E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Filsafat Ilmu Mistik

Dibaca: 1142 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2017-02-17 23:29:09 wib


FILSAFAT ILMU MISTIK
(Kajian Konstruksi Ontologi, Epistemologi
dan Aksiologi Ilmu Mistik)
Oleh: Dr. H. Utawijaya Kusumah, MM

A. Memahami Konstruksi Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu memiliki cabang-cabang utama ataupun dasar-dasar utama yaitu Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Tafsir, ketiga cabang ini sebenarnya merupakan satu kesatuan. Ontologi membicarakan hakikat segala sesuatu, Epistemologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan dan Aksiologi membicarakan kegunaan pengetahuan.(Ahmad Tafsir, 2004:69).

1. Ontologi
Di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno adalah Ontologi sebab persoalan paling awal dalam permulaan pemikiran Yunani adalah pemikiran di bidang Ontologi.(Ahmad Tafsirm 2010:29). Kata Ontologi berasal dari perkataan Yunani : On = ada, dan logos = teori. Jadi Ontologi adalah teori tentang keberadaan atau dalam Istilah lain Ontologi berasal dari kata Ontos yang artinya adalah “sesuatu yang berwujud” dan logos adalah teori. Jadi ontologi adalah teori tentang yang ada. (Rizal M, 2003:11). Dalam kata lain ontologi adalah teori tentang hakikat wujud, tentang hakikat yang ada. (Juhaya SP, 2004:19).
Berbicara secara panjang lebar tentang Ontologi orang akan menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini ? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan yang kedua, kenyataan yang berupa rohani (jiwa). Ontologi membahas tentang yang ada yang tidak terikat oleh suatu perwujudan tertentu; yang universal; dan berupaya mencari inti yang termuat dalam kenyataan atau yang meliputi semua realita dalam semua bentuknya.(Nung Muhajir, 2001:57).
Sementara itu Jujun S. Suriasumantri (2005:63), menyatakan bahwa Ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Atau sebagaimana Jujun sebutkan, Ontologi sama dengan hakikat apa yang dikaji.
Filsafat Ilmu dalam kajiannya memiliki kajian objek material dan objek formal tersendiri. Objek material atau pokok pembahasan dalam Filsafat Ilmu adalah Ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu Ilmu yang telah disusun secara sistematis dengan metode Ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Disini terlihat jelas perbedaan antara pengetahuan dengan Ilmu Pengetahuan. Pengetahuan itu bersifat umum dan didasarkan atas pengalaman sehari-hari, sedangkan Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat khusus dengan ciri-ciri sistematis, metode ilmiah tertentu serta dapat diuji kebenarannya. Semua manusia terlibat dengan pengetahuan sejauh ia hidup secara normal dengan perangkat indrawi yang dimilikinya, namun tidak semua orang terlibat terhadap pengetahuan Ilmiah, karena ada persyaratan yang harus dimiliki seorang ilmuan. Persyaratan-persyaratan itu meliputi antara lain : Prosedural Ilmiah, Metode Ilmiah yang dipergunakan, diakui secara akademis, ilmuan harus memiliki kejujuran ilmiah.

2. Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan dari bahasa yunani, “epistemi” dan “logy”. Epistemi artinya pengetahuan sedangkan logy berarti teori (dalam istilah lain; Episteme artinya Pengetahuan dan logos artinya teori) (Juhaya, 2008:87), dengan demikian secara etimologi, Epistemologi adalah teori pengetahuan.(Rizal, 2003:16). Epistemologi adalah analisis terhadap sumber-sumber pengetahuan.(Atang Abdul Hakim, 2008:22).
Objek material Epistemologi adalah Pengetahuan, sedangkan objek Formalnya adalah Hakikat pengetahuan, Persoalan lain yang dikaji dalam Epistemologi diantara adalah berkisar pada masalah : asal usul pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubuangan pengetahuan dengan keniscayaan, hubungan antara pengetahuan dengan kebenaran.(Atang Abdul Hakim, 2008:17).
Pengetahuan merupakan suatu aktifitas yang dilakukan untuk memperoleh kebenaran. Pengetahuan dipandang dari jenis pengetahuan yang dibangun dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Pengetahuan biasa (ordinary knowledge/Common sense knowledge). Pengetahuan seperti ini bersifat subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal. Dangan demikian, pengetahuan jenis pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan itu bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
b. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dangan menerapkan pendekatan metodologi yang khas pula, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli yang sejenis.
c. Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafat. Sifat pengetahuan ini mendasar dan menyeluruh dengaa model pemikiran yang analistis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolut-intersubjektif. Maksudnya ialah nilai kebenaran yang terkandung pada jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan dari seorang filsuf serta selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula.
d. Pengetahuan agama yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan dan ajaran agama tertentu.pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya pernyataan dalam suatu agama selalu didasarkan pada keyakinan yang telah tertentu, sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang di gunakan untuk memahaminya itu.
Pengetahuan dipandang atas dasar kriteria-kriterianya dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Pengetahuan Indrawi; yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan atas indra (sense) atau pengalaman manusia sehari-hari.
b. Pengetahuan Akal Budi; yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan rasio.
c. Pengetahuan Intuitif; jenis pengetahuan yang memuat pemahaman dengan cepat. Intuisi, ujar Archi Bahm adalah nama yang kita berikan pada cara pemahaman kesadaran ketika pemahaman itu berujud menampak langsung. Ia menegaskan bahwa tidak ada peng-intuisi-an tanpa melibatkan kesadaran, demikian sebaliknya.
d. Pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif; yaitu jenis pengetahuan yang dibangun atas dasar kredibilitas seseorang tokoh atau sekelompok orang yang dianggap propesional dalam bidangnya.

