E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Epistemo Do'a

Dibaca: 362 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2017-02-17 23:28:37 wib


EPISTEMO DO’A
(Perspektif Modernisasi Langitan)
By: Dr. H. Utawi Jaya Kusumah, MM

IFTITAH
Hari ini kita disuguhi oleh beberapa fenomena alam yang sangat menarik untuk dikaji dari perspektif khusus ilmu modern dan sekaligus bacaan alam langitan. Fenomena itu di antaranya diawali oleh kejadian penembakan terhadap enam orang terduga teroris di Ciputat Jakarta Selatan pada awal tahun 2014, kemudian disusul dengan banjir bandang Jakarta, banjir bandang Manado, ditahannya Anas Urbaningrum, dan lainnya.
Tahun 2014 dalam tinjauan teologi China termasuk tahun KUDA KAYU. Makna dari KUDA KAYU (sekarang Ayam Jago Api) adalah binatang yang larinya kencang dan simbol kejantanan, namun hanya bersifat hiasan karena wujudnya hanya sebuah kayu yang tidak bisa lari. Makna langitannya adalah bahwa kondisi negara-negara di dunia termasuk Indonesia akan mengalami percepatan dalam berbagai hal, akan tetapi itu hanya hiasan yang padahal sebenarnya tidak ada perubahan sama sekali. Artinya, ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan lainnya kelihatannya seperti maju, akan tetapi sesungguhnya masih tetap kondisinya seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu dalam keadaan kacau balau dan bahkan cenderung semakin buruk.
Atas dasar itu, sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia sepatutnya melakukan upaya agar situasi negara dan bangsa kita terlindungi dari azab dan situasi yang kurang menguntungkan. Upaya tersebut perlu dilakukan dengan cara berdo’a. sebab, do’a merupakan salah satu medium seorang hamba dalam mendekatkan diri terhadap Tuhan yang telah menciptakan diri dan seluruh fungsinya. Do’a dipandang sebagai wujud syukur seseorang terhadap dirinya sendiri, sekaligus menegasikan kesombongan seorang manusia atas segala potensi yang dimiliki olehnya. Dengan melaksanakan do’a maka manusia menjadi tahu bagaimana kiranya kita bisa memohon anugerah Tuhan di dunia ini. Dan jelas, bagi seluruh umat beragama do’a merupakan elemen penting dalam mengarungi kehidupan.
Berkaitan dengan do’a, ada beberapa keterangan menyebutkan:
Firman Allah SWT dalam surah Al-Mu’min/Ghâfir (40) ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْ~نِىْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ. اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِىْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ.﴿المؤمن:٦٠﴾
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Al-Mu’min:60).

Faktanya di lapangan tidak semua do’a kita dikabulkan oleh Allah SWT, padahal dalam ayat tersebut jelas Allah menyuruh kita untuk berdo’a. Kenapa hal itu terjadi? Kata Abu Hurairah r.a. sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW:
مَامِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْبِدُعَاءٍ اِلاَّالسْـتُجِيْبَ لَهُ فَاَمَّااَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِى الدُّنْيَاوَاِمَّااَنْ يُدَخِّرَلَهُ فِى اْلاَخِرَةِ وَاِمَّااَنْ يُكَفِّرَعَنْهُ مِنْ ذُنُوْبِهِ بِقَدْرِمَادَعَامَالَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ اَوْقَطِيْعَةِ رَحْمٍ. ﴿الحديث﴾
“Tiada seorang muslim yang berdo’a melainkan pasti diterima, maka adakalanya disegerakan pemberian hajatnya di dunia, atau disimpan untuknya di akhirat, atau digunakan untuk menebus dosa-dosa menurut kadar do’anya, selama tidak berdo’a untuk dosa atau untuk memutuskan hubungan famili”. (Al-Hadits).
Umumnya, do’a dijadikan sebagai alternatif terakhir ketika raga sudah tidak berdaya. Tatkala segala macam usaha telah dilakukan guna memperoleh hasil yang memuaskan. Dan memang jika usaha tersebut telah maksimal, maka jalan terakhir adalah menyeimbangkan ikhtiar dengan memohon keberkahan Tuhan (do’a). Ini menunjukkan kepasrahan makhluk atas kuasa Tuhan.
Secara ontologis, do’a dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang maksimal atas apa yang kita usahakan. Tujuan do’a secara garis besar sangat jelas adalah untuk mendapat keberkahan dari Tuhan. Beragam cara yang dilakukan oleh manusia tatkala ia bedo’a, banyak yang kemudian dilakukan dalam bentuk yang kurang rasional, sehingga tak jarang metode yang dilakukan dalam berdo’a ada yang mengundang silang pendapat di antara sesama. Namun, terlepas dari itu semua do’a adalah sebuah jalan atau thariqah bagi kita dalam mendekatkan diri terhadap Tuhan.


