E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Urgensi Pemikiran Islam Lateral

Dibaca: 655 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2017-02-17 23:25:13 wib


URGENSI MODEL PEMIKIRAN ISLAM LATERAL
(Mengungkap Sejarah Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia Mengawal Dinamika Perubahan Zaman)
Oleh: H. Utawijaya Kusumah


Kronik Pemikiran Islam Kontemporer
Pemikiran Islam kontemporer maksudnya adalah pemikiran Islam yang berkembang pada masa modern (abad 19 masehi) hingga sekarang. Ciri khas pemikirannya adalah bersifat agresif yang berkembang dengan metode pemikiran baru dalam menafsirkan Al-Qur’an dan peradaban Islam. Muhammad Arkoun, pemikir muslim asal Aljazair yang menetap di Perancis, pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang menggugah para intelektual Islam, “di manakah pemikiran Islam kontemporer?”
Pertanyaan itu wajar, karena secara sepintas seakan-akan pemikiran Islam kontemporer menghadapi krisis yang cukup akut, macetnya kreativitas dan tersumbatnya kebebasan berfikir. Wujud ekstrem dari itu semua adalah pengkafiran terhadap pemikiran liberal yang masih menjadi dekorasi yang menghiasi pemikiran Islam kontemporer, seperti kasus pengkafiran terhadap Nashr Hamîd Abû Zayd yang sekarang menetap di Belanda. Sebagai upaya untuk mengembalikan suasana kebebasan berfikir, Muhammad Arkoun mengangkat tradisi keilmuan klasik Imam Ghazali dan Ibnu Rushd yang mencerminkan puncak kegemilangan dialog pemikiran yang konstruktif. Menurut Arkoun, pemikiran Islam kontemporer seakan-akan sudah jauh dari tradisi kedua kampiun Islam tersebut.
Islam kontemporer merupakan gerakan pemikiran Islam di kalangan intelektual Islam dalam menafsirkan kembali pemikiran Islam klasik dengan situasi modern. Para tokohnya kebanyakan adalah para intelektual Islam yang banyak belajar di lembaga-lembaga pendidikan Barat maupun Eropa. Inti pemikirannya adalah mengembalikan kejayaan dan keunggulan pemikiran para intelektual Islam klasik pada abad modern, sehingga melahirkan Islam modern. Alasannya, karena pemikiran Islam klasik sangat relevan dengan perkembangan peradaban modern. Sehingga, jika peradaban Islam ingin berkembang dan maju di abad modern ini, maka pemikiran Islam harus ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zamannya.
Menghadirkan pemikiran Islam kontemporer tidak lepas dari dua pemikir besar Islam klasik sebagai pintu masuknya, yaitu Ibnu Rusyd dan Ibnu Khaldun. Menurut Murad Wahbah, Ibnu Rusyd, filsuf muslim kelahiran Maroko adalah pintu gerbang pencerahan di Eropa. Bahkan sampai saat ini tidak ada karya secemerlang Ibnu Rusyd dalam kategori komentar terhadap buku-buku Aristoteles, sehingga ia dijuluki dengan al-syârih al-‘adham (komentator agung). Maka dari itu, di akhir abad 20-an para intelektual Islam, baik di wilayah Timur maupun wilayah Barat, mulai mengangkat khazanah rasionalitas Ibnu Rushd dalam rangka membumitanahkan pencerahan pemikiran Islam.
Bahkan menurut Athif Iraqi, Guru Besar Filsafat di Universitas Kairo menyatakan bahwa setelah wafatnya Ibnu Rusyd, berakhirlah masa filsafat Islam. Karena setelah itu pemikiran-pemikiran filsafat tidak lagi lahir. Maka dari itu, menerawang pemikiran Islam klasik akan menemukan percikan-percikan yang sangat bermakna dan menentukan bagi tumbuh-kembangnya pemikiran Islam kontemporer.
Pemikir besar lainnya di samping Ibnu Rusyd, sebagai gerbang mengembangkan pemikiran Islam kontemporer untuk menjawab dinamika perubahan adalah Ibnu Khaldun, sosiolog muslim. Menurut Dr. Misbâh al-‘Amily, Ibnu Khaldun adalah putra mahkota umat Islam yang kecanggihan cakrawalanya menunjukkan bahwa pemikiran Islam lebih unggul dari pada pemikiran Yunani.