3. Aksiologi
Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi Aksiologi adalah teori tentang nilai. Sedangkan arti Aksiologi yang terdapat dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri, bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi disamakan dengan Value dan Valuation yang artinya Nilai baik sebagai kata benda abstrak, kata benda konkrit maupun kata kerja. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa aksiologi itu permasalaaaahan sesungguhnya adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Salah satu fungsi filsafat ilmu adalah bertugas memberi landasan filosofis untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dari disiplin ilmu agar dapat menampilkan substantif.
Objek pormal Filsafat Ilmu adalah Hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti : apa hakikat Ilmu sesungguhnya? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa pungsi kebenaran ilmiah itu bagi manusia? Problem inilah yang dibicarajan dalam landasan atau kontruksi pembangunan ilmu pengetahuan, yani landasan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Dan apabila disekemakan Kontruksi ilmu dapat digambarkan sebagai mana dibawah ini.
Ketiga Kontruksi filsafat tersebut (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi) merupakan sebuah kontruksi Ilmu pengetahuan, sehingga dalam mengkaji dan memahami sebuah ilmu pengetahuan tidak terlepas akan pemahaman terhadap ketiga bangunan ilmu tersebut.
Ahmad tafsir, dalam sebuah kajiannya menggolongkan ilmu pengetahuan kepada tiga bagian; Pengetahuan Sain, pengetahuan Filsafat dan pengetahuan Mistik. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba menerapkan bangunan Ontologi, bangunan Epistemologi dan Aksiologi pada salah satu dari ketiga pengetahuan (Sain, Filsafat dan Mistik) , tepatnya pada pengetahuan Mistik.
Pengetahuan Sain adalah pengetahuan yang logis-empiris tentang objek yang empiris. Pengetahauan Filsafat adalah pengetahuan logis (dan hanya logis) tetntang objek yang abstrak-logis. Kata logis disini dapat dalam arti “rasional” dapat juga dalam ariti “supra-rasional”. Pengetahuan mistik pengetahuan supra-rasional tentang objek yang supra-rasional. Berikut ini ditambahkan uranian tentang pengetahuan mistik tersebut. Tujuannya adalah agar kawan-kawan pengaji ilmu memahami secara detail tentang filsafat ilmu mistik ini.
Diuraian berikut ini Ontologi pengetahuan Mistik, Epistemologi pengetahuan Mistik dan Aksiologi pengetahuan Mistik.

