E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

GURU SOSOK TELADAN DAN PANUTAN BAGI SISWA

Dibaca: 1450 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: HENDAR, S.Pd., M.Si lihat profil
pada tanggal: 2016-08-28 09:29:34 wib


GURU SOSOK TELADAN DAN PANUTAN BAGI SISWAFirman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Allah sangat membenci kalian yang hanya mengatakan sesuatu yang tidak pernah kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).
Keteladanan Rasulullah Saw. dalam mendidik ummat pada saat itu mengisyaratkan kepada ummat Islam (dalam hal ini guru) agar mendidik tidak hanya pandai dalam berbicara dan memberikan nasehat kepada anak didik, tetapi juga harus tampil di depan mereka memberikan contoh (teladan) yang baik secara langsung. Jika tidak, Allah SWT.sangat membenci hamba-Nya yang hanya pandai berbicara tanpa ada aksi nyata.
Keteladanan dalam mendidik ini sangat penting sebagaimana gambaran di atas bahwa saat ini ada gejala menipisnya kredibilitas pendidik di mata siswa. Secara gradual (berangsur-angsur), sosok guru bukan lagi sosok yang harus digugu dan ditiru, bahkan para siswa lebih bangga mengidolakan artis sinetron daripada orang yang selama ini berupaya mencerdaskan dirinya. Buktinya, tidak sedikit siswa yang berpenampilan seperti artis idolanya, bahkan cara bicaranyapun ikut-ikutan sebagaimana yang terucap dari bibir sang artis, dan yang lebih parah lagi adalah gaya hidup seorang siswa berlagak seperti artis yang penuh dengan kemewahan dan glamour.
Dalam proses mendidik, guru harus menjadi sosok yang dapat menjadi panutan bagi siswanya. Uswatun hasanah (teladan yang baik) secara sederhana dapat dilakukan dengan bertutur kata yang baik kepada siswa, datang ke sekolah tepat waktu dan disiplin, penampilan yang rapi dan menarik, sikap yang ramah, memberikan pujian dan kritik kepada siswa yang konstruktif, peka dan respek serta berupaya membantu permasalahan yang dihadapi anak didik dan sebagainya. Untuk itu, dalam mengemban ‘misi suci’ sebagai guru, keteladan melalui ucapan, sikap, dan perbuatan merupakan sebuah keniscayaan.Keberhasilan dalam mendidik siswa tidak hanya diukur oleh nilai berupa angka tetapi keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai moral kepada siswa-siswanya.
Sosok seorang guru dalam dunia pendidikan bukanlah sekedar unsur pelengkap, melainkan salah satu unsur utama. Oleh karenanya, eksistensi guru masih selalu diperlukan bahkan sangat diperlukan.Namun, seiring berjalannya waktu, seolah-olah ada sebuah pergeseran nilai mengenai eksistensi guru di dunia pendidikan. Hal ini ditandai dengan menipisnya makna guru sebagai pekerjaan profesi yang dikenal dengan istilah digugu dan ditiru. Ucapan seorang guru, baik dalam menyampaikan materi atau pun ketika memberikan nasehat, adalah suatu hal yang selalu dinanti oleh para siswa yang haus akan nasehat yang bermakna nan mengandung nilai edukatif, bukan masuk dari telinga kanan keluar di telinga kiri.
Guru dalam persepsi siswa tidak dipandang sebagai sosok yang harus diikuti atau dalam istilah Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 21, uswatun hasanah (teladan yang baik). Kendatipun ayat tersebut ditujukan kepada diri Rasulullah Saw., namun keteladanan juga bisa tercermin dari sosok seorang guru, paling tidak di lingkungan sekolah/madrasah bagi para siswa. Seiring perkembangan zaman dan pergeseran waktu, timbul sebuah kekhawatiran akan terjadinya pergeseran nilai dan hilangnya identitas guru di hadapan peserta didik akibat dari oknum guru itu sendiri, seperti guru yang sering tidak masuk, tidak disiplin, sering terlambat, guru yang berambut gondrong atau guru dengan make-up yang berlebihan dan seterusnya. Tentu saja perilaku seperti itu tidak mencerminkan keteladanan seorang guru.
Menyikapi hal tersebut, kalau kita membicarakan keberadaan dan kredibilitas seorang guru dalam dunia pendidikan, berarti guru memiliki nilai strategis dan urgen dalam hidup ini. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wina Sanjaya (2006) bahwa guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ‘ideal’. Betapa tidak, dari ujung rambut sampai ujung kaki sang guru menjadi sorotan para siswanya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Tentu saja sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal kompetensi).
Berkenaan dengan hal di atas, tutur kata melalui metode ceramah dalam proses pendidikan merupakan metode yang cukup dominan digunakan oleh guru saat ini. Sehingga, ada kesan jika tidak ada ceramah atau nasehat, maka dapat dikatakan proses belajar mengajar tidak ada. Sebenarnya, jika berbicara metode dalam mendidik siswa sangat banyak, namun ada hal yang paling penting untuk kita kaji saat ini yaitu mendidik siswa dengan keteladanan.Keteladanan (uswatun hasanah) adalah metode mendidik dengan memberikan contoh yang baik kepada peserta didik.
