E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Filsafat Ilmu Dinul Islam

Dibaca: 426 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2017-02-17 23:30:15 wib


FILSAFAT ILMU DÎNUL ISLÂM
By. Dr. H. Utawijaya Kusumah

IFTITAH
Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi trendsetter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat.
Sebelum Islam datang, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahayul. Dalam bidang kedokteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan. Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api.
Kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan disebabkan karena Islam tidak mengenal pemisahan (dikotomi) yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Bangsa Arab melanglang buana mendatangi sumber-sumber filsafat Yunani yang abadi. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi pengkajian alam. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin.
Fakta sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah datang ke Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain lagi.
Masa Kejayaan Islam Pertama telah menjadi bukti sejarah bahwa dengan mengamalkan ajaran Al-Quran umat Islam sendiri akan menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan diatas bumi ini. Pimpinan Umat Islam sesudah wafatnya nabi Muhammad saw, Abubakar, Umar, Utsman dan Ali adalah merupakan pemimpin-pemimpin duniawi dengan jabatan Khalifah, yang menganggap kedudukan mereka itu sebagai pengabdian pada umat Islam, bukan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan mutlak dan kemegahan.
Jadi wajar jika Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella. Perpustakaan Al-Ahkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas. Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Perpustakaan umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk 50.000 eksemplar Al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan lainnya. Namun sayangnya, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar ketika mereka menyerang Islam.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli. Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah. Salah langkah diambil saat mereka mendukung Jerman dalam perang dunia pertama. Ketika Jerman kalah, secara otomatis Turki menjadi negara yang kalah perang sehingga akhirnya wilayah mereka dirampas Inggris dan Perancis. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan IPTEK modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya. Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, pincang, lebih mementingkan kesejahteraan material bagi sebagian individu dan sekelompok tertentu negara-negara maju (kelompok G-8) saja dengan mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi dan militernya, maka kemajuan di Barat melahirkan penderitaan kolonialisme-imperialisme (penjajahan) di Dunia Timur & Selatan.
Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan IPTEK yang lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana alam: tsunami, gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia. Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin, terjadi akibat ketidakadilan dan ’penjajahan’ (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Kemajuan ilmu pengetahuan Barat semakin terasa kering terhadap nilai-nilai spiritual, karena ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Barat cenderung berorientasi pragmatis yang kurang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan agama. Dengan kata lain, kemanjuan IPTEK Barat disebabkan karena mereka meninggalkan agama. Hal itu berbeda dengan ilmu pengetahuan Islam, dimana kemajuannya disebabkan karena mengintegrasikan antara sains, etika, dan agama.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah swt dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Bagi umat Islam, baik Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasul Allah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Swt.
Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Firman Allah Swt dalam surat Mujâdilah ayat 11 menegaskan:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آَمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ.المجادلة:۱۱
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Mujaadilah [58] :11)
Atas dasar itulah, maka diperlukan upaya-upaya konkret dalam mengembalikan kejayaan Islam melalui pelurusan kembali pemahaman dan upaya menggali ilmu pengetahuan yang sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri, terutama dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah dan ayat qauliyah atau quraniyah.. Minimal ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau, diantaranya.
1. Merapatkan barisan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103: “Wa’tashimû bihablillâhi jamî’an walâ tafarroqû”, yang isinya “Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”
2. Kembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.
3. Mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam. Karena Kemal Attaturk mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah, maka sejak saat itulah sampai sekarang kita tidak mempunyai pemerintahan Islam.
Mengapa umat Islam harus menguasai IPTEK? Terdapat tiga alasan pokok, yakni:
1. Ilmu pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Ini fakta, tdk bisa dipungkiri.
2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan IPTEK di negara-negara Islam. Ini fakta yang tak dapat dipungkiri.
3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan kemajuan IPTEK-nya, misalnya umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri.


KESERASIAN AYAT-AYAT KAUNIYAH DAN QAULIYAH/ QUR’ANIYAH
Berkaitan dengan ilmu pengetahuan, Allah Swt telah menurunkan atau menciptakan ayat-ayat-Nya, yaitu ayat-ayat kauliyah atau qur’aniyah dan ayat-ayat qauniyah. Ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat qauniyah Allah berikan kepada manusia secara indrawi atau lewat penelitian dan observasi (al-mubasyiyah) untuk mengungkap gejala-gejala/fenomena kauniyah.
Ayat-Ayat Qauliyah/Qur’aniyah dan ayat-ayat Kauniyah mempunyai keserasian. Allah SWT menurunkan ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya melalui 2 jalur formal yaitu ayat qouliyah dan jalur non-formal yaitu ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah kalam Allah (Al-Qur’an) yang diturunkan secara formal kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan ayat kauniyah adalah fenomena alam, jalurnya tidak formal dan manusia mengeksplorasi sendiri.
Al-Quran Al-Karim, yang terdiri dari 6.236 ayat itu, menguraikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan tentang alam raya sering disebut ayat-ayat kauniyah. Tidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas menguraikan tentang alam raya. Jumlah ini tidak termaksud ayat-ayat yang menyinggungnya secara tersirat.
Al-Quran dan Alam Raya saling menjelaskan. Dalam membicarakan tentang alam dan fenomenanya, paling sedikit ada dua hal yang berkaitan dengan itu, yaitu:
1. Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya dan mengantarkan kepada kesadaran-kesadaran akan ke-Esa-an dan Kemahakuasaan Allah Swt.
2. Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan dibawah kekuasaan Allah Swt serta diatur dengan sangat teliti.
Alam raya tidak bisa dilepaskan dari ketetapan-ketapan tersebut, kecuali jika dikehendaki aloh Allah Swt. Eksplorasi terhadap ayat kauniyah inilah yang dikenal sebagai SAINS, yang kemudian dalam aplikasinya disebut TEKNOLOGI. Sains dan teknologi (saintek) ini adalah implementasi dari tugas manusia sebagai khalifah fil ardhi untuk memakmurkan bumi. Karenanya bagi seorang muslim, saintek adalah sarana hidup untuk mengelola bumi, bukan membuat kerusakan.
Paradigma seorang muslim terhadap ayat-ayat Allah ini, baik ayat qauliyah (Al-Qur’an) maupun kauniyah (fenomena alam) adalah mutlak benar dan tidak mungkin bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah. Pada faktanya sains yang telah ”proven” (qath’i) selaras dengan Al-Qur’an seperti tentang peredaran bintang, matahari dan bumi pada orbitnya. Namun sains yang masih dzanni (teori) kadang bertentangan dengan yang termaktub dalam Al-Qur’an seperti teori evolusi pada manusia.
