E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Kesadaran

Dibaca: 811 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2016-07-28 15:24:32 wib


KESADARAN SEBAGAI DRIVING FORCES MEMBANGUN KEJAYAAN PERADABAN ISLAM MASA DEPAN
Oleh: Dr. H. Utawijaya Kusumah, MM


PROLOG
Refleksi akhir tahun 2013 saat ini dan menjelang awal tahun 2014 sungguh merupakan saat-saat penting bagi bangsa Indonesia, khususnya suku Sunda seperti Tasikmalaya untuk memahami problematika yang dihadapi dan sekaligus menjawab tantangan untuk menguasai dan memimpin peradaban masa mendatang. Bukan saja karena pada saat ini kita berada pada penghujung tahun 2013 dan menyongsong tahun 2014. Lebih dari itu, saat-saat sekarang juga merupakan saat Indonesia menjelang menghadapi peristiwa dan keadaan besar yang akan menentukan nasib bangsa di masa depan.
Pesta demokrasi 2014 akan segera dilangsungkan buat memilih wakil-wakilnya di lembaga legislatif (April 2014), serta memilih presiden dan wakil presiden untuk masa`jabatan lima tahun ke depan (September 2014). Hal tersebut akan benar-benar menentukan bagaimana wajah Indonesia mendatang. Tapi tidak berarti bahwa persoalan paling penting bagi Indonesia adalah siapa yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mendatang. Lebih dari itu adalah ke mana kepala negara terpilih bersama seluruh bangsa ini akan membawa Indonesia ke depan, menghadapi persoalan dunia yang akan semakin menantang. Pertanyaan itulah yang sekarang harus dijawab seluruh bangsa ini, dan tentu juga oleh pemimpinnya.
Minimal ada 10 masalah yang dihadapi di tahun 2014 mendatang yang harus segera dicarikan solusinya. Kesepuluh masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. EKONOMI. Akibat ancaman jurang fiskal di Amerika Serikat dan krisis keuangan yang melanda Uni Eropa sekarang, maka dipastikan sejumlah negara akan mengalami krisis ekonomi (pada tahun 2014 dialami oleh India dan China). Negara-negara miskin di dunia, terutama negara-negara di Afrika dan Asia tetap tidak akan keluar dari kemiskinan yang dialaminya selama ini, bahkan boleh jadi semakin miskin dan menderita. Indonesia diprediksi akan mengalami krisis ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 juga akan berjalan lamban karena banyaknya hambatan, salah satunya dalah kisruh politik yang akan melanda Indonesia menjelang Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden 2014. Boleh jadi secara makro perekonomian Indonesia akan stabil, tetapi tidak akan menjamin peningkatan kesejahteraan rakyat secara nyata. Kemiskinan dan kemelaratan rakyat Indonesia akan terus berlanjut. Di sisi lain, negara-negara Kapitalis akan semakin gencar melakukan investasi dan mengekspolitasi kekayaan alam di negara-negara bekembang dan miskin, termasuk di Indonesia.
2. POLITIK DAN HUBUNGAN ANTAR NEGARA. Secara global tidak akan ada perubahan yang berarti di tahun 2014. Ketegangan dan perang urat saraf antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan sejumlah negara, seperti Iran, Korea Utara, China, Kuba, Venezuela, Bolivia, Suria, dan negara-negara “musuh” Amerika Serikat dan sekutunya akan terus berlanjut. Hubungan antara Israel dan Palestina akan semakin sengit, karena di satu sisi mayoritas anggota PBB mendukung keanggotaan Palestina di PBB, tetapi di sisi lain Israel dan Amerika Serikat tidak menghendaki itu dan kerkesan menolak kemerdekaan penuh Palestina. Ada kemungkinan peningkatan hubungan bilateral dan kerjasama China (sebagai negara pesaing Amerika Serikat) dengan negara-negara sekutunya seperti Rusia, Korea Utara, Kuba, Venezuela, Bolivia dan negara sekutunya yang lain untuk menghadang hegemoni dan monopoli Amerika Serikat selama ini. Di Indonesia tidak akan ada perubahan politik dan hubungan antar negara yang cukup berarti, karena Indonesia akan terus mempertahankan hubungan sebagaimana ada selama ini. Indonesia tentu sekali-kali akan terus memprotes tindakan Israel yang dianggap merugikan rakyat Palestina (umumnya karena sama-sama mayoritas penduduknya beragama Islam), tetapi Indonesia juga akan terus menjalin “hubungan mesra” dengan sekutu utama Israel yaitu Amerika Serikat. Di Indonesia tahun 2014 akan diwarnai dengan kisru politik, dimana hampir seluruh lini kehidupan dan kelembagaan negara akan digiring masuk ke dalam upaya mengejar kepentingan politik menjelang Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden 2014.
3. TERORISME, KEKERASAN BERSENJATA, DAN KONFLIK SOSIAL. Kehidupan ekonomi yang susah, sengitnya perebutan kekuasaan (suksesi kepemimpinan), meningkatnya pertarungan ideologi, dan makin banyaknya negara yang tidak pro-rakyat akan terus meningkatkan aksi terorisme, kekerasan bersenjata, dan konflik sosial di sejumlah besar negara di dunia. Negara-negara di Afrika seperti, Nigeria, Somalia, Rwanda, Burundi, Uganda, Kongo, Sudan, Kenya akan terus berkonflik; rakyat (oposisi/pemberontak) melawan peemrintah yang berkuasa atau perang saudara. Aksi terorisme bersenjata atau aksi pemboman akan terus terjadi di Irak, Afganistan, Pakistan, dan Indonesia serta beberapa negara di Afrika. Di Indonesia, kekerasan bersenjata masih akan terus terjadi, sementara di wilayah lainnya berbagai bentuk protes kepada pemerintah (termasuk TNI dan POLRI), konflik perebutan lahan (tanah), aksi kekerasan antar suku atau komunitas akan terus terjadi. Aksi terorisme dipastikan akan meningkat jika tak ada penanganan yang serius dari Pemerintah dan POLRI.
4. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. Ilmu pengetahuan dan tekonologi akan berkembang pesat di tahun 2014. Prestasi positif ilmu pengetahuan dan teknologi yang diraih dan dikembangkan pada tahun 2013 akan memacu semangat sejumlah ilmuan dan negara untuk meningkatkannya di tahun 2014, baik di bidang kesehatan, biologi, astronomi, arkeologi, teknologi, maupun bidang-bidang lainnya. Di bidang astronomi penelitian astronomi dan pengembangan teknologi luar angkasa akan berkembang pesat dengan adanya ambisi sejumlah ilmuan dan negara untuk menemukan planet lain menyerupai bumi yang layak huni di masa depan. Sementara di bidang kesehatan, para peneliti akan berupaya menemukan obat penyakit-penyakit kronis yang mematikan seperti HIV/AIDS, kanker, dan lainnya disamping peningkatan teknologi sebagai alat bantu penyembuhan penyakit. Adanya ambisi sejumlah ilmuan dan negara untuk membuka tabir misteri bumi dan segala isinya di masa silam, akan memotivasi mereka untuk meingkatkan penelitian di bidang arkeologi dan biologi, yang kemudian kemungkinan besar akan menemukan berbagai jenis vosil benda mati dan makluk hidup sebagai petunjuk membuka misteri bumi di masa silam. Di bidang teknologi, penemuan dan/inovasi barang-barang elektronik dan sejumlah perindustrian akan berkembang pesat. Sejumlah negara akan berlomba-lomba mengembangkan teknologi alat utama sistem persenjataan (alusista) sebagai bagian dari pertahanan nasional dan simbol hegemoninya.
5. MORALITAS DAN PERABADAN. Semakin kuatnya liberalisme dan perkembangan teknologi akan semakin menciptakan manusia yang semakin tidak bermoral dan beradab. Nilai-nilai ke-Tuhanan, kebenaran, kebaikan, kejujuran dan keadilan akan semakin rapuh. Sementara di sisi lain nilai-nilai egoisme, materialisme (mengakui dan menyebah kebendaan), kekerasan sosial, keragu-raguan atau apatis terhadap Tuhan, pelanggaran hak asasi manusia, pornografi dan pornoaksi, dan tindakan tak bermoral dan tak beradap lainnya akan berkembang pesat sejalan dengan pesatnya perkembangan teknonogi sebagai media penyebab, penyalur dan pelestarinya. Indonesia akan berada dalam negara lima besar negara “gila teknologi” akan memacu semakin hancurnya moralitas dan peradaban orang Indonesia yang sebenarnya sejak merdeka dicita-citakan hidup di atas landasan moralitas dan peradaban Pancasila. Indonesia akan menjadi salah satu negara yang menganut nilai-nilai egoisme, materialisme (mengakui dan menyebah kebendaan), tradisi kekerasan sosial, keragu-raguan atau apatis terhadap Tuhan, pelanggaran hak asasi manusia, pornografi dan pornoaksi, dan tindakan tak bermoral dan tak beradap lainnya.
