E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

ILMU TAKHRIJ HADITS, CARA MENTAKHRIJ HADITS DAN ILMU SANAD

Dibaca: 3801 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Ridwan, S.Pd.I, MA lihat profil
pada tanggal: 2016-08-16 10:11:47 wib


ILMU TAKHRIJ HADITS,
CARA MENTAKHRIJ HADITS DAN ILMU SANAD
By: Ridwan, S.Pd.I, MA


Pendahuluan
Hadits Rasulullah Saw merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an bagi umat Islam. al-Hadits di kalangan Ulama Hadis sebagai berikut:
الحديث فى لغة: الجديد، ويجمع على أحاديث على خلاف القياس. اصطلاحا: ما أُضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير أو صفة.

Artinya: Hadits menurut bahasa adalah baru, kumpulan hadits-hadits atas perbedaan qiyas. Menurut istilah adalah apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Saw dari perkataan, atau perbuatan, atau taqrir, atau sifat.

Sedangkan Az-Zahabi menjelaskan bahwa al-Hadits lebih khusus dari al-Sunnah, yaitu:
فالحديث أقوال الرسول صلى الله عليه وسلم وتقريراته. والسنة أفعال الرسول وصفاته زيادة على أقواله وتقريراته.

Artinya: Al-Hadis adalah segala perkataan dan taqrirnya Rasulullah Saw. Sedangkan al-Sunnah adalah segala perbuatan dan sifat Rasulullah sebagai tambahan terhadap segala perkataa dan taqrirnya.

Adapun makna (pengertian) Taqrir itu sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah Guru besar ilmu Hadits dan Alquran di Universitas Al-Azhar Mesir, sebagai berikut:

ومعنى التقرير أن يفعل أحد من الصحابة فعلا أو يقول قولا أمام النبي صلعم ولا ينكره عليه. أو لا يكون أمامه ولكن يبلغه ويسكت عنه. فعدم إمكانه وسكوته تقرير له لأنه صلعم لا يُقر أمرا غير مشروع.
Artinya: Makna Taqrir bahwa seorang sahabat melakukan suatu perbuatan atau suatu perkataan di depan Nabi Saw dan tidak diingkari oleh Nabi Saw. Atau yang dilakukan tidak di hadapan Nabi Saw.

Hadits lebih sering disebutkan dengan Sunnah. Sunnah memiliki peranan yang penting dalam perundang-undangan Islam. Karena sunnah merupakan sumber hukum kedua, yang mau tidak mau seseorang tidak mungkin meninggalkan Sunnah ketika hendak menetapkan suatu hukum tertentu. Untuk itulah sebagai generasi yang telah jauh dari kehidupan para salafus saleh setidaknya kita memiliki kewajiban untuk mengenal kitab-kitab haditst secara baik, sehingga manakala ingin merujuk dalam melihat dalil-dalil haditst kita dapat melakukannya dengan baik, juga agar kita dapat memahami mana kitab-kitab haditst yang shahih, hasan maupun dhaif.
Disamping mengenal kitab-kitab haditst tersebut kita juga perlu mengetahui cara men-Takhrij haditst-haditst yang kemudian merujuk pada induk kitab-kitab haditst tersebut. Karena pada kenyataannya dimasyarakat banyak sekali haditst-haditst yang beredar ternyata tidak ada sumber otentiknya. Takhrij sangat dibutuhkan dalam ilmu haditst. Misalnya, seseorang menyatakan bahwa kalimat "....ahabbu al-adyan ila Allah, al-hanifiah as-samhah" (Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang toleran) merupakan suatu haditst. Namun pada matan (teks) haditst tersebut tidak dijelaskan sumbernya sehingga memberi kemungkinan bahwa kalimat tersebut merupakan potongan dari suatu haditst yang panjang. Melalui Takhrij dapat diketahui secara terperinci sumber haditst tersebut dan para perawi yang menghubungkan penulis kitab haditst tersebut dengan Rasulullah Saw. Penguasaan para Ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Namunn setelah berjalan beberapa priode tertentu. dan setelah berkembangnya karya-¬karya para Ulama dalam bidang fiqh, tafsir dan sejarah yang memuat hadits-hadits Nabi Saw. yang kadang-kadang tidak menyebutkan sumbernya, maka Ulama haditst terdorong untuk melakukan Takhrij terhadap karya-karya tersebut. Dan mereka menjelaskan serta menunjukkan sumber asli dari haditst-hdis yang ada, menjelaskan metodenya dan menetapkan kualitas hadits sesuai dengan statusnya. Pada saat itulah muncul kitab-kitab Takhrij.
Pembahasan
1. Pengertian Takhrij Hadits
Takhrij menurut bahasa adalah:
تخريج: مصدر الفعل خرَّج بمعنى أظهر وأبرز ، فالتخريج هو الإظهار والإبراز.

Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharraja ( خَرَّجَ ) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan.

Demikian juga kata al-ikhraj ( اْلإخْرَج ) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj ( المَخْرَج ) artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.
Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. Oleh karenanya menjelaskan status tingkatan hadits bukanlah sesuatu yang asasi didalam Takhrij, namun hanyalah sebagai penyempurnaan yang akan dijelaskan manakala diperlukan.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa hakikat dari takhrij al-hadits adalah: Penelusuran atau pencarian hadits pada berbagai kitab Hadits sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanadnya.

2. Sejarah Takhrij Hadits
Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syar’i. Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dla’if. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan “Kutub At-Takhrij” (buku-buku takhrij), yang diantaranya adalah :
• Takhrij Ahaadits Al-Muhadzdzab; karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi’I (wafat 548 H). Dan kitab Al-Muhadzdzab ini adalah kitab mengenai fiqih madzhab Asy-Syafi’I karya Abu Ishaq Asy-Syairazi.
• Takhrij Ahaadits Al-Mukhtashar Al-Kabir li Ibni Al-Hajib; karya Muhammad bin Ahmad Abdul-Hadi Al-Maqdisi (wafat 744 H).
• Nashbur-Rayah li Ahaadits Al-Hidyah li Al-Marghinani; karya Abdullah bin Yusuf Az-Zaila’I (wafat 762 H).
• Takhrij Ahaadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari; karya Al-Hafidh Az-Zaila’I juga. (Ibnu Hajar juga menulis takhrij untuk kitab ini dengan judul Al-Kafi Asy-Syaafi fii Takhrij Ahaadits Asy-Syaafi).
• Al-Badrul-Munir fii Takhrijil-Ahaadits wal-Atsar Al-Waqi’ah fisy-Syarhil-Kabir li Ar-Rafi’I; karya Umar bin ‘Ali bin Mulaqqin (wafat 804 H).
• Al-Mughni ‘an Hamlil-Asfaar fil-Asfaar fii Takhriji maa fil-Ihyaa’ minal-Akhbar; karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-‘Iraqi (wafat tahun 806 H).
• Takhrij Al-Ahaadits allati Yusyiiru ilaihat-Tirmidzi fii Kulli Baab; karya Al-Hafidh Al-‘Iraqi.
• At-Talkhiisul-Habiir fii Takhriji Ahaaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li Ar-Rafi’I; karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H).
• Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaaditsil-Hidayah; karya Al-Hafidh Ibnu Hajar.
• Tuhfatur-Rawi fii Takhriji Ahaaditsil-Baidlawi; karya ‘Abdurrauf Ali Al-Manawi (wafat 1031 H).