EPISTEMOLOGI
Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika, selain itu ia merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Namun ia diperlukan sebagai upaya untuk mendasarkan pembicaraan sehari-hari pada pertangungjawaban ilmiah.
Dalam dunia pemikiran, epistemologi menempati posisi penting, sebab ia menentukan corak pemikiran dan pernyataan kebenaran yang dihasilkannya. Bangunan dasar epistemologi berbeda dari satu peradaban dengan yang lain. Perbedaan titik tekan dalam epistemologi memang besar sekali pengaruhnya dalam konstruksi bangunan pemikiran manusia secara utuh. Oleh karena itu perlu pengembangan empirisme dalam satu keutuhan dimensi yang bermuatan spiritualitas dan moralitas.
Epistemologi yang ingin saya kembangkan di sini dalam membaca fenomena kauniyah Indonesia saat ini adalah Epistemologi Bayani. Epistemologi ini memiliki akar sejarah panjang dalam budaya dan tradisi pemikiran Arab. Epistemologi ini menjadikan wahyu (teks) sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran dalam Islam. Konstruksi berpikir bayani adalah deduktif dengan menjadikan nash atau wahyu sebagai sumber pengetahuan. Bayani merupakan metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Sedangkan yang dimaksud dengan secara tidak langsung adalah memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Dengan kata lain, cara berpikir bayani lebih mengandalkan pada otoritas teks.
Pada kajian ini, hasil pembacaan teks selanjutnya akan dibaca dengan metode LATERAL melalui metode Spiral Dynamik, sehingga bacaan terhadap fenomena alam akan semakin komplit.

EPISTEMO DO’A
Tahun 2014 ini sudah ditandai dengan berbagai macam fenomena alam yang sangat menarik seperti tertembaknya enam orang terduga teroris dan juga timbulnya banjir bandang serta ditahannya Anas Urbaningrum. Nah, bagaimana sesungguhnya nanti situasi Indonesia sepanjang tahun 2014 ini?
Tahun 2014 juga disebut tahun politik, karena pada tahun ini akan terjadi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden. Pemilu Legislatif akan dilaksanakan tanggal 9 April 2014, dan Pilpres akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014.
Kajian pertama adalah Pileg 9 April 2014 bagaimana situasinya dan siapa pemenangnya? Dalam bacaan epistemo, Pileg tanggal 9 April 2014 artinya dibaca pada teks surah 9 (at-Taubah) ayat 4 atau surah 4 ayat 9, yaitu:
إِلَّا الَّذِيْنَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوْا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ.التوبة:٤
“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 9:4)

Atau surah an-Nisâ (4) ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.النساء:٩
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. 4:9)

Bacaaan pertama adalah bahwa Pemilihan Legislatif yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 harus diisi dengan pertobatan (at-taubah), karena pada saat itu akan terjadi kompetisi yang sengit yang cenderung mengarah pada pergolakan politik dan juga memicu timbulnya kerusuhan secara cepat (kuda).
Bacaan kedua adalah bahwa partai pemenang Pileg yaitu partainya yang dipimpin oleh kaum wanita (an-Nisâ) dan partai yang pernah melakukan dosa pada tahun-tahun sebelumnya lalu taubat seperti Golkar.
Sebagaimana diketahui bahwa nomor urut Parpol yang akan berlaga pada Pileg 2014 adalah: 1. Partai Nasional Demokrat; 2. Partai Kebangkitan Bangsa; 3. PKS; 4. PDI-Perjuangan; 5. Partai Golkar; 6. Partai Gerindra; 7. Partai Demokrat; 8. PAN; 9. PPP; dan 10, HANURA.
Ini berarti kans terbesar partai yang akan menang Pileg 2014 adalah PDIP nomor urut 4. Adapun nomor 9 (PPP) masih belum waktunya karena harus taubat terlebih dahulu.
Hasil ini tentu saja akan berimbas pada Pilpres tanggal 9 Juli 2014. Menurut teks Pilpres 2014 akan dimenangkan oleh surah at-Taubah ayat 7. Mari kita baca:
كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ.التوبة:٧
“Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyirikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram, maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 9:7).