Allah swt. menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan. Pertama, dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah. Kedua, dengan ath-thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik makhluk hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tak melalui perantaraan malaikat Jibril, maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah Swt. berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ.(۱) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ.(۲) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ.(۳) الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ.(٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.(٥). العلق:۱-٥
“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)
Atas dasar itu, ilmuwan muslim bukan berhenti pada observasi dan menjelaskan fenomena alam, namun mesti mencapai level orang yang berakal. Akal berbeda dengan kecerdasan otak. Hewan pun mempunyai kecerdasan, namun tidak mempunyai akal. Karenanya orang yang tidak menggunakan akal diumpamakan binatang ternak (QS.Al-A’raf : 179).
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَا يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُوْنَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُوْنَ.الأعراف:۱٧٩
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahaminya dengannya (ayat-ayat Allah) dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keEsaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al-A’râf:179).
Manusia yang tidak menggunakan akal dianggap sebagai ”binatang yang cerdas”. Akal adalah kerja qalbu yang berada dalam dada (sebagaimana disebutkan dalam QS.Al-Hajj ayat 46):
أَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَعْقِلُوْنَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُوْنَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِي الصُّدُوْرِ.الحج:٤٦
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al-Hajj:46).
Dalam pandangan seorang muslim ayat qauliyah akan memberikan petunjuk/isyarat bagi kebenaran ayat kauniyah, misalnya surat An-Nur (24):43 mengisyaratkan terjadinya hujan, surat Al-Mukminun (23):12-14 mengisyaratkan tentang keseimbangan dan kesetabilan pada sistem tata surya, surat Al-Ankabut (29):20 mengisyaratkan adanya evolusi pada penciptaan makhluk di bumi, surat Az-Zumâr (39):5 dan surat an-Naml (27): 28 mengisyaratkan adanya rotasi bumi dan bulatnya bumi, sebaliknya ayat kauniyah akan menjadi bukti (Al-Burhan) bagi kebenaran ayat qauliyah (lihat surat Al-Fushshilat 41:53).
Banyak contoh hubungan berkelindaan antara ayat-ayat Qauliyah/Qur’aniyah dengan ayat-ayat Kauniyah. Ayat-ayat Qauliyah sebagai petunjuk wahyu yang memberikan isyarat global tentang fenomena iptek, untuk membantu menjelaskan dan mencocokkan terhadap ayat kauniyah. Minimal ada dua contoh ayat yang menjelaskan hubungan kedua ayat tersebut seperti tentang Siklus Hidrologi dan tentang Alam Semesta.
1. Ayat/Fenomena Kauniyah (Fenomena Sirkulasi Air)
Hasil observasi dan penelitian yang berulang-ulang bahwa “siklus hidrologi” atau sikulasi air (hydrologi cycle) dapat dijelaskan sebagai berikut: “Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang terjadi akibat radiasi/panas matahari, sehingga air yang dilaut, sungai, dan juga air pada tumbuh-tumbuhan mengalami penguapan ke udara (transpiration), sehingga dikenal sebagai evapo transpiration, lalu uap air tersebut pada ketinggian tertentu menjadi dingin dan terkondensasi menjadi awan. Akibat angin, bekumpulah awan dengan ukuran tertentu dan terbuat awan hujan, karena pengaruh berat dan gravitasi kemudian terjadilah hujan (presipitasion). Beberapa air hujan ada yang mengalir di atas permukaan. Tanah sebagai aliran limpasan (overland flow) dan ada yang terserap kedalam tanah (infiltrasioan). Aliran limpasan selanjutnya dapat mengisi tampungan-cekungan (depresioan storage). Apabila tampungan ini telah terpenuhi, air akan menjadi limpasan-permukaan (surface run off) yang selanjutnya mengalir kelaut. Sedangkan air yang terinfiltrasi, bisa keadaan formasi geologi memungkinkan, sebagian dapat mengalir literal di lapisan tidak kenyang air sebagai aliran antara (subsurface flow/interflow). Sebagian yang lain mengalir vertikal yang disebut dengan “perkolasi” (percolation) yang akan mencapai lapisan kenyang air (saturated zone/aquifer). Air dalam akifer akan mengalir sebagai air tanah (grounwter flow/base flow) ke sungai atau ke tampungan dalam (deep storage). Siklus hidrologi ini terjadi terus-menerus atau berulang-ulang dan tidak terputus.
2. Ayat/Fenomena Qauliyah
Pada penjelasan fenomena kauliyah, dapat ditarik kesimpulan bahwa “siklus hidrologi” memiliki 4 (empat) macam proses yang saling menguatkan, yaitu: (a) hujan/presipitasi; (b) penguapan/evaporasi; (c) infiltrasi dan perkolasi (peresapan); dan (d) limpahan permukaan (surface run off) dan limpasan air tanah (subsurface run off).
Isyarat adanya fenomena “siklus hidrologi” dapat dilihat pada surat An-Nûr (24) ayat 43, yaitu:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ.النور:٤۳
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”. (An Nûr: 43)

Pada ayat diatas, menunjukkan adanya proses inti yang sedang berlangsung dan merupakan bagian dari proses “siklus hidrologi.”Kedua proses itu, yaitu proses penguapan (evaparasi)yang ditunjukkan dengan kata “awan”dan proses hujan (presipitasi)yang berupa keluarnya air dan butiran es dari awan. Dimana awan adalah massa uap air yang terkumpul akibat penguapan dan kondisi atmosfir tertentu.
Awan dalam keadan ini yang kalau masih mempunyai butir-butir air berdiameter lebih kecil dari 1 mm masih akan melayang-layang di udara karena berat butir-butir tersebut masih lebih kecil daripada gaya tekan ke atas udara. Sehingga pada kondisi ini awan masih bisa bergerak terbawa angin, kemudian berkumpul menjadi banyak dan bertindih-tindih (bercampur), dalam ayat lain awan menjadi bergumpal-gumpal seperti pada surat Ar-Arûm (30) ayat 48:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ.الروم:٤٨
“Allah, dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Q.S. Ar-Arûm: 48).

Demikian jelaslah bahwa dengan terbawanya awan oleh pergerakkan angin, maka awan akan berkumpul menjadi banyak dan bergumpal-gumpal. Akibat berbagai sebab klimatologis seperti pengaruh kondensasi, awan tersebut dapat menjadi awan yang potensial menimbulkan hujan, yang biasanya terjadi bila butir-butir berdiameter lebih besar dari pada 1 mm.