3. Tujuan dan Manfaat Takhrij Haditst
Menurut Abd al-Mahdi, yang menjadi tujuan dari Takhrij adalah: Menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut. Dengan demikian ada 2 hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu :
1. Untuk mengetahui sumber dari suatu hadits
2. Mengetahui kualitas dari suatu hadits, apakah dapat diterima atau di tolak.
Sedangkan manfaat takhrij banyak sekali, Abd al-Mahdi menyimpulkannya sebanyak dua puluh manfaat, yaitu
1. Memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal dari suatu hadits beserta ulama yang meriwayatkannya.
2. Menambah perbendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab hadits
3. Memperjelas keadaan sanad, sehingga dapat diketahui apakah Mungathi', Mu'dhal atau lainnya.
4. Memperjelas hukum hadits dengan banyaknya riwayatnya. Seperti kemungkinan akan didapatinya riwayat lain yang dapat mengangkat status dhaif kepada derajat yang lebih tinggi.
5. Mengetahui pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadits.
6. Memperjelas perawi hadits yang samar, karena dengan adanya takhrij dapat diketahui nama perawi sebenarnya secara lengkap.
7. Membedakan para perawi yang memiliki nama yang sama.
8. Dapat menafikan pemakaian "an" dalam periwayatan hadits oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain memakai kata yang jelas kebersambungan sanad-nya, maka periwayatan yang memakai "an" tadi akan tampak pula kebersambungan sanad-nya.
9. Dapat menghilang kan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.
10. Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena mungkin saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain, maka nama perawi itu akan menjadi jelas.
11. Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
12. Dapat memperjelas arti kalimat asing yang terdapat dalam satu sanad.
13. Dapat menghilangkan syadz (kesendirian riwayat yang menyalahi riwayat perawi yang lebih tsiqat) yang terdapat pada suatu hadits melalui perbandingan riwayat.
14. Dapat membedakan hadits yang Mudraj (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainnya.
15. Dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami oleh seorang perawi.
16. Dapat mengungkapkan hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.
17. Dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafaz dan yang dilakukan dengan makna saja.
18. Dapat menjelaskan masa dan tempat kejadian timbulnya hadits.
19. Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadits melalui perbandingan sanad-sanad yang ada.
20. Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada.

Berdasarkan pendapat yang lain, Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh lewat takhrij hadits:
1. Diketahui letak hadits yang dikaji dalam sumber-sumber asli.
2. Diketahui apakah sebuah ungkapan atau perbuatan yang dinyatakan sebagai sebuah hadits benar-benar valid atau tidak.
3. Diketahui kualitas hadits
Dengan membandingkan riwayat-riwayat yang ada, akan diketahui arti kata yang asing atau garibah, kondisi yang melatarbelakangi disabdakannya hadits (asbab wurud), kondisi para perawi hadits, adanya kemungkinan hadits itu direvisi atau merevisi hadits lain (nasikh wa mansukh), mendapat ketersambungan pada sanad yang terjadi keterputusan (inqita), meningkatkan kualitas sanad dengan adanya dukungan berupa sanad-sanad lainnya, mendapati matan secara lengkap dan utuh dari hadits yang diringkas, mengidentifikasi dan mengetahui mana matan yang diriwayatkan secara redaksional dan mana yang secara substantif, mendapatkan informasi tambahan seputar tempat dan waktu terjadinya hadits, dan lain-lain.
4. Kitab-Kitab yang Diperlukan dalam Men-Takhrij Hadits
Dalam melakukan takhrij, seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. Di antara kitab-kitab yang dapat dijadikan pedoman dalam men-takhrij adalah: ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid oleh Mahmud al-Thahhan, Hushul al-Tafrij bi ushul al-takhrij oleh Ahmad ibnu Muhammad al-Shiddiq al-Gharami, Thuruq Takhrij Hadits Rasul Allah Saw Karya Abu Muhammad al-Mahdi ibn Abd al-Qadir ibd al-Hadi, Metodologi penelitian Hadits Nabi tulisan Syuhudi Ismail dan lain-lain.
Selain kitab-kitab di atas, di dalam men-takhrij, diperlukan juga bantuan dari kitab-kitab kamus atau Mu'jam hadits dan Mu'jam para perawi hadits yang diantaranya seperti :
(i) AI-Mu'jam al-Muhfahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi oleh Aj.Wensinck, seorang guru besar bahasa Arab pada Universitas Leiden dan kemudian bergabung dengannya Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi.
(ii) Miftah kunuz al-Sunnah, juga oleh Aj.Wensinck, yang memerlukan waktu selama 10 tahun untuk menyusun kitab tersebut. Kitab ini diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi.
Sedangkan kitab yang memuat biografi para perawi hadits, diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Thahhan berikut ini :
(iii) Kitab-Kitab yang memuat biografi sahabat :
a. Al-isti ab fi Ma'rifat al-Ashhab, oleh Ibn 'Abd Al-Barr al-Andalusi (w.463 H/107 M.)
b. Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Sahabah, oleh iz al-Din Abi al-hasan Ai Ibn Muhammad ibn al-atsir al jazari (w.630 H/1232 M).
c. Al-Ishabah fi Tamyiz al-sahabah, oleh al-Hafizh ibn Hjar al-Asqalani (w.852 H / 1449 M).
(iv) Kitab-kitab thabaqat, yaitu kitab-kitab yang membahas biografi para perawi hadits berdasarkan tingkatan para perawi (habaqat al-rawat), seperti:
a. Al-Thabaqat al-Kubra, oleh Abu 'Abd Allah muhammad ibn Sa'ad katib al-¬Waqidi (w. 230 H).
b. Tadzkirat al-Huffazh, karangan Abu 'Abd Allah Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman Al-Dzahabi (w. 748 H/1348 M).
(v) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadits secara umum:
a. Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam al-Bukhari (w.256 H/870 M).
b. Al jarh wa al-ta'dil, karya ibn Abi Hatim (w. 327 H)
(vi) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadits dari kitab-kitab hadits tertentu :
a. Al-Hidayah wa al-irsyad fi Ma'rifat AN al-tsiqat wa al-sadad, oleh Abu Nashr Ahmad ibn Muhammad al-kalabadzi (w.398 H), kitab ini khusus memuat para perawi dari kitab Shahih al-Bukhari.
b. Rijal Shahih Muslim, oleh abu Bakar ibn Ali al-Ashfahani (w. 438 H)
c. Al-jam' bayn Thahir al-Maqdisi, yang di kenal dengan ibn al-Qaisarani (w.507H).
d. AI-Ta'rif bi Rijal al-Muwaththa', tulisan Muhammad ibn Yahya al-Hidzdza' al-Tamimi (416 H).
(vii) Kitab-kitab yang memuat biografi para perawi Al-kutub al-sittah, yaitu :
a. Kamal fi asma' al-Rijal, oleh Abd al-Ghani ibn `Abd al-Wahid al-Maqdisi al-Hanbali (w. 600 H)
b. Tahsi-ib al-Kamal, oleh Abu Al-Hajjaj Yusuf ibn al-Zaki al-Mizzi (w.742 H).
c. Ikmal Tahd:ib al-Kamal, oleh Ala' al-din Mughlathaya (w 762 H).
d. Tahdzib al-Tahdzib, karya Abu `Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Dzahabi (w. 748 H ).
e. Al-kasyaf, tulisan Al-Dzahabi.
f. Tahdzib al-Tahdzib,karangan ibn Hajar al-Asqalani.
g. Khulashah Tahdzib al-Kamal, oleh Shafi al-Din Ahmad ibn 'Abd Allah al-Kharazraji al-Anshari al-sa'id (w.924 H)
(viii) Dan kitab-kitab lain yang memuat biografi para perawi hadits.

