E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Pemikiran Lateral

Dibaca: 449 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2016-07-28 15:20:53 wib


PEMIKIRAN LATERAL
(Mendasari Sikap terhadap Dinamika Perubahan Tahun 2014)
Oleh: H. Utawijaya Kusumah


Prolog
Saat ini umat Islam Indonesia berada di awal tahun 2014, yang konon tahun ini disebut juga dengan tahun “kepalsuan” yang penuh gejolak. Sebab, tahun 2014 disebut sebagai tahun “Kuda Kayu”, yakni kuda palsu, karena kuda berbentuk kayu alias kuda-kuda-an. Pada tahun ini kita akan menyaksikan beberapa gejolak, karena di tahun ini bangsa Indonesia akan menentukan nasib kepemimpinannya lima tahun mendatang melalui PILEG dan PILPRES.
Tanda-tanda adanya gejolak semakin kelihatan. Di awali dengan kejadian penembakan terhadap enam orang terduga teroris menjelang pergantian tahun 2014. Kemudian dilanjutkan dengan munculnya fenomena alam seperti gunung meletus, banjir bandang, meledaknya gudang amunisi, dan merajalelanya korupsi.
Lantas, bagaimana sikap kita umat Islam atau muslim dalam menghadapi situasi kondisi tahun seperti ini? Untuk menjawab persoalan ini diperlukan kerangka berfikir yang syumuliyah atau holistik atau integralistik. Kerangka berfikir seperti itu saya sebut sebagai BERFIKIR LATERAL.

Pemikiran Lateral Islami dalam Mensikapi Dinamika Perubahan Politik 2014
Pemikiran Lateral ialah satu cara penyelesaian masalah dengan menggunakan daya imaginasi bukan sekedar logik (burhani), maupun tekstual (bayani), ataupun irrasional (‘irfani). Akan tetapi, pemikiran Lateral adalah pemikiran yang menitikberatberatkan pelbagai jenis jawaban solusi terhadap masalah dengan berlandaskan pada nash-nash (bayani), rasionalitas kontekstual (burhani), dan kebersihan jiwa, pemikiran, sikap sebagai seorang muslim hamba Allah atau ihsan (‘irfani). Tujuan pemikiran lateral adalah melepaskan diri daripada cengkaman persepsi-persepsi lama untuk mencari dan menciptakan idea-idea baru yang solutif.
Maksudnya, pemikiran Lateral yaitu cara menyelesaikan masalah dengan menggunakan daya imaginasi (bukan dengan menggunakan logik atau cara-cara pemikiran yang biasa) sehingga dapat menghasilkan pelbagai pendekatan yang kelihatan luar biasa (kadang-kadang agak luar biasa sedikit) tetapi amat berkesan, karena gagasannya langsung dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Berkaitan dengan pengertian tersebut, maka Pemikiran Lateral Islami maksudnya adalah berfikir dengan penuh kepasrahan, ketundukan akal dalam beragama ber-dîn al-Islâm. Sebab, agama hanya berlaku bagi orang yang berakal, dan akal yang baik dalam memahami agama adalah akal yang "tunduk" (taslîm) kepada Tuhan, kepada kerasulan Muhammad dan kepada Al-Qur'an. Untuk mencapai ke-taslîm-an akal ini, manusia harus berfilsafat secara Islami, yaitu filsafat Islam dalam bentuk na'at man'ut (sifat dan yang disifati) yang bermakna Filsafat Islami yaitu ketundukan berfikir dalam mencari kebenaran yang akan menuntut dan menuntun seseorang meraih kepasrahan total kepada Tuhannya. Filsafat Islami yang dimaksud adalah ad-Dîn al-Islâm, yaitu wihdatul wujud antara Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan.
Pemikiran Lateral Islami adalah berfikir dengan cara memadukan unsur-unsur ‘alâmah (rasionalitas) dengan âyah (sakralitas). Karena memang, Al-Qur'an sebagai sumber dari segala sumber rujukan berfikir tersebut mengandung unsur-unsur ‘alâmah dan âyah. Adakalanya dapat dibaca oleh akal, dan seringkali tidak terbaca oleh akal.
Pemikiran Lateral Islami adalah berfikir paralel (Parallel Thinking), yaitu pemikiran yang sangat berkaitan dengan persoalan eskatologis (supra-natural), dunia yang berada di luar “sana” yang luput dari jangkauan akal (irrasional). Oleh karena itu, Pemikiran Lateral Islami adalah meta-berfikir, yaitu berfikir integratif untuk memahami RLS (Real Life System), yaitu sistem kehidupan manusia. Dalam pendekatan RLS, system kehidupan manusia terdiri dari fisik dan psikis (ragawi dan ruhani). Mereka yang disebut manusia adalah mereka yang masih memiliki gabungan dua unsur tersebut yang masih menyatu. Kalau sudah terputus atau berpisah antara kedua unsur tersebut, berarti namanya bukan manusia. Kalau tinggal jasadnya saja disebut bangkai, dan kalau tinggal ruhnya saja disebut makhluk halus alias jurig (bahasa Sunda) yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata.
Pemikiran Lateral Islami adalah meta berfikir atau Parallel Thinking yaitu berfikir wihdatul wujud. Tujuan konsep Pemikiran Lateral Islami adalah menjembatani kutub pemikiran seperti al-Jabiri (bayani, burhani, ‘irfani) post-modernisme pemikiran Islami. Pemikiran seperti ini pernah dicontohkan dalam corak pemikiran Ibnu ‘Arabi. Dalam kitabnya al-Futuhat al-Makiyah, Ibnu Arabi telah melakukan satu sintesis yang sangat berani dan kreatif serta produktif yang bermanfaat dalam menjawab persoalan sikap umat Islam saat ini.
Pemikiran Lateral Islami intinya mengintegrasikan pola pemikiran burhani, bayani, dan irfani yang akan melahirkan kepribadian yang penuh ketundukan (taslîm), yaitu dengan cara memparalelkan ketiga potensi fisik dan psikis manusia seperti sama' (pendengaran) yang rasional, bashar (penglihatan) yang rasional-empirik, dan af'idah (hati nurani) yang penuh dengan kebijakan dan kebajikan berdasarkan tuntunan Tuhan. Hal ini sebagaimana tergambar dalam surat an-Nahl ayat 78:
وَاللهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ اُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً. وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلاَبْصرَ وَاْلاَفْـئِدَةَ. لَّعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. ﴿النحل:٧٨﴾
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl:78).
Pemikiran Lateral Islami akan mampu menjangkau pengetahuan yang tersembunyi berkat mukasyafah izin Allah, seperti yang tergambar dalam surat An-Nahl ayat 77:
وَِللهِِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.النحل: ٧٧
“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi”. (Q.S. An-Nahl/16:77).
Hasil Pemikiran Lateral Islami dicontohkan seperti burung sebagaimana tersirat dalam surat An-Nahl ayat 79:
أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلاَّاللهُُ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ.النحل:٧٩
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. An-Nahl/16:79).
Salah satu isyarat bacaan Pemikiran Lateral Islami terhadap dinamika perubahan situasi 2014 saat ini, khususnya mensikapi dinamika perubahan politik 2014 saat ini adalah surat at-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْن.التوبة:١٢٢
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122).

