E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Pesantren, Jihad dan Terorisme

Dibaca: 500 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2016-07-28 15:23:31 wib


PESANTREN, JIHAD, DAN TERORISME
(Menjawab Stigma Pesantren ”Sarang Teroris”)
By. Utawijaya Kusumah

A. IFTITAH
Beberapa hari lalu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Arsyad Mbai, menyatakan perlunya ”sertifikasi ulama”. Pernyataan ini tentu saja memiliki alasan tersendiri bagi yang bersangkutan, terutama kaitannya dengan maraknya bom yang akhir-akhir ini terjadi serta seringnya terjadi kekerasan yang dilakukan oleh segelintir atau sekelompok orang yang mengatasnamakan ”Islam” sebagai pembenaran untuk melakukan radikalisme. Puncak alasan dari pernyataan tersebut mengarah pada hubungan pesantren dengan jihad sehingga melahirkan kekerasan. Dengan kata lain, pernyataan tersebut mengindikasikan adanya ”tuduhan” bahwa lahirnya terorisme di Indonesia ada kaitannya dengan ajaran jihad yang diajarkan oleh kyai/ulama di pesantren. Ini berarti logikanya ada keterkaitan antara teroris dengan pesantren.
Tuduhan tersebut juga tidak lepas dari peran Amerika Serikat yang akhir-akhir ini getol menyerukan perang terhadap teroris. Bahkan konteks peran Amerika Serikat melawan terorisme dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali, pondok pesantren dituding memainkan peran sebagai lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam ekstrim. Tuduhan tersebut adalah hal yang sangat serius bagi pondok pesantren, terutama pada saat ini ketika Amerika Serikat dan sekutunya sedang mencari dan mencoba menebak tindakan berikut jaringan teroris yang ternyata sudah muncul di Indonesia.
Stigma ‘sarang teroris’ yang belakangan ini ”dituduhkan” melekat pada pondok pesantren di Indonesia berdasarkan dari proses pencarian dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali serta beberapa tempat lainnya. Ada dua hal utama dari investigasi peledakan bom di Bali tersebut yang penting dalam tuduhan pondok pesantren ini. Pertama, penangkapan Kyai Abubakar Basyir yang dituduh berkaitan dengan kepemimpinan jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI) di Indonesia dan Asia Tenggara. Kedua, penangkapan dan pengakuan tiga orang saudara dari pondok pesantren di desa Tenggulun, Jawa Timur yang merencanakan dan melakukan peledakan bom di Bali. Ini berarti bahwa memang ada kaitan di antara pondok pesantren di Indonesia dan jaringan teroris internasional.
Sebagai dampak dari semua itu ada upaya beberapa pihak yang menuduh semuanya itu disebabkan karena kurikulum pesantren mengajarkan jihad dengan kekerasan. Mereka menghendaki agar ada peninjauan kembali tentang kurikulum yang diajarkan pesantren. Kurikulum pesantren harus dievaluasi serta dikaji ulang karena dianggap mengajarkan terorisme dan kekerasan. Bahkan pemerintah Indonesia menginstruksikan secara khusus kepada Departemen Agama untuk mengawasi secara ketat terhadap pesantren tertentu yang dianggap dicurigai telah mengajarkan fundamentalisme dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Bahkan Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan undang-undang secara khusus tentang terorisme, yaitu UU Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2003 tentang Penanganan Bom Bali, UU Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Beberapa indikasi pelaku pemboman di beberapa tempat itu mulai mengarah pada kelompok-kelompok Islam radikalisme yang akhir-akhir ini tumbuh dan berkembang di Indonesia. Kelompok tersebut adalah orang-orang yang percaya bahwa bom bunuh diri merupakan bagian dari jihad fi sabilillah dan pelakunya adalah mati syahid. Para pelaku pemboman ini memegang kebenaran absolut yang tak bisa didiskusikan. Bahwa non-Muslim hari ini adalah kafir yang bisa dibasmi di manapun mereka berada, tak terkecuali di Indonesia. Indonesia diputuskan sebagai daerah peperangan (dar al-harb), dengan demikian membinasakan “yang lain” adalah halal. Mereka membenci “Barat”, Amerika Serikat, kehidupan sekular, dan demokrasi. Tapi, seperti yang kita tahu, kejayaan Barat tak kian surut dan Amerika pun masih eksis.
Untuk kepentingan menjawab persoalan apakah benar pesantren mengajarkan radikalisme? Dan, adakah hubungan antara ajaran jihad di pesantren dengan perilaku radikalisme teroris yang akhir-akhir ini marak di tanah air? Maka artikel ini ditulis.