Jika kita menilik perjalanan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw., baik pada periode Makkah maupun periode Madinah, maka kita akan menemukan metode dakwah beliau dalam mendidik ummat melalui keteladanan. Menurut Ahmad Tafsir (2007) dalam buku “Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam”, pribadi Rasul itu adalah interpretasi Al-Quran secara nyata. Tidak hanya caranya beribadah, tetapi cara beliau menjalani kehidupan sehari-haripun kebanyakan merupakan contoh berkehidupan yang Islami.
Keteladanan dalam mendidik ini sangat penting sebagaimana gambaran di atas bahwa saat ini ada gejala menipisnya kredibilitas pendidik di mata siswa.Secara gradual (berangsur-angsur), sosok guru bukan lagi sosok yang harus digugu dan ditiru, bahkan para siswa lebih bangga mengidolakan artis sinetron daripada orang yang selama ini berupaya mencerdaskan dirinya. Buktinya, tidak sedikit siswa yang berpenampilan seperti artis idolanya, bahkan cara bicaranyapun ikut-ikutan latah sebagaimana yang terucap dari bibir sang artis, dan yang lebih parah lagi adalah gaya hidup seorang siswa berlagak seperti artis yang penuh dengan kemewahan dan glamour.
Dalam proses mendidik, guru harus menjadi sosok yang dapat menjadi panutan bagi siswanya. Uswatun hasanah (teladan yang baik) secara sederhana dapat dilakukan dengan bertutur kata yang baik kepada siswa, datang ke sekolah tepat waktu dan disiplin, penampilan yang rapi dan menarik, sikap yang ramah, memberikan pujian dan kritik kepada siswa yang konstruktif, peka dan respek serta berupaya membantu permasalahan yang dihadapi anak didik dan sebagainya. Untuk itu, dalam mengemban ‘misi suci’ sebagai guru, keteladan melalui ucapan, sikap, dan perbuatan merupakan sebuah keniscayaan.Keberhasilan dalam mendidik siswa tidak hanya diukur oleh nilai berupa angka tetapi keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai moral kepada siswa-siswanya.
seorang guru juga harus memiliki sifat-sifat khusus untuk menjadi sosok guru menjadi panutan atau teladan bagi siswanya, diantaranya :
Pertama, jika praktik mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri siswa terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.
Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu. Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW.yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada Allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah SWT. Namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai.
Ketiga, seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan. Seorang guru tidak boleh tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.
Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya, dan jika keadaan ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.
Kelima, seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya.Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik.
Keenam, seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini guru harus membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya.
Ketujuh, seorang guru di samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat dan kejiawaannya muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Kepada murid yang kemampuannya kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekali pun guru itu menguasainya. Jika hal ini tidak dilakukan oleh guru, maka dapat menimbulkan rasa kurang senang kepada guru, gelisah dan ragu-ragu.
Kedelapan, seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa. Dalam hubungan ini seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebaliknya jika hal itu dilakukan akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan yang pada gilirannya akan menyebabkan ia kehilangan kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Ia tidak akan mampu lagi mengarahkan atau memberi petunjuk kepada murid-muridnya.
Dari delapan sifat guru yang baik sebagaimana dikemukakan di atas, tampak bahwa sebagiannya masih ada yang sejalan dengan tuntutan masyarakat modern. Sifat guru yang mengajarkan pelajaran secara sistematik, yaitu tidak mengajarkan bagian berikutnya sebelum bagian terdahulu dikuasai, memahami tingkat perbedaan usia, kejiwaan dan kemampuan intelektual siswa, bersikap simpatik, tidak menggunakan cara-cara kekerasan, serta menjadi pribadi panutan dan teladan adalah sifat-sifat yang tetap sejalan dengan tuntutan masyarakat modern.
Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita renungkan beberapa baris sajak yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dalam Jalaluddin Rakhmat (1996) dalam buku “Psikologi Komunikasi”: ”Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.”
Dengan demikian, keteladanan seorang guru bagi para siswanya merupakan suatu keniscayaan. Sehingga guru sebagai sosok digugu dan ditiru akan selalu menjadi semboyan yang melekat pada setiap guru di negeri ini. Semoga sosok seorang Guru menjadi panutan dan teladan bagi seluruh siswanya di sekolah / Madrasah.
(semoga bermanfaat)

Bagikan Artikel ini ke Facebook