Secara Lateral, ayat ini mengisyaratkan pentingnya memahami tugas umat Islam dalam menguasai kejayaan peradaban, khususnya di Indonesia saat ini dan mendatang, yaitu melakukan tafaqquh fiddîn’ dan juga ‘wa liyundzirû qaumahum’ (memberi peringatan kepada kaumnya). Artinya, di samping kewajiban menuntut ilmu, umat Islam juga dituntut untuk memperhatikan situasi kondisi kebutuhan kaumnya, seperti kebutuhan akan pentingnya pemimpin siyasi yang berpihak kepada kepentingan Islam. Oleh karena itu, tafaqquh fiddîn harus menjadi‘al-marji’iyyah al-‘ulyâ’ (referensi utama) bagi setiap muslim dalam liyundzirû qaumahum’; dan sebagai ‘al-mi’yar al-asasi’ (standar utama) untuk melihat problema yang dihadapi umat Islam saat ini, seperti kemiskinan, kebodohan, maksiyat, dan lainnya.
Dalam kajian Ibnu ‘Asyur, lafazah ‘tafaqquh’ (dalam kalimat: liyatafaqqahû fiddîn ‘wa liyundzirû qaumahum’) mengikuti wazan tafa’ul yang menyiratkan makna takalluf (bersungguh-sungguh dan mengerahkan semua potensi) guna memperoleh pemahaman yang benar dalam urusan agama guna kepentingan umat.
Atas dasar itu, dalam mensikapi situasi dinamika perubahan siyasi saat ini, sikap kita adalah melakukan upaya sungguh-sungguh untuk menguasai struktural siyasi daulah yakni menjadi anggota dewan, menjadi gubernur, menjadi bupati, menjadi camat, menjadi lurah, menjadi RT/RW, menjadi kepala dinas, menjadi kepala Kemenag, atau lainnya agar bermanfaat bagi kepentingan umat. Dan juga umat Islam atau tokoh Islam atau kaum intelek muslim harus menampilkan dan menguasai kultural, yakni menampilkan keteladanan, kemandirian, ketawadluan, kebersihan jiwa, dan lainnya, agar menjadi contoh ditengah kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, secara Lateral, sudah saatnya Islam harus berkiprah pada tanzim syar’i dan tanzim siyasi untuk mengawal perubahan, sehingga umat Islam tidak lagi menjadi warga second class, kelas dua yang menjadi tamu di negeri sendiri. Sebab, secara mukasysyafah, negara kita akan mengalami guncangan-guncangan di tahun 2014. Hal itu membutuhkan kaum cendekia atau ulama untuk menjadi IMAM MAHDI yang mampu menyelesaikan masalah negara dan umat. Walahu a’lam.


Bagikan Artikel ini ke Facebook