Sehingga pada ayat di atas “hujan keluar dari celah-celahnya” awan, maksudnya secara ilmiah “hujan” turun tidak seperti menggelontornya air, melainkan berupa butir-butir air kecil (lebih besar dari pada 1mm) yang turun dari awan akibat pengaruh berat dan gravitasi bumi, seperti jatuhnya tetes-tetes aur dari celah-celah mata air. Sedangkan turunya butiran-butiran es langit, itu disebabkan apabila gumpalan-gumpalan awan pada ketinggian tertentu dan kondisi atmosfir tertentu mengalami kondensasi sampai mencapai kondisi titik beku, sehingga terbentuklah gunung-gunung es. Kemudian karena pengaruh berat dan gravitasi bumi sehingga jatuh/turun ke permukaan bumi, dan dalam perjalananya dipengaruhi oleh temperatur, pergerakan angin dan gesekan lapisan udara , maka gunung es itu peceh menjadi butir-butir es yang jatuh ke permukaan bumi.
Bila terjadi hujan masih besar kemungkinan air teruapkan kembali sebelum sampai di permukaan bumi, karena keadaan atmosfir tertentu. Hujan baru dusebut sebagai hujan apabila telah sampai di permukaan bumi dapat diukur. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagai air lintasan dan sebagai air yang terinflocrsi/meresap ke dalam tanah.
Kaidah-kaidah atas di tunjukkan pula pada surat Al-Mu’minûn (23) ayat 18:
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ.المؤمنون:۱٨
“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya”. (Q.S. Al-Mu’minûn :18)

Pada ayat diatas Allah menurunkan hujan menurut suatu ukuran sehingga hujan yang sampai di permukaan bumi dapat di ukur. Hanya tinggal kemampuan manusai sampai dimana tingkat validitasnya dalam mengukur dan memperkirakan jumlah atau kuantitas hujan. Sehingga timbul beberapa teori pendekatan dalam analisis kuantitas hujan yang menjadikan berkembangnya ilmu hidrologi. ”Lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi”. Maksidnya adalah air yang jatuh dari langit itu tinggal di bumi menjadi sumber air, sebagai mana tercantum dalam surat Az-Zumar 39 ayat 21:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الزمر:۲۱
“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.(Az-Zumar:21).

Sumber-sumber air di bumi bisa berupa air sebagai aliran limpasan seperti air sungai, danau, dan laut. Juga bisa berupa air tanah (graund water) sebagai akibat dari infiltrasi seperti air sumur, air artesi dan sungai bawah tanah.
Dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. maksudnya Allah berkuasa untuk menghilangkan sumber-sumber air tadi, seperti dengan cara kemarau panjang (akibat siklus musim yang dipengaruhi oleh pergerakan matahari disekitar equator), sehinga tidak ada suplai air sebagai pengisian (recharge) ke dalam permukaan tanah atau bawah permukaan tanah. Sedangkan, proses penguapan, pergerakan air permukaan dan pergerakan air tanah berlangsung terus-menerus, sehinga lapisan air tanah (water table) menjadi turun dan sumber mata iar menjadi berkurang, bahkan lebih drastis lagi muka air tanah bisa turun mencapai lapisan akifer artetis yang kedap air. Maka kondisi seperti itu seringkali terlihat sungai-sungai kekeringan, sumur-sumur air dangkal kekeringan, muka air danau surut dan bahkan ada yang sampai kering, dan pohon-pohon mengalami kerontokan dan mati kekeringan. Kaidah-kaidan seperti ini sebagaimana telah digambarkan pad surat Az-Zumar (39) ayat 21 di atas.
Dengan demikian bahwa kajian ayat-ayat qauliyah diatas meliputi suatu sunnatullah “daur” yang terus menerus tidak terputus, seperti lingkaran setan yang disebut sebagai “siklus hidrologi”. Dengan demikian, ayat-ayat Qauliyah dengan ayat-ayat Kauniyah selalu berhubungan saling menjelaskan satu sama lainnya.Artinya, dalam pandangan filsafat ilmu Dinul Islam, sains atau ilmu pengetahuan senantiasa selaras dengan wahyu.

KESERASIAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bahwa ayat-ayat Kauniyah senantiasa berhubungan dengan penjelasan ayat-ayat Qauliyah atau ayat-ayat Qur’aniyah. Hal ini mengandung arti bahwa ilmmu pengetahuan dengan agama senantiasa terintegrasi, tidak ada dikotomi diantara keduanya. Untuk membuktikan kedua hubungan antara ayat-ayat Kauniyah dengan ayat-ayat Qauliyah atau antara ilmmu pengetahuan dengan agama tersebut, maka alat yang dapat dipakai adalah Filsafat. Dengan demikian, terdapat hubungan yang erat antara ilmu pengetahuan dengan filsafat dan agama.
Ilmu pengetahuan merupakan implementasi dari pengetahuan yang didasarkan atas rasio dan kaidah-kaidah yang ada. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui sesuatu dengan lebih jelas lagi. Bahkan dengan ilmu pengetahuan manusia memenuhi kodratnya yaitu menjadi khalifah di bumi. Karena dengan ilmu pengetahuanlah, manusia dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada di bumi ini dengan sabaik-baiknya, tanpa mengadakan perusakan.
Sedangkan filsafat merupakan ilmu atau kajian yang membahas mengenai hakekat dari segala sesuatu, asal mula sesuatu tersebut. Pada dasarnya filsafat merupakan dasar atau induk dari segala ilmu. Sebuah ilmu yang akan dihasilkan biasanya dibicarakan terlebih dahulu dalam dunia atau kajian filsafat. Filsafat mencoba membuat jawaban atas segala sesuatu secara mendasar. Pada dasarnya filsafat adalah ilmu berpikir yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Adapun agama merupakan wahyu atau ajaran Tuhan. Agama mencoba menjawab persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan akal pikiran manusia. Ketika filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab sebuah masalah, maka agamalah yang kemudian menjawabnya.
Ketiga hal tesebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang terjadi antara ketiganya dapat berupa hubungan searah maupun dua arah. Hubungan yang terjadi antara ketiga aspek tersebut bukanlah hubungan yang dapat dinilai atau dilihat hanya dalam sekali memandang saja maupun sekali belajar saja. Akan tetapi hubungan antara ketiganya ini dapat dilihat dengan jelas sekali. Bahkan dapat dikatakan hubungan antara ketiganya tersebut merupakan hubungan yang sangat penting dan perlu dikaji lebih mendalam secara filosofis, dan perlu ditinjau dari segi pandangan Dinul Islam.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah empiris-terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indra manusia, rasional dan umum. Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang tidak mutlak. Kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan bersifat relatif (nisbi), positif dan terbatas. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan tidak mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan (otak).
Tiap cabang ilmu menghadapi soal-soal yang tidak dapat dipecahkan oleh cabang ilmu itu sendiri. Ia membutuhkan campur tangan ilmu-ilmu yang lain. Misalnya pembahasan fiqih tidak bisa terlepas dari pembahasan sosiologi, psikologi, statistik dan lain-lain. Ilmu pengetahuan adalah teka-teki yang apabila suatu persoalan telah diselesaikan, maka timbullah soal-soal lain dari penyelesaian tersebut. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pertanyaan mengenai inti atau hakekat sesuatu secara mendalam. Ia tidak mampu megobati kerinduan dan kehausan manusia terhadap cinta mutlak dan abadi. Sebagian pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan itu akan dijawab oleh filsafat sebagai ilmu universal.