Atau surah al-A’raf (7) ayat 9:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآَيَاتِنَا يَظْلِمُونَ.الاعراف:٩
“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS. 7:9)

Bacaan pertama dari kedua sumber teks tersebut dalam kaitannya dengan Pilpres adalah bahwa yang akan menjadi pemenang dan menjadi Presiden yaitu orang-orang yang memiliki tempat tertinggi (al-A’râf) yaitu para penguasa yang dalam hal ini adalah calon yang didukung oleh penguasa saat ini maupun penguasa dunia seperti Amerika Serikat. Artinya, Presiden RI hasil Pilpres 2014 yaitu orang yang didukung oleh SBY dan Amerika. Siapa dia?
Berdasarkan hasil survey, calon-calon Presiden yang saat ini muncul adalah:
• Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia
• Ani Yudhoyono, Ibu Negara Indonesia
• Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina
• Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara
• Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat
• Djoko Suyanto, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan
• Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda Indonesia
• Endriartono Sutarto, Mantan Panglima TNI
• Farhat Abbas, Pengacara
• Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan
• Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II
• Irman Gusman, Ketua Dewan Perwakilan Daerah
• Isran Noor, Bupati Kutai Timur
• Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta
• Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden
• Marzuki Alie, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
• Megawati Sukarnoputri, Mantan Presiden
• Mohammad Mahfud, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi [15]
• Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus
• Pramono Edhie Wibowo, Panglima Angkatan Darat
• Rhoma Irama, Musisi Dangdut dan Aktor
• Rizal Ramli, Mantan Menko Perekonomian Indonesia, penasihat ekonomi PBB
• Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara
• Sri Mulyani Indrawati, Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mantan Menteri Keuangan
• Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem, namun kemudian menolak

Dari nama-nama tersebut ada dua nama yang direstui SBY dan sekaligus Amerika, yaitu Prabowo Subianto dan Sri Mulyani Indrawati. Bagaimana dengan Megawati Soekarnoputri? Sebab dia berhak juga jadi Presiden karena dia nanti akan menjadi pemenang dalam Pileg. Jawabnya yang jelas adalah bahwa Presiden 2014-2019 kemungkinan ada dari unsur wanita sebagai pemenangnya. Bisa Megawati atau Sri Mulyani atau Ani Yudoyono.