5. Metode Takhrij Hadits
Kitab literatur hadits yang masuk dalam kategori sumber asli, disusun dengan sistematika dan metodologi yang berbeda. Hal ini menyebabkan metodologi yang digunakan untuk mengkaji haditsnya juga berbeda. Untuk melakukan proses "pembacaan" terhadap sebuah literatur, kita perlu mengetahui metodologi penulisan yang digunakan. Ketika akan melakukan takhrij hadits, kita perlu mengetahui metode penulisan sumber-sumber asli, agar dapat ditentukan metode takhrij mana yang akan kita gunakan.
Ada ulama yang menyusun kitabnya berdasarkan susunan nama perawi, ada juga yang berdasarkan bab-bab fiqh, dan ada yang menyusunnya berdasarkan tema-tema tertentu. Dengan berdasarkan kategorisasi dan metodologi penulisan, setidaknya ada lima cara atau metode yang digunakan untuk mentakhrij hadits:

1. Metode Penelusuran Hadits Berdasarkan Perawi Sahabatnya
Metode ini digunakan ketika nama perawi sahabatnya diketahui. Pengguna metode ini harus meyakini terlebih dahulu sosok sahabat yang meriwayatkan hadits yang akan ditakhrij. Untuk kemudian melakukan penelusuran hadits pada buku atau literatur yang metodologi penulisan haditsnya berdasarkan urutan nama-nama sahabat. Metode ini dapat diterapkan pada jenis kitab hadits, yaitu kitab musnad, mu' jam dan atraf.
Musnad adalah kitab yang ditulis berdasarkan urutan sahabat yang meriwayatkan hadits. Ada banyak musnad yang pemah ditulis oleh para pakar hadits. Al-Tahhan menyatakan bahwa ada lebih dari seratus musnad.
Musnad yang paling terkenal adalah musnad Ahmad bin Hambal (w. 241 H). Selain itu ada juga Musnad al-Humaydi (w. 219 H) yang merupakan guru dari al-Bukhari, Musnad Abu Dawud al-Tayalisi (w. 204 H), Musnad Abu Ya'la al-Mausuli (w. 307 H), dan Musnad 'Abd bin Humayd (w. 249 H).
Hadits-hadits dalam musnad disusun berdasarkan tiap-tiap nama-nama sahabat. Penyusunan ini bisa berdasarkan abjad (dalam artian perawi yang namanya diawali huruf Hamzah disebutkan pertama, lalu perawi yang namanya diawali huruf Ba', dan seterusnya). Ada yang disusun berdasarkan kedahuluan masuk ke dalam agama Islam. Ada juga yang disusun berdasarkan kabilah (klan), atau yang berdasarkan nama daerah (buldan).
Dalam prakteknya, ada juga musnad yang disusun berdasarkan tema-¬tema, misalnya musnad karya Baqi bin Makhlad al-Andalusi yang disusun berdasarkan bab-bab fiqh. Mu'jam adalah buku atau kitab hadits yang penulisannya berdasarkan nama sahabat, atau nama guru dari penulisnya, atau nama-nama tempat. Biasanya, mu'jam disusun sesuai urutan abjad, baik ketika mu'jam itu berdasarkan nama sahabat ataupun nama guru dan nama tempat. Metode pertama ini bisa digunakan dalam penelusuran hadits yang berada di mu'jam yang disusun sesuai nama sahabat. Karena metode ini memang hanya dapat diterapkan pada literatur yang sistematikanya disusun berdasarkan nama sahabat.
Mu'jam juga ada banyak, dan yang paling terkenal dan banyak dikaji oleh pengkaji hadits adalah mu'jam karya al-Tabrani (w. 360 H).
Al-Tabrani memiliki tiga mu'jam. Pertama al-Mu'jam al-Kabir yang penyusunannya berdasarkan nama sahabat. Jika dalam literatur klasik kita dapati kata "al-Mu'jam", maka yang dimaksud adalah al-Mu'jam al-Kabir karya al-¬Tabrani ini. Ibn Dihyah menyatakan bahwa al-Mu'jam al-Kabir adalah mu'jam terbesar yang ada di dunia ini. Mu'jam ini memuat sekitar enam puluh ribu hadits, dan disusun berdasarkan nama perawi dari generasi sahabat kecuali Abu Hurayrah. Al-Tabrani memiliki karya khusus yang memuat hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah. Kedua, al-Mu'jam al-Awsat, yang disusun berdasarkan nama guru-guru al-Tabrani yang berjumlah sekitar dua ribu orang. Mu'jam yang ketiga adalah al-Mu'jam al-Sagir yang juga disusun berdasarkan nama guru-gurunya.
Dengan melihat metodologi penulisan masing-masing mu'jam, kita dapati bahwa metode pertama ini hanya dapat diterapkan pada al-Mu'jam al-Kabir.
Selain al-Tabrani, ada juga ulama lain yang menyusun kitab mu'jam, yaitu Ahmad bin 'Ali bin Lal al-Hamdani (w. 398 H) yang menulis Mu'jam al¬Sahabah, dan Abu Ya'la al-Mausuli (w. 307 H) yang menulis kitab dengan judul yang sama.
Sementara yang dimaksud atraf adalah kitab yang menyebutkan sebagian dari hadits dengan menyebutkan sanad-sanadnya. Biasanya, penyusunan atraf berdasarkan abjad nama-nama sahabat. Dalam menyebut potongan hadits biasanya pembaca dapat mengenali matan hadits yang tidak ditulis. Misalnya hadits “kullukum ra’in” dan “buniya al-Islam ‘ala khams”.
Ada banyak atraf vang beredar di masyarakat, misalnya Atraf al-Sahihayn karya Abu Mas'ud Ibrahim bin tuhammad al-Dimisyqi (w. 401 H), dan Tuhfah al-Asyrdf bi Ma'rifah al-.4rrat karya Yusuf 'Abdurrahman al-Mizzi (w. 742 H).
Perlu diingat bahwa Atraf tidak menyebut matan hadits secara lengkap, sehingga jika kita ingin mengetahui matannya secara lengkap, maka kita harus merujuk sumber aslinya. Atraf mengumpulkan sanad-sanad yang ada dalam satu tempat, yang bisa membantu kita menilai kualitas hadits berdasarkan kuantitas sanadnya.

