E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Keseimbangan

Dibaca: 476 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: I Gede Mustika, S.Ag,M.Si lihat profil
pada tanggal: 2017-03-08 10:34:46 wib


Om Swastyastu,
Setiap orang memiliki pergaulannya masing-masing, tetapi dalam pergaulan dan interaksi sosialnya tersebut tentulah juga memiliki norma-norma atau aturan-aturan yang harus dipatuhi. Sebab, tidaklah mudah untuk bergaul atau berinteraksi dengan orang laing yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh sifat dan karakter seseorang yang juga berbeda-beda. Pergaulan sosial adalah merupakan ciri kehidupan masyarakat yang memiliki lingkup sosial yang tertata dengan baik, setiap orang akan memerlukan orang lain sebagai teman untuk mencurahkan perasaan atau keadaan kehidupannya yang bertujuan untuk mencari jalan keluar atau solusi agar setiap masalah atau beban yang dihadapinya dapat berkurang, setidaknya dapat memberi masukan terhadap dirinya, hal apa yang harus dilakukan.
Kehidupan sosial setiap masyarakat atau umat tidaklah sama, oleh karena itu, umat atau seseorang perlu mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi warna baru dalam kehidupannya. Maka, masyarakat harus bisa dan dapat membagi waktunya atau setidaknya melakukan kegiatan dengan seimbang. Seimbang yang bermakna positif tentunya. Dalam hal ini, keseimbangan itu dapat dibagi tiga, yaitu ;
1. Keseimbangan Spiritual,
2. Keseimbangan Sosial, dan
3. Keseimbangan Emosional..
Umat sedharma yang berbahagia…
Akan kita bahas keseimbangan tersebut satu persatu…
1. Keseimbangan Spiritual, yaitu kita sebagai umat beragama agar selalu melakukan yadnya sesuai dengan prosinya masing-masing. Dalam hal ini yang dimaksud adalah, lakukanlah yadnya atau selalu melakukan hubungan yang baik dan teratur dengan Leluhur, Manifestasi Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Jangan hanya menikmati apa yang sudah diberikan, tetapi ucapkanlah terima kasih atas apa yang telah kita terima. Kehidupan yang seimbang selalu membawa kita ke dalam hal-hal yang positif, ibarat daya listrik, antara positif dan negatif agar seimbang dalam pemakaiannya. Begitu juga kehidupan kita, keseimbangan spiritual ini membawa kita kepada tujuan yang sangat mulia sebagai umat yang beragama. Tentulah juga kita harus melihat seberapa besar atau kecil kemampuan kita sebagai umat dalam hal beryadnya tersebut. Kalau lebih kita punya, maka lebih yang akan kita yadnya-kan atau kita punia-kan, kalau sedikit yang kita punya, maka sesuaikan juga yadnya yang kita haturkan. Leluhur dan Tuhan serta segala manifestasinya tidak pernah meminta dengan paksa atau dengan keharusan apabila kita akan beryadnya. Tetapi kitalah yang dengan bijak harus melihat kondisi kita sebagai umat, seberapa besar yadnya atau punia yang akan kita haturkan. Maka, keseimbangan itu sangat perlu untuk menjaga agar hubungan kita dengan Tuhan tetap terjaga dengan baik.
2. Keseimbangan Sosial, adalah keseimbangan interaksi kita dengan masyarakat sekitar. Sebagai umat beragama yang baik dan santun serta memiliki kehidupan spiritual yang sangat baik pula, maka yang perlu dan sangat bijak untuk dilakukan adalah memiliki pergaulan sosial yang baik dan terjaga dengan rukun dan harmonis. Jangan merasa kita sebagai orang yang sangat spiritualis, kita melupkan orang-orang disekitar kita. Ibarat timbangan, menilai diri sendiri untuk seimbang, tidaklah mudah. Orang lainlah yang bisa menilai itu. Setidaknya sebagai orang yang memiliki pergaulan sosial yang baik serta mampu menempatkan diri dengan baik pula di masyarakat, maka haruslah ini dipelihara dengan baik juga. Jangan hanya ke atas kita ingat, tetapi kesamping kiri dan kanan kita juga harus ingat, dengan siapa kita hidup, dengan siapa kita bertetangga dan yang paling penting adalah dengan siapa kita bersaudara. Kalau keseimbangan ini sudah tercipta dan terjalin dengan baik, maka tidak mungkin tidak, kita akan mendapat reward atau penghargaan dari orang lain. Maka peliharalah hubungan yang baik dengan sesama, baik itu saudara atau orang lain yang ada disekitar kita.
3. Keseimbangan Emosional, adalah bagaimanan kita dengan arif dan bijaksana membawa diri sehingga kita tidak lepas kendali dalam mengontrol emosi. Setelah kita menunjukkan bahwa diri kita sebagai umat yang memiliki Sradha dan Bhakti yang baik, maka janganlah merasa diri kita sebagai orang yang merasa paling rajin menyembah Tuhan. Tetapi tunjukkanlah prilaku yang santun dan rendah hati, jangan angkuh, jangan tinggi hati dan jangan merasa diri kita paling banyak medana punia di Pura. Rendah hatilah, karena orang-orang disekitar kita juga ikut berdana punia walau nilai dan jumlahnya tidak sebesar yang kita puniakan. Begitu juga dalam pergaulan sosial, apabila kita sudah banyak melakukan sumbangan-sumbangan sosial untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, maka anggaplah itu sebagai tabungan berbuat baik untuk di akhir hayat nanti. Jangan memperlihatkan diri kita sebagai umat yang paling banyak membantu, Tuhan akan mencatat segala bentuk perbuatan baik yang kita lakukan. Maka jaga keseimbangan emosi kita agar semua perbuatan baik yang kita lakukan, apakah itu yadnya atau punia dan sumbangan-sumbangan sosial, agar diri kita tetap menjadi umat yang santun dan ramah baik dihadapan Tuhan atau orang lain.
Umat sedharma yang berbahagia….
Dalam konteks keseimbangan ini, perlu diperhatikan bahwa kita sebagai umat beragama, memiliki tanggung jawab yang sama dihadapan Tuhan. Keseimbangan ini tidak melihat kita ini kaya atau miskin, pejabat atau pelayan, pegawai atau petani, ganteng/cantik atau jelek, tetapi yang terpenting adalah kita harus selalu berbuat baik. Tidak harus melihat waktu kapan dan dimana serta kepada siapa kita berbuat baik, tetapi sebagai umat beragama yang mentaati ajaran agama, marilah selalu teguhkan hati dan bulatkan tekad dalam kebaikan dan keseimbangan.
Om Santih, Santih, Santih Om…

Bagikan Artikel ini ke Facebook