6. LINGKUNGAN HIDUP DAN BENCANA ALAM. Kerusakan lingkungan di seluruh belahan dunia akan meningkat tajam, bahkan peningkatan bisa sampai 20-40 persen dari tahun-tahun sebelumnya, karena bertambahnya populasi manusia, meningkatkan kebutuhan manusia terhadap alam, maraknya aktivitas pertambangan, penebangan pohon secara legal maupun ilegal, bertambahnya limbah industri, semakin menipisnya ozon, dan lain sebagaimnya. Akibat dari semuanya ini tentu adalah bencana alam. Banjir dan tanah longsor akan terus terjadi di berbagai negara, karena berkurangnya pohon sebagai peresap air. Volume air laut akan bertambah dan menggenangi sejumlah daratan di pesisir pantai yang rendah, karena mencairnya salju di kutub. Panas bumi akan meningkat tajam karena menipisnya ozon yang berfungsi sebagai penyaring sinar matahari. Kekeringan dan acaman bagi pertanian/perkebunan akan terus menghantui manusia karena meningkatnya panas bumi. Berbagai penyakit anak bemunculan tanpa diduga karena perubahan iklim yang ekstrim dimana-mana. Di Indonesia, tempat-tempat yang menjadi langganan tanah longsor dan banjir selama ini akan terus tesrjadi, tak terkecuali bencana-bencana alam lainnya seperti gempa bumi dan gunung meletus akan terus terjadi karena negara ini terletak di jalur gempa dunia yang juga memiliki sejumlah gunung berapi teraktif di dunia.
7. KORUPSI. Tindakan korupsi akan semakin menjadi “tradisi hidup” di berbagai negara di dunia. Negara-negara yang pemerintahnya korup selama ini akan terus melestarikan tindakan korupsinya, bahkan tidak menutup kemungkinan akan semakin meningkatkan tindakan korupsinya di tahun 2014. Pemerintah negara-negara di Afrika yang miskin dan berkonflik akan terus melestarikan budaya tindakan korupsi yang mereka anut selama ini, selain untuk memperkaya dirinya sendiri, juga untuk membiayai perang dan konflik sosial yang sering terjadi di sana, yang kadangkala melibatkan para pemimpin negara secara pribadi. Di Indonesia, tahun 2014 akan menjadi “tahun korupsi”, karena sejumlah lembaga negara (yang berafiliasi dengan berbagai partai politik) akan bekerjasama melakukan tindakan korupsi dalam upaya mencari “modal” untuk Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden 2014. Korupsi besar-besaran akan terjadi mulai dari pemerintahan pusat sampai pemerintahan daerah. Barangkali hanya China saja yang akan semakin mengetatkan sanksi terhadap pelaku tindakan korupsi di tahun 2014, dengan tetap mempertahankan tradisi hukum “hukuman mati” bagi para koruptor.
8. KEMISKINAN. Akibat meningkatnya jumlah populasi manusia dan meningkatnya kebutuhan manusia, sementara semakin berkurangnya sumberdaya alam akan menyebabkan terjadinya dominasi dan eksploitasi kekayaan alam secara besar-besaran oleh negara dan kelompok tertentu, yang pada akhirnya akan menyebabkan kemiskinan bagi negara dan kelompok lainnya. Sejumlah besar negara di Afrika masih terus akan hidup dalam kemiskinan yang sangat kronis, lima negara seperti Kongo, Zimbabwe, Burundi, Liberia, dan Eritria akan tetap berada dalam posisi sebagai negara termiskin di dunia karena wabah kelaparan yang tiada henti. Sementara itu, sejumlah besar warga negara di beberapa negara di seluruh dunia juga akan hidup dalam kemiskinan. Di Indonesia, sejumlah besar warganya masih akan tetap hidup di bawah garis kemiskinan, karena kekayaan alamnya dikeruk oleh negara-negara asing akibat persekongkolan dengan pemerintah dan TNI/POLRI. Jumlah orang miskin yang lebih dari 30 juta orang di Indonesia kemungkinan akan terus bertambah di tahun 2014 karena keuangan negara dipastikan akan terserap habis (karena korupsi) untuk membiayai Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden 2014 dan kemungkinan terjadinya krisis moneter dan ekonomi akibat krisis moneter dan ekonomi yang melanda Uni Eropa dan kemungkinan adanya jurang fiskal di Amerika Serikat.
9. FENOMENA KEHIDUPAN TRADISIONAL DAN NILAI ADAT. Kehidupan tradisional Masyarakat Adat dan tatanan nilai adat bagi sejumlah komunitas Masyarakat Adat di seluruh dunia akan semakin hancur. Bahkan laju kehancurannya bisa makin cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Modernisme, pengaruh perkembangan dan/atau penyebaran teknologi, arus migrasi, program dan kegiatan pembangunan dari negara, penyebaran agama, penyebaran ideologi kapitalisme/liberalisme dan sosialisme, penyebaran pendidikan, dan penyebaran budaya populer akan menjadi beberapa faktor pemicu mempercepat pelucutan nilai-nilai adat dan memaksa Masyarakat Adat untuk menganut nilai-nilai baru (budaya popular) untuk kemudian menjadi masyarakat modern. Sejumlah Masyarakat Adat di Amerika Latin (orang Indian), Afrika, dan Asia akan menjadi korbannya. Mencermati laju kecepatan perubahan sosial sejumlah Masyarakat Adat di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, maka dapat dipastikan sejumlah Masyarakat Adat di Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Timor akan makin cepat meninggalkan nilai-nilai adatnya dan mulai menganut nilai-nilai hidup moderat.
10. PERANG IDEOLOGI. Perang ideologi akan makin gencar di tahun 2014. Setidaknya ada tiga ideologi besar yang akan bertarung menyebarkan, memperkuat dan mempertahankan eksistensinya di dunia, yaitu Liberalisme/Kapitalisme, Sosialisme/Komunisme, dan Islam. Negara-negara penganut paham Liberalisme/Kapitalisme dibawah pimpinan Amerika Serikat akan terus berupaya mempertahankan ideologinya yang telah ditanam di sejumlah negara di Amerika Utara, sejumlah negara Uni Eropa, sejumlah negara di Asia dan Fasifik, sejumlah negara di Amerika Latin, dan sejumlah negara di Afrika. Dan kepada negara-negara penganut paham Sosialisme/Komunisme dan Islam serta negara lain yang tidak menganut ideologi apapun akan terus dipaksa agar negara-negara tersebut dapat menerima dan mengakui paham Liberalisme/Kapitalisme sebagai landasan pembangunan negaranya. Begitu juga Negara-negara penganut paham Sosialisme/Komunisme seperti China, Korea Utara, Kuba, Bolivia, Venezuela, (mungkin) Rusia, dan beberapa negara lainnya juga akan terus mempertahankan diri dari pengaruh ideologi Liberalisme/Kapitalisme. Bahkan mereka juga akan terus bergerilya mencari dan mempengaruhi negara lain untuk menerima dan mengakui Sosialisme/Komunisme sebagai landasan pembangunan negaranya. Dan terakhir negara-negara seperti Iran dan sejumlah negara Islam lainnya serta sejumlah kelompok Islam dalam negara-negara tertentu akan terus berjuang menegakan ideologi Islam (Syariat Islam). Berbagai fenomena akan terjadi akibat gesekan penyebaran dan upaya mempertahankan ideologi masing-masing; bisa berupa perang, revolusi di beberapa negara (pergantian rezim pemerintahan), berdirinya sejumlah negara baru (lepas dari negara induk akibat kepentingan ideologi negara-negara tertentu); dan lainnya.

BAGAIMANA UPAYA INDONESIA
Bangsa-bangsa lain telah bersiaga menghadapi dunia baru yang penuh tantangan tersebut. Filipina telah menyebarkan para pekerja menengahnya untuk mengisi pasar kerja di seluruh dunia. Thailand tengah membangun restoran-restoran masakan Thai pada hampir semua kota penting di berbagai negara untuk menjadi ujung tombak pemasaran pariwisatanya. India semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pengembangan dan layanan Teknologi Informasi global. Singapura terus memperkuat posisi sebagai sentra jasa, keuangan, serta budaya terpenting di kawasan barat Asia Pasifik. Jepang dan bahkan Korea Selatan telah mengokohkan kedudukannya sebagai kekuatan utama dunia dalam industri mobil dan elektronika.
Di hadapan upaya besar bangsa-bangsa tetangga itu, apa yang akan diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia cukup puas dengan menjual murah enerjinya seperti batubara dan gas, sementara negara lain seperti China mendapat berkah nilai tambah enerji itu pada perekonomiannya? Peradaban baru seperti apa yang harus dibangun bangsa ini agar dapat menghadapi masa depan dengan tegak? Budaya macam apa yang perlu dikembangkan yang sesuai untuk menopang peradaban baru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan jawaban dari seluruh anak bangsa.