Menurut pandangan Dinul Islam ilmu pengetahuan berasal dari Allah Yang Maha Tahu. Ia menurunkan ayat-Nya yang berupa ayat kauniyah dan qauliyah (qur’aniyah). Setelah manusia mengetahui mengenai dua ayat tadi yaitu ayat kauniyah dan ayat qur’aniyah, maka manusia menginterpretasikannya, selanjutnya lahirlah ilmu pengetahuan, perintah agar manusia menginterpretasikan ayat-ayat tersebut terdapat dalam surah al-‘Alaq ayat 1-5 sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, dan juga tafsir surah ‘Ali Imran ayat 190-191.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. (۱٩۰) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (۱٩۱). ال عمران:۱٩۰-۱٩۱
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dsn mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imrân : 190-191).

Hasil dari interpretasi alam atau ayat kauniyah melahirkan ilmu botani, geologi, biologi, fisika, astronomi, kimia, geografi, antropologi, sedangkan ayat kauniyah yang berupa manusia melahirkan ilmu psikologi, sosiologi politik. Sedangkan hasil interpretasi dari ayat qur’aniyah dalam Al-Qur’an dan Hadits menghasilkan ilmu seperti ilmu fiqih, tasawuf, tafsir, ulumul hadits, tauhid, ushul fiqh. Demikianlah ilmu pengetahuan menurut pandangan Dinul Islam dan ilmu ini akan berhubungan dengan filsafat dan juga agama.
Filsafat itu sendiri akan mengajari manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang mengikuti kebenaran, mempunyai ketenangan pikiran, kepuasan, kemantapan hati, kesadaran akan arti dan tujuan hidup, gairah rohani dan keinsafan, kemudian mengaplikasikannya dalam bentuk topangan atas dunia baru, menuntun kepadanya, mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan, berjiwa dan bersemangat universal dan sebagainya.
Pada dasarnya filsafat merupakan cara berpikir yang sistematis, koheren, sinoptik, konsepsional, rasional dan mengarah pada pandangan dunia. Filsafat merupakan berpikir tentang hakekat dari segala sesuatu. Baik dari segi ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya.
Adapun alat yang dipergunakan filsafat adalah akal yang merupakan satu bagian dari rohani manusia. Keseluruhan rohani-perasaan, akal, intuisi, pikiran dan naluri atau seluruh kedirian manusia tentunya lebih ampuh dan manjur daripada sebagian dari padanya. Sedangkan keseluruhan rohani itu sendiri merupakan bagian dari manusia. Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Sebuah intuisi yang tidak sempurna tidak dapat mencapai kebenaran yang sempurna, kecuali apabila mendapat uluran tangan dari Yang Maha Sempurna. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan dapat bersifat positif dan relatif karena bersandar pada kemampuan manusia semata, kebenaran filsafat juga kebenaran relatif, alternatif dan spekulatif, karena ia bersandar pada kemampuan akal juga. Tak ada satupun jawaban filsafat yang mutlak sempurna.
Jika suatu masalah tidak terjawab dengan ilmu pengetahuan dan filsafat pun terdiam atau memberikan jawaban dugaan, spekulasi, terkaan, sangkaan, dan perkiraan, maka manusia berada dalam kebingungan. Sebagian mereka mengambil jawaban dari instansi yang dipercayai lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan dan filsafat dan lebih menentramkan jiwa yaitu agama. Orang yang berpikir bebas tentang ketuhanan mengambil beberapa jalan, yaitu: anti Theis (mengakui Tuhan tapi ingkar), Atheisme (tidak mengakui adanya Tuhan), non theis(tidak ambil pusing tentang ada dan tidaknya Tuhan) dan Theis ( mengakui adanya Tuhan tapi belum tentu beragama).
Dalam filsafat juga dibicarakan yaitu hakekat Tuhan atau pencipta, dalam kajiannya pencipta dapat dicari dengan menggunakan akal semata tanpa bantuan wahyu. Bahkan ibn Tufail mengatakan penemuan Tuhan dengan akal dan dengan wahyu tersebut hasilnya sama saja. Hal ini mengindikasikan bahwa wahyu fungsinya memperkuat penemuan akal.
Sesuatu yang berkaitan dengan agama menjadi persoalan yang sarat emosi, subyektivitas, kecenderungan dan kadang sifat tidak mengenal tawar menawar. Realitas ini dikatakan konsepsi tentang agama menyangkut kepentingan agama tersebut, keyakinan dan perasaan.
Agama berasal dari bahasa sanskerta yaitu a dan gam yaitu tidak pergi, sedangkan dalam bahasa arab yaitu dîn dan dalam bahasa latin yaitu relegere yang berarti undang-undang. Agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran tentang ketentuan, kepercayaan, kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal demi keselamatan dan kesejahteraanya di dunia dan akherat. Agama merupakan kebenaran mutlak karena bersumber dari Tuhan.
Manusia yang memiliki potensi akal, berkesanggupan untuk mengerti dan memahami sedikit tentang realitas kosmis kemudian mengolah dan merubah sebatas kemampuan, serta menjelajahi dunia rohaniah. Pemahaman dan penyelidikan akal terbatas pada dunia yang tampak dan hasilnya tidak sanggup memberikan kepastian. Karena itu manusia harus berhenti dari aktifitas akalnya, ketika akal telah sampai pada batas kulminasinya dan berpindah pada keimanan ketika berbicara tentang Tuhan, akherat dan sesuatu yang berada diluar kemampuan akal. Akal memberikan kebebasan kepada manusia untuk percaya dan tidak percaya tentang wujud Tuhan. Tapi agama dan perasaan mewajibkan untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan tidak dapat digapai oleh rasio manusia. Meskipun manusia berpikir tentang Tuhan dengan filsafat, tapi pada akhirnya harus mengakui adanya Tuhan dengan firmanNya. Jadi bisa dikatakan bahwa agama memiliki kebenaran yang mutlak.
Tuhan menciptakan manusia dengan keterbatasan akalnya, bukan berarti Tuhan mencelakakan, membingungkan atau menyengsarakan manusia, tapi justru dengan adanya keterbatasan itu akan menunjukkan adanya Yang Maha Sempurna. Tuhan memberikan jalan kebebasan terhadap kebingungan dan problematika manusia yang tidak bisa terselesaikan.
Allah berkenan menurunkan wahyu-Nya kepada umat manusia sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat, agar mereka menemukan kebenaran yang hakiki dan asasi yang tidak dapat dicapai sekedar dengan akalnya. Juga agar manusia mendapat jawaban yang pasti atas persoalan-persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat.