B. Ontologi Pengetahuan Mistik
Diantara pembahasan Ontologi pengetahuan mistik adalah hakikat pengetahuan Mistik dan struktur pengetahuan mistik.
1. Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik adalah pengetahua yang tidak rasionnal; ini pengetian yang umum, adapun pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spritual, bebas dariketergantungan dan rasio.
Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Pengetahuan mistik (sebenarnya pengetahuan yang bersifat mistik) ialah pengetahuan yang supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2. Struktur pengetahuan Mistik
Dilihat dari segi sifatnya, kita membagi misti menjadi dua yaitu biasa dan mistik magic. Mistik biasa adalah mistik tanpa kekuatan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini adalah tasauf. Mistik magic ialah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujauan tertentu. Mistik magis ini dapat dibagi yaitu mitsik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Mistik-magis-putih dalam Islam contohnya adalah Mukjizat, Karomah, ilmu hikmah sedangkan mistik-magis-hitam contohnya ialah santet dan sejenisnya yang menginduk kesihir, bahakan boleh jadi mistik-magis-hitam itu dapat disebut sihir saja.
Istilah mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam digunakan sekedar untuk membedakan kriterianya. Orang menganggap mistik-magis-putih adalah mistik-magis yang berasal dari agama langit (Yaudi, Nasrani, Islam), sedangkan mistik-amagis-hitam berasal dari luar agama itu. Dalam prakteknya tipe pengetahuan itu memiliki persamaan yaitu dengan menggunakan do’a-do’a atau mantra-mantra. Sedangkan perbedaan dari keduanya terletak pada segi filsafatnya. Mistik-magis-putih selalu dekat dan berhubungan dan bersandar pada tuhan, sehingga dukungan ilahi sangat menentukan. Sedangkan mistik-magis-hitam selalu dekat bersandar dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat. Menurut ibnu Khaldun mereka memiliki kekuatan diatas rata-rata manusia, kekuatan mereka itu memungkinkan mereka mampu melihat hal-hal gaib, karena dukungan setan / roh-roh jahat tadi. Jiwa-iwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga:
Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Itu disebabkan jiwa mereka telah menyatu dengan jiwa setan atau roh jahat. Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada didalamnya. Ketiga mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok pesulap.
Karena secara filosofis dua kelompok ini berbeda dalam epistemologi dan aksiologi maka kita dengan jelas dapat membedakan keduanya. Keduanya menggambarkan realitas manusia, baik dan jahat, mukmin dan kafir, memegang yang hak dan memegang yang batil. Maka wajar mereka memperoleh sebutan yang satu hitam dan yang satu putih.

C. Epistemologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indra dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat meras. Kalau indra dan rasio adalah alat mengetahui yang dimiliki manusia, maka rasa atau hati, juga adalah alat mengetahui.
1. Objek Pengetahuan Mistik
Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib termasuk tuhan, malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain.termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra-natural (supra-rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin, santet.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Bagaimana memperoleh pengetahuan mistik? Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa. Imanual Kant mengatakan itu melalui moral, ada yang melalui intuisi ada juga yang mengatakan melalui insight, al-Ghazali mengatakan melalui dhamir, atau Qalbu.
Ketika manusia ingin mengetahi hakikat tuhan atau sebagian dari hakikat-Nya? Dalam hal ini kaum Sufi mengatakan, anda harus menghilangkan sebanyak mungkit unsur nasut pada diri anda dan memperbesar unsur lahut. Unsur nasut ialah unsur jasmani, unsur lahut ialah unsur rahani. Bila kita tidak lagi terlalu banyak dipengearuhi usur nasut, maka unsur lahut itu akan dapat berkomunasi dengan tuhan, yang tuhan itu semuanya lahut.
Untuk menghilangkan atau mengurangi unsur nasut itu manusia harus membersihkan rahaninya, membersihkan dari nafsu-nafsu jasmaniah. Ia harus memperkuat rohaninya. Rohaninya akan sensitif atau peka. Caranya antara lain seperi yang diajarkan oleh kaum sufi. Thariqat dalam hal ini merupakan epistemologi untuk memperoleh pengetahuan mistik.
Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riadhah. Dari riadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memmperoleh pengetahuan yang dalam tasauf disebut ma’rifah. Dapatlah disimpulkan sekalipun kasar bahwa epistemologi pengetahuan mistik ialah pelatihan batin.

3. Ukuran kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran Sain diukur dengan rasio dan bukti empiris. Bila teori sain rasional dan ada bukti empiris, maka teori itu benar. Ukuran kebenaran kebenaran Filsafat adalah logis. Bila teori filsafat logis, berarti teori itu benar. Logis berarti masuk akal. Logis dalam filsafat dalam berarti rasional atau supra-rasional.
Kebenaran pengetahuan mistik diukur dengan berbagai ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari tuhan, maka ukurannya ialah teks tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala tuhan dalam al-Qur’an mengatakan bahwa surga neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Adakalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, suatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh melakukan suatu pekerjaan. Ya, kepercayaan kita itulah ukuran kebenarannya. Adakalanya kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiris. Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya. Kebal adalah sejenis pengetahuan mistik. Kebenarannya dapat diukur dengan kenyataan empiris misalnya seseorang memperlihatkan dihadapan orang banyak bahwa ia tidak mempan ditusuk jarum.