Dalam perekonomian, bangsa ini jelas bukan apa-apa dibanding dengan raksasa Amerika Serikat, Jepang, serta China. Indonesia bahkan masih kalah dibanding saudara serumpun Malaysia. Perbandingan komposisi perekonomian antar negara menunjukkan dengan jelas ketertinggalan kita. Kontribusi pertanian pada perekonomian secara keseluruhan masih sebesar 43,3 persen, sementara di China tinggal 11,3 persen. Sebaliknya, kontribusi industri dalam perekomian Indonesia baru 18 persen, sedang di China telah mencapai 48,6 persen. Di negara-negara maju, kontribusi terbesar pada ekonomi adalah dari sektor jasa seperti di Amerika (78 persen) serta Jepang (72 persen). Sebagai negara berkembang, India bahkan telah mampu mengandalkan jasa sebagai motor penggerak ekonominya. Jasa menyumbang 52 persen dari nilai perekonomian India yang berarti negara tersebut telah mampu mengandalkan kekuatan sumberdaya manusianya untuk meraih kemajuan.
Angka-angka tersebut bukan sekadar mencerminkan posisi ekonomi Indonesia dibanding dengan negara-negara besar dunia lainnya. Lebih dari itu, angka-angka itu juga menggambarkan wajah peradaban bangsa ini sekarang. Kontribusi pertanian yang tinggi serta peran jasa yang rendah menunjukkan bahwa Indonesia masih mengandalkan sumberdaya alam dan belum pada sumberdaya manusia dalam perekonomian. Kenyataan itu juga mencerminkan bahwa peradaban Indonesia sekarang masih tergantung pada budaya tradisional. Padahal budaya tradisional tak selalu siap memenuhi tuntutan peradaban masa depan.
Ketidaksiapan budaya bangsa untuk menyambut tantangan masa depan telah muncul dalam Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an. Achdiat Karta Mihardja dalam pengantar kumpulan polemik itu menyebut bahwa sisa budaya feodal berpengaruh besar pada jiwa dan budaya bangsa. Pada masyarakat feodal, kehidupan ekonomi, sosial, dan politik dikendalikan sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan sangat besar. Masyarakat kebanyakan harus menerima keadaan yang apa adanya, termasuk menanggung kemiskinan. Itulah yang membuat jiwa mati dan bangsa ini menjadi bangsa yang statis. Kalah dalam kehidupan, masyarakat lalu menghibur diri dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis.
Untuk membongkar sifat statis tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana mengajak bangsa untuk mengadopsi nilai-nilai Barat. Baginya, bangsa ini harus menjadi bangsa yang dinamis, maju, serta berani memperjuangkan kepentingan sendiri. Karakter itu disebutnya ada pada bangsa-bangsa Barat sehingga Barat menguasai peradaban dunia beberapa abad terakhir. Gagasan mengadopsi budaya Barat itu mengundang reaksi para budayawan yang yakin pada kekuatan budaya lokal, sehingga memunculkan polemik serupa yang pernah terjadi di Jepang. Di Jepang, setelah Restorasi Meiji 1868 polemik demikian melahirkan sintesa budaya yang menjadi dasar peradaban baru Jepang. Yakni peradaban moderen yang membawa kemajuan namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya asli Jepang, Masakan ‘teriyaki’ dan ‘yakiniku’, serta prinsip manajemen Kaizen merupakan hasil sintesa budaya tersebut.
Di Indomesia, Polemik Kebudayaan dahulu itu belum menghasilkan sintesa budaya yang dapat membawa pada peradaban baru. Prioritas perjuangan saat itu untuk menyiapkan kemerdekaan, serta hiruk pikuk Perang Dunia II, membuat polemik penting tersebut tak berlanjut. Maka karakter bangsa yang dirisaukan para pemimpin tiga perempat abad silam, sampai sekarang belum hilang. Sisa warisan budaya feodal serta karakter statis terasa masih ada pada bangsa ini. Itu yang membuat Indonesia sulit mewujudkan cita-cita kemerdekaan seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut menciptakan perdamaian dunia. Karakter itu pula yang membuat Indonesia tidak siap bersaing di tingkat global dalam menghadapi masa depan yang menantang.
Ketidaksiapan budaya bangsa dalam menghadapi tantangan global harus ditebus dengan harga yang mahal. Banyak sekali pengorbanan yang harus dilakukan atas`ketidaksiapan itu seperti hilangnya semangat kebangsaan, tidak tegaknya hukum, moralitas yang rusak, hingga lemahnya daya saing bangsa. Pengorbanan tersebut sebenarnya tidak perlu karena bangsa ini telah mempunyai pondasi berupa nilai-nilai spiritualitas yang mengajarkan agar manusia bergantung dan berserah diri hanya pada Tuhan Yang Maha Esa, dan bukan pada lainnya. Itulah kunci sukses manusia, dan pada akhirnya juga kunci sukses masyarakat serta bangsa.
Tetapi pondasi itu rusak oleh budaya feodal yang menekankan anggapan bahwa pemimpin adalah Wakil Tuhan di bumi ini, sehingga jika patuh pada Tuhan maka harus patuh pada pemimpin. Tanpa pemahaman kokoh pada nilai-nilai kebenaran, masyarakat lalu memasrahkan hidup pada pemimpin. Ungkapan ‘pejah gesang nderek panjenengan’ yang berarti ‘hidup mati ikut Anda (pemimpin)” menjadi ungkapan yang berakar kuat di masyarakat Jawa sebagai suku bangsa terbesar di Indonesia. Namun pandangan seperti itu bukan hanya menyebar di Jawa, melainkan hampir di seluruh wilayah Nusantara.
Masyarakat menjadi terbiasa merendahkan dirinya sendiri sebagai ‘kawulo’ atau ‘hamba’ menurut istilah Melayu. Dalam kultur feodal Melayu, masyarakat tak cukup dengan hanya bersimpuh dan menyembah pemimpin. Masyarakat juga terbiasa mengucapkan istilah ‘Daulat Tuanku’ sebagai ungkapan siap menerima perintah. Seolah-olah hanya Sang Tuan yang berdaulat, sedangkan dirinya sendiri tidak. Masyarakat menjadi sangat bergantung pada pemimpin, termasuk pemimpin adat dan keagamaan, walaupun tak jarang pemimpin yang memanfaatkan kepatuhan pengikutnya untuk kepentingannya sendiri.
Sikap ‘pasrah’ dan ‘nrimo’ pada keadaan merupakan sikap umum masyarakat luas. Kebanyakan orang memilih menerima keadaan apa adanya dibanding berusaha keras meraih kehidupan yang lebih baik. Padahal Nabi mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin. Jika hari ini sama dengan kemarin berarti merugi, sedangkan bila hari ini lebih buruk dari kemarin berarti celaka. Namun ajaran Nabi itu tidak dituruti. Banyak orang tak mau berusaha mengatasi kemiskinannya sendiri karena menganggap kemiskinan itu merupakan takdir.
Dalam kultur demikian, masyarakat mengutamakan keselarasan dan harmoni dibanding kepentingan menyangkut materi. Kepentingan materi seolah-olah hanya akan mengganggu harmoni karena itu harus dihindari. Priyayi lebih dihargai dibanding saudagar yang memakmurkan negeri. Di lingkungan masyarakat tradisional, cara pandang dan sikap hidup begitu dapat dipahami. Adanya kebersamaan yang hangat, budaya tolong-menolong yang kuat, serta alam yang murah hati memang dapat membantu masyarakat mengatasi kesulitan, termasuk mengurangi beban kemiskinan. Tampaknya tidak ada persoalan bagi bangsa dengan memiliki budaya seperti itu. Namun setelah keadaan bangsa dan dunia berubah baru terbukti bahwa budaya yang ada tidak mampu menghadapi tantangan baru.
Alam tidak lagi dapat bermurah hati akibat ledakan penduduk, keserakahan, serta ketidakpedulian manusia dalam mengelola. Sementara itu, budaya-budaya lokal harus berbenturan dengan budaya global yang masuk ke seluruh pelosok negeri ini akibat revolusi teknologi komunikasi dan transportasi. Budaya global yang menawarkan kemajuan, kemudahan, kenyamanan, serta gengsi yang dianggap lebih, dengan cepat diadopsi menjadi dambaan baru masyarakat. Terjadi lompatan orientasi masyarakat dari orientasi harmoni ke orientasi materi. Lompatan yang tidak dipersiapkan serta dalam waktu yang relatif singkat tersebut menimbulkan akibat yang tidak sedikit.