2. Metode Ungkapan Pertama Dalam Matan hadits
Metode ini digunakan ketika kita mengetahui dengan pasti ungkapan awal dari matan hadits. Kemudian dilihat huruf awal dari kata yang paling awal matan hadits tersebut. Misalnya, matan hadits "man gassana Fa laisa minna" (barang siapa menipu, bukan ummatku) dapat ditelusuri pada kitab takhrij bab mim dan nun (hurup awal dan kedua pada kata pertama hadits tersebut, man). Pada kitab tersebut akan ditemukan penjelasannya, sumber kitab hadits utama yang mencantumkan hadits tersebut (misalnya, sahih al-Bukhari, sahih Muslim dll), serta jalur-jalur dan rangkaian silsilahnya sampai kepada Nabi SAW.
Setidaknya ada kategori kitab yang dapat menggunakan metode ini: Pertama, kitab-kitab mengumpulkan hadits yang matannya sudah populer di tengah masyarakat luas (musytahirah). Ada banyak ungkapan yang diklaim sebagai hadits, yang dihafal dengan baik oleh masyarakat awam. Hadits-hadits ini ada yang kualitasnya sahih, hasan dan da'if bahkan palsu. Ada banyak kitab yang mengumpulkan hadits semacam ini, misalnya al-Durar al-Muntatsirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah karya al-Suyuti (w. 911 H), al-Maqasid al-Hasanah Fi Bayan Katsir Min al Ahadits al-Musytahirah 'Ala al-Alsinah karya al-Sakhawi (w. 902 H), dan Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas 'Amma Isytahar Min al Ahadits 'Ala Alsinah al-Nds karya al-'Ajluni (w. 1162 H).
Kedua, kitab-kitab yang disusun berdasarkan abjad huruf pertama matannya, misalnya al-Jami' al-Sagir Min Hadits al-Basyir al-Nadzir karya al-Suyuti (w. 911 H). Kitab al-Jami' al-Sagir tidak menggunakan sanad yang dimiliki pengarangnya, sehingga tidak bisa dianggap sumber asli. Namun kitab ini secara lugas menyebutkan sumber asli yang dikutipnya, sehingga siapapun yang ingin melakukan kajian atas sanadnya, harus merujuk kepada kitab yang dirujuk oleh al-Suyuti.
Ketiga, kitab Miftah dan Fihris, atau kitab yang disusun berdasarkan indeks matan hadits, seperti Miftah al-Sahihayn karya Muhammad al-Syarif bin Mustafa al-Tawqadi, dan Miftah al-Tartib Li Ahadits Tdrikh al-Khatib karya Ahmad bin Muhammad al¬Gimari.
Jenis ketiga ini juga tidak dapat dijadikan sumber asli, karena ia tidak menggunakan sanad yang dimiliki oleh pengarangnya. Namun demikian, kitab ini dapat membantu proses penelusuran lokasi hadits pada sumber yang dirujuk.

3. Metode Indeks Kata
Metode ini digunakan dengan cara mencari kata-kata yang menjadi "kata kunci" dalam indeks hadits. Yang dimaksud dengan "kata kunci" adalah kata yang terdapat dalam matan hadits dan tidak banyak digunakan dalam ungkapan sehari-hari. Metode ini dilakukan dengan cara menelusuri hadits berdasarkan huruf awal kata dasar pada lafal¬lafal yang ada pada matan hadits, baik ism (kata benda) maupun fi'il(kata kerja).Dalam hal ini huruf tidak dijadikan pegangan. Misalnya ditemukan hadits "innama al-a'mal bi an-niyyat" dapat ditelusuri melalui lafal al- `amal dari `ain sebagai huruf awal dari kata dasar al-`amal yakni `amal. Bisa juga melalui lafal an-niyyat dari huruf nun sebagai awal dari kata dasar an-niyyat yakni nawa. Hadits ini tidak dapat ditelusuri melalui lafal innama atau bi karena keduanya dalam bahasa arab dikategorikan sebagai huruf.
Kitab takhrij yang menggunakan.Metode ini ,al-Mu jam al-Mufahras Li Alfaz al-Hadits yang disusun oleh sebuah tim yang beranggotakan pakar orinetalis. Salah satu dari tim penyusunnya bernama A.J. Wensinck (w. 1939), seorang guru besar Bahasa Arab di universitas Leiden. Al-Mu jam al-Mufahras memuat indeks kata yang terdapat dalam matan haditst al-kutub at-Tis'ah (Kitab yang sembilan) sumber koleksi hadits, yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan at-Tirmizi, Sunan Abi Dawud, Sunan an¬Nasa'I, Sunan Ibn Majah, Muwatta', Musnad Ahmad Ibn Hambal, dan Musnad al¬-Darimi.