D. Aksiologi Pengetahuan Mistik
Dalam aksiologi mistik membahas kegunaan pengetahuan Mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah.
1. Kegunaan Pengetahuan Mistik
Kegunaan pengetahuan Mistik itu amat subjektif, yang paling tau penggunaannya ialah pemiliknya. Seharusnya kita bertanya kepada salik (pengamal tasauf), para pengamal ahli hikmah, atau kepada dukun mereka gunakan untuk apa pengetahuannya itu. Secara kasar kita dapat mengetahui bahwa mistik yang biasa digunakan untuk memperkuat keimanan, misti-magis-putih digunakan untuk kebaikan, sedangkan mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.
Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat mententramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar biasa tatkala “berjumpa” dengan kekasihnya (tuhan). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat. Pemegang mitik-magis-putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan, seperti untuk pengobatan, mengobati patah tulang secara mistik (ini mitik-magis-putih) sementara dokter (pemegang Sain) tidak dapat menyelesaikannya.
Jenis mistik lain seperti kekebalan, pellet, debus, dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal misalnya dapat digunakan dalam pertahanan diri, debus dapat digunakan sebagai pertahanan diri dan juga untuk pertunjukan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri. Sementara mistik-magis-hitam, dikatakan hitam, antara lain karena penggunaannya untuk kejahatan.
Untuk menilai apakah mistik-magis itu hitam atau putih, kita melihatnya pada segi ontologinya, epistemologinya, dan Aksiologinya. Bila pada ontologi terdapat hal-hal yang berlawanan dengan nilai kebaikan, maka dari segi ontologi mistik-magis itu kita sebut hitam. Bila pada cara memperolehnya (epistemologi) ada yang berlawanan dengan nilai-nilai kebaikan maka kita akan mengatakan mistik-magis itu hitam. Bila dalam penggunaan (aksiologi) nya untuk kejahatan maka kita menyebutnya hitam.

2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Istilah “mistik” menunjukan pengertian kegiatan spritual tanpa penggunaan rasio. Ini berlaku bagi dua macam mistik itu. Sedangkan “mistik-magis” adalah kegiatan mistik yang mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya. Mistik magis itu disebut mistik juga karena sangat mirip dengan aktifitas spiritual yang dilakukan oleh masyarakat beragama. Aktivitas jiwa manusia yang serba ingin tau tentang hal-hal diluar dirinya semakin mengukuhkan adanya kehidupan mistik, juga misti-magis. Sejak masa primitif sampai masa moderen ini kenyataanya mistik tetap digunakan sekalipun dalam kondisi tertutup.
Islam, sebagai agama yang memiliki nilai-nilai universal bagi kehidupan manusia sebenarnya telah memberi jalan cukup jelas tentang keberadaan mistik yang goib itu. Masyarakat islam ketika berhadapan dengan tradisi-tradisi lokal seperti yunani, persia, india, warisan arab kono (seperti ibrani, kaldea, suryani) yang kaya dengan praktik mistik-magis terdorong dan terilhami untuk mempormulasikan kembali kegiatan ini dalam bentuk-bentuk yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah agaknya uncul dan berkembangnya tradisi mistik-magis dalam Islam.
Pengetahuan magis yang berkembang di penduduk mesopotania (syiria dan kaldea misalnya) telah diterjemahkan kedalam bahasa arab, dan pada akhirnya ilmuan-ilmuan muslim mmempelajarinya dan dikembangkan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dari sini muncul lagi istilah baru dalam dunia mistik-magis dalam dunia Islam, yaitu ‘ulum al-hikmah yang berisi antara lain rahasia-rahasia huruf al-Quran yang mengandung kekuatan magis, rahasia wafaq, rahasia asma ilahiyyah, ayat-ayat ilahiyah dansebagainya.
Dari sini tampaknya, pengetahuan mistik magis ini selan berkembang sebagai akibat pengaruh dari luwar seperti disebut diatas juga paling mendasar sebagai pengaruh pengetahuan dan pengalaman spiritual mereka. Dapat dikatakan demikian karena kenyataan menunjukan bahwa tokoh-tokoh mistik-magis itu kebanyakan sufi-sufi besar. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengakui bahwa dunia mistik magis yang menggunakan rohaniah selalu muncul dari orang-orang suci (sufi) yang selalu mengolah kekuatan spiritualnya. Bagi mereka yang sampai mengalami kasyf, berbagai kekuatan luar dan kondisi alam pun tunduk dibawah tekanan pancarannya. Boleh jadi berbagai potensi dirinya mengembang dan melingkupi hukum alam sejalan dengan pancaran ilahiyah yang ada dalam dirinya.
Dari berbagai kontemplasi dan pengolahan spiritual, para tokoh yang disebut diatas akhirnya mampu merumuskan berbagai formulasi kekuatan rohaniah yang tekandung dalam ayat-ayat al-Quran dan setiaf pecahan huruf arab yang terkandung dalam al-quran itu, kata al-Syilby, selalu memuji Allah dalam suatu bahsa tertentu dan ia memiliki magis tertentu bila diperaktikkan. Kekuatan alam (aflaq) pun akhirnya tunduk dibawah sinar ilahi dan dukungan-nya melalui huruf-huruf dan nama-nama indah-Nya. Melalui kalam ilahi inilah jiwa-jiwa ilahiyah yang aktif didunia dapat digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya.
Jiwa-jiwa ilahiah ini bukan hanya terdapat pada beribu ribu malaikatnya tetapi juga pada roh-roh yang ada dalam alam ini. Disinilah hukum alam atau sunatullah berada pada kekecualian seperti terjadi pada peristiwa mukjijat para nabi.
Dengan demikian pada perkembangan selanjutnya dunia mistik-magis islam terbagi menjadi dua kelompok, pertama, mistik-magis dalam bentuk wiriid-wirid (termasuk menggunakan ayat atau surat al-Qur’an), kedua, mistik-magis dalam bentuk benda-benda yang telah dipormulasikan sedemikian rupa yang biasanya berupa wafaq-wafaq atau isim-isim tertentu.