Kajian terhadap kedua pemikir besar tersebut (Ibnu Rusyd dan Ibnu Khaldun) merupakan nuqthat al-inthilâq (titik tolak) pemikiran Islam kontemporer. Dengan demikian, filterisasi terhadap pemikiran Islam klasik merupakan salah satu kecenderungan umum dalam panggung pemikiran Islam kontemporer, tak ubahnya reinkarnasi pemikiran.
Ada tiga cara dalam membedah pemikiran Islam kontemporer, yaitu: (1) studi strukturalis, yaitu menelaah pemikiran secara menyeluruh dan melakukan komparasi dengan pemikiran yang lain, sehingga menyingkap persoalan inti atau diupayakan mencari dimensi yang hilang (al-bu’d al-mafqûd); (2) analisis historis, yaitu mengurai sisi historitas pemikiran dalam kaitannya dengan struktur di atas, sehingga ditemukan kebenaran ilmiah dalam pemetaan; dan (3) analisis ideologis, yaitu membaca aspek ideologis yang terkandung dalam pemikiran serta merta meletakkannya pada era tertentu serta latar belakang politik dan ekonominya.
Peta Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia dan Tantangannya
Peta perkembangan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia sesungguhnya tidak lepas dari perkembangan Islam kontemporer di dunia Islam umumnya. Hal ini disebabkan karena para intelektual muslim Indonesia banyak belajar di negara-negara Islam modern dan juga di negara-negara Barat. Oleh karena itu, pemikiran Islam kontemporer di Indonesia yang dilakukan oleh kaum intelektual muslimnya sedikit terjadi kolaborasi pemikiran antara pemikiran Islam kontemporer yang berasal dari jazirah Arab dan pemikiran Islam kontemporer yang dikembangkan oleh para Islamolog yang ada di universitas-universitas di Barat.
Perkembangan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia tidak lepas dari upaya mereka dalam menafsirkan kembali Islam (baca: Al-Qur’ân). Menurut Dawam Rahardjo , kegiatan intelektual di dunia Islam dewasa ini dikuasai oleh sekitar lima tema sentral, yaitu: (1) Interpretasi kembali Kepada Al-Qur’an, yaitu keinginan untuk melakukan rekonstruksi terhadap ajaran-ajaran Islam sebagai dasar pembinaan suatu masyarakat modern. Tokohnya di antaranya adalah K.H. Imam Ghozali dari Solo, K.H. Maksum dari Yogya, K.H. Moenawar Cholil, T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah), dan Ustadz A. Hassan Bandung (tokoh Persis); (2) Aktualisasi tradisi, yaitu pemikiran yang mereaksi terhadap pemikiran Interpretasi Kembali Kepada Al-Qur’ân, dengan gerakan melakukan pembaharuan pemikiran Islam dengan selalu melihat warisan sejarah Islam klasik. Tokohnya yang menonjol adalah Mohammad Natsir dan Nurcholis Madjid; (3) Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yaitu gagasan yang memberikan esensi peradaban Islam modern dengan nilai-nilai tauhid. Tokohnya di antaranya adalah Ismail Raji’ al-Faruqi dan A.M. Syaefuddin; (4) Kolaborasi Interpretasi Kembali Kepada Al-Qur’an dan Islamisasi. Tokohnya di antaranya adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan “Pribumisasi Islam” yang mengganti kata “Assalamu’alaikum” dengan “Selamat Pagi” atau “Selamat Malam”; (5) Fundamentalitas Islam, pemikiran yang ingin mengembalikan keadaan Islam seperti masa lalu melalui gerakan radikal fundamental. Tokohnya adalah Abu Bakar Ba’asyir dan Habib Rizik.
Tantangan yang dihadapi pemikiran Islam kontemporer saat ini di Indonesia sangat berbeda dengan masa lalu zamannya Ibnu Rusyd maupun Ibnu Khaldun ataupun zamannya Nur Cholis Madjid dan Gus Dur. Pada masa lalu tantangan mengarah pada pemikiran Islam yang makro, sedangkan masa kini lebih spesifik atau mikro. Misalnya sekarang kita membutuhkan fikih yang dapat menjawab persoalan umat secara langsung, seperti tentang ekonomi Islami, hape Islami, bus Islami, bahkan sampai WC Islami. Sebab, saat ini ada kecenderungan antara tafkir dan takfir, yaitu pemikiran dan gerakan yang mudah mengkafirkan pemikiran orang lain yang tidak Islami, dan mengusung jargon khilafah Islamiyah.