Berulangkali Allah berfirman bahwa Dialah Yang Maha Benar dan sumber segala kebenaran. Al Qur’an yang merupakan firman-Nya adalah kitab kebenaran, diturunkan sebagai petunjuk, rahmat dan cahaya bagi semesta alam. Disamping itu Allah juga menegaskan bahwa islam adalah agama yang benar. Dengan ajaran islam yang tertuang dalam al Qur’an, Allah memutuskan berbagai problema asasi yang tidak dapat dipecahkan dengan akal manusia.
Di dalam firman Allah surah Al-Kahfi ayat 29:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِيْنَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوْهَ بِـئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا.الكهف:۲٩
Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (Q.S. Al-Kahfi:29).
Ilmu pengetahuan mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat. Filsafat merupakan induk dari segala ilmu dan dapat dikatakan bahwa semua ilmu pengetahuan pada mulanya berasal dari kajian filsafat. Filsafat merupakan sistem berpikir yang menyeluruh, maka dari itu sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri semua ilmu pengetahuan berasal dari kajian filsafat. Namun setelah ilmu tersebut berkembang dengan pesatnya dan mempunyai metode dan pendekatan tersendiri dalam mencari bukti kebenarannya, maka ilmu tersebut berpisah atau memisahkan diri dari filsafat.
Garapan filsafat berbeda dengan garapan ilmu pengetahuan. Antara keduanya saling membutuhkan. Dalam kenyataan setiap ilmu vak memerlukan falsafahnya, seperti dalam ilmu pendidikan ada falsafah pendidikan, dalam ilmu hukum terdapat falsafah hukum dan dalam ilmu politik terdpat falsafah politik. Filsafat sebagai penggambaran pikiran secara radikal sanggup menembus apa-apa dibalik fakta, sehingga dapat memberikan kepuasan pada manusia. Sebab dengan demikian manusia disamping mengetahui apa yang tersurat juga mengetahui apa yang tersirat dengan daya pikirnya.
Dengan demikian menjadi lengkaplah kebutuhan manusia untuk memahami keberadaan ini dari sisi tersurat dengan jangkauan indranya dan dari sisi tersirat dengan jangkauan pikiran filosofisnya.
Ilmu pengetahuan juga mempunyai hubungan erat dengan agama. Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal (berfikir) dan perasaan manusia tentang sesuatu yang diketahui melalui pengalaman, informasi dan perasaan.
Ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri diantaranya:
1. Obyek ilmu pengetahuan adalah empiris, yaitu fakta-fakta empiris yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan menggunakan panca indranya.
2. Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika, hasil yang diperoleh bersifat rasional, obyektif rasional, universal dan kumulatif.
3. Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, studi dan pemikiran, baik melalui pendekatan deduktif maupun induktif atau keduanya.
4. Sumber dari segala ilmu adalah Tuhan, karena dia yang menciptakan.
5. Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.
Ilmu pengetahuan dapat dibuat sehingga sebagai standar kualitas tertinggi dalam pandangan Dinul Islam diantaranya:
1. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran. Dengan kekuatan intelegensi yang dibimbing oleh hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran dalam hidupnya sekalipun hasilnya relatif.
2. Ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal saleh.
3. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam untuk mencapai ridha Allah.
4. Ilmu pengetahuan sebagai penghubung daya pikir. Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua visi, yaitu sebagai produk berpikir dan sebagai kegiatan dan pengembangan daya pikir.
5. Ilmu pengetahuan sebagai hasil pengembangan daya pikir. Manusia adalah makhluk yang berpikir dari lahir sampai masuk liang lahat. Berpikir pada dasarnya adalah sebuah proses yang membuahkan ilmu pengetahuan. Penggunaan daya pikir selalu dianjurkan oleh Allah untuk menghasilkan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dikembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Allah dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang bertambah pula petunjuk Tuhan atau Allah. Jadi semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin ia mengetahui kedudukannya yang dhif di hadapan Allah.karena itulah ilmu pengetahuan mempunyai nilai yang pragmatis apabila ilmu tersebut dapat mempertebal keimanan dan ketaqwaan seseorang dan menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.
Dalam ajaran Dinul Islam, ilmu haruslah yang rasional, sesuai dengan akal dan dapat dijangkau dengan kekuatan akal pikiran manusia. Walaupun demikian masih ada ilmu yang belum dapat dicapai oleh pikiran. Bentuk ilmu ini menunggu perkembangan atau modifikasi ilmu-ilmu sebelumnya. Implementasinya, epistimologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara kritis, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan lebih cepat dicapai bila ilmuwan memperkuat penguasaanya.
Ilmu pengetahuan itu sendiri terbagi menjadi 2 kelompok.
1. Ilmu fardhu (wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber dari kitab suci.
2. Ilmu yang merupakan fardhu adalah ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya kita berhubungan dengan alam seperti ilmu biologi, geologi, dll, yang berhubungan dengan manusia seperti kedokteran, psikologi, dll yang berhubungan dengan kehidupan sosial manusia seperti politik, hukum dll.
Berdasarkan pemahaman tersebut, berarti ilmu pengetahuan, filsafat dan agama mempunyai hubungan yang signifikan Hubungan antara filsafat dengan agama sudah dicuplik sedikit di depan. Jadi pada intinya antara filsafat dengan agama tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari hakekat segala sesuatu dan mencari jawaban yang tidak bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan. Contohnya pencarian terhadap Tuhan atau dalam islam disebut dengan Allah. Hal itu juga dibahas dalam filsafat.
Kalau agama mencarinya dengan metode menafsirkan wahyu yang turun, sedangkan filsafat dengan berpikir secara mendalam tentang apa yang ada disekitar kita. Dalam filsafatnya ibn Tufail dijelaskan dalam cerita Hayy bin Yaqan bahwa antara filsafat dengan agama terjadi kesinambungan penemuan yaitu sama-sama menemukan Tuhan yang satu.
Persamaannya adalah sama-sama mengkaji tentang ayat Tuhan. Kalau agama mengkaji atau melalui ayat qauliyah sedangkan filsafat melalui ayat kauniyah, yaitu dengan berpikir tentang alam yang ada disekitar kita. Kalau kita lihat hubungan antara keduanya ini menjadi hubungan searah yaitu sama-sama menuju kepada pencarian Tuhan dan sama-sama menemukan kebenaran tentang adanya Tuhan hanya saja jalannya berbeda.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa disamping ada kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama dan terejawantahkan dalam wujud Al-Qur’an, juga diakui adanya kebenaran yang sesuai dengan kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Kebenaran tersebut merupakan hasil usaha manusia dengan akalnya. Akal adalah pemberian Allah yang Maha Benar, dan Allah menciptakannya tidaklah dengan kesia-siaan. Karena itu akal bukanlah untuk disia-siakan tetapi untuk dimanfaatkan. Jadi bisa dikatakan selain ada kebenaran mutlak yang langsung datang dari Allah, diakui pula keberadaan kebenaran relatif sebagai hasil budaya manusia, baik berupa kebenaran spekulatif (filsafat) maupun kebenaran positif (ilmu Pengetahuan). Manusia hanya dapat hidup dengan wajar dan benar manakala ia mau mengikuti kebenaran mutlak sekaligus mengakui eksistensi dan fungsi kebenaran-kebenaran lain yang sesuai dengan kebenaran mutlak agama tersebut.