4. Metode Tematis Hadits
Metode ini digunakan oleh orang yang memiliki cita rasa (dzawq) ilmiah yang memungkinkannya menentukan tema bagi hadits yang sedang dikaji. Sebagaimana kita ketahui, hadits memiliki kandungan berupa akidah, akhlaq, prediksi masa depan yang berdasarkan wahyu (tanabbuat), kisah masa lampau (fakta sejarah), norma dan pranata sosial, hukum, dan lain sebagainya. Seseorang yang sering membaca dan memiliki wawasan luas dalam hadits dan ilmu-ilmu keislaman, akan dapat menentukan tema sebuah hadits untuk kemudian dia melakukan penelusuran dalam kitab atau literatur yang diduga memuat hadits itu berserta sanadnya.
Kitab dan literatur hadits yang beredar di kita sekarang ini, ada yang disusun berdasarkan tema-tema fiqh (yang dikenal sebagai "kitab sunan"), ada yang disusun berdasarkan satu tema, dan ada yang disusun berdasarkan seluruh atau mayoritas tema yang ada. Takhrij berdasarkan tema hadits ini dilakukan dengan cara menelusuri hadits berdasarkan temanya, apakah bersifat umum atau tertentu (fikih, hukum atau tafsir).
Contoh kitab yang umum (mencakup semua topik) adalah Kanz al- 'Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af al (Perbendaharaan Amal dari Sunah Perkataan dan Perbuatan Nabi) karya al-Burhanpuri al-Hindi (w.885/8 H). Kitab hadits yang berisi peringatan adalah kitab at-Targib wa at-Tarhib min Ahadits asy-Syarif (Kitab Pembawa Kabar suka dan Duka dari Hadits yang Mulia). Adapun kitab hadits Tafsir misalnya ad-Durr al¬Mansur fi Tafsir bi al-Ma'sur (Permata tersembunyi dari tafsir Riwayah) karya as-¬Suyuti.
Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrij-nya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Dr. Arinjan Vensink juga. Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal, yaitu :
• Shahih Bukhari
• Shahih Muslim
• Sunan Abu Dawud
• Jami’ At-Tirmidzi
• Sunan An-Nasa’i
• Sunan Ibnu Majah
• Muwaththa’ Malik
• Musnad Ahmad
• Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi
• Sunan Ad-Darimi
• Musnad Zaid bin ‘Ali
• Sirah Ibnu Hisyam
• Maghazi Al-Waqidi
• Thabaqat Ibnu Sa’ad
Dalam menyusun kitab ini, penyusun (Dr. Vensink) menghabiskan waktunya selama 10 tahun, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diedarkan oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqi yang menghabiskan waktu untuk itu selama 4 tahun.

5. Metode Penelusuran Berdasarkan Kondisi Matan atau Sanad
Beberapa kitab atau literatur mengoleksi hadits yang memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan itu bisa ada dalam sanad maupun matan hadits. Jika hadits yang dikaji memiliki ciri dan tanda kepalsuan, maka kita dapat melakukan penelusuran dalam kitab yang khusus mengumpulkan hadits palsu. Atau jika hadits yang dikaji dinisbatkan kepada Allah Ta'ala, atau yang kita kenal sebagai hadits qudsi, maka kita melakukan penelusuran terhadap kitab atau literatur yang memuat hadits-hadits qudsi. Kitab haditst yang memuat hadits mutawatir antar lain al-Azhar al- Mutanasirah fi al¬Akhbar al- Mutawatirah (Permata yang memancar dari hadits Mutawatir) Karya Jalaluddin as-Suyuti.Kitab yang memuat hadits qudsi misalnya al-ittihaafaat as-Sunniah fiial-Ahaadis al-Qudsiah (Persembahan Sunah dari Hadits Qudsi) Karya al-Madani (w. 1200).
Kelima metode ini dapat digunakan secara bersamaan, atau dipilih salah satu yang paling memudahkan kita dalam melakukan penelusuran hadits. Kita perlu menentukan dulu matan atau perkiraan matan untuk kemudian memilih metode yang akan digunakan.
Dengan tingginya tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat melakukan penelusuran hadits melalui program komputer dan internet. Penggunaan teknologi modern dalam melakukan kajian hadits tentu bukanlah sebuah aib. Apalagi mengingat rendahnya kualitas dan wawasan hadits yang dimiliki kebanyakan pengaji hadits di masa sekarang. Penggunaan alat bantu komputer atau internet akan sangat membantu. Namun kita perlu melakukan cross check atau konfirmasi ke kitab-kitab atau literatur hadits yang "manual" berupa kitab-kitab hadits. Hal ini demi mendapatkan hasil yang faktual dan valid, dan untuk menghindari adanya kesalahan yang mungkin terjadi saat kita mengakses program atau internet.
Konfirmasi ke kitab-kitab "manual" ini juga diperlukan agar kita dapat mengenali dengan baik metodologi penulisan kitab-kitab hadits.