Terjadinya guncangan budaya (cultural shock) menjadi tak terhindarkan. Dengan budaya nrimo dan memasrahkan jiwa raga pada pemimpin, masyarakat tak terlatih memperjuangkan kepentingan sendiri yang bersifat materi. Mempercakapkan urusan materi bahkan cenderung dipandang sebagai hal rendah. Sekarang tiba-tiba materi menjadi dambaan baru, seolah-olah merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Sebagaimana biasanya kecintaan pada hal-hal baru yang sering berlebihan, orientasi baru terhadap materi saat ini juga cenderung lebih dari wajar. Tanpa tersadari bangsa ini bergeser dari bangsa idealistis menjadi bangsa materialistis. Di antara para pemerhati bahkan ada yang menyebut Indonesia saat ini merupakan salah satu bangsa paling materialistis di dunia.
Penilaian itu belum tentu benar. Tetapi simbol-simbol materi memang menjadi dambaan baru masyarakat yang selama ini cenderung pasrah dan tidak siap bekerja keras untuk mendapatkan materi dengan cara semestinya. Berbagai kalangan masyarakat mulai berlomba mengakumulasi simbol-simbol keberhasilan materi dengan berbagai macam cara. Jalan pintas`menjadi pilihan yang biasa. Lembaga-lembaga publik yang semestinya didedikasikan buat melayani masyarakat bahkan banyak dibelokkan buat memenuhi kepentingan pribadi. Itu yang menjelaskan mengapa korupsi terus meningkat tak teratasi meskipun upaya untuk mencegahnya juga dilakukan.
Bias kepentingan pribadi membuat birokrasi, politik, hukum, dan kelembagaan lain yang dibangun untuk kepentingan publik tak selalu berjalan sesuai yang diharapkan. Birokrasi belum efektif membantu masyarakat untuk menjadi masyarakat maju, tapi lebih tersibukkan dengan formalitas menangani program-program yang normatif. Politik belum sepenuhnya didedikasikan untuk memperjuangkan kepentingan umum, dan masih cenderung menjadi alat berebut kekuasaan seperti yang sering ditudingkan. Hukum terasa lebih berpihak pada yang kuat dibanding pada kebenaran. Dunia akademis dan media yang diharapkan dapat lebih berperan dalam menjaga nilai-nilai bangsa, tak jarang terseret pula oleh kepentingan praktis perorangan di belakangnya.
Mengagungkan simbol-simbol materi telah membawa masyarakat pada perilaku konsumtif dan bukan produktif, juga pada sikap yang ingin serba gampang dibanding kemauan berusaha. Maraknya remaja yang terjun menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) beberapa waktu terakhir ini bukan saja didorong oleh faktor kemiskinan, melainkan juga oleh keinginan perilaku konsumtif dan hidup enak secara gampang. Tidak sedikit dari mereka yang bukan berasal dari kalangan yang benar-benar miskin. Banyak lagi masalah sosial lain yang juga disebabkan dorongan yang melebihi kewajaran dalam urusan materi tersebut. Rapuhnya nilai-nilai keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, meningkatnya kriminalitas, hilangnya kejujuran, serta melunturnya kepercayaan pada sesama merupakan akibat dari orientasi materi secara berlebihan tersebut. Padahal, seperti dikemukakan Francis Fukuyama, rasa percaya (trust) merupakan modal sosial paling berharga bagi kemajuan suatu bangsa.
Dengan latar keadaan seperti itu, dapat dipahami bila Indonesia menjadi konsumen peradaban dunia. Peradaban Indonesia saat ini menjadi peradaban yang terwarnai dan bukan mewarnai peradaban dunia. Budaya yang mendominasi peradaban dunia dengan cepat diadopsi oleh bangsa ini. Namun sesuai dengan kecenderungan masyarakat baru yang ingin serba gampang, budaya yang teradopsi tersebut lebih merupakan budaya yang bersifat materialistis, konsumtif, serta hedonistis. Maraknya pornografi dan pornoaksi, serta berkembangnya sikap dan perilaku liberal yang permisif menggambarkan derasnya pengaruh budaya global. Sedangkan nilai-nilai yang membuat Barat menguasai peradaban global seperti sikap mandiri, kepatuhan pada aturan dan hukum, serta keberanian dan konsistensi untuk mengeksplorasi hal-hal baru bagi kepentingan bersama, justru tidak diadopsi bangsa ini.
Memang tidak sedikit anak-anak bangsa yang tetap mampu menjaga kejernihan kesadaran sehingga tidak larut dalam keadaan yang ada. Di setiap tempat masih dapat ditemui pribadi-pribadi seperti suster apung Rabiah yang terus berbuat mengabdi untuk sesama; pemuda seperti Firman yang tak mengeluh dan memilih gigih berwiraswasta; atau pelajar yang bertekun dengan ilmu untuk mengangkat nama Indonesia di mata dunia seperti Stefano.
Namun di antara sosok-sosok berkesadaran itu, lebih banyak lagi yang tenggelam dalam sikap pragmatis materialistis yang menghalalkan cara. Tidak sedikit tokoh masyarakat yang tidak malu berebut kekuasaan demi uang, pejabat yang tidak malu mencari komisi atau malah korupsi, hingga penjaga keadilan yang tidak malu menerima imbalan dari perkara yang tengah diadilinya. Pada merekakah bangsa ini akan mempercayakan kepentngan untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia? Pada generasi baru yang hanya mau hidup enak tanpa harus berusaha keraskah bangsa ini mempercayakan masa depannya? Peradaban yang ada di Indonesia saat ini sungguh tidak lagi memadai untuk membangun bangsa yang bermartabat dan sejahtera sesuai dengan perkembangan dunia.
Dunia semakin konvergen. Budaya antar bangsa telah semakin menyatu satu sama lain. Dalam penyatuan tersebut, budaya yang kuat akan mewarnai peradaban baru dunia, sedangkan budaya yang lemah akan lenyap dari khazanah peradaban. Bangsa-bangsa berjaya, yang mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya adalah bangsa-bangsa yang budayanya menguasai dan bukan dikuasai peradaban dunia. Peradaban Indonesia masih jauh dari posisi untuk tidak larut, apalagi untuk dapat mewarnai peradaban dunia. Oleh karena itu, Indonesia perlu membangun peradaban baru.
Semangat kebangsaan merupakan kunci untuk membangun peradaban baru bangsa. Semangat itulah yang melahirkan sikap dan perilaku serempak bangsa dalam berhadapan dengan bangsa-bangsa lain. Jepang punya semangat Bushido yang terjaga oleh kekaisaran. Ketika Kaisar menyatakan ‘beras Jepang yang terenak dan terbaik’, seluruh bangsa Jepang serempak menjadikan beras Jepang memang beras terenak dan terbaik, serta tak akan menyentuh beras asing sekalipun harganya jauh lebih murah. Amerika Serikat juga punya American Dream yang menempatkan bangsa dan negaranya sendiri sebagai pemimpin dunia. Sebuah ‘mimpi’ yang terbukti mampu membuat seluruh bangsa Amerika bergerak serempak untuk memimpin dunia. China menempuh jalan yang berbeda. Mao Zedong menggunakan komunisme untuk membongkar sistem feodal masyarakatnya untuk dapat membangun China baru.
Indonesia harus menemukan jalannya sendiri untuk bangkit dan menjadi bangsa maju. Untuk itu, bangsa ini perlu segera membangun peradaban baru yang sesuai dengan kebutuhan masa depan, yang membuat masyarakatnya aktif, dinamis, serta berdaya saing tinggi dalam berhadapan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Budaya lama warisan budaya feodal yang membuat masyarakat pasrah, memandang rendah urusan materi, serta puas mengekor para pemimpinnya, tidak lagi dapat diandalkan. Sebaliknya, budaya sekarang sebagai budaya pancaroba yang materialistis, konsumtif, dan mementingkan atribut dibanding substansi, juga bukan pilihan budaya yang tepat. Indonesia memerlukan budaya baru yang didasarkan pada nilai-nilai idealistik, yang dapat menghubungkan kepentingan mewujudkan harmoni serta kepentingan materi sekaligus.
Untuk dapat melangkah maju tersebut, jalan Jepang bukan pilihan tepat bangsa ini karena Indonesia bukan bangsa homogen dan tidak dipersatukan oleh nilai-nilai budaya tunggal yang berakar panjang dalam sejarahnya. Meskipun sama-sama terbangun oleh masyarakat yang beragam, Indonesia bukan pula Amerika yang dibangun oleh kesamaan nilai para imigran yang mematikan nilai-nilai budaya asli. Keragaman Indonesia terbangun oleh budaya yang mayoritas memang berakar di bumi pertiwi ini, dan bukan oleh pendatang. Bukan pula jalan China yang dapat ditempuh Indonesia karena gerak bangsa ini tak akan pernah diserempakkan berdasar penyeragaman yang mengorbankan kalangan minoritas. Peradaban baru Indonesia justru harus dibangun atas kesadaran kebhinekaan Indonesia seperti yang telah ditunjukkan para pendiri bangsa.