Wilayah agama, wilayah ilmu pengetahuan, dan wilayah filsafat memang berbeda. Agama mengenai soal kepercayaan dan ilmu mengenai soal pengetahuan. Pelita agama ada di hati pelita ilmu ada di otak. Meski areanya berbeda sebagaimana dijelaskan di atas, ketiganya saling berkait dan berhubungan timbal balik. Agama menetapkan tujuan, tapi ia tidak dapat mencapainya tanpa bantuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Ilmu yang kuat dapat memperkuat keyakinan keagamaan. Agama senantiasa memotifasi pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan akan membahayakan umat manusia jika tidak dikekang dengan agama. Dari sini dapat diambil konklusi bahwa ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh.

FILSAFAT ILMU DINUL ISLAM
Manusia sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain, ia diberi akal dan pikiran untuk membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Dari keistimewaan inilah menusia diberi gelar sebagai khalifatun fil ardhi yang padanya diberikan penglihatan, pendengaran dan fu’ad. Dengan kelengkapan itu manusia mencoba menggunakannya dalam memahami realitas kehidupan ini dengan sempurna.
Pada tahap manusia menggunakan fasilitas yang Allah berikan itu untuk mencoba memahami ilmu pengetahuan muncullah tipe manusia yang pemahaman secara sekuler dan tipe manusia yang selalu menyandarkan pada Qur’ani.
Tipe manusia yang menyandarkan akal, indra, melihat sumber ilmu dari manusia mereka lepas kontrol dengan Allah, dan tipe manusia yang menyandarkan pada wahyu, selalu melihat ilmu itu berasal dari Allah.
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka dalam memahami atau mentafsirkan ayat-ayat Kauniyah dan Qur’aniyah, ilmu pengetahuan manusia terbagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Fatihah ayat 7, yaitu:
صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ.الفاتحة:٧
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Q.S. Al-Fâtihah:7).

Berdasarkan ayat tersebut, golongan manusia dalam memahami ayat-ayat Qur’aniyah dan Kauniyah terbagi ke dalam:
1. Golongan yang diberi nikmat (Dînul Islâm)
2. Golongan yang dimurkai (Islamolog)
3. Golongan yang sesat (Sekuler/Kafir)
Golongan yang diberi nikmat dapat disebut sebagai golongan Dînul Islâm dalam memahami ayat-ayat Qur’aniyah dan Kauniyah berdasarkan petunjuk Allah. Sedangkan golongan yang dimurkai adalah golongan orang-orang Islam (Islamolog) yang memahami ayat-ayat Qur’aniyah dan Kauniyah dengan cara mencampur-adukan antara petunjuk Allah dengan metode kalangan sekuler. Adapun golongan yang sesat adalah golongan orang-orang yang memisahkan antara agama dan dunia atau sekuler.
Sains sekuler melihat ilmu dari dua sumber yaitu rasio dan pengalaman yang diperkenalkan aliran rasionalisme dan emperisme. Menurut rasionalisme dengan pendekatan deduktifnya menyatakan didapatkan ilmu itu dari ide, bukan ciptaan manusia. Faham ini biasa disebut idealisme dan faham ini menyatakan dengan penalaran yang rasional bisa mendapatkan satu kebenaran .
Untuk kaum imperealis ilmu itu diketahui lewat satu pengalaman tetapi mereka tidak bisa membuktikan hahekat pengalaman itu, karena alat yang diperoleh manusia itu mempunyai keterbatasan yaitu pancaindra yang ada sangat memiliki keterbatasan.
Selain dua sumber di atas ada juga sumber lain yaitu intuisi yaitu suatu proses kebenaran tanpa melalui belajar lebih dahulu. Jadi sumber ilmu menurut sains sekuler diperoleh melalui hasil usaha maksimal manusia dengan melaui pengamatan dan hasil kerja rasio secara maksimal.
Menurut filsafat sains sekuler ada empat sumber pengetahuan.
1. Orang yang memiliki otoritas. Filsafat sekuler menempatkan adanya orang yang mendapat otoritas sebagai sumber ilmu yaitu mereka yang karena otoritasnya tepat dan relefan dijadikan sebagai sumber pengetahuan tentang sesuatu hal. Otoritas tersebut didasarkan pada kesaksian yang bisa diberikannya. Pada zaman modern ini orang yang ditempatkan mendapat otoritas misalnya dengan pengakuan melalui geral, ijazah, hasil publikasi resmi, namun penempatan otoritas sebagai sumber pengetahuan tidaklah dilakukan dengan penyandaran pendapat sepenuhnya. Dalam arti tidak dilakukan secara kritis untuk tetap bisa menilai.
2. Indra. Dalam pandangan filosof sains modern indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salaj satu sumber internal pengetahuan. Untuk mengetahui kemampuan indra bisa diajukan pertanyaan, bagaimana bisa mengetahui besi dipanaskan bisa memuai atau air bisa membeku menjadi es, menurut filsafat sains sekuler terhadap pertanyaan seperti ini indra bisa menjawabnya. Ilmu sekuler mengembangkan prinsip tersebut secara metodis melalui pengamatan terarah dan eksperimen untuk mendapatkan data dari fakta emperik. Untuk mewujudkan hal itu, ilmu sekuler menggunakan peralatan teknologis untuk menjalankan prinsip presepsi indra dalam mempresepsi secara terarah terhadap data, fakta yang relefan.
3. Akal. Dalam kenyataan ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempresepsinya dengan indra terlebih dahulu manusia bisa membangun pengetahuan. Bertitik tolak dari pandangan seperti ini, maka filsafat ilmu sekuler menempatkan akal adalah salah satu sumber ilmu pengetahuan. Pandangan ini merupakan representasi dari pandangan filsafat rasionalisme yang dalam pandangan moderatnya berpendirian bahwa manusia memiliki potensi mengetahui.
