-masing. Menu-menu yang disediakan juga sangat beragam dan semua itu untuk memudahkan akses dan penggunaannya. Dengan CD ini orang dapat membandingkan hadiš-hadiš yang dimuat oleh masing-masing kitab hadiš, dan pendapat para ulama mengenai hadiš itu, yang dapat ditemukan dalam syarahnya. Melakukan takhrij hadiš dapat pula dilakukan hanya dengan beberapa kali klik dan dalam waktu yang singkat. Lain halnya dengan dulu (sebelum CD ini dikenal), sebuah disertasi doktor di IAIN Jakarta mengenai takhrij tiga hadiš Nabi diselesaikan selama bertahun-tahun. Hal demikian tentulah sangat wajar karena ketika itu sarana dan prasarananya belum memadai seperti sekarang.
Bahkan akhir-akhir ini sudah beredar CD program yang khusus memuat ribuan kitab klasik. Program tersebut dikenal dengan nama Al-Maktabah Asy-Syamilah yang bergenre e-book. Kalau dulu, buku-buku atau kitab bahasa Arab ditulis di kertas dan diterbitkan dalam bentuk buku-buku atau kitab yang jumlahnya cukup banyak sehingga untuk buku-buku atau kitab hadits sudah lebih ratusan jilid untuk matan dan syarh nya. Untuk tafsir sudah lebih dari 50 judul tafsir Al-Qur’an yang juga lebih dari ratusan jilid kitab/buku. Untuk dua disiplin ilmu ini saja sudah memenuhi lemari buku. Belum lagi dari ilmu Fiqh, lughah, sirah, buku-buku modern dan lain sebagainya, sehingga bagi setiap kyai atau muslim memiliki semua disiplin ilmmu itu sangatlah tidak mumngkin, dikarenakan bukunya mahal, atau karena ruangan yang tidak mencukupi, atau karena biaya perawatannya juga mahal.
Program Al-Maktabah Asy-Syamilah yang sekarang sudah ihdar tsani (jilid 2) adalah sebuah e-book. Pada edisi atau jilid 1 sudah memuat 1800 judul kitab dalam CD dan 6.250 dalam DVD terdiri dari 29 bidang keilmuan, kemudian jilid 2 sudah mencakup 2500 judul buku trediri dari 48 bidang keilmuan. Bahkan sekarang sudah dipersiapkan untuk jilid 3 yang memuat 12.000 judul kitab dan terdiri dari ratusan bidang keilmuan.
Saat ini dapat diasumsikan sudah banyak pesantren yang mengenal komputer dan sudah banyak pula yang mengetahui—walau belum mendalami—program-program CD dimaksud. Dengan satu unit komputer multimedia dan beberapa puluh CD program kajian keislaman, maka sebuah pesantren dapat membangun perpustakaan digital (e-digital library) dengan kecepatan akses ribuan kali lebih cepat dari perpustakaan manual. Lebih-lebih jika dilengkapi dengan fasilitas Local Area Network (LAN) dan internet, maka pesantren tersebut dapat menjadi lebih progresif dari biasanya. Perpustakaan digital atau pusat sumber belajar digital akan sangat menghemat ruang, waktu dan manajemen perawatan. Ratusan ribu kitab secara digital disimpan hanya dalam puluhan CD atau DVD, dan hanya membutuhkan ruang penyimpanan seukuran satu rak lemari. Dengan satu unit komputer hanya membutuhkan satu ruang kecil, dan jika menggunakan LAN cukup menyita satu ruang kelas. Daya tahan CD atau DVD lebih dari 100 tahun, dengan demikian akan sangat menguntungkan dari segi konservasi dan pembiayaannya, terlebih lagi jika mengingat bahwa CD tersebut dengan mudah dapat digandakan dengan menggunakan perangkat CD Recorder (CD Writer) atau CD Duplicator.
Dengan melihat keunggulan media komputer dalam pembelajaran ilmu-ilmu keislaman, maka berarti bisa saja di masa mendatang pesantren dapat menggunakan media tersebut untuk lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan sistem pembelajarannya. Hal ini tentu saja harus ditunjang oleh kemampuan SDM pengajarnya. Artinya, minimal kyai atau ustadz di pesantren tersebut mampu mengoperasikan komputer secara handal. Namun walaupun belum bisa, hal itu dapat dilakukan dengan cara menggunakan asisten yang bisa mengoperasikan komputer.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan komputer dalam pembelajaran di pondok pesantren sudah saatnya dilakukan, terutama dalam upaya memudahkan dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan media komputer, santri akan dengan mudah memahami kitab-kitab yang diajarkan ustadznya. Di samping itu, ustadz juga akan dengan mudah memberikan materi pelajarannya.

D. Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas, maka kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah sistem manusia atau mesin yang terintegrasi untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi organisasi. Pelaksanaannya dapat menggunakan media komputer sebagai alat informasi canggih.
2. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman. Dalam perkembangannya, pesantren mengalami perubahan-perubahan seeiring dengan berkembangnya zaman. Dengan perubahan zaman tersebut seyogyanya pesantren tampil dengan jati dirinya sebagai lembaga pusat kajian ilmu-ilmu keislaman secara modern yang mampu menggunakan media-media teknologi modern yang canggih seperti komputer dalam proses pembelajarannya.
3. Dalam upaya meningkatkan keunggulan pesantren sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman di masa perkembangan teknologi saat ini, maka pesantren perlu menggunakan media pembelajaran modern seperti komputer untuk memudahkan teknik pengkajian keilmuan Islam tersebut.







KEPUSTAKAAN

Abdul Mukti Bisri, dkk. Pengembangan Metodologi Pembelajaran di Salafiyah. Cetakan Pertama. Jakarta: Depag RI, 2002.

Bedjo Siswanto. Manajemen Modern: Teori dan Aplikasi. Cetakan Pertama. Bandung: Sinar Baru, 1990.

Cushing, Barry E. Accounting Information System and Business Organization 3rd Edition. USA: Addison Wesley Publishing Co., 1982.
































PESANTREN UNGGUL
BERBASIS DIGITAL
(Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah
dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren)
Oleh: Utawijaya Kusumah



