E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Makna Iman Perspektif sosial

Dibaca: 122 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: AFIFUDDIN, S.Ag. lihat profil
pada tanggal: 2017-10-09 14:00:22 wib


MAKNA IMAN PERSPEKTIF SOSIAL
Banyak dari kita mengaku beriman, akan tetapi ketika dihadapkan pada sebuah realitas, ternyata iman kita berhenti hanya sebatas lisan saja. Padahal iman itu menuntut adanya kesatuan antara hati, lisan dan perbuatan, sebagaimana ta’rif iman itu sendiri :
تصديق باالقلب وقول باللسان وعمل بالاركان
“membenarkan ( meyakini ) dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan”.
Sedangkan kita tahu diantara ciri- ciri orang beriman diantaranya sebagaimana termaktub dalam alqur’an surat al-anfaal: 2-4 .
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ. أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ



“2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. 4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni'mat) yang mulia”.

Ciri- ciri orang yang benar- benar beriman sebagaimana disebutkan ayat diatas adalah :
1. Jika disebut nama Allah gemetarlah hatinya.
2. apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah imannya
3, Tawakkal hanya kepada Allah swt.
4. Mendirikan, menegakan shalat
5. Menafkahkan rizkinya yang diberikan oleh Allah swt.
Akan tetapi yang terjadi adalah mengaku beriman namun tidak sesuai dengan lisannya juga tidak sesuai dengan perbuatannya.
A. Jika disebut nama Allah gemetarlah hatinya.
Dalam hal ini apakah kita sudah mencapainya, sudah gemetarkah jika mendengar asma Allah swt. baik karena takut adzab-Nya atau yg lainnya sebab terlalu banyak ma’shiat, takut tidak mendapatkan rahmat dan ridlo-Nya. Sedangkan kita seringkali mendengar kalimat pedihnya adzab, sengsaranya dineraka, dsb. Tapi hati kita, lisan kita, perbuatan kita tidak menunjukan akan ketakutan itu.
B. Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya.
Apakah iman kita makin bertambah ketika kita diperdengarkan ayat- ayat Allah swt. baik via lisan kita sendiri, lisan orang lain atau juga via audio. Bagaimana iman kita semakin bertambah hanya karena mendengar, tapi tanpa tahu artinya. Bagaimana akan semakin meningkat jika kita tidak bisa menghayati. Bagaimana akan bertambah kuat iman kita jika kita tidak tahu, tidak menghayati juga tidak mau mengaji. Bagaimana akan semakin bertambah, semakin meningkat dan kuat, jika ketidak tahuan kita, ketidak penghayatan kita, ketidak mauan kita mengaji pada orang alim terus dilestarikan, tidak mau dirubah bahkan memusuhi, menjauhi ulama yang semakin meluas, padahal kita tahu bahwa ‘ulama-lah, kyai-lah, ustadz-lah pintu kita menuju pada “ke-pengetahuan kita, penghayatan kita” akan ayat- ayat Allah swt.
C. Tawakkal hanya kepada Allah swt.
Apakah kita sudah menginjak pada maqom tawakkal ini, sementara usaha kita, ikhtiar kita kurang sama sekali, malas. Bagaimana kita mencapai tawakkal jika dalam hati kita masih tersimpan rasa tidak menerima dengan keadaan, dendam, protes, putus asa dengan Allah. “ Apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang seharusnya”. Hati jauh dari kata dan rasa ikhlas pada Allah swt.
D. Mendirikan, menegakan shalat.
Apakah kita sudah benar- benar mendirikan shalat, menegakan shalat. Sementara yang 5 waktu sering kali bolong. Bagaimana kita benar- benar menegakan shalat, sementara setelah shalat yang 5 waktu selesai kita menggunjing keburukan saudara, teman, tetangga kita. Memfitnah saudara kita, kejam pada saudara kita, pelit pada saudara kita, tidak ada rasa iba, tidak ada rasa kasihan pada saudara kita. Bagaimana kita benar- benar menegakan shalat, sementara kita senang bersinggungan serta senang memakan dengan sesuatu yang bukan hak kita, sesuatu yang syubhat, sesuatu yang haram. Bagaimana kita benar- benar menegakan shalat, sementara diluar yang 5 waktu lidah kita, hati kita, otak kita, tingkah laku kita jauh dari dzikir pada Allah swt. Bagaimana kita benar- benar menegakan shalat, sementara diluar yang 5 waktu lidah kita, hati kita, otak kita, tingkah laku kita tetap selalu kotor, selalu hitam, selalu hasud, iri, dendam. Bagaimana kita benar- benar menegakan shalat, sementara kita tidak pernah ngebakti, hormat terhadap orang tua, selalu menyakiti hatinya, selalu bikin kesel, selalu merepotkan orang tua.
