E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

ANTARA BUAH RAMBUTAN DAN SMK PERTANIAN

Dibaca: 694 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: NUR ICHSANUDDIN, S.Pt, M. Pd lihat profil
pada tanggal: 2017-04-27 16:03:43 wib


Saat ini bila kita sedang berjalan-jalan di kota Merauke, banyak ditemui orang berjualan buah rambutan. Buah Rambutan atau yang dikenal dengan nama latin Nephelium laapaceum, merupakan salah satu dari buah – buahan tropis yang mudah dikenali dari bentuk buahnya yang kecil berwarna merah menyala serta serabut yang menyerupai rambut yang memenuhi kulit buahnya. Selain rasanya manis, buah yang tumbuh di daerah tropis ini kaya akan nutrisi mulai dari Vitamin C, kalsium, hingga zat besi. Buah rambutan umumnya panen sekitar bulan Desember hingga Maret (musim rambutan). Dan biasanya panennya bersamaan dengan buah musiman lain, seperti durian dan manggis.
Membanjirnya buah rambutan di kota Merauke dapat terlihat dari banyaknya orang yang berjualan disekitar kota Merauke. Mulai dari pedagang tetap di Lapak Pasar buah jalan Parakomando, hingga pedagang dadakan yang mengunakan alas terpal seadanya untuk menumpuk rambutannya hingga menyerupai gunungan-gunungan setinggi setengah meter. Kemudian akhir-akhir ini mulai muncul juga ide kreatif dari berdagang dipinggir jalan dengan mengunakan mobil pickup terbuka. Dimana buah rambutan yang umumnya berasal dari kampung Bupul dan Muting (sekitar 230 km dari kota Merauke) bisa langsung dijual ke konsumen sesaat setelah mobil tersebut tiba di kota Merauke. Mobil rambutan ini dapat dilihat di sekitaran jalan Martadinata, jalan Pemuda, jalan TMP ataupun Jalan Parakomando sendiri. Hal ini tentu memberi beberapa keuntungan, berupa harga buah rambutan yang menjadi relatif lebih Murah. Sebab rantai penjualan yang relatif lebih pendek karena tidak harus melewati pengecer dulu (Pemilik-pengambil/transportasi-Pembeli) untuk sampai ke tangan konsumen. Kini masyarakat tidak perlu merogoh uang terlalu dalam, cukup dengan Rp 5.000, maka sekilo buah rambutan yang manis dan segar sudah bisa dibawa pulang untuk melengkapi makan siang kita.
Keuntungan lain yang diperoleh dari sistem penjualan langsung ini adalah terjaganya kualitas buah rambutan. Masalah kulit rambutan yang biasanya cepat menghitam karena panas akibat ditumpuk dalam karung-karung plastik bisa sedikit dikurangi. Perubahan warna tentu penting dan menjadi daya tarik bagi masyarakat dalam membeli buah rambutan tersebut. Berdasarkan pengamatan sekilas telah membuktikan bahwa sebagai konsumen, masyarakat tetap melihat kesegaran warna buah rambutan sebelum membeli. Penjualan buah rambutan yang relatif lebih cepat, lebih banyak serta lebih disenangi tentu membuat penjual dapat memperoleh keuntungan yang lebih optimal, bukan?.
Melihat kenyataan diatas, kami sebagai pengajar di SMK pertanian mempunyai beberapa tanggapan. Pertama, gembira karena Kabupaten Merauke terutama daerah Bupul dan Muting memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan buah-buah lokal yang bermutu, yang jika dikelola dengan baik maka akan memberikan kontribusi yang tidak langsung terhadap pendapatan asli daerah. Dengan pendapatan daerah yang meningkat, tentu rencana pembangunan semakin banyak yang dapat segera terealisasi. Semakin banyak sekolah, rumah guru, jalan dan lain-lain yang dapat diperbaiki atau dibangun untuk kesejahteraan masyarakat tanah ini..