B. MENDUDUKKAN MAKNA JIHAD YANG SESUNGGUHNYA
Jihad merupakan satu konsep dan tuntutan dalam Islam yang agak polemik dan kontroversi. Pelbagai kalangan seringkali salah faham tentang pengertian jihad serta konsep jihad yang sebenarnya menurut Islam telah menjadi isu yang menarik dan sensitif di kalangan masyarakat dunia dewasa ini. Semenjak Pemerintah Amerika memerangi terorisme dengan kekuatan senjata maupun kekuatan ekonominya, jihad dianggap sinomin dengan terorisme dan menjadi satu istilah yang amat menakutkan mereka.
Walaupun perkataan jihad terdapat di dalam Al-Qur’ân dan banyak disebut di dalam hadits-hadits Rasulullah S.a.w., namun konsep jihad tetap menjadi pertentangan di kalangan orang non Islam dan bahkan sebahagian orang Islam. Oleh karena itu, dalam tulisan ini ditujukan untuk menelusuri pengertian dan konsep jihad dalam tradisi Islam serta mengupas beberapa isu dan persoalan yang timbul berkaitan jihad dewasa ini. Bagi tujuan tersebut, kajian yang objektif amat diperlukan untuk melihat perkara ini dengan jelas dan amanah. Pensyari’atan jihad dalam Islam tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang negatif walaupun dunia hari ini cenderung ke arah itu. Sebagai seorang Muslim yang percaya dan yakin dengan kesempurnaan ajaran Islam, pensyari’atan jihad sudah pasti mengandung hikmah dan kebaikan bagi ummat Islam yang bijak memahaminya dan melaksanakannya pada tempat dan zamannya.
Menurut kamus-kamus bahasa Arab, perkataan jihad berasal daripada perkataan al-jahd yang bermakna kesukaran, dan al-juhd yang bermakna kekuatan dan usaha. Perkataan al-jihad bermakna mengerahkan kekuatan dan kemampuan baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan. Perkataan jihad dari segi bahasa dapat didefinisikan sebagai mengerahkan dan mengeluarkan segala kekuatan dan kemampuan untuk membuat perlawanan di antara dua pihak, walaupun dalam bentuk maknawi (bukan fisik). Menelusuri definisi ini, dapat disimpulkan bahwa jihad merupakan satu istilah yang meliputi pelbagai aspek. Ia bukan hanya melibatkan perlawanan atau peperangan secara fisik yang melibatkan senjata, bahkan ia juga merangkumi perlawanan bukan fisik termasuk juga secara mental dan spiritual. Perlawanan dalam bentuk maknawi dapat dijelaskan lagi sebagai perlawanan di antara manusia dengan dirinya sendiri. Sebagai contoh, konflik yang seringkali dihadapi oleh seseorang individu di antara dua keinginan yang bertentangan, seperti keinginan hati murni untuk melakukan perkara yang bersesuaian dengan ajaran agama atau keinginan untuk melakukan perkara menurut hawa nafsu.
Manakala frasa dan makna pengerahan kekuatan dan kemampuan yang dimaksudkan dalam definisi jihad dari segi bahasa boleh diaplikasikan dalam pelbagai bentuk, antara lain:
a) Pengerahan kekuatan dan kemampuan menerusi kata-kata.
b) Pengerahan kekuatan dan kemampuan melalui perbuatan nyata, seperti berlawan (sama dengan atau tanpa senjata), menyumbang uang atau harta benda.
c) Pengerahan kekuatan dan kemampuan dengan keengganan untuk membuat sesuatu perkara atau kengganan untuk berkata-kata, seperti enggan mentaati ibu bapa dalam perkara maksiat. (Ibnu Hanbal, t.t.:56).