E. Menginfaq-kan sebagian rizkinya yang diberikan oleh Allah swt.
Apakah kita sudah mencapai pada tingkatan dermawan ini, sementara zakat fitrah kita bukanlah dari bahan makanan yang terbaik, beras bukan yang terbaik, beras yang jelek sementara untuk makan keseharian kita yang adalah terbaik, ternikmat, termahal. Bagaimana kita mencapai jadi orang dermawan, sementara hati kita masih terkungkung dengan kebakhilan, merasa bahwa kesuksesan dan keberhasilan yang didapat itu murni dari usaha kita tanpa merasa ada “tangan” Allah menyertainya, sombong dengan hasil usahanya.
Sebagai contoh dalam hal ini semua adalah ketika kita diperdengarkan, dibacakan atau bahkan membaca sendiri ayat :
لن تنال البر حتى تنفقوا مما تحبون.
“Bukanlah kebaikan, sehingga apa yang kalian berikan (infaq-kan) dari apa- apa yang kalian cintai”.
Ayat tersebut didahului dengan kalimat لن yang mempunyai konotasi dengan tensi tinggi, yang berarti “sangat- sangat”, sehingga maknanya adalah “sangat bukan suatu kebaikan” hingga kalian menginfaq-kan dari apa yang kalian cintai.
Ayat ini mengandung arti apa yang kita berikan pada orang lain yang membutuhkan bukanlah rongsokan, sampah, sisa. Akan tetapi sesuatu yang kita berikan memanglah yang terbaik, yang kita senangi. Yang intinya semakin besar pengorbanan untuk sebuah ke-ikhlasan maka nilainya akan semakin besar.
Makanya Allah swt. menyinggung kita dengan ayat :
وما امروا الا ليعبد الله مخلصين له الدين
“ Dan tiadalah Aku perintahkan kalian kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam beragama”.
Dari ayat ini secara implisit didapatkan bahwa kita harus menjadi hamba yang ikhlas, menjadi hamba yang selalu setia, taat dari apa yang diperintahkan, apa yang di-inginkan, apa yang diharuskan. Essesnsinya adalah iman itu membutuhkan pengorbanan praktis, dan pengorbanan mensyaratkan adanya keikhlasan.
Inilah penarikan dari dataran teori kearah praktis pragmatis, dari dataran eskatis transenden kearah human pantheis.... Jadi kalam Allah tidak sebatas bacaan, tulisan. Tapi kesucian kalam itu diaplikasikan pada dataran praksis sosial sehingga hasil akhir adalah kesatuan antara kalam Allah kemudian dipraktekan oleh kita relevan dengan firman-Nya.
Jika kalam Allah itu disucikan sebatas tulisan dan bacaan saja, maka yang terjadi adalah pengeramatan kalam yang kurang pas dan kurang tepat, yang akan berakhir dengan hanya pada azimat saja, rumus- rumus nujum saja, isim- isim saja dsb.. akan tetapi yang seharusnya adalah internalisasi kalam ilahi tersebut yang kemudian dibumikan dalam kehidupan sehari- hari, dibumikan dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, bernegara dst., dengan demikian maka ada kesatuan antara yang transenden, alam ilahiah dengan alam nasut (makhluk). Alam ilahiah ditarik pada tataran alam nasut, dan alam nasut terangkat pada alam ilahiat.
Untuk diketahui, bahwa Allah swt. tidak membutuhkan pengakuan, tidak membutuhkan taat atau kufur dari kita. Taat atau kufur kita itu tidak ada pengaruhnya bagi Allah swt. Akan tetapi kita harus sadar akan posisi, siapa kita (makhluk) dan siapa Allah swt ( al-kholiq). Kita-lah yang membutuhkan-Nya, kita-lah yang harus meraih-Nya, bagaimanapun caranya termasuk dan terutama adalah mempraktekan kalam Allah kedalam kehidupan kita sehari- hari, sehingga “wihdah” dengan kalam Allah tersebut..

Bagikan Artikel ini ke Facebook