Membanjirnya buah rambutan di kota tercinta memberikan juga keluasan pilihan bagi masyarakat Merauke dalam mendapatkan asupan gizi yang relatif lebih lengkap, alami, murah dan bervariasi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Sebab buah rambutan ini selain enak dikonsumsi dan mengenyangkan, juga memiliki banyak manfaat sesuai kandungan nutrisinya seperti : kandungan karbohidrat dan protein yang dapat mengembalikan energi tubuh segera setelah lelah bekerja, adanya kandungan vitamin C dan asam Gallic yang berguna menghancurkan berbagai radikal bebas sumber penyakit kanker, kandungan serat dan air yang dapat menurunkan berat badan, kandungan zat besi yang ampuh untuk menangkal anemia, kandungan tembaga yang bermanfaat besar dalam pembuatan sel darah putih, kandungan fosfor yang dapat menyehatkan ginjal serta banyak manfaat lainnya.
Kedua adalah perasaan sedih, yang muncul karena kondisi harga murah dan ketersedian buah rambutan ini hanya berlangsung singkat, beberapa minggu kedepan masyarakat sudah kembali membeli sisa buah yang mungkin belum laku dan tentu kualitasnya sudah tidak sebanding dengan harganya (karena dari warnanya saja, sulit membedakan mana rambutan mana salak he..he..).
Seharusnya SMK pertanian khususnya yang berada di daerah sentra produksi buah rambutan (misalnya SMK Elikobel tempat tugasku dulu...) dapat berdiri paling depan dalam memberikan kontribusi nyata dan menjadi mitra potensial terhadap pengembangan potensi buah rambutan di kabupaten Merauke. Selama ini sudah tepat dengan dibukanya jurusan holtikultura dimana budidaya rambutan dan buah-buahan menjadi fokus. Siswa selalu diajarkan bagaimana membuat stek rambutan, merekayasa panen dengan memajukan/memundurkan masa panen kini dengan adanya perubahan kurikulum sudah harus mengarah ke agribisnis dibandingkan budidayanya. Dari cara menghasilkan bibit, penanaman menuju mengelola dan menjual produk pasca panen rambutan yang dihasilkan. Dari pembelajaran dasar menuju tingkatan selanjutnya dalam memberi nilai tambah. Sehingga menambah motivasi siswa untuk memilih SMK Pertanian sebagai tujuan sekolah setelah tamat dari SMP yang kini secara pasti cendrung menurun. Karena pembelajaran sudah bergerak pada tahapan tehnologi bukan pembelajaran dasar seperti apa yang dilihat dan dilakukan orang tuanya dikampung. Para siswa harusnya disadarkan bahwa rambutan tidak hanya dapat dikonsumsi langsung sebagai buah segar, tetapi dapat juga diolah menjadi bermacam-macam produk pasca panen seperti manisan, puding, bolu, dodol, selai,sirup dan keripik rambutan, bahkan obat herbal yang nilainya jauh lebih tinggi. Nah, kalau sudah berkaitan dengan kegiatan ysng bersih, makanan dan lebih banyak penghasilannya, siapa yang mampu menolak..?
Kenyataan yang terlihat adalah, sebahagian SMK pertanian yang ada kini tidak lagi menomor satukan perhatian pada tanaman unggulan daerahnya masing-masing tapi telah bergeser dari cita-cita awal pendirian SMK pertanian di kabupaten Merauke (di awal tahun 2000-an) dan relatif berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan investasi tanaman industri seperti tanaman karet dan sawit. Hal ini tidak salah, tapi haruskah kita serahkan lulusan kita hanya sebagai buruh rendahan dan bukan sebagai pengiat agribisnis itu sendiri. Kemudian biarlah kekhasan SMK pertanian yang telah dicanangkan selama ini lebih dimaksimalkan. Sehingga ketika kelak mau belajar tentang produk dan olahan rambutan binjai bisa datang ke SMK elikobel, belajar tentang Beras pulen kita sepakat SMK Tanah miring adalah jagonya, kepingin tahu tentang Jagung warna-warni harusnya belajar dulu ke SMK kumbe, mau belajar anggrek datanglah ke SMK Sota, dan kemudian ketika mau belajar cabe organik dan olahan daging berkualitas , sudah pasti yang terbayang adalah ke SMK Tomer he..he..