ANALISIS EPISTEMO DO’A
Menurut Epsitemo Do’a, siapa pun Presidennya nanti, yang terpenting adalah perlunya ada pertaubatan (at-taubah/surah 9). Sebab, pelaksanaan Pileg maupun pelaksanaan Pilpres terkandung angka 9 yaitu surah at-Taubah atau pertobatan. Artinya, tahun 2014 harus dijadikan tahun pertobatan atau tahun rekonsiliasi atau taubat nasional. Dalam situasi pertobatan tersebut bisa disepakati yang memimpinnya adalah kaum wanita (an-Nisâ) yang direstui oleh penguasa (al-A’râf/tempat yang tinggi) yaitu SBY dan Amerika.
Sisi lain, dalam bacaan Epistemo Do’a, Presiden atau pemimpin Indonesia sejatinya ada dua jenis atau tipe, yaitu pemimpin intrinsic dan pemimpin nominal. Presiden atau pemimpin tipe intrinsic lebih suka mengasah diri melalui proses pembelajaran terus-menerus, untuk menjaga kesiapannya sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka pada umumnya adalah individu yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, memiliki pandangan jauh ke depan. Ucapan dan tindakan mereka menjadi sumber inspirasi bagi orang banyak.
Sedangkan pemimpin nominal adalah mereka yang membangun basis kekuatan dan pengaruhnya lebih berdasarkan pangkat dan jabatan formal. Kemampuannya menggerakkan sesuatu lebih karena ia menduduki posisi formal, meski belum tentu ahli dan berkarakter sebagai pemimpin. Semakin tinggi jabatan dan kekuasaannya, ia akan makin merasa kuat dan berpengaruh. Begitu kekuasaan dan jabatan itu hilang, sirna pulalah pengaruh dan kekuatannya. Para pemimpin nominal inilah yang sering mengalami sindrom kehilangan kekuasaan (post power syndrome), sesudah tak lagi berkuasa. Karena kekuasaan dan jabatan bagi mereka adalah segala-galanya, maka tak jarang para pemimpin nominal mengejar kedudukan dengan segala cara, bahkan menempuh jalan yang merusak diri dan lingkungannya.
Presiden nominal sejatinya menganggap bahwa keahlian, keluasan wawasan, dan kejujuran bukanlah faktor yang penting, karena bagi mereka segala sesuatu “dapat dibeli”. Sejarah mengajari kita: para pemimpin nominal sering terjerumus pada kesewenangan yang kerap menghancurkan diri mereka sendiri. Berharap Piplres 2014 hanya menghasilkan para pemimpin intrinsik tentulah tidak realistis, mengingat dunia nyata memang selalu berwarna. Tetapi memahami kehendak jaman bahwa kehadiran pemimpin intrinsik akan makin diperlukan, bukanlah mengada-ada. Semakin maju peradaban, makin modern dan terbuka masyarakat, maka meritokrasi dan kompetensi kian jadi tuntutan.
Masyarakat modern dan terbuka adalah masyarakat rasional yang menghargai proses dan hubungan sebab-akibat. Peran dan kedudukan seseorang akan selalu dikaitkan dengan proses yang dilaluinya, reputasi, rekam jejak, yang kesemuanya berujung pada kredibilitas seseorang. Cara-cara primitif untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan seperti membeli suara, menyuap, menekan, dan mengintimidasi adalah milik masa lalu. Semua bangsa beradab ingin meninggalkannya. Tak ada yang bisa menolak tekad dan kecenderungan bahwa Indonesia sebagai bangsa harus bergerak maju menjadi bagian dari masa depan yang modern, terbuka, beradab. Karena itu usaha-usaha menyemai, menggandakan, dan memberi tempat seluas-luasnya bagi para pemimpin intrinsik untuk berkarya, semestinya menjadi agenda besar para pemimpin bangsa. Sebagian orang mungkin masih hidup dengan masa lalu; masih percaya pada cara-cara primitif dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Tapi mereka hanya akan memperoleh temporary shelter atau persinggahan sementara di tengah derap jaman yang terus bergerak maju. Berapa lama mereka bisa bertahan? Penentunya adalah tarik menarik antara kekuatan masa lalu dan keyakinan akan masa depan.
Presiden di Indonesia yang terdahulu sampai sekarang, 90% adalah warga Jawa. Hal ini sepertinya memang mengundang mitos bahwa Presiden Indonesia harus berasal dari wilayah Jawa walaupun sebenarnya tidak ada peraturan atau keharusan tentang hal itu. Lima dari enam presiden Indonesia dari tanah Jawa yaitu Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati, dan SBY, sedangkan satu lagi adalah Prof. Habibie yang setengah Bugis setengah lagi Jawa dan hanya memerintah satu setengah tahun. Sebagai mayoritas di republik ini bisa dimaklumi kalau kepimpinan nasional menjadi jatah orang Jawa, rumusnya sederhana ini negara demokrasi dan demokrasi menganut sistem suara terbanyak (majority).
Akankah Mitos Presiden harus Jawa terus berlanjut? Ataukah uang merubah segalanya ada pepatah Jer Basuki Mawa Beya (sesuatu harus dengan biaya/uang). Siapapun yang maju jika dianggap berkualitas pasti rakyat memilihnya, karena semakin kedepan rakyat makin cerdas. Jika demikian, maka sesungguhnya bila meruju pada Ramalan JOYOBOYO bahwa pemimpin atau presiden di Indonesia tidak akan lepas dari inisial NOTONAGORO. Nah, saat ini selama dua periode Presiden Indonesia sudah dijabat oleh NO yaitu SUSILO BAMBANG YUDOYONO. Jadi, periode 2014-2019 kemungkinannya adalah dipegang oleh TO. Artinya, pemenangnya adalah calon Presiden yang ada unsur huruf TO nya, seperti PRABOWO SUBIANTO, MEGAWATI SOEKARNOPUTRI (wanita menjadi TI dan laki-laki TO), SRI MULYANI INDRAWATI, dan WIRANTO.
Untuk melihat kemungkinan-kemungkinannya, mari kita lihat hasil survey lembaga survey di Indonesia tentang Calon Presiden.


