A. Pendahuluan
Dalam upaya menghadapi era globalisasi yang penuh dengan tantangan, Pondok Pesantren dituntut untuk lebih aktif merespon kemajuan zaman tanpa melupakan jati diri Pondok Pesantren, yaitu dengan senantiasa mengedepankan jiwa keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan, persaudaraan, dan kebebasan.
Secara sederhana pondok pesantren mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai agen pewarisan budaya (agent of conservative) dan sekaligus sebagai agent of change (agen perubahan). Pada fungsinya sebagai pewarisan budaya, maka posisi pesantren tidak dapat diragukan bahwa semua pondok pesantren melakukan fungsi itu dengan baik dan kuat, ia senantiasa mewariskan budaya khas pendidikan Islam tradisional kepada para santrinya dalam bentuk kesederhanaan, ketawadluan, keikhlasan, dan lainnya. Namun ketika pondok pesantren berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change), tidak semua pesantren dapat melakukan dan menerima fungsi tersebut. Sebab, masih ada di antara pimpinan pesantren yang menolak perubahan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Namun perubahan dan perkembangan IPTEK tersebut tidak bias dihindari oleh pesantren.
Tantangan bagi pesantren saat ini adalah bagaimana pesantren mengupayakan pengembangan sistem dan metodoloogi pembelajarannya, setidak-tidaknya agar proses pembelajarannya lebih efektif dan efisien. Pengembangan ini dapat berarti pemberdayaan dan pemerkayaan sistem dan metodologi pembelajaran konvensional, atau berarti perubahan sistem dan metodologi yang berimplikasi pada disingkirkannya sistem dan metodologi yang tidak efisien dari sistem konvensional. Pengembangan pembelajaran di Pondok Pesantren ini juga dapat dibedakan dari dua poros, yaitu pengembangan ke dalam (internal) dalam arti pemberdayaan dan pemerkayaan; dan pengembangan keluar (external) yang berarti bahwa pesantren mengakomodasi sistem dan metodologi pembelajaran modern untuk melengkapi atau bahkan mengganti sistem dan metodologi konvensional.
Sistem dan metodologi pembelajaran konvensional yang dianut pesantren pada umumnya berkisar pada varian-varian seperti: sorogan, wetonan/bandongan, halaqah, dan hafalan/tahfidz. Keempat metode itulah yang banyak diterapkan di pondok-pondok pesantren, dan antara metode yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat dan mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing, sehingga pondok-pondok pesantren sampai sekarang masih mempertahankan metode tersebut, dan itu menjadi lambang supremasi serta ciri khas pengajaran di pondok pesantren.
Perkembangan berikutnya, banyak pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan seperti pendidikan formal sekolah atau madrasah. Dengan adanya perkembangan tersebut maka metode pengajarannya tidak lagi hanya berkisar pada sistem bandongan, halaqah, sorogan dan hafalan semata, tetapi sudah menerapkan metode belajar mengajar seperti sekolah. Namun, tidak semua pesantren menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran sekolah/madrasah. Hal ini disebabkan karena di sementara pondok pesantren masih ada norma-norma yang bersifat doktrinal yang belum bisa di reformasi, seperti siswa/santri tidak boleh banyak bertanya, harus menundukkan wajah ketika berhadapan dengan guru/kyai, dan semacamnya.
Terlepas dari kelemahan dan kelebihan penggunaan dan penerapan sistem serta metodologi pembelajaran di pesantren, sebenarnya pondok pesantren sedang menghadapi sistem kehidupan yang multidimensi, yakni dengan berkembangnya era multimedia, seperti komputer. Dalam perkembangan tersebut seyogyanya pesantren mampu menyesuaikan diri dan mengantisipasi dengan mencari format baru sistem pembelajaran yang mengakomodir perkembangan multimedia. Artinya, pesantren perlu mengembangkan media pembelajaran bermedia sebagai alternatif metode pembelajaran yang selama ini digunakan.
Pembelajaran bermedia (mediated learning) merupakan salah satu bentuk pengembangan pembelajaran yang ditawarkan kepada pesantren, yang terutama dimaksudkan untuk lebih meningkatkan hasil-hasil pembelajarannya. Secara sederhana, pembelajaran bermedia adalah pembelajaran yang menyertakan atau melibatkan media pembelajaran dalam sistem dan proses pembelajarannya. Pelibatan media yang dimaksud adalah menjadikan media pembelajaran sebagai salah satu komponen integral dalam sistem pembelajaran, dan karenanya media pembelajaran senantiasa diperhitungkan dalam desain dan operasional pembelajaran.
Pentingnya media pembelajaran sebagai alternatif sistem dan proses pembelajaran di pondok pesantren adalah karena pengajaran yang dilaksanakan kebanyakan pesantren adalah pengajaran verbalistik. Semua bentuk metode pembelajaran yang dikembangkan pesantren pada hakikatnya tergolong pembelajaran verbalistik. Pembelajaran verbalistik adalah pembelajaran yang hanya melibatkan penyajian lisan dan tulisan, tidak melibatkan visualisasi dan penjelajahan atas apa yang dipelajari. Para santri hanya diperkenalkan oleh kata-kata istilah yang belum tentu dimengerti oleh siswa. Misalnya, para kyai atau guru memperkenalkan istilah-istilah demokrasi, struktur, sistem, dan semacamnya, yang tentunya sangat dulit dipahami jika guru atau ustadz hanya menggunakan penyampaian lisan.
Atas dasar itu, dalam menghadapi tantangan globalisasi dan era multimedia, maka sudah saatnya sistem pembelajaran di pondok pesantren dapat memanfaatkan perkembangan perangkat multi media sebagai media pembelajarannya. Hal ini menjadi penting bagi pesantren, karena mengingat kemajuan teknologi informasi yang demikian pesatnya dan merambah hampir seluruh institusi dan kebutuhan masyarakat. Kemajuan ini tentunya dapat memuaskan baik untuk kajian maupun untuk hiburan.
Salah satu media pembelajaran alternatif di pondok pesantren adalah komputer. Sebab, pesantren sampai saat ini masih disebut-sebut sebagai gudang pengkajian kitab al-Dirasat al-Islamiyah. Juga sering disebut sebagai pusat kajian Islam, di samping sebagai basis dakwah dan pendidikan Islam. reputasi dan posisi sentral ini tentunya harus tetap dipertahankan oleh pondok pesantren. Namun, pertahanan diri semacam itu tentunya harus diimbangi oleh kemampuan pondok pesantren untuk terus menerus memperbaiki kualitas pelayanan, di samping memperluas akses untuk memasuki perkembangan dunia yang semakin progresif. Salah satu bentuk perkembangan mutakhir adalah intervensi teknologi informasi yang semakin meluas. Teknologi komputer merupakan salah satu yang terpesat, baik menyangkut software (perangkat lunak/program) maupun hardware (perangkat keras).
Atas dasar itu, maka dalam pendekatan Sistem Informasi Manajemen, sudah saatnya komputer dijadikan sebagai media alternatif dalam pembelajaran di pondok pesantren. Sebab, salah satu fungsi pondok pesantren adalah sebagai lembaga pusat pelayanan masyarakat, khususnya dalam bidang keagamaan. Salah satu prinsip pelayanan kepada masyarakat yang dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan. Melalui media komputer inilah diharapkan kecepatan dan ketepatan pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik oleh pesantren.
Berdasarkan uraian di atas, maka penggunaan media komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren adalah penting dan perlu dikembangkan. Pertanyaannya adalah bagaimana menggunakan komputer sebagai media pembelajaran di pondok pesantren. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka makalah ini ditulis.