E. Cara-Cara kerja Mistik Magis-Mistik Putih
Cara kerja mistik-magis putih ialah sebagai berikut. Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah menemukan bahwa didalam agama ada muatan-muatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah seperti mengatsai sesuatu kebutuhan. Mereka menyadari bahwa kekuatan tuhan baik yang ada dalam dirinya atau yang ada dalam firmannya dapat digunakan oleh manusia. Pada kondisi seperti itu ayat-ayat al-quran atau kitab langit lainnya sering digunakan sebagai pelantara menghubungkan manusia dengan tuhan. Bahkan asma-asma tuhan sering digunakan para ahli bidang ini untuk meminta sesuai dengan kebutuhannya, misalnya, jika ia ingan kaya maka harus diperbanyak menyebut asma tuhan yang berhubungan dengan kaya seperti kata yaa ghany, yaa razzaq, dan lain-lain.
Pengertian yang dapat diambil bahwa do’a dan wirid dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan tuhan yang memiliki apa yang dubutuhkan itu. Para ahli hikmah telah mengembangkan teknik-teknik membuat wirid dan do’a untuk keperluan seperti itu. Teknik itu dikembangkan dalam apa yang disebut asror al-hruf dan asror al-asma.
Masing-masing wirid atau do’a yang sering ditentukan bilangan dalam pembacaannya, biasanya sesuai dengan kekuatan yang ada didalam wirid atau do’a itu. Jika seseorang dapat atau sanggup mempraktekan wirid atau do’a sesuai denga rumusan maka kekuatan ilahiyah (khadam atau malaikat) akan dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Terlebih jika diikuti oleh jiwa yang bersik, misalnya dengan berpuasa dan tirakat.
Cara yang kedua ialah dengan cara memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada didalam huruf-huruf alquran atau yang ada didalam asma-asma Allah cara inilah yang disebut wafaq atau isim. Istilah berasal dari kata wafaqo (sesuai atau selaras), artinya jiwa-jiwa ilahiyah ditarik sesuai dengan karakternya. Jiwa ilahiyyah atau khadam harus masuk dan menempati asma atau huruf yang ditulis pada sesuatu benda.
Kekuatan manusia harus pula diperitungkan agar sesuai denga kekuatan wafaq atau isim yang akan digunakan. Untuk menghitung kekuatan seseorang ahli hikmah biasanya menghitung kekuatan yang ada pada nama seseorang dan nama ibu yang melahirkannya.
Wafaq atau isim harus ditulis dengan menggunakan tinta tertentu, pada kondisi tertentu. Dalam pandangan ulama hikmah waktu memiliki karakter dan potensi. Waktu yang 24 jam itu terbagi oleh tujuh kekuatan yang disimbolkan oleh bintang (zodiak) : atharid, juhal, marikh, musyitari, qomar, syams, dan zuhroh. Setiap hari peredaran bintang itu mengalami perubahan, dengan demikian setiap hari memiliki karakter berbeda dalam setiap jamnya. Karena itu, maka para ahli hikmah harus memindahkan kekuatan khadam yang ada dalam sebuah wafaq harus hati-hati itulah sebabnya hal ini disebut wafaq. Jadi, pada dasarnya para ahli itu menggunakan kekuatan supra natural yang ada pada khadam dalam wirid atau do’a, wafaq atau isim untuk tujuan tertentu