4. Intuisi. Bahwa suatu sumber pengetahuan yang mungkin adalah intuisi atau pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak merupakan hasil pemikiran yang sadar atau presepsi rasa yang langsung. Memahami istilah intuisi dalam arti kesadaran tentang data-data yang langsung dirasakan. Jadi intuii merupakan pengetahuan tentang diri sendiri. Intuisi ada dalam pemahaman kita tentang hubungan antara kata-kata yang membentuk bermacam-macam langkah dan argumen.
Adapun sumber ilmu menurut sains Dinul Islam adalah bahwa Islam melihat Allah sebagai Maha Pencipta dan yang diciptakan sebagai hamba, manusia termasuk yang diciptakan. Maka yang dihasilkan oleh manusia adalah memiliki kelemahan-kelemahan, dengan kekurangan dan kelemahan itu tidak mungkin ia sebagai sumber ilmu.
Dan Allah yang mengajarkan kepada manusia tentang apa yang tidak diketahuinya, dan melengkapi manusia segala perlengkapan dan fasilitas mendengar, melihat, dan hati sebagai timbangan atas apa yang hendak dibuat oleh manusia. Dan Allah sudah tegaskan dalam QS. Al- Nahl (16): 78:
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. النحل:٧٨
Bahwa Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya tidak mengetahui apa-apa. Pada saat itu Allah melengkapi pada manusia pendengaran, penglihatan agar manusia itu menyadari dan bersyukur atas apa yang diberikan dan pada ayat lain Allah menyuruh manusia itu untuk selalu belajar mencari ilmu, melalui pendidikan. Ini menunjukkan bahwa manusia bukan sumber ilmu tetapi sumber ilmu itu dari Allah.
Pandangan bahwa Allah adalah sumber ilmu tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki ilmu tetapi Allah sebagai sumber ilmu yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya, dan Allah melengkapi manusia segala perlengkapan dan jalan yang meniscayakan manusia mengusahakan untuk perolehan ilmu. Dan manusia bisa menjadi jalan bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu dan orang seperti adalah orang yang mempunyai otoritas yang diperoleh dari Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil dari ilmu Allah yang banyak itu. Maka tidak mungkin manusia menjadi sumber ilmu.
Berdasarkan ayat tersebut dapat ditarik beberapa makna sebagai berikut:
1. Bahwa manusia tidak membawa pengetahuan sejak lahir karena itu tidak mungkin menempati posisi sebagai sumber ilmu. Sesuatu yang ada pada mulanya tidak memiliki tidak mungkin menjadi sumber, karena ia juga hanya berposisi sebagai yang memperoleh.
2. Pada hakekatnya hanya Allah lah yang mengetahui dan manusia pada hakekatnya tidak mengetahui.
3. Perolehan ilmu oleh manusia adalah perolehan dengan perantaraan, yakni segala perantara (bil) yang memasukan qalam sebagai perwujudan Allah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.

Hal itu berbeda dengan pandangan ontologi kaum Islamolog dan Sekuler. Menurut pandangan sekuler dan Islamolog, kalau berbicara masalah ontologi, adalah bicara sesuatu yang reslitas, maka dipertanyakan apa sebenarnya dengan kenyataan itu. Maka yang dicari adalah hakekat dari kenyataan itu . Untuk menjawab ini ditampilkan tiga aliran:
1. Naturalisme. Berpendapat bahwa hakekat dari kenyataan itu adalah bersifat alam, yaitu kekuatan yang ada pada satu tempat yakni ruang dan waktu, dan berkesimpulan bahwa apa saja yang bersifat alam adalah berada pada ruang dan waktu.
2. Materialisme. Berpendapat bahwa sesuatu yang dinyatakan nyata pasti berawal dari materi. Inti pendapatnya hakekat yang terdalam bertitik tolak dari satu pendangan yang sama, yaitu kenyataan terdalam adalah bersifat materi.
3. Positifisme. Menyatakan pernyataan-pernyataan metafisis tidak mengandung makna, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan tapi untuk mengetahui hakekat sesuatu ilmu itu keadaan dan diperifikasi.
Menurut pandangan Dinul Islam (Qur’an), segala sifat yang lekat, untuk memahamiu hakekat sesuatu yang difahami selama ini hanyalah akibat dari kerendahan diri bagi ciptaan Allah. Dengan tidak melepaskan diri dari landasan al-Qur’an dapat dikatakan bahwa sejauh kita akan berbicara mengenai hakekat realitas yang diciptakan Allah selama ini, maka harus berangkat dari satu keyakinan yang mendalam bahwa Allah yang menciptakan sesuatu dan Allah-lah yang lebih mengetahui hakekat ciptaan-Nya. Untuk melihat hakekat realitas dalam pemahaman kita sehari-hari harus berawal dari al-Haq, sebagai kebenaran mutlak.
Perbedaan pandangan antara Sekuler dan Islamolog dengan Dinul Islam juga dapat dilihat dalam memahami epistemologi ilmu pengetahuan. Teori pengetahuan atau epistemologi ilmu yaitu pembahasan secara mendalam oleh manusia agar memproleh ilmu pengetahuan. Ilmu itu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui satu proses tertentu yang disebut metode ilmiah.
Jadi yang penting adalah asal usul pengetahuan dimana peran pengalaman dan akal dalam mencari ilmu.
Sumber ilmu pengetahuan (epistemologi) dalam pandangan kalangan Islamolog dan Sekuler meluputi tiga kutub besar, yaitu: Rasionalisme, Empirisme, dan Fenomenalisme.
Mazhab Rasionalisme ini berasal dari para filosof Eropa seperti Rene Descartes (1596-1650) dan Immanuel Kant (1724-1804), dan lain-lain yang populer disebut sebagai teori rasional. Menurut teori ini ada dua sumber bagi pengetahuan (konsepsi). Pertama, penginderaan (sensasi). Menurut teori ini, konsepsi manusia tentang panas, cahaya, rasa dan suara karena penginderaan terhadap hal-hal itu. Kedua, adalah fitrah, dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari indera, tetapi ia sudah ada dalam lubuk fitrah. Dalam pengertian yang terakhir ini, jiwa menggali gagasan-gagasan tertentu dari dirinya sendiri.
Rene Descartes berpandangan konsepsi-konsepsi fitri ini adalah ide “Tuhan”, jiwa, perluasan dan gerak serta pemikiran-pemikiran yang mirip dengan semuanya itu dan bersifat sangat jelas dalam akal manusia. Tetapi bagi Kant, semua pengetahuan manusia adalah fitri, termasuk dua bentuk ruang dan waktu serta duabelas kategori Kant.
Menurut mazhab ini, indera adalah sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana. Hanya saja indera bukan satu-satunya sumber. Di samping indera, ada fitrah yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dalam akal.