Pengertian jihad dari segi bahasa tidak menghadkan aliran, ideologi maupun agama si pengguna istilah jihad tersebut. Oleh yang demikian bagi orang Islam, jihad yang dilakukan adalah fî sabilillah pada jalan Allah. (Ibnu Hanbal, t.t.:40).
Banyak orang menafsirkan makna jihad fi sabilillah dengan berbagai macam penafsiran. Mana makna jihad yang benar menurut kaca mata syariat Islam? Dan peperangan seperti apa saja yang dapat dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah? Ada upaya baru yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam, yakni meminggirkan dan menghilangkan makna serta pengaruh istilah-istilah Islam di tengah-tengah kaum Muslim. Salah satu istilah yang berusaha mereka eliminir dan kaburkan adalah istilah “jihad”. Hal itu dilakukan bukan saja dengan menciptakan stereotipe negatif tentang jihad, mujahid dan syahid, tetapi juga dengan mengalihkan makna jihad secara syar’i ke pengertian jihad secara bahasa (lughawi) yang bersifat lebih umum.
Tidak dipungkiri, kata jihad memiliki pengaruh yang amat luas, dan masih memiliki greget yang mendalam di kalangan kaum Muslim. Gaung jihad akan segera menghentakkan kaum Muslim, yang sehari-harinya biasa-biasa saja. Seketika kita berubah wujud menjadi luar biasa. Fenomena semacam ini amat dipahami, baik oleh musuh-musuh Islam maupun kalangan Muslim sendiri. Tidak aneh jika kata jihad sering dipelintir maknanya untuk kepentingan politik negara-negara besar maupun kalangan-kalangan tertentu.
Negara Barat kafir seperti AS, hingga kini tetap giat mempropagandakan pandangan bahwa jihad sama dengan teror, mujahidin sama dengan teroris atau ekstremis yang harus dimusuhi, dilawan, dan dibinasakan.Mereka khawatir dengan bangkitnya semangat kaum Muslim melawan hegemoni sistem kufur yang dipelopori AS. Kaum orientalis dan para pengikutnya mengarahkan makna jihad dalam pengertian yang lebih luas, mencakup jihad pembangunan, jihad menuntut ilmu, jihad mencari nafkah, jihad ekonomi, jihad politik dan sejenisnya. Semua itu mengaburkan makna jihad yang sebenarnya. Dalam skala yang lebih sempit lagi, kata jihad ternyata juga sengaja dipelintir dan dipolitisasi untuk menghadang atau melawan kelompok tertentu yang bertentangan dengan kelompok mereka. Inilah yang sekarang terjadi di negeri ini.
Untuk meluruskan persepsi keliru tentang makna jihad agar tidak digunakan untuk kepentingan politik tertentu, yang dengan gampang mengangkat perkara ini guna menghadang pihak lain yang menghalang-halangi atau mengganggu eksistensi dan kepentingan kelompok mereka, sangatlah penting menjelaskan hakikat jihad yang sebenarnya kepeda seluruh kaum Muslim.
Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha1. Lebih jauh lagi Imam an-Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad –menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu. (Ibnu Rusyd, 1339 H:76).
Al-Quran telah mengarahkan makna jihad pada arti yang lebih spesifik, yaitu: Mencurahkan segenap tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. (Ibnu Rusyd, 1330 H:80). Pengertian semacam ini tampak dalam kata jihad yang ada dalam ayat-ayat Madaniyah. Maknanya berbeda dengan kata jihad yang terdapat dalam ayat-ayat Makkiyah. Kata jihad mengandung makna bahasa yang bersifat umum, sebagaimana pengertian yang tampak dalam al-Quran surat al-Ankabut [29]: ayat 6 dan 8 serta surat Luqman [31]: ayat 15. Tidak kurang dari 26 kata jihad digunakan dalam ayat-ayat Madaniyah. Semuanya mengindikasikan bahwa jihad disini mengandung muatan makna perang menentang orang-orang kafir dan keutamaan orang yang pergi berperang dibandingkan dengan orang yang berdiam diri saja.