B. Penggunaan Software Maktabah Asy-Syamilah dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren
Pondok pesantren hingga saat ini masih merupakan institusi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman yang harus memposisikan dirinya sebagai agen perubahan (agent of change) . Reputasi ini perlu dikembangkan dengan menerapkan sistem pelayanan informasi ilmu keislaman yang handal dan akurat dengan menggunakan teknologi modern.
Kehadiran komputer di pondok pesantren tidak dapat terelakkan lagi, kendatipun sampai saat ini penggunaan komputer masih terbatas pada penyelesaian tugas-tugas administrasi rutin, seperti membuat surat, menyimpan data administratif, dan semacamnya. Komputer belum dimanfaatkan untuk mempertahankan citra pondok pesantren sebagai basis kajian Islam, dan untuk memajukan pembelajaran Islam.
Perkembangan era globalisasi yang ditandai dengan maraknya sistem informasi yang menggunakan alat multimedia seperti komputer saat ini, sebenarnya informasi ilmu-ilmu keislaman klasik maupun kontemporer sudah diintegrasikan ke dalam program-program komputer dan sudah sangat banyak diproduksi, terutama oleh pemerintah dan pengusaha di negara-negara muslim, seperti Saudi Arabia, Irak, Libanon, Iran, Mesir, Malaysia, dan negara-negara muslim lainnya, termasuk Indonesia. Program-program ini dikemas dalam bentuk CD (Compact Disc) yang dioperasikan dalam sistem operasi Windows.
Satu CD atau DVD saja termuat ribuan kitab dan jilid, yang jika kitab-kitab yang disimpan dalam satu CD itu disimpan secara manual di dalam gedung perpustakaan, akan menghabiskan ruang yang sangat besar dan luas. Lebih dari itiu, semua CD program kajian ilmu keislaman (al-Dirâsat al-Islâmiyah) itu dibuat sedemikian rupa dalam bentuk digital, sehingga pembacaan dan pengkajian kitab akan lebih cepat ratusan bahkan ribuan kali jika dibandingkan dengan cara-cara konvensional membaca kitab. Maka, seperti pernah dikatakan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid, bahwa dengan kemajuan seperti itu lembaga pesantren lebih mudah mencetak ulama. Ijtihad dilakukan lebih mudah dan tentunya lebih cepat daripada masa mujtahidin, seperti masa imam yang empat: Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i. Dengan satu klok saja kita dapat memeriksa ratusan bahkan ribuan ayat Al-Qur’an, Hadiš, dan pandangan ulama dalam berbagai kitab yang dipilih. Dengan sendirinya, hal ini berarti lebih cepat daripada belajar dengan membuka kitab secara manual.
CD program kajian keislaman yang sudah beredar luas di masyarakat, terutama di kalangan perguruan tinggi Islam adalah CD The Holy Qur’an, yang memuat teks Al-Qur’an 30 juz, terjemah dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Malaysia, tafsir Al-Qur’an oleh Al-Qurthuby, Ibnu Katsir, dan Al-Jalalain. The Holy Qur’an juga dilengkapi dengan ilmu tajwid dan bacaan Al-Qur’an. CD ini menyajikan menu-menu yang beragam sebagai fasilitas dalam memproses apa yang kita kehendaki. Untuk mencari kata zakat, misalnya, dalam seluruh surat Al-Qur’an, ada menu pencarian (bahts). Dengan satu atau dua kali klik, semua informasi yang dibutuhkan akan tersedia dalam hitungan detik.
CD lain adalah Maktabah al-Hadiš al-Syarif atau Mausu’ah al-Hadiš al-Syarif yang berisi sembilan kitab Hadiš (al-Kutub al-Tis’ah) beserta kitab-kitab syarah masing-masing. Menu-menu yang disediakan juga sangat beragam dan semua itu untuk memudahkan akses dan penggunaannya. Dengan CD ini orang dapat membandingkan hadiš-hadiš yang dimuat oleh masing-masing kitab hadiš, dan pendapat para ulama mengenai hadiš itu, yang dapat ditemukan dalam syarahnya. Melakukan takhrij hadiš dapat pula dilakukan hanya dengan beberapa kali klik dan dalam waktu yang singkat. Lain halnya dengan dulu (sebelum CD ini dikenal), sebuah disertasi doktor di IAIN Jakarta mengenai takhrij tiga hadiš Nabi diselesaikan selama bertahun-tahun. Hal demikian tentulah sangat wajar karena ketika itu sarana dan prasarananya belum memadai seperti sekarang.