Poll source Date Highlights
Tim Pusat Data Bersatu
6 Februari, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 21.2%, Prabowo Subianto 18.4%, Megawati Sukarnoputri 13%; Rhoma Irama 10.4%, Aburizal Bakrie 9.3%

Rakyat Kaskus Memilih
23 - 25 April, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 49% , Prabowo Subianto 18%, Dahlan Iskan 8%, Jusuf Kalla 5%, Mahfud MD 5%, lainnya kurang dari 3% tidak di-list disini
Pol Tracking Institute
5 Mei, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 82.54%, Tri Rismaharini 76.33%, Fadel Muhammad 70.38%, Syahrul Yasin Limpo 70.31%, Isran Noor 70.14%, Gamawan Fauzi 70.01%, Agustin Teras Narang 69.93%, Herry Zudianto 69.78%

Center of Strategic and International Studies (CSIS)
26 Mei, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 28.6%, Prabowo Subianto 15.6%, Aburizal Bakrie 7.0%, Megawati Soekarnoputri 5.4%, Jusuf Kalla 3.7%, Mahfud MD 2.8%, Hatta Rajasa 2.2%

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
27 Juni, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 22.6%, Prabowo Subianto 14.2%, Aburizal Bakrie 9.4%, Megawati Soekarnoputri 9.3%, Jusuf Kalla 4.2%, Rhoma Irama 3.5%, Wiranto 3.4%, Mahfud MD 1.9%

Indonesia Research Center (IRC)
28 Juni, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 24.8%, Prabowo Subianto 14.8%, Aburizal Bakrie 7.95%, Megawati Soekarnoputri 5.5%, Wiranto 3.9%, Mahfud MD 3.7%, Dahlan Iskan 3.5%, Rhoma Irama 2.7%

Indonesia Research Center (IRC)
15 Juli, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 34.2%, Prabowo Subianto 8.2%, Wiranto 6.7%, Dahlan Iskan 6.3%, Megawati Soekarnoputri 6.1%, Jusuf Kalla 3.7%, Aburizal Bakrie 3.2%, Mahfud MD 2.8%

Lembaga Survei Nasional (LSN)
16 Juli, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 68.1%, Megawati Soekarnoputri 14.9%, Puan Maharani 1.9%, Rano Karno 1.4%, Rieke Diah Pitaloka 1.4%, Ganjar Pranowo 1.1%, Pramono Anung 1.1%, Budiman Sudjatmiko 0.9%

Tim Pusat Data Bersatu
17 Juli, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 29.57%, Prabowo Subianto 19.83%, Megawati Soekarnoputri 13.08%, Aburizal Bakrie 11.62%, Jusuf Kalla 5.47%, Wiranto 3.59%, Hatta Rajasa 1.2%, Mahfud MD 1.2%
Soegeng Sarjadi School of Government
24 Juli, 2013 Elektabilitas: Joko Widodo 25.48%, Prabowo Subianto 10.52%, Jusuf Kalla 5.69%, Aburizal Bakrie 4.23%, Dahlan Iskan 4.14%, Mahfud MD 2.72%, Megawati Soekarnoputri 2.68%, Wiranto 1.18%, Hidayat Nur Wahid 1.02%