Jihad dengan makna mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang di jalan Allah juga digunakan oleh para fuqaha. menurut mazhab Hanafi, jihad adalah mencurahkan pengorbanan dan kekuatan untuk berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta benda, lisan dan sebagainya. Menurut mazhab Maliki, jihad berarti peperangan kaum Muslim melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah hingga menjadi kalimat yang paling tinggi. Para ulama mazhab Syafi’i juga berpendapat bahwa jihad berarti perang di jalan Allah. (Ibnu Rusyd, 1339 H:81).
Sekalipun kata jihad menurut bahasa memliki arti mencurahkan segenap tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah. Artinya, penggunaan kata jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan ketimbang dalam pengertian bahasa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sering digunakan para ahli ushul fiqih: “Makna syariat lebih utama dibandingkan dengan makna bahasa maupun makna istilah (urf)”. (Al-Zazairi, 1994:176).
Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh kaum Muslim adalah berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Pengaburan makna jihad dalam pengertian syariat ini, dengan cara mengalihkannya ke pengertian yang lebih umum, seperti jihad pembangunan, me untut ilmu, mencari nafkah, berpikir keras mencari penyelesaian, dan sejenisnya yang dianggap sebagai aktivitas jihad- merupakan upaya untuk menghilangkan makna jihad dalam pengertianal-qitâl, al-harb, atau al-ghazwu, yaitu berperang (di jalan Allah).
Untuk menentukan bahwa suatu pertempuran itu tergolong jihad fi sabilillah (sesuai dengan definisi diatas) atau termasuk perang saja, maka kita perlu mencermati fakta tentang jenis-jenis peperangan yang dikenal dalam khasanah Islam. Di dalam Islam terdapat kurang lebih 12 jenis peperangan, yaitu:
1. Perang melawan orang-orang murtad.
2. Perang melawan para pengikut bughât.
3. Perang melawan kelompok pengacau (al-hirabah atau quthâ at-thuruq) dari kalangan perompak dan sejenisnya.
4. Perang mempertahankan kehormatan secara khusus (jiwa, harta benda dan kehormatan).
5. Perang mempertahankan kehormatan secara umum (yang menjadi hak Allah atau hak masyarakat).
6. Perang menentang penyelewengan penguasa.
7. Perang fitnah (perang saudara).
8. Perang melawan perampas kekuasaan.
9. Perang melawan ahlu dzimmah.
10.Perang ofensif untuk merampas harta benda musuh.
11.Perang untuk menegakkan Daulah Islam.
12.Perang untuk menyatukan negeri-negeri Islam. (Ibnu Hanbal, t.t.:41).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka makna jihad dalam menegakkan syari’at Islam di jalan Allah atau jihad fî sabilillah, adalah bermakna fisik dalam artian memerangi orang-orang yang tidak mau berada di jalan Allah, dan jihad psikis dengan cara berjihad melalui harta kekayaan, pemikiran, tenaga dan lainnya. Berkaitan dengan penelitian ini, penulis lebih cenderung pada makna jihad kedua, yakni jihad dengan psikis dalam bentuk harta kekayaan, pemikiran, tulisan, dan lainnya, bukan jihad dalam artian memerangi orang kafir secara fisik.