6. Kritik Sanad dan Matan Hadits
Ulama hadis melakukan penelitian terhadap permasalahan yang ada dalam rangka menghadirkan hadis-hadis yang secara otentik berasal dari Nabi Saw. sebagai klarifikasi terhadap anggapan orientalis yang menyatakan bahwa tidak ada satupun hadis yang otentik dari Nabi, khususnya hadis-hadis tentang hukum. Sehingga dengan penelitian tersebut diharapkan dapat meneguhkan hati umat Islam terhadap otentisitas dan validitas hadis Nabi yang dijadikan sebagai pedoman hidup.
Aplikasi penelitian tersebut dilakukan dalam bentuk penelitian sanad dan matan (kritik sanad dan kritik matan) atau menurut istilah Al-Adlibi an-naqd al-kharij untuk kritik sanad dan an-naqd ad-dakhili untuk kritik matan.
Dalam penelitian hadis dipergunakan istilah al-naqd. Secara etimologi al-naqd berasal dari masdar ( ﻴﻨﻘﺪ- ﻨﻘﺪ ) yang berarti mayyaza yaitu “memisahkan sesuatu yang baik dan yang buruk”
Kata al-naqd yang berarti “kritik”. Kritik sanad (an-naqd al-khariji) adalah kritik eksternal hadis yang merupakan telaah atas prosedur periwayatan dari perawinya sampai kepada Nabi Saw (sanad) yaitu dari sejumlah rawi yang secara runtun menyampaikan matan hingga rawi terakhir. Pembahasan sanad adalah sandaran yang sangat prinsipil dalam ilmu hadis dan merupakan jalur utama untuk mencapai tujuannya yang luhur yaitu untuk membedakan antara hadis yang diterima (maqbul) dengan hadis yang ditolak (mardud). Sedangkan kritik matan adalah an-naqd ad-dakhili (kritik internal) yang mengadakan kajian dan pengujian atas keabsahan suatu matan hadis. Periwayatan hadis yang shahih sanadnya tidak berarti sahih matannya, maka sahihnya matan merupakan syarat tersendiri bagi kesahihan suatu hadis.
Kritik hadis secara sederhana diartikan sebagai upaya dan kegiatan untuk mengecek dan menilai kebenaran suatu hadis sehingga aktifitas dimaksud sudah ada sejak Nabi Saw masih hidup. Namun dalam tahapan ini hadis masih terbatas pada upaya mendatangi Rasul Saw dalam membuktikan kebenaran suatu riwayat yang disampaikan oleh sahabat yang berasal dari Beliau.
Pada periode sahabat Abu Bakar Shiddiq ra. Adalah pelopor dalam kritik hadis dan dia menempatkan metode kritik hadis Nabi Saw pada posisi yang penting. Dalam hal ini al-Hakim mengatakan , “Abu Bakar adalah orang yang pertama membersihkan kebohongan dari Rasulullah Saw”. Pada kesempatan lain Al-Dzahabi juga mengatakan, “Abu Bakar adalah orang yang pertama berhati-hati dalam menerima hadis”. Sikap dan tindakan hati-hati Abu Bakar telah membuktikan betapa pentingnya kritik dan penelitian hadis. Di antara bentuk aplikasi pada masa itu dengan melakukan perbandingan diantara beberapa riwayat yang ada. Setelah periode Abu Bakar, Umar melanjutkan upaya yang telah dfirintis Abu Bakar dengan membakukan kaedah-kaedah dasar dalam melakukan kritik dan penelitian hadis. Ibn Hibban mengatakan seseungguhnya Umar dan Ali adalah sahabat yang pertama membahas tentang rijal (para perawi) hadis dan melakukan penelitian tentang periwayatan hadis yang kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan oleh para ulama yang datang setelah mereka. Pernyataan Ibn Hibban tersebut menurut Azami ditafsirkan bahwa Umar dan Ali adalah orang yang pertama memperluas pembincangan tentang penelitian hadis, karena Abu Bakar adalah yang pertama memulai atau mengambil inisiatif dalam penelitian hadis. Selain ketiga sahabat utama di atas Aisyah dan sejumlah sahabat lainnya juga telah melakukan kegiatan kritik hadis, terutama untuk menerima riwayat dari sesame sahabat.
Pada abad pertama di Madinah terdapat tiga ulama; Az-Zuhri, Yahya bin Sa’id dan Hisyam bin Urwah,yang mempelajari ilmu hadis dari ulama-ulama di Madinah. Dan di Irak ahli-ahli kritik hadis aktif pada abad pertama seperti: Sa’id bin Zubair, Al-Sya’bi, Thawus, Al-Hasan al-Basyri dan Ibn Sirin. Setelah periode ini kritik hadis memasuki tahap baru melalui semangat perjalan ilmiyah yang dilukiskan oleh yahya bin Ma’intensitas sebagai berikut: “Ada empat macam manusia yang tidak pernah dewasa dalam hidup mereka , satu dianataranya orang yang menuliskan hadis di kotanya sendiri dan tidak pernah melakukan perjalanan untuk tujuan tersebut”.
Maka sejak abad kedua hingga beberapa abad sesudahnya, tuntutan umum bagi seorang pengkaji hadis adalah melakukan perjalanan yang ekstensif untuk mempelajari hadis. Karena ulama-ulama generasi awal kebanyakan belajar dari para ulama di daerah mereka sendiri, maka kritik mereka hanya terbatas pada daerah mereka saja. Tetapi orang mulai mempelajari hadis dari ratusan dan ribuan syekh diseluruh dunia Islam, maka kritik mereka tidak lagi terbatas pada ulama-ulama disatu daerah saja tetapi mulai meneliti dengan cermat ulama-ulama dan hadis mereka secara umum. Karena luasnya lingkup kegiatan, beberapa pusat kegiatan baru bermunculan untuk tujuan ini. Adapun kritikus yang paling masyhur pada abad kedua Hijriyah, di antara mereka adalah:
• Sufyan al-Tsauri dari Kufah (97-161 H)
• Malik bin Anas dari Madinah (93-179H)
• Syu’bah dari Wasith (83-100 H)
• Al-Awza’I dari Beirut (88-158 H)
• Hammad bin Salamah dari Basrah (w. 167)
• Al-Laits bin Sa’d dari Mesir (w. 175 H)
• Hammad bin Zaid dari Basrah (w. 179 H)
• Ibn ‘Uyainah dari Makkah (107-198 H)
• Abdullah bin Al- Mubarak dari Merv (118-181 H)
• Yahya bin Sa’id al-Qaththan dari Bashrah (w. 198 H)
• Waki’ bin Al-Jarrah dari Kufah (w. 196 H)
• Abdur Rahman bin Mahdi dari Basrah (w. 198 H)
• Al-Syafi’I dari Mesir (w. 204 H)
Tetapi yang paling termasyhur dari mereka adalah Syu’bah, yahya bin Sa’id dan ibn Mahdi.
Para ulama tersebut di atas pada gilirannya menghasilkan sejumlah besar murid bidang kritik hadis, tetapi yang paling berbakat diantaranya adalah:
• Yahya bin Ma’intensitas dari Baghdad (w.233 H)
• ‘Ali bin AL-Madini dari Basrah (w. 234 H)
• Ibn Hanbal dari Baghdad (w. 241 H)
• Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Wasith (w. 238 H)
• Ishaq bin Rahwaih dari Merv (w. 238 H)
• ‘Ubaidullah bin Umar al-Qawariri dari Basrah (w. 235 H)
• Zuhair bin Harb dari Bghdad (w. 234 H)
Di antara mereka, tiga yang pertama adalah yang paling terpandang dilapangan kritik hadis.
Dari para ulama yang disebut di atas lahir sejumlah ulama hadis yang terkenal dalam bidang kritik hadis dan periode mereka bersama-sama dengan guru mereka merupakan periode puncak atau titik kulminasi dari studi dan kritik hadis, para murid tersebut adalah :
• Muhammad ibn Yahya ibn ‘Abd ullah al-Dzuhaili al-Naisaburi (w. 258 H/870 M)
• Abdullah ibn ‘Abd ar-Rahman al-Damiri (181-255 H/797-869 M)
• Abu Zur’ah ‘Ubaidullah ibn ‘Abd al-Karim ibn Yazid al-Razi (200-264 H/815-875 M)
• Muhammad Ibn Isma’il al-Ja’fi al-Bukhari (194-256 H/809-869 M)
• Muslim ibn al-Hajjad al-Naisaburi (206-261 H/821-875 M)
• Abu Dawud Sulaiman ibn Al Asy’ats al Sijistani (w. 275 H/888 M)
• Ahmad ibn Syu’aib.
Tujuan pokok dari penelitian hadis baik penelitian sanad maupun matan adalah mengetahui kualitas suatu hadis. Mengetahui kualitas sebuah hadis adalah sangat penting, karena berhubungan dengan kehujjahan hadis dimaksud.
Dengan dilakukannya kegiatan kritik sanad dan matan, maka akan dapat diketahui apa yang dinyatakan sebagai hadis Nabi SAW itu memang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan berasal dari Beliau, untuk itu sanad dan matan sama-sama harus diteliti, kemungkinan akan terjadi perbedaan kualitas antara sanad dan matan hadis.
Hadis yang perlu diteliti adalah hadis yang berkategori ahad yaitu yang tidak sampai statusnya kepada drajat mutawatir, karena hadis kategori tersebut berstatus dzanni al-wurud. Terhadap hadis mutawatir para ulama menganggap tidak perlu mengadakan penelitian lebih lanjut, karena hadis mutawatir telah menghasilkan keyakinan yang pasti bahwa hadis tersebut berasal dari Nabi SAW. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa terhadap hadis mutawatir tidak dapat dilakukan penelitian lagi. Penelitian masih dapat dilakukan terhadap hadis yang berstatus mutawatir dengan tujuan membuktikan apakah benar hadis tersebut berstatus mutawatir dan bukan untuk mengetahui kualitas sanad dan matan-nya sebagaimana halnya dalam penelitian terhadap hadis ahad.
Pada dasarnya bagian hadis yang menjadi objek penelitian hadis yaitu : sanad hadis dan matan hadis.

