E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

MASA SURAM SMK BERBASIS PERTANIAN

Dibaca: 678 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: NUR ICHSANUDDIN, S.Pt, M. Pd lihat profil
pada tanggal: 2017-03-12 07:30:14 wib


MASA SURAM SMK BERBASIS PERTANIANSejak dahulu negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris, kabupaten Merauke sendiri bahkan sudah dicanangkan sebagai lumbung pangan bagi papua serta kota Agropolitan. Hal ini tidak lepas dari potensi yang dimilikinya berupa tanah datar berawa yang luas,subur dan memang sangat cocok untuk usaha pertanian.
Untuk mencapai tujuan tersebut Pemerintah Daerah dalam hal ini Bapak J.Gluba Gebze sebagai Bupati Merauke kala itu sangat tepat dalam menghadirkan sejumlah Sekolah/SMK berbasis pertanian(2004). Kebijakan menghadirkan Sekolah/SMK berbasis pertanian diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia(SDM) dibidang pertanian yang berkualitas dalam jumlah yang cukup. Dengan berdirinya Sekolah/SMK berbasis pertanian diharapkan dapat menstandarisasi serta meningkatkan ketrampilan pertanian yang dipunyai anak negeri, sehingga dapat mengelola potensi dan keunikan alamnya lebih baik lagi tanpa harus tergantung pada SDM daerah lain atau manca negara.
Sayangnya, seiring dengan waktu dan adanya pergantian pimpinan daerah, Kebijakan untuk menghadirkan Sekolah/SMK berbasis pertanian di hampir setiap Distrik tersebut mengalami “masuk angin” dan “jalan ditempat”, dikarenakan adanya pergeseran kebijakan dan arah investasi pembangunan daerah. Dari kebijakan yang berfokus pada pertanian menjadi hanya sekedar pendukung sektor lainnya. Sekolah/SMK berbasis pertanian yang sudah terlanjur didirikanpun harus ikut menyesuaikan dan merehabilitasi visi, misi, dan tujuan kehadirannya. Akibatnya saat ini relatif kita sulit membedakan antara Sekolah/SMK berbasis pertanian dan SMA dalam hal sistem pembelajarannya. Mengapa?
Sebab saat ini kegiatan pembelajaran lebih banyak dilakukan kelas layaknya SMA dikarenakan berbagai alasan. Kegiatan praktek yang harusnya memiliki prosentase yang lebih banyak daripada teori tidak dapat dilakukan karena dana operasional yang tidak mencukupi, tidak adanya lahan praktek, ataupun peralatan pengolahan/budidaya yang masih tradisional layaknya peralatan petani di pedalaman. Minat siswa yang diawal pendaftarannya sangat tinggi mengikuti kegiatan pembelajaran dibidang pertanian ternyata harus kecewa karena realita dilapangan hanya menemui kegiatan yang bersifat teori dan sedikit praktek yang hanya berisi cara dan peralatan yang sama dengan milik orang tuanya. Sekali lagi realita ini hanya dikhususkan pada Sekolah/SMK berbasis pertanian dan BUKAN pada SMK rumpun lainnya.
Hal tersebut diatas tentu sangat berpengaruh langsung pada penurunan minat para lulusan SLTP untuk melanjutkan pendidikannya pada SMK. Dan ini harus menjadi perhatian serius. Dari tahun ke tahun sangat jelas prosentase jumlah siswa baru yang mendaftar ke Sekolah/SMK berbasis pertanian semakin menurun, itupun umumnya berisi para siswa umumnya telah mencoba dulu disekolah lain tapi ditolak atau gagal lanjut pada sekolah berbasis umum(=SMA), SMK berbasis teknik(=STM) ataupun SMK berbasis keperawatan(=SPK) di kota Merauke. Jadi wajar kalau disebutkan bahwa Sekolah/SMK berbasis pertanian hanya menjadi sekolah alternatif yang kesekian...
Bahkan Rektor IPB Herry Suhardiyanto ketika mewisuda 1.059 lulusan IPB pada akhir Februari 2009, pernah menyampaikan fenomena turunnya minat generasi muda untuk belajar pertanian. Disampaikan bahwa "Kita tidak boleh membiarkan turunnya minat belajar pertanian ini berlangsung terus. Jika tidak, 5 tahun - 10 tahun ke depan Indonesia akan sulit mendapatkan calon mahasiswa berkualitas karena ini akan berimplikasi pada lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang merupakan tulang punggung pembangunan pertanian,..".
Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya minat siswa pada Sekolah/SMK berbasis pertanian tersebut adalahantara lain : adanya keinginan para lulusan untuk mencari pengalaman dan wawasan baru(ke kota untuk lebih mandiri), kurangnya harapan mendapat kerja yang layak dan lebih prestise dibandingkan orangtuanya yang umumnya petani dan nelayan (merubah nasib), serta Kurangnya dukungan pemerintah dalam melengkapi sarana prasarana(akibat multi orientasi) dalam memenuhi ketuntasan belajarnya seperti, lahan praktek,alat mekanisasi, asrama siswa, dana operasional yang adil dan lain-lain.
Penurunan minat ke SMK ini tentu, berimbas juga pada faktor lainnya seperti penerimaan dana Bos pada sekolah tersebut. Dana BOS seperti kita ketahui besarnya sangat tergantung pada jumlah siswa yang disekolah tersebut. Jika jumlah siswa sedikit maka dana operasionalnya juga sedikit. Padahal dana BOS merupakan sumber pembiayaan utama dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Hal ini sangat terasa benar pada sekolah/SMK berbasis pertanian yang umumnya berada di luar kota. Biaya yang lebih tinggi karena medan yang sulit, adanya pengaruh kebijakan sekolah gratis tapi tetap memenuhi standar pembelajaran, siswa sedikit, adalah hal yang relatif memberatkan sekaligus membingungkan para pengelola sekolah. Sehingga membandingkan sekolah pinggiran seperti SMK Negeri 1 Tomer misalnya dengan SMK yang berada di kota Merauke akan terasa tidak adil..he..he.., karena jelas sangat jauh berbeda kondisinya...
Untuk itu pemerintah daerah perlu serius dan mampu mengatasi permasalahan ini. Terlepas dari kerisauan para guru kejuruan terhadap nasib sekolah/SMK pertanian, siswa, pemerintah harus mampu memperbaiki kebijakan dengan menempatkan kembali sektor pertanian sebagai sektor unggulan dalam mensejahterakan masyakat Merauke.Serta menepis, Kekhawatiran kelak akan “terjajah” dibidang pertanian karena kekurangan sumber daya manusia (SDM).Kami yakin dengan segala terobosan dan upaya perubahan yang diemban oleh pimpinan pemerintahan daerah yang baru terpilih, Sekolah/SMK berbasis pertanian tidak perlu ditutup karena sepi peminat. Semoga..
Beberapa masukan kepada pemerintah dalam rangka menyelamatkan sekolah/SMK berbasis pertanian di kabupaten Merauke,yaitu dengan cara :
1. adanya sharing dana yang lebih besar dan presentatif ke sekolah/SMK berbasis pertanian khususnya demi mendukung operasional sekolah saat praktek dan magang yang selama ini sangat kurang,
2. Perlu dilakukan hibah sarana dan prasarana praktek yang mendukung mekanisasi dan intensifikasi pertanian,
3. Mendorong masuknya industri pertanian ke kabupaten merauke (dengan kewajiban siap menjadi mitra sekolah dan menyerap para lulusan smk berbasis pertanian yang dihasilkan),
4. Mendorong pihak perbankan untuk memberikan modal usaha bagi para lulusan yang ingin mandiri dengan persyaratan yang mudah dan dijamin pemerintah daerah,
5. Mengadakan lomba kompetensi kejuruan antar smk pertanian di tingkat lokal sebelum ditunjuk jadi perwakilan ke LKS tingkat propinsi secara adil dan transparan
Kiranya dengan adanya berbagai terobosan yang nyata dan berani dari pemerintah, asa dan harapan siswa yang punya keinginan melanjutkan studi ke smk pertanian kembali muncul, yang pada akhirnya smk berbasis pertanian kembali bergairah di kabupaten Merauke. Semoga...

Bagikan Artikel ini ke Facebook