Bahkan akhir-akhir ini sudah beredar CD program yang khusus memuat ribuan kitab klasik. Program tersebut dikenal dengan nama Al-Maktabah Asy-Syamilah yang bergenre e-book. Kalau dulu, buku-buku atau kitab bahasa Arab ditulis di kertas dan diterbitkan dalam bentuk buku-buku atau kitab yang jumlahnya cukup banyak sehingga untuk buku-buku atau kitab hadits sudah lebih ratusan jilid untuk matan dan syarh nya. Untuk tafsir sudah lebih dari 50 judul tafsir Al-Qur’an yang juga lebih dari ratusan jilid kitab/buku. Untuk dua disiplin ilmu ini saja sudah memenuhi lemari buku. Belum lagi dari ilmu Fiqh, lughah, sirah, buku-buku modern dan lain sebagainya, sehingga bagi setiap kyai atau muslim memiliki semua disiplin ilmmu itu sangatlah tidak mumngkin, dikarenakan bukunya mahal, atau karena ruangan yang tidak mencukupi, atau karena biaya perawatannya juga mahal.
Program Al-Maktabah Asy-Syamilah yang sekarang sudah ihdar tsani (jilid 2) adalah sebuah e-book. Pada edisi atau jilid 1 sudah memuat 1800 judul kitab dalam CD dan 6.250 dalam DVD terdiri dari 29 bidang keilmuan, kemudian jilid 2 sudah mencakup 2500 judul buku trediri dari 48 bidang keilmuan. Bahkan sekarang sudah dipersiapkan untuk jilid 3 yang memuat 12.000 judul kitab dan terdiri dari ratusan bidang keilmuan.
Saat ini dapat diasumsikan sudah banyak pesantren yang mengenal komputer dan sudah banyak pula yang mengetahui—walau belum mendalami—program-program CD dimaksud. Dengan satu unit komputer multimedia dan beberapa puluh CD program kajian keislaman, maka sebuah pesantren dapat membangun perpustakaan digital (e-digital library) dengan kecepatan akses ribuan kali lebih cepat dari perpustakaan manual. Lebih-lebih jika dilengkapi dengan fasilitas Local Area Network (LAN) dan internet, maka pesantren tersebut dapat menjadi lebih progresif dari biasanya. Perpustakaan digital atau pusat sumber belajar digital akan sangat menghemat ruang, waktu dan manajemen perawatan. Ratusan ribu kitab secara digital disimpan hanya dalam puluhan CD atau DVD, dan hanya membutuhkan ruang penyimpanan seukuran satu rak lemari. Dengan satu unit komputer hanya membutuhkan satu ruang kecil, dan jika menggunakan LAN cukup menyita satu ruang kelas. Daya tahan CD atau DVD lebih dari 100 tahun, dengan demikian akan sangat menguntungkan dari segi konservasi dan pembiayaannya, terlebih lagi jika mengingat bahwa CD tersebut dengan mudah dapat digandakan dengan menggunakan perangkat CD Recorder (CD Writer) atau CD Duplicator.
Dengan melihat keunggulan media komputer dalam pembelajaran ilmu-ilmu keislaman, maka berarti bisa saja di masa mendatang pesantren dapat menggunakan media tersebut untuk lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan sistem pembelajarannya. Hal ini tentu saja harus ditunjang oleh kemampuan SDM pengajarnya. Artinya, minimal kyai atau ustadz di pesantren tersebut mampu mengoperasikan komputer secara handal. Namun walaupun belum bisa, hal itu dapat dilakukan dengan cara menggunakan asisten yang bisa mengoperasikan komputer.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan komputer dalam pembelajaran di pondok pesantren sudah saatnya dilakukan, terutama dalam upaya memudahkan dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan media komputer, santri akan dengan mudah memahami kitab-kitab yang diajarkan ustadznya. Di samping itu, ustadz juga akan dengan mudah memberikan materi pelajarannya.

D. Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas, maka kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah sistem manusia atau mesin yang terintegrasi untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi organisasi. Pelaksanaannya dapat menggunakan media komputer sebagai alat informasi canggih.
2. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman. Dalam perkembangannya, pesantren mengalami perubahan-perubahan seeiring dengan berkembangnya zaman. Dengan perubahan zaman tersebut seyogyanya pesantren tampil dengan jati dirinya sebagai lembaga pusat kajian ilmu-ilmu keislaman secara modern yang mampu menggunakan media-media teknologi modern yang canggih seperti komputer dalam proses pembelajarannya.
3. Dalam upaya meningkatkan keunggulan pesantren sebagai pusat kajian ilmu-ilmu keislaman di masa perkembangan teknologi saat ini, maka pesantren perlu menggunakan media pembelajaran modern seperti komputer untuk memudahkan teknik pengkajian keilmuan Islam tersebut.







KEPUSTAKAAN

Abdul Mukti Bisri, dkk. Pengembangan Metodologi Pembelajaran di Salafiyah. Cetakan Pertama. Jakarta: Depag RI, 2002.

Bedjo Siswanto. Manajemen Modern: Teori dan Aplikasi. Cetakan Pertama. Bandung: Sinar Baru, 1990.

Cushing, Barry E. Accounting Information System and Business Organization 3rd Edition. USA: Addison Wesley Publishing Co., 1982.

































































Bagikan Artikel ini ke Facebook