Menurut Descartes, untuk sampai kepada kebenaran, maka tidak mungkin hanya mengandalkan indera. Secara metodologi, maka ilmu pengetahuan harus mengikuti jejak ilmu pasti, meskipun ilmu pasti bukanlah metode ilmu yang sebenarnya. Ilmu pasti hanya boleh dipandang sebagai penerapan yang paling jelas dari metode ilmiah. Metode ilmiah itu sendiri menurutnya lebih umum. Segala konsepsi dan gagasan baru bernilai benar jika secara metodologis dikembangkan dari intuisi yang murni (fitrah).
Sesuatu yang dipandang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctly). Apa yang jelas dan terpilah-pilah itu, tidak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar kita. Pertentangan ini menyebabkan ia bersikap meragukan segala sesuatu. Dalam konteks ini hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu bahwa aku ragu-ragu (aku meragukan segala sesuatu). Sifat meragukan ini bukan khayalan, melainkan suatu kenyataan. Aku ragu-ragu, atau aku berpikir, dan oleh karena aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum). Memang menurut Descartes, apa saja yang dipikirkan bisa saja merupakan suatu khayalan, aka tetapi bahwa kegiatan berpikir bukanlah khayalan. Dalam hal ini “tiada seorangpun yang dapat menipu saya, bahwa saya berpikir, dan oleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu, maka aku berada.”
Sumber pengetahuan berikutnya menurut kalangan Islamolog dan Sekuler adalah empirisme. Istilah empirik berasal dari kata Yunani emperia, yang berarti pengalaman inderawi. Kaum empiris memberi tekanan kepada empirik (pengalaman), baik pengalaman lahiriah maupun batiniah sebagai sumber pengetahuan. Dengan demikian, empirisme bertentangan dengan rasionalisme. Di antara tokohnya adalah Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704).
Teori ini berpendapat bahwa penginderaanlah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan berbagai konsepsi dan gagasan, dan bahwa potensi mental akal-budi adalah potensi yang tercermin dalam berbagai persepsi inderawi. Jadi ketika manusia mengindera sesuatu, ia akan dapat memiliki suatu konsepsi tentangnya, yakni menangkap form dari sesuatu itu dalam akal budi. Adapun tentang gagasan-gagasan yang tidak terjangkau oleh indera, menurut aliran ini, tidaklah dapat diciptakan oleh jiwa, demikian pula jiwa tidak dapat membangunnya secara esensial dalam bentuk yang berdiri sendiri.
Akal budi berdasarkan teori ini, hanyalah berfungsi mengelola konsepsi dan gagasan inderawi. Hal itu dilakukan dengan cara menyusun konsepsi-konsepsi dan membagi-baginya.
Thomas Hobbes, orang pertama yang mengikuti aliran empirisme di Inggris pada abad ke-17 telah membangun suatu sistem filsafat yang lengkap mengenai “yang ada” secara mekanis, yang menjadi pijakan dasar filsafat empirisme. Ia adalah seorang materialis pertama dalam filsafat modern.
Menurut Hobbes, segala yang ada bersifat bendawi. Bendawi dimaksudkan ialah segala sesuatu yang tidak bergantung kepada gagasan kita. Ia juga mengajarkan bahwa segala kejadian adalah gerak, yang berlangsung karena keharusan. Realitas segala yang bersifat bendawi terliput di dalam gerak itu. Segala obyektifitas di dalam dunia luar bersandar kepada suatu proses tanpa pendukung yang berdiri sendiri. Ruang atau keluasan tidak memiliki eksistensi atau keber-“ada”-an sendiri. Ruang justru gagasan tentang hal yang ber-“ada” itu. Sedangkan waktu adalah gagasan tentang gerak.
Konsistensi gagasannya juga terlihat dalam pandangannya tentang manusia. Ia memandang manusia tidak lebih dari pada suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi pada manusia dapat dijelaskan sebagaimana kejadian alamiah bendawi lainnya secara mekanis. Jiwa itu sendiri menurutnya adalah kompleks dari proses-proses mekanis dalam tubuh. Akal bukanlah pembawaan, melainkan hasil perkembangan karena kerajinan.
Seperti di singgung di atas, pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman. Pengalaman adalah awal segala pengetahuan. Pengenalan dengan akal hanya memiliki fungsi mekanis, karena pengenalan dengan akal pada hakikatnya mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan. Pengenalan dengan akal dimulai dengan pemakaian kata-kata (pengertian-pengertian), yang hanya mewujudkan tanda-tanda menurut adat-kebiasaan saja, dan yang menjadikan jiwa manusia dapat memiliki gambaran yang diucapkan dengan kata-kata itu. Selanjutnya, hal ini akan membentuk pengalaman (empirik). Isi pengalaman itu adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan yang disimpan di dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lampau.
Madzhab lainnya memandang bahwa sumber pengetahuan adalah fenomena. Filsuf Jerman abad ke-18 Immanuel Kant melakukan pendekatan kembali terhadap masalah hakikat rasio dan indera sebagai sumber pengetahuan setelah memperhatikan kritikan-kritikan yang dilancarkan oleh David Hume terhadap sudut pandang yang bersifat empiris dan rasional. Mengapa pendirian Kant disebut sebagai fenomenalisme?
Kant berpendapat bahwa sebab akibat tidak dapat dialami. Indera hanya dapat memberikan data indera. Data itu ialah warna, cita rasa, bau, rasa dan sebagainya. Memang benar, kita mempunyai pengalaman; tetapi sama benarnya juga bahwa untuk mempunyai pengetahuan (artinya menghubungkan hal-hal), maka kita harus keluar dari atau menembus pengalaman, kata Kant. Bagaimanakah ini mungkin terjadi? Jika dalam memperoleh pengetahuan kita menembus pengalaman, maka jelaslah, dari suatu segi pengetahuan itu tidak diperoleh melalui pengalaman, melainkan ditambahkan pada pengalaman.
Jika orang tidak dapat membayangkan berupa apakah suatu “rasa yang bersahaja” dengan “suatu bunyi yang kasar”, maka jelaslah bahwa data indera yang murni tidaklah merupakan pengetahuan. Pengetahuan terjadi bila akal menghubungkan, misalnya “rasa menekan yang bersahaja” dengan “bunyi yang kasar” untuk memperoleh fakta bahwa tekanan terhadap sesuatu menyebabkan terjadinya bunyi tersebut. Hubungan ialah suatu cara yang dipakai oleh akal untuk mengetahui suatu kejadian; hubungan itu tidak alami. Hubungan ialah bentuk pemahaman kita, dan bukan isi pengetahuan.
Sumber ilmu pengetahuan (epistemologi) menurut Dinul Islam tentu saja berbeda dengan kalangan Sekuler maupun Islamolog. Menurut Dinul Islam bahwa sumber pengetahuan meletakkan dasar pertama bagi manusia, bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan harus memperoleh petunjuk Al-Qur’an sebagai referensi utama. S

Bagikan Artikel ini ke Facebook