Kesadaran kebhinekaan Indonesia selalu ada dalam setiap kelompok masyarakat. Semua yang berkesadaran kebhinekaan itulah yang dapat membangun Indonesia menuju hari depan lebih baik. Mereka adalah sosok-sosok jernih yang kritis terhadap realitas yang berkembang sekaligus bersikap positif untuk terus mencari jalan keluar persoalan bangsa. Mereka tidak mengorbankan nilai-nilai ideal yang diyakininya demi kepentingan pribadi. Namun mereka akan selalu berbuat untuk kebaikan bersama. Mereka ada di mana saja, bisa di kalangan birokrasi, militer, politisi, pengusaha, pedagang kaki lima, petani, nelayan, buruh, pekerja angkutan, artis, guru, tokoh agama atau siapapun. Mereka bisa berasal dari suku apa saja, agama apapun, juga dari kelompok kepentingan apapun. Mereka itulah para ‘Simpul Kesadaran’ bangsa, yang perlu dipertautkan dalam jejaring untuk dapat membangun peradaban baru Indonesia.
Untuk membangun peradaban baru Indonesia, para ‘Simpul Kesadaran’ perlu menggali nilai-nilai budaya lokal di lingkungan masing-masing. Nilai-nilai budaya yang relevan dengan tuntutan peradaban masa depan harus dibangkitkan dan diperkuat. Sebaliknya nilai budaya yang sudah tidak relevan seperti budaya feodal, takhayul, serta mistis perlu segera ditempatkan sebagai bagian dari sejarah. Nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan kebutuhan masa depan itulah yang harus dipertemukan, dan bila perlu dibenturkan satu sama lain, bahkan juga dengan sisi positif budaya global yang mengalir deras ke seluruh pelosok negeri ini. Pertautan antar nilai budaya, baik lokal maupun global tersebut akan melahirkan sintesa budaya yang dapat menjadi pijakan kokoh bagi peradaban baru Indonesia.
Memang bukan pekerjaan mudah bagi jejaring ‘Simpul Kesadaran’ untuk membangun sintesa budaya dan terus mengawalnya agar terbentuk peradaban baru. Bukan hal mudah bagi para ‘Simpul Kesadaran’ untuk mengajak orang-orang sekitarnya, yang masih larut dalam kepentingannya sendiri, untuk bersama-sama membangun keberadaban baru di lingkungan masing-masing. Baik keberadaban baru dalam politik, bitrokrasi, dan hukum; keberadaban baru masyarakat Jawa, Papua, hingga keturunan Tionghoa; juga keberadaban baru komunitas agama serta adat. Tetapi dengan segala tantangannya hal tersebut harus dilakukan, dan memang mungkin dilakukan.
Keterpaduan aspek jiwa serta profesionalitas diperlukan sebagai pilar utuhnya bangunan peradaban baru Indonesia, sebagaimana utuhnya keterpaduan “Otak Kanan” dan “Otak Kiri” dalam kehidupan. Jiwa menjadi seperti api yang akan terus mengobarkan semangat kebaikan dalam berbangsa dan bernegara apapun kesulitan yang menghadang. Adapun profesionalitas yang mengandung nilai-nilai kompetensi, integritas, serta kapasitas manajemen akan memastikan bahwa setiap langkah bangsa di masa depan akan selalu dapat dipertanggungjawabkan menurut ukuran apapun, termasuk ukuran-ukuran universal. Kesatuan jiwa dan profesionalitas itu perlu mewarnai seluruh proses berbangsa dan bernegara, baik dalam pengelolaan negara maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain kuat dalam jiwa dan profesionalitas, peradaban baru Indonesia tentu harus pula memiliki orientasi global, teknologi, dan keriwausahaan yang kuat. Pembekalan orientasi global akan membantu para Tenaga Kerja Indonesia sebagai ‘pahlawan devisa bangsa’ untuk lebih mampu bersaing dengan para pekerja bangsa lain dalam pasar tenaga kerja menengah bahkan atas. Orientasi global akan menjadikan putra-putra bangsa bukan cuma ‘jago kandang’ melainkan juga akan siap menjelajah luasnya dunia. Teknologi menjadi keharusan untuk dikuasai agar dapat tegak di antara bangsa-bangsa besar dunia. Sedangkan kewirausahaan bukan saja mendinamiskan, melainkan juga akan mengantarkan bangsa pada kemakmuran.
Untuk membangun peradaban baru tersebut, pendidikan merupakan jalan utama untuk menyebarkan nilai-nilai penopang peradaban baru Indonesia. Keteladanan para ‘Simpul Kesadaran’ untuk membebaskan lingkungan kepemimpinan masing-masing dari pengaruh budaya lama yang feodal maupun dari budaya pancaroba sekarang yang materialistis merupakan proses pendidikan terbaik bagi publik. Apalagi bila ditopang dengan pengembangan sistem yang memperkuat profesionalitas masyarakat. Pengembangan wilayah dan penataan kota sehingga teratur, bersih, serta manusiawi juga merupakan sarana pendidikan publik yang efektif untuk membangun peradaban baru. Lee Kuan Yew mengawali pembangunan Singapura dengan mengembangkan komplek perumahan moderen pada tahun 1964, Langkahnya tersebut bukan hanya membuat Singapura maju secara fisik, namun juga berpengaruh pada sikap dan perilaku masyarakatnya sekarang.
Sebagai bagian pembelajaran untuk mengadopsi nilai-nilai peradaban baru, seremoni dan acara publik penting untuk direvitalisasi. Upacara dan acara pemerintah yang kaku dan mekanisitis yang terwarisi dari budaya birokrasi feodal sudah saatnya lebih dicairkan agar efektif buat menyampaikan pesan yang diharapkan. Tak sedikit acara adat yang perlu disegarkan agar menjadi keriaan yang dapat membangkitkan semangat masyarakat serta terbebas dari simbol-simbol mistis yang mengada-ada dan membodohkan masyarakat Spiritualitas yang kuat yang dapat menjadi pijakan bangsa selalu spiritualitas`yang didasarkan atas kesadaran rasional, seperti Bushido di Jepang. Bukan spiritualitas yang berlandaskaan pada mistis. Maka bela diri bangsa-bangsa seperti Jepang dan Korea juga lebih bertumpu pada kekuatan jiwa, dan tak dihubung-hubungkan dengan mistis seperti umumnya bela diri bangsa ini.
Pengajaran agama juga memiliki arti penting untuk membangun peradaban baru Indonesia. Seperti seruan Bung Karno agar umat mengambil ‘api’ dan bukan ‘abu’ agama, pengajaran agama harus mampu memerdekakan jiwa dan membangkitkan etos bangsa. Adapun pembangunan peradaban baru yang perlu ditempuh melalui pendidikan formal adalah pengembangan keteladanan guru, pembiasaan perilaku baik oleh lingkungan sekolah, serta pengajaran yang bermuatan keterampilan hidup (life skills). Pengajaran tentang keterampilan hidup di sekolah terbukti membuat masyarakat lebih mampu mengelola kesehatan diri, pandai mengelola ekonomi keluarga, serta efektif dalam berkomunikasi dan negosiasi.
Pembangunan peradaban baru yang diperlukan Indonesia untuk maju juga tak boleh terlepas dari pondasi yang telah dibangun para pendiri bangsa serta pemimpin terdahulu. Presiden Soekarno telah berjasa membangun rumah peradaban baru tersebut dalam bentuk Pancasila yang mempersatukan kebhinekaan bangsa. Presiden Soeharto berjasa mengamankan rumah Pancasila itu dari kehancuran agar Indonesia dapat membangun. Hanya karena kesalahan politiknya, jasa itu menjadi terabaikan dan Pancasila tidak lagi dihargai secara semestinya oleh bangsa. Indonesia era baru harus mampu membangkitkan kembali Pancasila dan mendinamiskannya agar bangsa dapat mewujudkan kemakmuran yang didambakan masyarakat.
Akhirnya, upaya besar membantu Indonesia keluar dari jebakan keadaan sekarang dan menjadikannya berjaya akan sulit diwujudkan tanpa ketulusan serta tekad semua. Terutama ketulusan dan tekad para ‘Simpul Kesadaran’ yang mensintesakan budaya penopang peradaban baru Indonesia. Sebuah peradaban yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang berjaya, bermartabat, serta memakmurkan seluruh masyarakat.

PILAR KESADARAN KUNCI SUKSES MEMBANGUN PERADABAN INDONESIA MENDATANG
Belakangan ini di Indonesia ada kecenderungan banyak orang mengatakan bahwa kondisi masyarakat kita akan membaik jika pendidikan agama di sekolah ditingkatkan. (Mungkin dengan penambahan jam belajar agama? Entahlah.) Belum lagi mulai bermunculan peraturan-peraturan yang berlatar belakang agama tertentu. harapannya tentu saja supaya kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Pengetahuan agama diharapkan bisa menimbulkan perubahan positif.