Ada juga pemikiran Islam lain yang mengedepankan kebebasan berfikir seperti yang dibawa oleh anak muda NU semacam JIL nya Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawan. Bahkan yang terbaru ada pemikiran Islam wihdatul wujud yang dibawa oleh Jadul Maula seorang anak muda NU juga yang berpikir bahwa semakin ia bisa menyatu dengan Tuhan maka ia akan semakin kreatif dalam berfikir, karena syahadat yang mengingkari adanya tuhan-tuhan lain selain Dia.

Arah Perubahan Pemikiran Islam Kontemporer
Abad 21 sudah diambang mata. Pada abad ini kita akan disuguhkan dengan perubahan-perubahan dahsyat yang mempengaruhi manusia pasca-modern ke arah ultra-modern atau neo-modern. Menurut Alvin Toffler, abad 21 ini akan berhadapan dengan era gelombang peradaban informasi-komunikasi pasca peradaban industri. Peradaban ini ditandai dengan superioritas akses informasi, bukan lagi alat produksi atau lahan pertanian. Teknologi elektronika dan komputer di zaman ini akan membuat 60% pekerjaan bergerak di bidang jasa informasi. Komputer menjadi trend global dan dapat mengkomunikasikan mansuua lintas negara. Agen-agen sosialisasi, seperti orang tua, guru, atau pemimpin agama, akan digeser oleh peranan komputer dan dapat membentuk keluarga besar baru yang dihubungkan secara elektronis. Adapun yang sanggup bertahan adalah yang berorientasi ke masa depan dan kreatif mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan.
Menghadapi kondisi abad 21 tersebut pemikiran Islam kontemporer harus mampu mendesain format Islam baru. Menurut Nurcholis Nadjid, kaum muslimin harus pandai-pandai mencari idea of progress yang terkandung di dalam cita idel (das sollen) nilai-nilai Islam, kemudian dijabarkan dalam kenyataan sosial sesuai dengan cita realitas (das sein) Islam yang seutuhnya. Nilai-nilai itu tersimpan di dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum Islam.
Nilai-nilai Islam yang harus dikembangkan untuk mendasari pemikiran Islam kontemporer mendatang adalah lima prinsip (kulliyat al-khams) yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima prinsip tersebut adalah: (1) jaminan atas jiwa seseorang dari penindasan dan kesewenang-wenangan (hifdz al-nafs); (2) perlindungan terhadap kebebasan berpendapat secara rasional (hifdz al-‘aql); (3) perlindungan atas harta benda sebagai hak milik (hifdz al-mâl); (5) perlindungan atas kepercayaan dan agama yang diyakini (hifdz al-dîn); dan (5) jaminan atas kelangsungan hidup dan profesi (hifdz al-nasl wa al-‘irdl).
Lima nilai prinsip dasar Islam tersebut menunjukkan betapa universalitasnya Islam tidak hanya menyangkut komunikasi vertikal antara manusia dan Allah Swt, tetapi juga bermuatan komunikasi horizontal antar sesama manusia, serta bagaimana mengelola lingkungan sekitar. Bila disimpulkan secara sederhana, lima nilai prinsip dasar Islam tersebut tercakup dalam terminologi nilai-nilai dari: toleransi beragama, spiritualisme, keadilan sosial, penghormatan terhadap hak-hak asasi dan membelanya jika diinjak-injak, demokrasi, egalitarian (sederajat), solidaritas, harmonitas, dan berkebudayaan maju (progresif). Dalam era mendatang dan upaya membangun kebangkitan kembali pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, maka nilai-nilai ini sangat mendesak untuk ditransformasikan ke tengah realitas sosial budaya, mengingat telah semakin kuatnya penetrasi arus modernisasi beserta segala dampak negatifnya.
