E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

KI Hajar Dewantara: Guru Soko Guru Pendidikan

Dibaca: 2419 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Aris Adi Leksono, S.Pd.I, M.M.Pd lihat profil
pada tanggal: 2015-05-12 09:06:56 wib


KI Hajar Dewantara: Guru Soko Guru PendidikanKI HAJAR DEWANTARA: GURU SOKOGURU PENDIDIKAN
Oleh: Aris Adi Leksono, M.M.Pd*

Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk Bangsa Indonesia dengan cara Indonesia.
Ki Hajar Dewantara

Empuh Pendidik yang Sholih
Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara dibesarkan di lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.

Sebagai bentuk penghormatan dan menghargai jasa Ki Hajar Dewantara, tanggal kelahiran beliau dijadikan sebagai peringatan hari Pendidikan Nasional. Setiap tanggal 2 Mei seluruh masyarakat Indonesia gegap gempita mengenang sang perintis pendidikan berbasis kerakyatan di tanah air tercinta. Bukti kongkrit perjuangan bidang pendidikan adalah bedirinya taman siswa di berbagai penjuru negeri, sampai saat ini sudah berjumlah 450 lembaga taman siswa.

Dengan situasi politik dan keamanan Indonesia yang tidak kondusif, Ki Hajar telah mampu membangun karakter pendidikan yang bercirikan nilai-nilai ke-Indonesia-an, membangkitkan nasionalisme kebangsaan, sehingga mampu merubah mansite bangsa Indonesia yang terjajah, menjadi jiwa-jiwa yang berkobar untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Terlebih dari itu semua, beliau adalah sosok bangsawan yang rendah hati, relgius, bahkan cendrung menyembunyikan jiwa spritualitasnya. Disebutkan oleh cucu beliau (KI Nanang) bahwa Ki Hajar adalah penganut thoriqoh, nilai-nilai ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an menghiasi kehidupan keluarganya. Bahwkan beliau lahir dibarengi dengan bacaan surah Yasiin, dan ketika meninggal juga diiringin surah Yasiin pula.

Melalui pernyataan beliau “Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk Bangsa Indonesia dengan cara Indonesia”, Ki Hajar adalah sosok yang rendah hati, meskipun beliau adalah seorang bangsawan, meskipun beliau orang yang memiliki pemikiran genius terkait konsepsi pendidikan di Indonesia, terlebih dari itu beliau menegaskan pentingnya menjada jati diri bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang berdaulat dengan nilai-nilai kekhasan Indonesia.


Konsepsi Pendidikan Ki Hajar
“Tut wuri handayani”, atau aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ki Hajar Dewantara

Kutipan petuah Ki Hajar terkait konsepsi dan praksis pendidikan di masyarakat di atas selalu menempel lekat dalam hati dan pikiran para pelaku pendidikan di Indonesia. Dengan bahasa sansekerta beliau seakan menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa tertentu yang kaya akan makna. Kalau petuah tersebut disingkronkan dengan konsep pendidikan di abad modern dan post modern memang masih sangat relevan. Perubahan kurikulum dengan seperangkat paradigma yang menitikberatkan peran guru, posisi murid, karakter, nilai etika, dan lainnya sebagainya seakan selalu terangkam dalam isi dari petuah tersebut. Artinya petuah tersebut tentu selalu menjadi spirit setiap perubahan konsepsi pendidikan di Indonesia.

Guru: Tut Wuri Handayani
Petuah tersebut memberikan makna bahwa seorang guru adalah motifator bagi muridnya, medorong dan memberikan arahan untuk sukses dalam pengalaman belajar. Hal ini dalam konsep pendidikan kekinian mengisyaratkan posisi guru sebagai fasilitator muridnya, yang bertugas menggiring siswa untuk menemukan pengetahuan secara mandiri (student center), sehingga pengetahuan yang diterima oleh siswa dapat menumbuhkan kesadaran jiwa untuk bertindak secara bijak dan menimbulkan sikap baik untuk kebaikan.

Guru: Ing Madya Mangun Karsa
Petuah ini merupakan nilai esensial seorang guru, bagaimana kompetensi pengetahuan seorang guru terukur. Karena ungkapan ini menekankan bagaimana keberadaan seorang guru di tengah, bagi dan atau di antara muridnya, dapat menciptakan prakarsa dan ide yang inovatif. Pada akhirnya kemampuan itu dapat tertransformasi kepada siswa dengan baik, dan dapat mewarnai ethic siswa dalam kehidupan sehari. Dalam kontek ini Guru selain sebagai figur yang melakukan tranformasi ilmu, dia juga harus mampu melakukan inovasi untuk pengembangan pengetahuan.

Guru: Ing Ngarsa Sung Tulada
Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, artinya guru adalah teladan bagi muridnya. Teladan dalam ucapan, perbuatan, dan laku sosial. Itulah makna petuah KI Hajar “Ing Ngarso Sung Tulada”, artinya guru harus bisa menjadi tauladan bagi siswa, tidak hanya ketika berada di sekolah, tapi juga konsisten dengan laku positif di luar sekolah. Teladan adalah pancaran dari proses ethic positif yang tidak bisa direkayasa. Karena teladan adalah nilai esensial dari keikhlasan dalam berniat, berkata, dan berprilaku. Guru profesional adalah figure idola bagi siswa dimana pun, kapan pun, dan untuk siapapun.

Soko Guru Pendidikan
Betapa pentingnya posisi seorang guru dalam aktifitas pendidikan, sejak lama Empu Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengisyaratkan posisi itu melalui petuah-petuah dengan bahasa sansekerta. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga Guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Di sini lah nilai esensial Guru sebagai pokoguru pendidikan di Indonesia. Berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat adalah nilai yang harus ada tertanam dalam sanubari seorang Sokoguru, begitulah KI Hajar Dewantara membangnun konsepsi pendidikan di bumi Nusantara.



* Aris Adi Leksono, M.M.Pd (Wakil Kepala MTsN 34 Jakarta/Ketua PW PERGUNU DKIJAKARTA/Pembantu Ketua STAINU Jakarta), Hp. 081388705094, Email: aris_stainu@yahoo.com

Bagikan Artikel ini ke Facebook