Menurut saya, tidak cukup jika kita hanya mengetahui ini buruk dan itu baik. Di sinilah peran penting adalah kesadaran. Jarang ada yang menyadari bahwa ada jeda yang sangat besar antara mengetahui, memahami, menghayati, sampai melaksanakan suatu hal. Untuk menjembatani “mengetahui” sampai “melaksanakan” dibutuhkan kesadaran. Mengajarkan pengetahuan agama itu lebih mudah daripada mengajarkan kesadaran. Kesadaran berarti kita bangun dan bergerak, bukan sekadar menggenggam suatu pengetahuan (agama, ideologi, prinsip, dll).
Kesadaran adalah menggerakan seluruh tubuh, jiwa, dan pikiranmu untuk menghindari hal yang buruk dan berusaha sekuat tenaga melakukan hal yang baik. Kesadaran ini bisa dimulai dengan hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, makan makanan bergizi yang lebih menyehatkan badan, dll. Awalnya adalah mengubah diri menjadi lebih baik, barulah setelah itu kita bisa mengubah hal-hal di sekitar kita–mengubah masyarakat, mengubah dunia. Untuk bisa mengubah diri berarti kita perlu mengenal betul gerak batin dan isi pikiran kita dari saat ke saat. Tanpa kesadaran, sulit terjadi perubahan positif yang sifatnya permanen.
Ada empat pilar wujud kesadaran yang harus disadari oleh umat Islam khususnya, yaitu:
1. KESADARAN WUJUD (Kesadaran Enlightenment). Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Kehadirannya di dunia senantiasa memberikan makna bagi setiap realitas kehidupan (the acquisition of new wisdom or understanding enabling clarity of perception). Manusia tidak hanya terkungkung dalam label agama, golongan, etnik, dan strata sosial. Manusia yang memiliki kesadaran wujud akan berposisi sebagai Pencerah, yaitu memberikan pencerahan atau brightening, sebagai juga fungsi cahaya, memberi kemilau bagi segala sesuatu sehingga ia bermakna.
2. KESADARAN PRIVAT (Kesadaran Equality). Efek pencerahan adalah perubahan substansial dalam diri seseorang yang ditandai dengan Equality, yaitu sebuah kesadaran eksistensial bahwa hakikat setiap makhluk adalah setara sejak keberadaannya dalam kehidupan agama dan sosial yang kemudian meluas ke equality of outcome, equality of opportunity, equality of treatment, equality before the law, racial equality, sexual equality, dan social equality. Sikap terbuka ini tidak saja pupusnya hambatan psikologis dan ewuh pakewuh untuk bertransformasi dan passing over ke wilayah kebenaran lain yang berbeda simbol dan lakunya.
3. KESADARAN PUBLIK (Kesadaran Pluralisme). Kesadaran kosmik dan individual akan berlanjut pada kesadaran Pluralism, bahwa there are several conflicting but still true descriptions of the world. Karena hakikatnya realitas yang diperebutkan adalah Realitas yang tidak bisa dijangkau oleh semua makhluk. Pluralisma adalah jejak untuk bekerjasama dengan semua kalangan “yang berbeda” dengan keyakinan bahwa “selalu ada sama”.
4. KESADARAN SISTEM (Kesadaran Welfare). Kesadaran manusia akan WUJUD dirinya, PRIVAT pribadinya, dan kesadaran adanya kebersamaan PUBLIK, pada akhirnya akan meniscayakan munculnya rahmat dan berkah bagi semesta (manusia, alam dan lingkungan), sehingga melahirkan kesejahteraan (Welfare) yaitu the well-being or quality of life yang tidak saja ditentukan oleh banyak faktor sosial dan ekonomi, melainkan juga terbukanya keran kebebasan, kebahagiaan, apresiasi seni, pendidikan, dan kesehatan lingkungan. Pada kesadaran SISTEM ini tidak boleh ada satu pun bagian dari alam semesta ini yang disia-siakan, dimiskinkan, dan dilupakan saat sebagian yang lain dimuliakan, dikayakan dan diingat.
Implementasi kesadaran manusia ketika dihadapkan pada upaya menyelesaikan masalah, akan melahirkan empat proses kesadaran terhadap Tuhan Allah SWT yang disebut sebagai KESADARAN RELIGI. Keempat kesadaran religi tersebut adalah: kesadaran magis, kesadaran naïf, kesadaran kritis dan kesadaran profetis.
Kesadaran Magis. Dalam pandangan kesadaran magis, untuk menganalisis permasalahan yang terjadai dengan pendekatan yang bersifat metafisika dan abstrak. Misalkan permasalahan kemiskinan umat pada hakekatnya merupakan ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu apa arti dan hikmah dibalik ketentuan tersebut. Mahluk, tidak tau tentang gambaran dari skenario besar Tuhan, dari perjalanan panjang umat manusia.kemiskinan merupakan ujian dan cobaan Tuhan terhadap keimanan, dan kita tidak tahu manfaat dan keburukannya. Akar teologi dari konsep ini berstandar pada sikap predeterminisme (takdir), merupakan ketentuan dan rencana Tuhan sebelum jauh terciptanya alam. Sikap manusia tidak memiliki free will untuk menciptakan sejarah sendiri, meskipun manusia berusaha maka Tuhan yang menentukan. Kesadaran magis ini mayoritas dimiliki oleh masyarakat tradisonal yang hidup di pedesaan dan agamawan yang lebih bercorak tasawuf.
Kesadaran Naif. Pandangan kesadaran naïf merupakan perkembangan dari kesadaran magis. Pada taraf kesadaran ini diarahkan pada individu, tidak mengarah pada hal yang metafisika dalam menganalisis sebuah persolan. Kesadaran naïf tidak dapat melihat suatu permasalahan secara makro, sehingga idak dapat mengurai sebab-sebab dan keterkaitan antara satu permasalahan yang satu dengan yang lain. Misalkan pada taraf kesadaran naïf ketika dihadapkan dengan fenomena globalisasi dan kemiskinan, maka menurutnya merupakan kesalahn yang terjadi pada mereka dikarenakan dari sikap mental, budaya atapun teologi mereka. Menilai kemiskinan tidak memiliki korelasi atau keterkaitan dengan masalah globalisasi ataupun paham neoliberalisme. Dalam rangka agar tidak menyebabkan kemiskinan maka yang dilakukan dengan menyiapkan SDM yang mampu bersaing dengan pasar, dan penafsiran pemahaman kegamaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kesadaran ini biasanya dimiliki oleh kalangan modernis yang dalam karakter pemikirannya dalam ilmu sosial lebih bercorak developmentalism. Bagi kaum ini dalam memandang kemiskinan dan proses marginalisasi akibat globalsiasi dan neoliberalisme lebih menyalahkan korbannya. Kesadaran ini yang dikatakan oleh disebut dengan kesadaran intransitive naïf, kesadaran ini memiliki kerawanan, terhadap bahaya yang menurut Freire inheren dengan gerakan politis dan manipulatif. Kesadran ini hanya mencari solusi yang sederhana dan beranggapan bahwa mereka lebih dibandingkan dengan fakta dan sejarah keduanya mudah menerima mitos manipulatif yang dirumuskan golongan elit untuk mempertahankan penindasan. Kesadaran naïf manusia menyesuaikan dengan lingkungan atau dunianya.
Kesadaran Kritis. Selanjutnya adalah bentuk kesadaran kritis, pada taraf kesadaran ini, individu mampu melakukan analisis terhadap suatu permasalahan yang terjadi secara holistis dan makro, sehingga dapat menguraikan sebab-akibat dari suatu permasalan. Penguraian tersebut ia dapat memandang kelompok mana yang diuntungkan serta kelompok mana yang dirugikan. Kesadaran kritis yang dimiliki oleh manusia ia dapat menganggap sebagai subjek, yang tidak hanya mencari solusi sederhana tetapi juga berisiko tidak memanusiakan dirinya. Kemampuan dalam kesadaran kritis sebagai subjek dapat paham dan analisis hubungan kausal manusia menemukan diri mereka berada dalam situasi. Kesadaran ini, muncul akibat suatu kombinasi dari refleksi dan tindakan praktis yang otentik. Kesadaran kritis ini mengarahkan manusia pada proses pembebasan manusia dari proses penindasan, sehingga menjadi manusia yang merdeka bebas ari penindasan. Kesadaran kritis ini bersifat trnasformatif dikarenakan ia berusaha untuk melakukan perubahan yang terjadi direalitas dan untuk merubah sejarah yang terjadi, bukannya sejalan dengan sejarah.