Memasyarakatkan nilai-nilai jaminan Islam tersebut pada hakekatnya melakukan inisiatif mengisi kegiatan modernisasi supaya lebih bermakna transendental, yakni mengandung roh-roh etis dan religius. Sehingga modernisasi tidak berarti westernisasi (pem-Barat-an), namun mengakomodir semangat rasionalitas yang terkandung di dalamnya. Rasionalisasi cara berfikir dan menginterpretasi konsep-konsep strategis yang terkandung dalam Al-Qur’ân dan Hadits adalah agenda utama yang harus ditanamkan dalam merangkai sistem budaya dan sistem sosial kaum muslimin. Kuntowijoyo mengklasifikasikan sosialisasi nilai-nilai tersebut sebagai tiga macam gerakan kebudayaan, yaitu: (1) Islam sebagai sebagai gerakan intelektual; (2) Islam sebagai gerakan etik; dan (3) Islam sebagai gerakan estetik.
Sebagai gerakan intelektual, nilai-nilai Islam diangkat menjadi konsep ilmu pengetahuan yang dapat menandingi konsep-konsep yang dianut saat ini. Al-Qur’an sangat kaya memuat nilai-nilai, maka sangat perlulah sekarang diangkat menjadi suatu scientific untuk memberi roh etis terhadap ilmu-ilmu modern. Sedangkan sebagai gerakan etik, Islam dapat memberikan etos tentang sesuatu. Jika etos kapitalisme adalah pertumbuhan, maka Islam dapat menyempurnakannya dengan pemerataan, keadilan, kebersamaan, dan sebagainya. Dan sebagai gerakan estetik, Islam diaktualisasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih bermakna keislaman. Tempat-tempat bekerja, misalnya, dilengkapi dengan sarana mushalla atau masjid. Kesenian diberi nafas keislaman dan sebagainya.
Atas dasar itulah, maka dalam kerangka membangun pemikiran Islam kontemporer di masa mendatang, teori Kuntowijoyo di atas terasa sesuai dengan makna sejarah peradaban Islam yang telah berusia 15 abad yang silam. Ajaran Islam yang tidak mengistimewakan suku Arab atas suku asing (‘ajami) betul-betul menghilangkan batasan etnis dan menolak segala tindakan diskriminatif.
Mendasarkan atas pemikiran Kuntowijoyo sebagai basis gerakan pemikiran Islam kontemporer masa mendatang, saya ingin menyebutkan bawah model pemikiran Islam kontemporer yang dianggap cocok adalah Pemikiran Islam Lateral. Maksudnya adalah bahwa Pemikiran Islam Lateral yaitu berfikir dengan penuh kepasrahan, ketundukan akal dalam beragama ber-dîn al-Islâm untuk mencari sebuah solusi keumatan dengan cara melihat problem yang dihadapi umat dan sekaligus mencari solusi dari pemikiran masa lalu serta menjawab masa depan. Dalam bahasa santri dikenal dengan adagium “al-muhafadhah ‘ala qadîmishshalîh wal akhdzu di al-jadîd al-ashlâh”, memelihara tradisi pemikiran lama yang baik, dan mengambil pemikiran baru yang baru yang lebih baik.
Jadi, pemikiran Islam kontemporer dalam menghadapi dinamika perubahan masa depan adalah Pemikiran Islam Lateral dengan fokus gerakan pada bangunan gerakan kebudayaan Islam, dalam artian bahwa Islam dijadikan sebagai gerakan kebudayaan, yang di dalamnya adalah mensosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits kepada ummat Islam dan masyarakat Indonesia umumnya, baik dalam bentuk pemikiran, sikap, dan perilaku. Dengan cara demikian, insya Allah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia akan terus maju dan dapat diterima oleh seluruh kalangan bangsa Indonesia yang terkenal majemuk ini.

Urgensi Pemikiran Islam Lateral dalam Menjawab Tantangan Zaman
Saat ini umat Islam Indonesia berada di awal tahun 2017, yang konon tahun ini disebut juga dengan tahun “kepalsuan” yang penuh gejolak. Sebab, tahun 2017 disebut sebagai tahun “Ayam Jantan Berapi”, yakni akan munculnya orang-orang secara individu maupun kelompok serta organisasi-organisasi yang menampilkan aroganisasinya kepada pihak lain dengan cara membusungkan dada dan berkokok. Akibat pribadi dan perilaku seperti itu, maka pada tahun 2017 sampai 2020 nanti akan muncul gejolak dan terjadinya konflik antar individu dan kelompok manusia.
Tanda-tanda adanya gejolak semakin kelihatan. Di awali dengan kejadian demo oleh FPI dan kelompok lainnya pada 411 maupun 212 dan 161. Kemudian terjadinya pembunuhan sadis, pembakaran sekretariat GMBI, penganiayaan anggota FPI, dan lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan munculnya fenomena alam seperti gunung meletus, banjir bandang, meledaknya gudang amunisi, dan merajalelanya korupsi.
