E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

PERANAN GURU DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN BERKOMPETEN

Dibaca: 1488 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Andi Nurhaedah lihat profil
pada tanggal: 2016-08-12 08:07:14 wib


PERANAN  GURU DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS  DAN BERKOMPETEN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak negara menunjukkan kuatnya hubungan antara pendidikan dengan tingkat perkembangan bangsa bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan sosial budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan adalah pendidikan yang merata, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menyadari peran strategis pendidikan tersebut, pemerintah Indonesia senantiasa mendukung ide yang menempatkan sektor pendidikan, khususnya pendidikan dasar, sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Bahkan dalam masa krisis ekonomi sekalipun, pendidikan tetap mendapatkan perhatian meskipun fokusnya dibatasi pada upaya penanggulangan dampak krisis ekonomi terhadap pendidikan.
Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam rangka pelaksanaan rencana strategis tersebut adalah guru. Guru adalah seseorang yang memegang bidang studi dan mentransfernya kepada anak didik dalam proses pendewasaan diri mereka menuju insan kamil yang diridhai Allah SWT serta dijadikan pedoman dalam menjalani hidup dan kehidupannya, sehingga selamat di dunia sampai akhirat.
Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat menentukan dalam membentuk wajah pendidikan di Indonesia. Ujung tombak dari semua kebijakan pendidikan adalah guru. Gurulah yang akan membentuk watak dan jiwa bangsa, sehingga baik dan buruknya bangsa ini sangat tergantung pada guru. Banyaknya kejahatan, pencurian, kerusuhan, pengangguran disebabkan oleh guru yang salah dalam menerapkan pendidikan. Demikian juga bangsa yang malas, kurang kreatif, kurang berani mengambil resiko, kurang inovatif, culas, berjiwa korup, sering menyalahkan orang lain, semua itu sangat ditentukan oleh peran guru.
Ketika profesi guru sudah menjadi pilihan, maka sebagai konsekuensinya setiap orang yang merasa dirinya telah menjadi seorang guru sudah seyogianya berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional. Dalam Pasal 2 PP No 74 Tahun 2008 telah dinyatakan secara tegas bahwa (setiap) guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Selanjutnya, dalam Pasal 3 ayat (1) dijelaskan bahwa kompetensi tersebut merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Adapun kompetensi yang dimaksudkan mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Sementara, mengenai keempat kompetensi tersebut dijabarkan lebih detil pada ayat (4) sampai ayat (8).
Selain mengacu pada empat kompetensi di atas, tingkat keprofesionalan seorang guru juga dapat dilihat dari aspek perannya yang multidimensional dalam kegiatan pembelajaran. Dalam buku bertajuk Menjadi Guru Profesional (2007), E. Mulyasa telah merinci 19 peran guru dalam kegiatan pembelajaran, yaitu sebagai (1) pendidik, (2) pengajar, (3) pembimbing, (4) pelatih, (5) penasihat, (6) pembaharu, (7) model dan teladan, (8) pribadi, (9) peneliti, (10) pendorong kreativitas, (11) pembangkit pandangan, (12) pekerja rutin, (13) pemindah kemah, (14) pembawa cerita, (15) aktor, (16) emansipator, (17) evaluator, (18) pengawet, dan (19) kulminator. Kelima belas peran tersebut sudah tentu tidak mungkin dapat dilakukan oleh seorang guru sekaligus dalam waktu bersamaan oleh karena setiap peran yang akan dilakukan memang sangat bergantung pada situasi dan kondisi pembelajaran yang menuntutnya.
Guru yang profesional tentu saja bukan guru yang bekerja sekadar menanggalkan kewajiban-kewajibannya atau cuma memperhatikan kelengkapan administratif semata, apalagi yang hanya berorientasi pada aspek materiil saja. Guru yang profesional akan selalu berupaya untuk bisa tampil prima sepanjang waktu dan kesempatan, bahkan ketika ia sedang berada di luar kelas atau lingkungan sekolah (sebagai salah satu pembuktian kompetensi sosialnya).
Dalam perspektif pendidikan masa depan, seorang guru yang profesional bahkan tidak cukup hanya dengan penguasaan empat kompetensi dan melakukan sembilan belas peran seperti yang telah dikemukakan Mulyasa di atas. Dewasa ini, kendati bukanlah suatu kewajiban, seorang guru yang profesional juga dituntut memiliki kemampuan ekstra sebagai seorang peneliti. Dengan demikian, posisi dan peran seorang guru yang profesional hampir tak ada bedanya lagi dengan kedudukan seorang dosen di perguruan tinggi. Akan tetapi, melihat kondisi guru-guru kita hingga dewasa ini, agaknya tingkat profesionalitas yang diharapkan masih merupakan harapan yang memerlukan proses cukup panjang untuk dapat mewujudkannya.
Bertolak dari kenyataan yang ada sekarang, kiranya para guru perlu mempertanyakan kembali apakah selama ini mereka sudah melakukan yang terbaik untuk dunia pendidikan yang digelutinya dan sekaligus telah menjadi danau kubangan hidupnya? Apakah mereka sudah berusaha mengimbangi apa yang telah diberikan negara dengan dedikasi yang tinggi pula terhadap masa depan negeri ini? Maka, ketika profesi guru sudah menjadi pilihan, sungguh tak adil rasanya kalau kita justru mengingkari jatidiri sebagai seorang guru dengan cara melakukan tindakan-tindakan yang tidak profesional.

Bagikan Artikel ini ke Facebook