1. Sanad Hadis
Sanad adalah yang menyampaikan kitab pada matan hadis atau rentetan para perawi yang menyampaikan matan hadis. Pembahasan sanad merupakan sandaran yang sangat prinsipil dalam ilmu hadis dan merupakan jalur utama untuk mencapai tujuan utama yang luhur yakni untuk membedakan antara hadis yang diterima (makbul) dan hadis yang ditolak ( mardud ).
Kritik Sanad meliputi empat hal, yaitu: Pertama, Ittisal as-sanaad (bersambungnya sanaad) karena tidak dibenarkan adanya sanaad yang gugur, tersembunyi, tidak dikenal atau samar. Kedua, Siqah as-sanaad yaitu perawi harus seorang yang ‘adl, dabit dan terpercaya. Ketiga, Syazz (kejanggalannya). Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh seorang siqoh dan bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi siqoh lainnya. Syazz juga berlaku terhadap matan hadis. Keempat, ‘Illat yaitu cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang kelihatannya baik atau sempurna.

2. Matan Hadis
Dalam penelitian matan menurut Salah Addin ibn Ahmad Al-Adlibi dalam bukunya Manhaj Naqd al-Matn yang menjadi tolak ukur penelitian matan adalah : Pertama, tidak bertentangan dengan Alquran. Kedua, tidak bertentangan dengan Hadis Shahih dan sejarah kenabian. Ketiga, tidak bertentangan dengan akal sehat dan realita sejarah. Keempat, sesuai dengan karakteristik kalam atau pembicaraan Nabi.
Ulama hadis merumuskan penelitian matan hadis melalui:

a. Perbandingan hadis dengan Alquran
Biasanya yang diteliti dalam hal ini adalah kesesuaian matan hadis dengan Alquran. Apabila matan suatu hadis bertentangan dengan ayat Alquran dan keduanya tidak mungkin dikompromikan dan tidak dapat pula diketahui kronologi datangnya, serta keduanya juga tidak mengandung takwil maka hadis tersebut tidak dapat diterima dan dinyatakan sebagai hadis dhaif.

b. Perbandingan beberapa riwayat tentang suatu hadis
Caranya adalah dengan membandingkan antara beberapa riwayat yang berbeda mengenai suatu hadis. Dengan cara ini maka akan diketahui : Pertama, Idraj, yaitu lafaz hadis yang bukan berasal dari Nabi. Kedua, Ittiraf, yaitu pertentangan antara dua riwayat yang sama kuatnya. Ketiga, Al-qalb, yaitu memutar balikkan matan hadis. Keempat, Ziyadah al-tsiqat, yaitu penambahan lafaz dalam sebagian riwayat.

c. Perbandingan antara matan suatu hadis dengan matan yang lain.
Di antara kaedah yang disepakati ulama hadis adalah tidak diterimanya suatu hadis yang bertentangan dengan hadis yang telah mempunyai status yang tetap dan jelas. Oleh karenanya apabila terjadi pertentangan antara suatu hadis dengan hadis yang lain maka dalam hal ini terjadi suatu kekeliruan dalam penukilannya atau kurang sempurnanya para perawi dalam meriwayatkan hadis.

d. Perbandingan antara matan suatu hadis dengan berbagai kejadian yang dapat diterima akal sehat pengamatan, panca indra atau peristiwa sejarah.
Dalam meneliti keshahihan matan suatu hadis adalah dengan melakukan perbandingan dengan peristiwa-peristiwa sejarah atau sesuatu yang dapat diterima akal sehat.

e. Kritik hadis yang tidak menyerupai kalam Nabi.
Kadang ditemukan riwayat yang berasal dari Nabi, secara eksplisit tidak langsung bertentangan dengan nash Alquran, Sunnah Nabi yang telah berkedudukan tetap, akal, pengamatan panca Indra atau kenyataan sejarah, namun kandungan riwayat tersebut dan redaksinya tidak menyerupai kalam Nabi SAW terhadap riwayat yang demikian para ulama hadis tidak segera menerimanya dan bahkan menolaknya.