Pemikiran Islam Lateral merupakan satu cara penyelesaian masalah dengan menggunakan daya imaginasi bukan sekedar logik (burhani), maupun tekstual (bayani), ataupun irrasional (‘irfani). Akan tetapi, pemikiran Islam Lateral adalah pemikiran yang menitikberatberatkan pelbagai jenis jawaban solusi terhadap masalah dengan berlandaskan pada nash-nash (bayani), rasionalitas kontekstual (burhani), dan kebersihan jiwa, pemikiran, sikap sebagai seorang muslim hamba Allah atau ihsan (‘irfani). Tujuan pemikiran Islam lateral adalah melepaskan diri daripada cengkaman persepsi-persepsi lama untuk mencari dan menciptakan idea-idea baru yang solutif.
Maksud pemikiran Islam Lateral yaitu cara menyelesaikan masalah dengan menggunakan daya imaginasi (bukan dengan menggunakan logik atau cara-cara pemikiran yang biasa) sehingga dapat menghasilkan pelbagai pendekatan yang kelihatan luar biasa (kadang-kadang agak luar biasa sedikit) tetapi amat berkesan, karena gagasannya langsung dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Kesimpulannya, Pemikiran Islam Lateral adalah berfikir dengan penuh kepasrahan, ketundukan akal dalam beragama ber-dîn al-Islâm. Sebab, agama hanya berlaku bagi orang yang berakal, dan akal yang baik dalam memahami agama adalah akal yang "tunduk" (taslîm) kepada Tuhan, kepada kerasulan Muhammad dan kepada Al-Qur'an. Untuk mencapai ke-taslîm-an akal ini, manusia harus berfilsafat secara Islami, yaitu filsafat Islam dalam bentuk na'at man'ut (sifat dan yang disifati) yang bermakna Filsafat Islami yaitu ketundukan berfikir dalam mencari kebenaran yang akan menuntut dan menuntun seseorang meraih kepasrahan total kepada Tuhannya. Filsafat Islami yang dimaksud adalah ad-Dîn al-Islâm, yaitu wihdatul wujud antara Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan.
Pemikiran Islam Lateral adalah berfikir dengan cara memadukan unsur-unsur ‘alâmah (rasionalitas) dengan âyah (sakralitas). Karena memang, Al-Qur'an sebagai sumber dari segala sumber rujukan berfikir tersebut mengandung unsur-unsur ‘alâmah dan âyah. Adakalanya dapat dibaca oleh akal, dan seringkali tidak terbaca oleh akal.
Pemikiran Islam Lateral adalah berfikir paralel (Parallel Thinking), yaitu pemikiran yang sangat berkaitan dengan persoalan eskatologis (supra-natural), dunia yang berada di luar “sana” yang luput dari jangkauan akal (irrasional). Oleh karena itu, Pemikiran Lateral Islami adalah meta-berfikir, yaitu berfikir integratif untuk memahami RLS (Real Life System), yaitu sistem kehidupan manusia. Dalam pendekatan RLS, system kehidupan manusia terdiri dari fisik dan psikis (ragawi dan ruhani). Mereka yang disebut manusia adalah mereka yang masih memiliki gabungan dua unsur tersebut yang masih menyatu. Kalau sudah terputus atau berpisah antara kedua unsur tersebut, berarti namanya bukan manusia. Kalau tinggal jasadnya saja disebut bangkai, dan kalau tinggal ruhnya saja disebut makhluk halus alias jurig (bahasa Sunda) yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata.
Pemikiran Islam Lateral adalah meta berfikir atau Parallel Thinking yaitu berfikir wihdatul wujud. Tujuan konsep Pemikiran Islam Lateral adalah menjembatani kutub pemikiran seperti al-Jabiri (bayani, burhani, ‘irfani) post-modernisme pemikiran Islami. Pemikiran seperti ini pernah dicontohkan dalam corak pemikiran Ibnu ‘Arabi. Dalam kitabnya al-Futuhat al-Makiyah, Ibnu Arabi telah melakukan satu sintesis yang sangat berani dan kreatif serta produktif yang bermanfaat dalam menjawab persoalan sikap umat Islam saat ini.