Berdasarkan hasil pooling di atas menunjukkan suara Joko Widodo dari PDIP mempunyai presentasi tertinggi. Hal ini menunjukkan Joko Widodo bisa saja disandingkan oleh Megawati Soekarnoputri dengan kandidat lainnya atau langsung paket Mega-Jokowi.
Kajian di atas tentu saja hasilnya akan diserahkan kepada Allah SWT sebagai penentu segalanya. Oleh karena itulah, agar harapan kita sesuai dengan kehendak Allah, maka peranan do’a menjadi penting sebagaimana telah disebutkan dalam do’a di atas dengan kajian Epistemologi Do’a.
Epistemologis do’a memandang bahwa do’a bukan semata-mata sebuah kewajiban hamba terhadap Allah, melainkan lebih jauh do’a adalah sebuah kebutuhan. Tentunya, beragam cara kita sebagai umat islam menyampaikan do’a. Jangan salah, ritualistik Ibadah Sholat yang sering kita lakukan didalamnya terkandung berbagai macam do’a yang menjadi kebutuhan hidup kita. Lebih jauh, Epistemologi do’a berbicara mengenai lafadz-lafadz do’a yang kita lantunkan. Apakah berupa lafadz secara zahir (Qaulun), ataukah dalam bentuk lambang (symbolic praying) atau dalam bentuk tindakan (Bi-alhal). Kesemuanya itu bagian dari metode berdo’a.
Juga, sihir merupakan bagian dari do’a. Seringkali kita memandang bahwa do’a adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk kebaikan dan harus dilakukan dengan cara baik. Padahal, konstruksi pemikiran tersebut tidak selamanya benar. Upaya generalisasi definisi do’a adalah kesalahan tersendiri, sehingga tidak mengakomodir do’a dalam bentuk lain. sihir, seperti yang telah diutarakan merupakan bagian dari do’a. Walaupun cara dan tujuan yang dilakukan cenderung bersifat negatif. Namun, hakikatnya sihir pun memohon pertolongan terhadap di luar dari diri kita. Sihir pun bergam bentuk ada yang kemudian bisa kita katakan sebagai sihir modern (pekembangan teknologi) ataupun sihir tradisional yang kiranya sekarang dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari umat beragama. Nilai positifnya, dari sihir tradional ialah bahwa ada kepedulian dari kita untuk senantiasa melesatarikan warisan leluhur kita. Kewajiban kita bukan mencela tradisi tersebut melainkan merasionalisasikan warisan leluhur apakah masih relevan dengan perkembangan zaman, sehingga kita bisa mengambil ikhtisar dari warisan tersebut. Seklai lagi, sihir merupakan bagian dari do’a. Bukan hanya sihir yang dipandang negatif, banyak juga yang lainnya seperti ilmu kanuragan, pancasona, pamacan, pamonyet, mantra dan lain sebagainya. Semuanya, saya masukkan ke dalam bagian dari do’a.
Dalam Epistemologi Do’a, bahwa do’a dapat dilakukan dengan beragam cara. Tidak hanya ketika kita selepas melaksanakan ritual keagamaan lantas kita melantunkan do’a. Melainkan do’a tidak pernah terbatas dengan konteks ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun kita bisa memanjatkan do’a sebagai bentuk penghambaan kita terhadap Tuhan.
Adalah istiadah, merupakan bagian dari epistemologi do’a. Istiadah merupakan proses memohon perlindungan kepada Allah sebagai penguasa alam. Lafadz yang biasa kita ucapkan adalah lafadz istiadah. Dimana makna dari lafadz tersebut ialah memohon perlindungan dari segala macam godaan setan yang menjerumuskan. Kemudian, ada yang dinamakan Istoghosah. Yakni proses do’a yang dilakukan guna memohon kehadiran ruh dalam diri kita. Ruh atau spirit atau dalam kajian filsafat disebut geist, merupakan sebutan untuk memohon kekuatan metafisika kepada Tuhan dalam diri kita. Untuk mendapatkannya istighosah dilakukan dengan beragam jalan.
Banyak lagi epistemo do’a yang lainnya, seperti istianah (mohon pertolongan kepada Allah dan Makhluk lain), wirid (kegiatan batiniyah yang berkesinambungan, umunya berisi do’a-doa kebaikan), riyadhoh (berbentuk pelatihan kebatinan, dan ini masyhur ketika aliran sufi merajalela), bermunajat (guna membersihkan citra Tuhan yang terkotori oleh kita), juga Hijb, yakni lembaran do’a-do’a khusus. Kesemuanya itu merupakan bagian dari do’a.
Kemudian, apa bentuk aksiologis dari do’a itu sendiri? Sudah jelas, tujuan do’a adalah memohon pertolongan dari di luar diri kita. Maka aksiologisnya ialah bagaimana kita kemudian senantiasa memanjatkan do’a setelah segala macam ikhtiar kita lakukan. Dengan adanya do’a bukan berarti kita memasrahkan segalanya kepada kuasa Tuhan, melainkan kita menegasikan rasa sombong dalam diri sekaligus wujud syukur kita atas segala keberkahan dan kekuasaan Tuhan.
Do’a lazim kita gunakan sebagai alternatif terakhir atas ketidakberdayaan kita. Kita memasrahkan diri kepada Tuhan di luar kekuatan kita, agar Tuhan memberikan daya kepada diri kita sehingga semua yang kita inginkan benar-benar terwujud secara maksimal.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْ~نِىْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ. اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِىْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ.﴿المؤمن:٦٠﴾
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Al-Mu’min:60).

Bagikan Artikel ini ke Facebook