Kesadaran kritis yang dimiliki oleh individu dalam melihat permasalahan kemiskinan dan globalisasi maka memberikan pemahaman yang berbeda dengan kedua sebelumnya yakni magis, dan naïf. Menurut kesadaran kritis yang menyebabkan kemiskinan disebabkan oleh ketidak adilan system, struktur ekonomi, politik dan kultur yang tidak adil. Ini merupakan proses panjang dalam penciptaan struktur ekonomi yang eksploitatif, politik dan adanya system dominan serta hegemoni. Globalisasi merupakan perpanjangan dari kapitalisme yang menjadi penyebab kemiskinan, memarginalkan dan mengalienasi masyarakat. Globalisasi merupakan ancama bagi kaum miskin dan globalisasi lebh memihak pada lembaga internasional untuk mengeruk modal berskala internasional, mengahancurkan lingkungan hidup, dan segenap social budaya setempat. Globalisasi juga merupakan suatu agenda uantuk memeskinkan secara structural. (Mansour Fakih, Islam sebagai Alternative). Dengan pembacaan yang diakukan oleh kesadaran kritis tersebut menjadikan, manusia tersebut membaca realitas makro dan dikontekskan pada sikap serta langkah yang kan diambil guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi selama ini. Kesadran ini akan membawa manusia pada penyelesaian agar tidak mengalami ketertindasan dan membuat struktur yang lebih adil dan upaya yang dilakukan dan difikirnya adalah bagaimana cara melkukan transformasi. Transformasi dalam kesadaran kritis ini mengarahkan bagaimana tercipta struktur dan system yang adil sehingga tidak adanya penindasan dan tercapainya masyarakat yang berkeadilan.
Kesadaran Profetik. Kesadaran profetik merupakan suatu kesadaran yang dimiliki oleh agama dalam rangka melakukan transformasi social pada satu tujuan tertentu berdasarkan etika tertentu pula. Sebagaimana kesadaran dalam Islam merupakan suatu bentuk kesadaran yang dimiliki manusia dari Tuhan untuk menentukan dan merubah sejarah, bukan manusia yang ditentukan oleh sejarah. Islam memandang kesadarannya merupakan kesadaran immaterial menentukan material, dengan maksud bahwa iman sebagai basis kesadaran menentukan struktur. Kesadaran dalam Islam merupakan bersifat independensi tidak pengaruhi oleh struktur, basis social, dan kondisi material. Yang menentuklan kesadaran bukanlah individu, seperti dalam kesadaran kritis, dimana menjadikan individu bersikap aktif dalam menentukan jalannya sejarah. Kesadaran kritis yang ditentukan oleh individu ini dapat terjatuh dalam pahan eksistensialisme dan iondividualism. Sedangkan kesadaran profetis, bahwa yang menentukan bentuk kesadaran merupakan Tuhan, dan ketentuan kesadaran ini untuk menebarkan asrma atau nama Tuhan didunia sehingga rahmat diperoleh manusia, dan bentuk kesadaran ini merupakan kesadaran Ilahiah untuk merubah sejarah. Kesadaran yang dimiliki oleh Islam merupakan kesadaran Ilahiah dan menjadi ruh untuk melakukan transformasi.
Pada taraf kesadaran ini manusia mampu menganalisa permasalahan secara makro dan dapat mengambil kesimpulan secara mikro atapun makro yang terjadi. Ia dapat melakukan pemetaan terhadap suatu permasalahan dan penganalisaan kelompok-kelonpok yang berkepentingan dan kelempok yang dirugikan serta kelompok yang diuntuingkan dalam permaslahan tersebut. Dengan melakukan pemetaan dan pengalisaan tersebut, juga ada etika yang mengarahkannya sehingga transformasi yang dilakukan berdasarkan etika tertentu sehingga perubahannya bukan saja membebaskan dari ketidak adilan tetapi juga ada yang mengarahkannya. Bentuk arahan dari transformasi yang diinginkan adalah tercitanya masyarakat yang berkeadilan tanpa penindasan didasarkan pada Tuhan. Kesadaran profetis ini merupakan suatu kesadaran yang dilakukan oleh manusia berdasarkan etika profetis dan memiliki peran untuk merubah atau menentukan jalannya sejarah peradaban manusia.
Etika profetik merupakan suatu teori moral tentang nabi, atau etika yang didasarkan pada nabi. Nabi dalam memperoleh pengetahuan merupakan proses kreasi nabi dalam melakukan hubungan langsung dengan Pencipta dan hasil refleksi terhadap realitas sosial yang dihadapi pada waktu itu. Refleksi yang dilakukan oleh nabi memperoleh pemecahan masalah dari problem sosial yang dihadapinya. Etika profetis didasarkan pada wuhyu dari Tuhan bukan semata-mata dengan menggunakan rasional sehingga terjatuh dalam etika rasional semata, yang memunculkan etika hedonism, utilitarian, dan deontologist. Etika profetis juga bukan saja didasarkan pada wahyu tanpa menggunakan analisis dalam memandang kebenaran dan kebaikan, sehingga tak terjatuh pada etis dogmatis. Etis profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan pemberian kesadaran dari Tuhan untuk melakukan transfomasi social guna menciptakan masyarakat yang telah diidealkan. Etika profetis dalam pengertian ini merupakan suatu bentuk kesadaran yang didasarkan pada nilai-nilai Ilahiah, dalam rangka menjalankan proses kehidupan. Etika profetis yang diinterpretasi oleh ikatan merupakan derifasi dari surat al Imran ayat 110.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِِ .ال عمران:١١٠
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.
Etis profetis ikatan merupakan upaya ikatan dalam menjadikan orientasi dalam menjalankan proses kehidupan dan juga memiliki cita-cita kehidupan yang akan datang, guna menciptakan yang lebih baik. Etis profetis ikatan merupakan usaha aktif dalam merubah dan menentukan sejarah peradaban sehingga yang tumbuh merupakan sejarah kemanusiaan bukan ketidak adilan ataupun sejarah yang bersifat material (materialism histories). Derivasi dari surat ini, menjadikan suatu bentuk kesadaran yang dilakukan oleh ikatan, baik secara kolektif atapun secara individu sebagai ruh atau semangat dalam melakukan transformasi guna menciptakan khoirul ummah. Sikap dan kerja keras ikatan dalam menentukan sejarah ini merupakan suatu bentuk kesadaran sejarah ikatan. Etika profetis ikatan merupakan tiga ranah yang harus dilakukan sebagai proses tumbuhnya kesadaran profetis, sebagai interpretasi terhadap suarat al Imran ayat 110.
Ayat tersebut di atas mengandu tiga unsur indikator Etika Profetis yang harus dipedomani oleh umat Islam dalam membangun peradaban di masa mendatang. Ketiga indikator tersebut adalah: (1) Konsep umat yang terbaik, (2) Pentingnya kesadaran dan kesadaran sejarah (3) Konsep profetis yakni; ta’murûna bil ma’rûf (menyeru kepada kebaikan/ma’ruf), tanhauna ‘anil munkar (mencegah kemungkaran) dan tu’minûna billâh (beriman kepada Allah). Ketiga interpretasi ini merupakan suatu bentuk etika yang dimiliki oleh ikatan dalam rangka menjalankan proses kehidupan, baik dengan sesama manusia, dengan Tuhan sebagai pencipta, dengan alam, dan manusia sebagai pengganti Tuhan di dunia, dikarenakan dengan etika merupakan eksistensi manusia dapat dipenuhi. Etika dalam konsep merupakan suatu yang fundamental dikarenakan menjadi suatu dasar dalam bergerak, serta menjadi paradigma dan orientasi kehidupan yang akan dilalui oleh manusia. Begitu juga, dengan etis profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan dasar dari yang dilakukan oleh kader ikatan atapun gerakan kolektif ikatan. Etika profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan bentuk kesadaran yang diberikan Tuhan dalam rangka aktivisme sejarah dan mengarahkan transformasi guna tercipta khoirul ummah, mengarahkan semakin dekatnya manusia sama Tuhan (sumber keabadian).