1. Cara kerja Mistik-Magis-Hitam
Cara kerja mitik-magis-hitam telah digambarkan antara lain oleh ibnu khaldun sebagai berikut. Kita melihat dengan mata kepala sendiri cara seorang tukang sihir membuat gambar calon korbannya. Digambarkannya dalam bentuk yang ia inginkan, iarencanakan untuk membuat orang tersebut mengadopsi baik dalam bentuk symbol-simbol atau nama-nama atau atribut-atribut. Lalu ia bacakan mantra bagi gambar yang diletakkannya sebagai ganti orang yang dituju secara kongkrit dan simbolik selama mengulang-ulang kata-kata buruk itu ia mengumpulkan air ludah dimulutnya, lalu menyemburkannya pada gambar itu. Lalu ia ikatkan buhul pada symbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan epektif dalam praktik sihir. Ia meminta jin-jin kapir untuk berpartisipasi agar mantra itu lebih kuat. Gambar korban dan nama-nama buruk-buruk itu memiliki roh jahat. Roh itu dari tukang sihir dengan tiupannya (nafasnya) dan melekat pada air ludah yang disemburkannya keluar. Ia memunculkan lebih banyak roh jahat. Akibatnya, sega sesuatu yang dituju tukang sihir tadi benar-benar terjadi.
Kita juga menyaksikan bagaimana orang mempraktikan sihir. Ada yang menunjuk pada pakaian atau selembar kulit sebagai pelantara dan membacakan mantra-mantra. Dan, lihat, sasaran itu putus dan robek. Dia juga menunjuk pada perut kambing dipadang rumput, dan usus kambing itu putus.

F. Kesimpulan
Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi adalah merupakan cabang-cabang dan dasar-dasar utama dari pada Filsafat Ilmu, oleh karena itu maka setiap berbicara tentang Filsafat Ilmu pastilah salah satunya membicarakan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.
Ontologi adalah lapangan penyelidikan kefilsafat paling kuno dalam sejarah peradaban umat manusia. Ontologi berbicara tentang hakekat ataupun kenyataan (realita) sesuatu yang ada baik yang jasmani maupun yang rohani. Landasan Ontologis merupakan landasan pengembangan ilmu berkaitan dengan hakikat ilmu, sebab secara ontologism, ilmu mengkaji realitas sebagaimana adanya (das sein).
Epistemologi adalah membahas tentang terjadinya dan kesahihan atau kebenaran yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Adapun cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode induktif, deduktif, positivistic, kontemplatif dan dialektis. Landasan epistemologis ilmu berkaitan dengan aspek-aspek metodologis ilmu dan sarana berfikirilmiah.
Aksiologi adalah berbicara tentang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi haruslah diberi nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Persoalan utama yang mengedepankan di sini ialah: apa manfaat ilmu bagi umat manusia? Untuk apa ilmu itu digunakan? Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak? Dalam hal ini nilai kegunaan ilmu menempati posisi yang sangat penting. Dapatkah ilmu membantu manusia untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari atau justru sebaliknya?
Pengembangan ketiga landasan ilmu pengetahuan ini akan melahirkan sifat kebijaksanaan ilmuan dalam menerapkan ilmunya di masyarakat. Sebab apapun halnya, sulit bagi masyarakat untuk menerima kenyataan bahwa produk ilmiah malah menyengsarakan dan merugikan mereka.
























DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan), Rosda Cet Pertama Bandung 2004
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (akal dan hati sejak Thales sampai Capra), Rosda Karya, Bandung 2010.
Atang Abdul Hakim, Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum, (dari metologi sampai teofilosofi), Pustaka Setia, Bandung 2008
Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, Latifah Fress, Tasik Malaya 2004.
Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Kencana, Ed. Ke 1 Cet. 3, Jakarta 2008.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan Cet Kedelapan Belas, Bandung 2005.
Nung Muhajir, Filsafat Ilmu, Rake Carrasin, Yogya 2001
Rizal Mustansir, Misnar Munir, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan III 2003



Bagikan Artikel ini ke Facebook