f. Kritik hadis yang bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan kaedah-kaedah yang telah ditetapkan.
Apabila pertentangan ini terjadi maka hadis tersebut tidak shahih dan tidak boleh disandarkan pada Rasulullah SAW.

g. Kritik hadis yang mengandung hal-hal yang munkar atau mustahil.
Munkar adalah suatu kalimat atau pernyataan yang tidak mungkin lahir atau berasal dari Nabi atau para Nabi yang lain. Sedangkan mustahil adalah mustahil pada zatnya dan dalam hubungannya dengan manusia, meskipun tidak mustahil apabila dikaitkan dengan kodrat dan kekuasaan Allah SWT. Penggunaan kaedah ini tidak berlaku terhadap hadis-hadis yang berhubungan dengan mu’jizat.










Contoh: Takhrij Hadits Bacaan Shalawat Kepada Nabi Saw Setelah Tahiyat Akhir.
إذا صليتم على رسول الله صلعم فأحسنوا الصلاة عليه فإنكم لا تدرون لعلّ ذلك يعرضُ عليه قال فقالوا له فعلّمنا قال قولوا اللهم اجعل صلاتكَ ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين وإمام المتقين وخاتم النبيين محمد عبدك ورسولك إمام الخير وقائد الخير ورسول الرحمة اللهم بعثه مقاما محمودا يغبطه به الأوّلون والآخرون اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم إنك حميد مجيد. (ضعيف)














فكيف نصلي عليك قال فسكت رسول الله صلعم حتى تمنينا أنه لم يسأله ثم قال قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على (م:ن: آل) إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد.
















فكيف الصلاة عليك قال قولوا اللهم صل على محمد عبدك ورسولك كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على إبراهيم (وآل إبراهيم).

























Kesimpulan
Dari bahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa :
1. Pada hakekatnya Takhrij al-hadis adalah : suatu kegiatan Penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab Hadis sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanadnya.
2. Bahwa tujuan dari penakhrijan hadis adalah disamping untuk mengetahui letak suatu hadis dalam suatu literatur juga untuk mengetahui dan menetapkan kualitas sebuah sanad hadis. Penetapan kualitas hadis ini akan mempengaruhi status dan kedudukan hadis itu: Apakah ia bisa dijadikan hujjah atau tidak, dan apakah ia diamalkan atau tidak.
3. Literatur yang masuk dalam kategori sumber asli, disusun dengan sistematika dan metodologi yang berbeda. Hal ini menyebabkan metodologi yang digunakan untuk mengkaji hadisnya juga berbeda. Setidaknya ada lima cara atau metodologi dalam men-takhrij hadis dimana Kelima metode ini dapat digunakan secara bersamaan, atau dipilih salah satu yang paling rnemudahkan kita dalam melakukan penelusuran hadis.
4. Kritikan terhadap sanad dan matan ini sangat penting guna menguji dan menjaga otentisitas dan validitas hadis tersebut apakah benar-benar berasal dari Rasulullah SAW disebabkan banyaknya permasalahan hadis baik dari segi sanad maupun matan hadis, sehingga kehujjahan hadis itu dapat dipertanggung-jawabkan agar dapat menjadi tuntunan hidup manusia.
5. Para sahabat melakukan pengecekan langsung kepada Nabi kemudian dilanjutkan oleh ulama-ulama hadis yang datang setelah mereka. Penelitian ini dilakukan karena hadis Nabi adalah sumber hukum Islam yang ke dua yang berarti merujuk kepada sumber pertama (Alquran). Tujuan pokok penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas hadis tersebutkarena berhubungan dengan kehujjahan hadis agar dapat dijadikan dalil.
6. Faktor yang mendorong dilakukannya penelitian ini karena: kedudukan hadits sebagai sumber ajaran Islam, tidak seluruh hadits ditulis dizaman Rasulullah Saw, munculnya pemalsuan hadits, lamanya mengkodifikasian hadits, beragamnya metode penyusunan kitab-kitab hadits, dan adanya periwayatan hadits secara makna.
Daftar Kepustakaan
Ali Mustafa Yakub, Kritik Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Al-Munjid, Fil Al-Lughat wa al-‘alam, Beirut:Dar al-Musyriq, cet. Ke-34, 1994.

Editor PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Ensiklopedi Islam 2, Jakarta.

Ensiklopedi Islam 2, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru, Van Hoeve, 1994.

H.Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadits, Bandung : Cita Pustaka Media, 2006.

Hatim bin 'Arif al-Syarif, Al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, juzu' awwal.

Husein Yusuf, Kriteria Hadis Shahih Kritik Sanad dan Matan), kumpulan Tulisan editorial Drs. Yunahar Ilyas Lc, LPPI UMY, 1996.

Imam al-Hafiz Syams al-Din Muhammad bin Ahmad al-Zahabiy, Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, juz. 1, Cet. 1, Beirut, Libanon: Dar al-Kutab al-Ilmiyah, 1995.

Mahmud al-Thahan, Taysir Mushthalah al-Hadits, Kuwait: Fakultas Syariah Univ. Islam Kuwait, 1415 H.

Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij Wa Dirasah Al-Asanid Riyad: Maktabat al-Ma'arif, Cet. Kedua, 1412 H / 1991 M.

Mansyawiy ‘Utsman ‘Abud, Al Mahadzib fi Musthalah al-Hadis, Mesir, Al-Azhar, 1978.

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Wasith fi 'Ulum wa Mushthalah al-Hadits, Makkah al-Mukarramah: tp, 1982.

Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki al-Hasani, Al Qawaid fi ‘Ilm Musthalah al-Hadis, 1402 H.

Muhammad Ismail Suhudi, Kriteria Kualitas Hadis, Kumpulan Tulisan, editorial Drs. Yunahar Ilyas Lc, LPPI UMY, 1996.

Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Metodology and Literatur, American: Trust Publication, 1992.

Nawir Yuslem, Ulumul Haditst Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2003.

Nuruddin, Ulum al-Hadis, Alih Bahasa Drs. Mujiono, Bandung, 1994.

Salah Addin ibn Ahmad Al-Adlibi, Manhaj Naqd Al-Matn Ind Ulama al-Hadis an-Nabawi, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tt.

Bagikan Artikel ini ke Facebook