Jika hal itu dilakukan, maka umat Islam akan menjadi imam peradaban di masa mendatang, karena umat Islam adalah umat terbaik pilihan Tuhan. Ummat yang terbaik bukanlah semata-mata merupakan pemberian atau hadiah dari Tuhan, tetapi harus diraih dengan kerja keras yang dilakukan oleh manusia dalam rangka mewujudkannya. Konsep umat yang terbaik dari Islam berbeda dengan konsep yang telah dimiliki oleh umat Yudaisme, sebuiah mandate kosong yang menyebabkan rasialisme. Tetapi konsep umat yang terbaik bagi Islam merupakan tantangan dalam akivisme sejarah peradaban dan menciptakan suatu tatanan masyarakat yang diidealkan. Konsep umat terbaik merupakan proses (becoming) setiap individu atapun kader ikatan dalam rangka menciptakan suatu masyarakat yang telah diidealkan bersama. Konsep tatanan yang diinginkan oleh ikatan ini menjadikan ikatan secara kolektif dan secara individu berusaha melakukan aktivisme sejarah peradaban, dan melakukan transformasi untuk mewujudkan masyarakat yang tercipta keadilan dan kedamaian dalam rangka menuju pada Tuhan. Ikatan dalam memahami umat terbaik merupakan invidu atau kolektif yang melakukan aktivisme sejarah dalam hal transformasi guna menciptakan sesuatu yang telah diidealkan. Pemahaman ideal dalam ikatan merupakan jawaban ikatan terhadap permasalahan yang elah terjadai dan bagaiman ikatan menyelesaikan. Masyarakat yang telah diinginkan merupakan suatu konsep masyarakat yang didasarkan pada ilmu, terciptanya struktur yang adil, memihak kepada golongan lemah, dan menuju pada keabadian yakni Tuhan. Masyarakat tersebut merupakan becoming ikatan secara individu atapun kolektif ikatan dalam mewujudkannya. Konsep masyarakat yang dilakukan oleh aikatan menjadikan ikatan dalam gerak dan langkahnya merupakan perwujudan dari cita-cita kolektif bersama dalam menghadapi persolan yang terjadi selama ini.
Berdasarkan uraian di atas, berarti ada beberapa kesadaran yang harus dimiliki umat Islam ketika bekehendak menguasai peradaban dunia di masa mendatang, yaitu: empat kesadaran umum (kesadaran wujud, kesadaran privat, kesadaran publik, kesadaran system) dan empat kesadaran ilahiyah (kesadaran magis, kesadaran naif, kesadaran kritis, kesadaran profetis).
Jadi, Kesadaran Ilahiyah inilah sesungguhnya yang akan menjadi daya dorong (driving forces) bagi umat Islam untuk menguasai peradaban dunia di masa mendatang. Bukan kesadaran yang ditentukan oleh individu. Sebab, jika kesadaran ditentukan oleh individu maka yang terjadi proses individualism, eksistensilalism, liberalism, dan capitalism. Kesadaran yang diinginkan oleh Islam merupakan pemberian dari Tuhan yakni iman yang dapat membuat atau menentukan struktur sosial, budaya dan kondisi material yang terjadi dalam masyarakat. Kesadaran yang menentukan Tuhan ini menjadikan bentuk kesadaran yang timbul merupkan kesadaran Ilahiyah dan bagaimana nilai-nilai Ilahiyah ini agar tertanam dalam bumi agar tercipta khairul ummah. Kesadaran Ilahiyah ini yang menjadi konsep kesadaran bagai ikatan baik secara individu ataupun ikatan secara otomaticaly menghilangkan konsep kesadaran yang didasarkan pada individu dan juga bentuk kesadaran yang bercorak sekulerisme. Kesadaran ini bercorak intergralistik, dikarenakan manusia sebagai penerima bentuk keasadaran dari Tuhan dan dalam segala aktivitasnya akan diserahkan kembali kepada Tuhan. Kesadaran Ilahiyah merupakan konsep ikatan menghadapi realitas sosial yang terjadi, dengan kesadaran ini, maka cara pandang ikatan berangkat dari teks ke konteks, bukanya dari konteks ke teks. Dengan kata lain, Kesadaran Ilahiyah sesungguhnya adalah paduan integrasi antara Kesadaran Profertis dengan Kesadaran Sejarah, alias kesadarn teks ke konteks dalam kerangka menyelesaikan masalah.
Teknik dari pengintegrasian kedua kesadaran tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara seperti yang pernah dilakukan para nabi, yaitu:
1. Ta’murûna bil ma’rûf (menyeru kepada kebaikan/ma’ruf) sebagai bentuk Humanisasi;
2. Tanhauna ‘anil munkar (mencegah kemungkaran) sebagai bentuk Liberasi; dan
3. Tu’minûna billâh (beriman kepada Allah) sebagai bentuk Transendensi.
Humanisasi, humanisasi merupakan proses pemanusian manusia kembali. Humanisasi dalam Islam merupakan suatu kritik dari humanisme yang berada di barat yang menyebabkan perkembangan teknologi. Tetapi, dalam pelaksanaannya teknologi yang digunakan untuk memudahkan manusia, tetapi dalam pelaksanaannya malahan terjadinya dehumanisasi akibat dari kemajuan dan teknologi tersebut. Humanisme yang berlaku di barat merupakan bentuk humanisme atrposentris yang berpusat pada manusia, sedangkan Humanisme dalam Islam dikenal humanisme teoantroposentris yang berpusat pada Tuhan demi memuliakan manusia. Humanisasi yang dinginkan dalam teo antroposentris merupakan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Humanisme ini merupakan bentuk humanisme yang didasarkan pada ajaran agama dan mengembalikan posisi manusia yang sebenar-benarnya, sebagai mahluk Tuhan dan sebagai mahluk yang lain seperti mahluk sosial, atapun sebagai mahluk yang lain.
Liberasi, merupakan proses pembebasan dalam segala hal. Pembesan yang dimaksudkan disini merupakan pembebasan dari segala hal yang mengungkung kebebasan manusia dalam segala bentuknya baik materi atapun yang lain. Semangat pembebasan jika mau dilihat juga ada dalam pemaknaan syahadat. Syahadat disini mengandung dua macam pemebebasan yang tertera; pertama, pemebasan yang bersifat vertikal; kedua pembebasan yang bersifat horizontal. Pembebasan yang bersifat vertikal ini merupakan pembebasan dari berbagai macam pemahaman ketuhanan menuju pada ketuhanan yang Esa. Ketuhanan yang Esa merupakan pemahaman Tuhan yang independent. Pembebasan dari pemahaman antriposentris tentang Tuhan sehingga menjadi pemahan Tuhan yang tertukung pada manusia. Kedua, bentuk pembebasan dalam perspektif horizontal. Pembebasan ini dapat dilihat dari latar belakang munculnya Islam merupakan pengktritisan dari segala macam bentuk penindasan yang terjadi pada waktu itu. Hal ini dapat dilihat dalam sejarahnya bahwa pemahanan jahiliah pada masa itu yang tak menghargai perempuan dengan datangnya Islam maka posisi perempuan mendapatkan kehormatan, dan berbagai jenis pembebasan yang lain. Semangat pembebasan yang dimiliki oleh Islam membawa pada proses terciptanya keadilan dan pemerataan. Islam datang untuk merubah struktur dan system yang menindas menjadi system yang berfihak kepada kemanusiaan dan keadilan. Semangat liberasi untuk konteks sekarang membebaskan semua bentuk system yang ada baik dalam system ekonomi. Pembebasan dalam system ekonomi terciptanya ekonomi yang memihak pada rakyat miskin bukan pada pemodal dan golongan tertentu dan tercipnya keadilan ekonomi. Selanjutnya pembebasan dalam system politik dengan terciptanya demokrasi yang melindungi kepentingan rakyat dan tatatanan kenegaraan yang adil guna membela orang yang termarginalkan dan orang miskin dalam proses kemanusiaan. Tujuan utama dari liberasi dalam hal ini merupakan terbentunya struktur dan system yang adil memihak kepada orang miskin dan kemanusiaan. Bentuk liberasi yang dilakukan dalam segala hal dan ranah dimana terjadinya penindasan dan ketidak adilan. Bentuk liberasi yang dilakukan bukan hanya pada sitem dan struktur yang tidak adil juga sebuah system teknologi yang angkuh, dengan melihat manusia menjadi reduksinistik.
Trasendensi, merupakan ruh dalam melakukan humanisasi dan liberasi. Hal ini dengan trasendensi menjadikan proses humansiasi, liberasi tersebut memiliki tujuan dan arahan yang jelas yakni membawa pada terwujudnya khairul ummah dalam rangka mendekatkan manusia dengan Tuhan yang abadi. Trasendensi merupakan semangat yang harus digunakan dalam bentuk transformasi yang dilakukan. Dengan transendensi maka ikatan baik secara individual dan secara kolektif dalam melakukan transformasi berjalan dengan sungguh-sungguh dan sebagai sarana ibadah kepada Tuhan, sehingga bentuk transformasi yang dilakukan ada yang mengarahkan dan memiliki tujuan yang jelas. Transformasi memiliki tujuan dan arahan yang jelas ini membawa ikatan melakukan kesadaran sejarah bagaimana menciptakan khoirul ummah tersebut. Dengan transendesi juga yang dilakukan menenamkan trasendental pada kebudayaan, dinama kebudayaan sekarang mengarah pada bentuk yang tidak sesuai dengan ajaran Islam seperti; hedonism, materialism, dan budaya dekaden. Dengan mngingatkan kembali pada dimensi transenden merupakan bagin dari fitrah kemanusiaan merupakan sarana merasakan kembali dunia sebagai rahmat Tuhan. hal ini menjadikan suasana ruang dan waktu manusia dapat bersentuhan langsung dengan Tuhan.

Bagikan Artikel ini ke Facebook