Lalu bagaimana dengan pengembangan jiwa eunterperneurship yang merupakan marwah dari sebuah SMK pertanian? Apakah salah lulusan smk pertanian berusaha dan banyak melanjutkan studinya ke Perguruan tinggi?Apakah salah lulusan kami kurang termotivasi menciptakan lapangan kerja baru? Atau apakah tugas kami hanya mencipkan lulusan yang bermental karyawan toko? Tentu tidak , memang betul ada pernyataan bahwa SMK hadir untuk menyiapkan SDM yang siap kerja dan semakin banyak lulusan SMK yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi merupakan pertanda kegagalan. Tapi harusnya jangan menyalahkan salah satu pihak tapi kenyataan ini harusnya dieteriama sebagai kegagalan bersama dalam meyakinkan masyarakat bahwa SMK pertanian nyata memiliki beberapa keunggulan lebih dibandingkan SMK rumpun lainnya. Bukan hanya identik dengan capek, kasar dan kotor yang menjadi bayangan selama ini.
Sebagai warga SMK pertanian, kami tahu kebutuhan buah-buahan masyarakat Merauke harusnya dapat diupayakan dipenuhi tanpa dibatasi musim. Keberagaman buah tropis yang ada seperti mangga, kedondong, pisang, rambutan ataupun durian kiranya cukup menjadi solusi bila dikelola dengan baik. Hal ini merupakan peluang bagi SMK pertanian untuk berperan serta dalam penyediaan buah tersebut. Belajar dan bekerja dapat juga menjadi solusi dari kendala dana bagi SMK selain BOS, BOP dan lain sebagainya. Solusi sebagai sumber belajar yang nyata bagi siswa SMK. Karena di SMK pertanian terdapat kegiatan praktek rutin selama beberapa waktu berupa Ujian Kompetensi Kejuruan(UKK) dan Praktek Kerja Industri (Prakerin). Hal ini jelas berbeda dengan SMK rumpun lainnya seperti perkantoran dan teknik karena terfasilitasi oleh banyaknya kantor pemerintah/swasta ataupun bengkel di kota Merauke. Bila praktek yang dilaksanakan hanya untuk mendapat suasana kerja, dimana ada kedisiplinan, kerja keras dan persaingan, maka para siswa kelas akhir yang ditempatkan di industri karet atau sawit tidak menjadi masalah. Namun akan lebih baik lagi bila perusahaan bergerak dibidang yang sesuai dengan kompetensi yang dipelajari sehingga diterima praktek/kerja karena penghargaan atas ilmu yang dipelajari selama 3 tahun di SMK bukan hanya sekedar buruh kasar gratis. Kuncinya suasana dapat, kompetensi kejuruanpun mantap.
Dalam hal kesulitan dana dan sumber belajarpun seharusnya dapat diatasi dengan cara mempunyai unit usaha yang profesional dibidang yang sesuai dengan kompetensi yang dipelajari di sekolah tersebut. Membayangkan sebuah SMK pertanian seperti SMK Negeri1 Tomer dengan toko yang bergerak dibidang distributor produk pertanian merupakan suatu asa. Apalagi dijalankan oleh siswa lokal dengan sistem yang tertata baik sehingga siap mengaplikasikan ilmunya bagi negeri ini, betul-betul merupakan impian yang entah kapan terwujud. Sudah beragam pelatihan dan diklat kami ikuti untuk meningkatkan kompetensi yang kami miliki sebagai guru produktif. Biaya yang telah banyak dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah tersebut seharusnya difasilitasi agar guru tersebut dapat mengoptimalkan hasil pelatihannya. Hal ini penting karena jika dibiarkan seadanya tanpa fasilitas dan modal usaha ilmu tersebut terasa mubazir. Bukankah lebih baik bila kita dorong pemerintah daerah untuk mewujudkan sebuah SMK pertanian yang terpadu. Sekolah dengan fasilitas lengkap, berasrama, dengan pengajar berkualitas dan lengkap. Sehingga SMK pertanian yang sekedar ada bangunan, sekedar lulus ujian, sekedar dapat ijasah, sekedar dapat kerja, tapi tidak memperhatikan esensi dari sebuah sekolah yang berlogo SMK BISA..!! Bisakah...?!Wallahu a’lam bishowab...

Bagikan Artikel ini ke Facebook