C. PESANTREN, JIHAD, DAN TERORISME
Pesantren sejak dulu sudah mengajarkan tentang jihad. Akan tetapi, pengajaran jihad diantara pesantren berbeda-beda penekanannya, sebab pesantren tidak berwajah tunggal. Sekurang-kurangnya ada dua tipologi pesantren jika dilihat dari gerakan dan tafsir keislaman yang dikembangkannya. Pertama, pesantren yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Para pengasuh pesantren ini biasanya berpendirian bahwa Indonesia adalah wilayah damai (dar al-salam) karena itu jalan kekerasan dalam memperjuangkan Islam tak seharusnya dipilih. Di berbagai forum dan kesempatan, para kiai ini terlibat dalam dialog dan kerja sama agama-agama di Indonesia. Mereka juga mengadvokasi kaum tertindas terutama kelompok minoritas.
Dengan demikian jelas bahwa pesantren umumnya tidak mengajarkan jihad dengan kekerasan, apalagi terorisme. Oleh karena itu, ketika ada sekolompok orang atau pesantren yang melakukan jihadnya dengan kekerasan, maka perlu diteliti lebih jauh mengenai pemahaman mereka mengenai jihad yang diajarkan di pesantrennya.



DAFTAR PUSTAKA

Abi Ya’la Muhammad Ibnu Husain al-Farâ’i al-Hanbali. (t.t). Al-Ahkâm Al-Sulthaniyyah. Beirut: Dâr al-Kitab Al-‘Alamah.

Ibnu Rusyd. (1339 H). Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Cairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladuh.

Soenarjo, dkk. (2009). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Depag RI.

Abî Bakri Jabir Al-Jazairi. (1994). Aisara At-Tafâsîr Al-Kalâm Al-‘Aliyyi Al-Kabîr. Madinah: Maktabah Al-‘Ulűm wa Al-Hikam.

Ahmad Warson Munawwir. (1998). Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: PP Al-Munawwir.
Attabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor. (1998), Kamus Kontemporer Arab Indonesia. Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum PP Krapyak.

Taqiyyuddin Al-Husaini. (t.t). Kifayatul Akhyar. Semarang: Mathba’at Mohammad Toha Putra.

Ibnu Katsir. (1981). Tafsîr Ibnu Katsîr. Beirut: Dâr Al-Qur’ân Al-Karîm.

Harun Nasution. (1985). Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press.

Muhammad Abu Zahra. (1991). Sejarah Alran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan Aqidah. Diterjemahkan oleh Shobahussurur.

Mahayuddin Haji Yahaya. (1986). Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11 – 78 H/632 – 698 M). Kualalumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.

Hasbi Ash-Shiddiqie. (1987). Syi’ah dan Khawarij. Jakarta: Bulan Bintang.

M.A. Shaban. (1993). Sejarah Islam (Penafsiran Baru) 600 – 750. Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Machnun Husein.

Muhammad ibn Jarir Ath-Tahabari. (1979). Târîkh al-Umam wa al-Muluk. Beirut : Darul Fikir.

Ibn Al-Atsîr. (1965). al-Kâmil fi’ t-Târikh. Beirut : Dar as-Shadr.

Ibn Katsir. (t.t.). Al-Bidâyah wa an Nihâyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

Hasan Ibrahim Hasan. (1957). Târîkh al-Islâm, as-Siyâsy wa ad dîny wa ats-Tsaqaiy wal-Ijtimâ’iy. Cairo: Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah.

Ahmad Amin. (1975). Fajr al-Islâm. Cairo : Dar al-Kutub.

Muhammad Abd al-Karim asy-Syahrastani. (t.t.). Al-Milal wan Nihal. Beirut: Dar al-Fikr.
‘Ali Mushthafa Al-Ghazaly. (1958). Târîkh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasyah ‘Ilmi ‘l-Kalâm inda al-Muslimîn. Cairo: Maktabah Muhammad ‘Ali Shabij wa Aulâduh.

G.E. Von Grunebaum. (1970). Cassical Islam, A History 600 A.D.-1258 A.D. diterjemahkan dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris oleh Katherine Watson. Chicago : Aldine Publising Compay.

Abu Al-Hasan Al-Asy’ary. (1969). Maqâlat al-Islamiyîn wa Ikhtilâf al-Mushallîn. Cairo : Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah.


Bagikan Artikel ini ke Facebook