Pemikiran Islam Lateral intinya mengintegrasikan pola pemikiran burhani, bayani, dan irfani yang akan melahirkan kepribadian yang penuh ketundukan (taslîm), yaitu dengan cara memparalelkan ketiga potensi fisik dan psikis manusia seperti sama' (pendengaran) yang rasional, bashar (penglihatan) yang rasional-empirik, dan af'idah (hati nurani) yang penuh dengan kebijakan dan kebajikan berdasarkan tuntunan Tuhan. Hal ini sebagaimana tergambar dalam surat an-Nahl ayat 78:
وَاللهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ اُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً. وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلاَبْصرَ وَاْلاَفْـئِدَةَ. لَّعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. ﴿النحل:٧٨﴾
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl:78).
Pemikiran Islam Lateral akan mampu menjangkau pengetahuan yang tersembunyi berkat mukasyafah izin Allah, seperti yang tergambar dalam surat An-Nahl ayat 77:
وَِللهِِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.النحل: ٧٧
“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi”. (Q.S. An-Nahl/16:77).
Hasil Pemikiran Islam Lateral dicontohkan seperti burung sebagaimana tersirat dalam surat An-Nahl ayat 79:
أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلاَّاللهُُ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ.النحل:٧٩
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. An-Nahl/16:79).
Salah satu isyarat bacaan Pemikiran Islam Lateral terhadap dinamika perubahan situasi 2014 saat ini, khususnya mensikapi dinamika perubahan politik 2014 adalah surat at-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْن.التوبة:١٢٢
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122).
Secara Lateral, ayat ini mengisyaratkan pentingnya memahami tugas umat Islam dalam menguasai kejayaan peradaban, khususnya di Indonesia saat ini dan mendatang, yaitu melakukan tafaqquh fiddîn’ dan juga ‘wa liyundzirû qaumahum’ (memberi peringatan kepada kaumnya). Artinya, di samping kewajiban menuntut ilmu, umat Islam juga dituntut untuk memperhatikan situasi kondisi kebutuhan kaumnya, seperti kebutuhan akan pentingnya pemimpin siyasi yang berpihak kepada kepentingan Islam. Oleh karena itu, tafaqquh fiddîn harus menjadi ‘al-marji’iyyah al-‘ulyâ’ (referensi utama) bagi setiap muslim dalam liyundzirû qaumahum’; dan sebagai ‘al-mi’yar al-asasi’ (standar utama) untuk melihat problema yang dihadapi umat Islam saat ini, seperti kemiskinan, kebodohan, maksiyat, dan lainnya.
Dalam kajian Ibnu ‘Asyur, lafazah ‘tafaqquh’ (dalam kalimat: liyatafaqqahû fiddîn ‘wa liyundzirû qaumahum’) mengikuti wazan tafa’ul yang menyiratkan makna takalluf (bersungguh-sungguh dan mengerahkan semua potensi) guna memperoleh pemahaman yang benar dalam urusan agama guna kepentingan umat.
Atas dasar itu, dalam mensikapi situasi dinamika perubahan siyasi saat ini, sikap kita adalah melakukan upaya sungguh-sungguh untuk menguasai struktural siyasi daulah yakni menjadi anggota dewan, menjadi gubernur, menjadi bupati, menjadi camat, menjadi lurah, menjadi RT/RW, menjadi kepala dinas, menjadi kepala Kemenag, atau lainnya agar bermanfaat bagi kepentingan umat. Dan juga umat Islam atau tokoh Islam atau kaum intelek muslim harus menampilkan dan menguasai kultural, yakni menampilkan keteladanan, kemandirian, ketawadluan, kebersihan jiwa, dan lainnya, agar menjadi contoh ditengah kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, secara Lateral, sudah saatnya Islam harus berkiprah pada tanzim syar’i dan tanzim siyasi untuk mengawal perubahan, sehingga umat Islam tidak lagi menjadi warga second class, kelas dua yang menjadi tamu di negeri sendiri. Sebab, secara mukasysyafah, negara kita akan mengalami guncangan-guncangan di tahun 2017 dan seterusnya. Hal itu membutuhkan kaum cendekia atau ulama untuk menjadi IMAM MAHDI yang mampu menyelesaikan masalah negara dan umat. Wallahu a’lâm.


Bagikan Artikel ini ke Facebook