E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

CINTA TANAH AIR

Dibaca: 77 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Drs. H. UTAWIJAYA, MM lihat profil
pada tanggal: 2017-11-07 01:59:24 wib


CINTA TANAH AIRCINTA TANAH AIR SEBAGAI WUJUD BELA NEGARA
BERSANDIKAN KESADARAN MANUSIAWI
Oleh: H. Utawi Jaya Kusumah


LATAR MASALAH
Sebentar lagi kita akan memperingati Hri Kemerdekaan RI yang ke 72. Peristiwa tersebut merupakan moment penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali makna Kemerdekaan bagi manusia Indonesia yang berbeda-beda dalam segala hal. Dalam citra kemerdekaan itu terdapat makna terdalam dari sebuah nilai kemanusiaan yang majemuk.
Tulisan ini diawali dengan fenomena menarik akhir-akhir yang dialami oleh negeri tercinta Indonesia, yaitu kelangkaan garam. Memang ini sangat ironis ditengah sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah. Logikanya, kalo masakan kurang garam dan itu hampir setiap hari maka sudah bisa dipastikan bahwa peramu masakan tersebut sudah pastilah kurang lihai dan kurang ahli dalam meracik bumbu untuk membuat masakanya jadi sedap, maka jika anda pemilik warung, atau anda adalah bos utamanya pasti anda akan sangat tidak puas dengan pelayanan dari peramu atau koki masakan anda tersebut. Dan lama kelamaan pasti warung anda sepi dan anda akan dirugikan karena banyak pelanggan anda yang kabur dan akhirnya lari ke warung sebelah bukan.
Nah ibaratnya Rakyat adalah Bos utama nya dan warung kita anggap sebagai Negara kita, maka peramu masakanya kita ibaratkan sebagai pemerintah, yang tentu saja itu bisa presiden, menteri, anggota DPR dan lain lain. Nah fenomena- fenomena itu atau kejadian kejadian itu seolah memberikan gambaran dan sekarang ini sedang disuguhkan di depan mata dan hidung kita sendiri, bayangkan bagaimana mungkin sampai harga garam melonjak drastis? Bahkan dipasaran sampai tidak ada? Kalo diibaratkan negara ini seperti sebuah warung masakan sudah harganya mahal masakanya tidak sedap maka ini kesalahan atau mungkin juga bisa jadi ini kurang pandainya si peramu masakan dalam memasaknya sampai ia tidak gahu kalo garam habis, atau ia tahu ia diam saja dan ia biarkan dengan alasan yang penting masakanya jadi.
Inilah persoalan kita hari ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang terasa “kurang garam”, sehingga berakibat yang empunya negara ini juga menjadi “kurang garam” terhadap negaranya, kurang mencintai negaranya, kurang membela negaranya, kurang kesadaran dalam berbangsa dan bernegara. Akibat dari semua itu adalah terganggung pertahanan negara. Apabila dibiarkan, pada gilirannya nanti negara ini akan hilang karena tidak dicintai rakyatnya.

CINTA TANAH AIR DAN BELA NEGARA
Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.
اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ
“Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,”
Maknanya, bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.
Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia. Cinta tanah air merupakan wujud nyata dari Bela Negara.
Konsep bela negara memang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Indonesia. Konsep bela negara memiliki makna yang cukup luas, namun terkadang sering disalahartikan menjadi bentuk militerisme saja. Hal tersebut terjadi dikarenakan konsep pembentuk bela negara yang berlandaskan kepada wajib militer. Bela Negara merupakan sebuah konsep yang telah disusun sedemikian rupa berdasarkan undang-undang tentang jiwa patriotisme yang dimiliki oleh seseorang, kelompok maupun seluruh bagian dari sebuah negara untuk mempertahankan dan menjaga keberadaan atau eksistensi negara itu sendiri.
Berdasarkan pengertian tersebut, konsep bela negara tidak hanya terkait dengan bentuk militerisme yang lekat dengan Tentara Nasional Indonesia saja melainkan juga mengikat terhadap seluruh warga negara Indonesia. Fakta tersebut pun semakin diperkuat dengan adanya peraturan yang tertuang di dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 pasal 30, dimana bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warganegara Republik Indonesia. Setiap warga negara Indonesia berkewajiban untuk ikut dalam mempertahankan Negara Republik Indonesia dari berbagai macam ancaman yang datang, entah itu ancaman yang berasal dari luar negeri maupun ancaman yang berasal dari dalam negara Indonesia sendiri.
Bela Negara adalah tekad, sikap, dan perilaku warga negara yang dilakukan secara teratur, menyeluruh, dan terpadu serta dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup Bangsa dan Negara.
Dasar hukum undang-undang tentang upaya bela negara yaitu:
1. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa semua warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
2. Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Adapun tujuan bela negara, diantaranya:
1. Mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara
2. Melestarikan budaya
3. Menjalankan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945
4. Berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
5. Menjaga identitas dan integritas bangsa/ negara
Sedangkan fungsi bela negara, diantaranya:
1. Mempertahankan Negara dari berbagai ancaman;
2. Menjaga keutuhan wilayah negara;
3. Merupakan kewajiban setiap warga negara.
4. Merupakan panggilan sejarah;
Jadi dengan demikian, cinta tanah air merupakan bagian penting dari bentuk perilaku bela negara. Dengan kata lain, mencintai tanah air, sama dengan membela negara tercinta yaitu NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan Negara Khilafah Rosyidah Islamiyah.

BELA NEGARA DAN CINTA TANAH AIR SEBAGAI WUJUD KESADARAN BERAGAMA DAN BERBANGSA (Pelajaran dari Kabupaten Tasikmalaya)
Kabupaten Tasikmalaya pernah mengalami sejarah pergolakan antar sesama warga bangsa rakyat Tasikmalaya saat itu. Hal itu terjadi pada saat Bupati Tasikmalaya yang merupakan Bupati tersohor dan disegani masyarakat. Beliau paling dekat dengan masyarakat. R.A.A Wiratanuningrat menjadi bupati selama 29 tahun yakni dari tahun 1908-1937. Ia adalah putra Bupati Sukapura Raden Rangga Wiratanoewangsa, Patih Manonjaya. Ia dilahirkan pada tanggal 19 Febuari 1878, di Nanggrang, wilayah Taraju. Ibunya bernama R. Ajoe Ratna Puri. Putri sulung dari Kg. Dalem Tumenggung Aria Prawira Adiningrat (Dalem Aria), bupati ke XIII Sukapura, cucu Kg. Dalem Adipati Wiraadegdaha (Dalem Bogor), buyut Kg. Dalem Tumenggung Danoeningrat bupati IX Sukapura. Istri beliau, bernama Rd. Ayoe Radja Pamerat, dilahirkan pada tanggal 3 Januari 1893. Ibunya bernama R. Ayoe Tedja Pamerat, putri R. Djajadiningrat, pensiunan Wedana Jampang Sukabumi; cucu Kg. Dalem Adipati Martanagara, Bupati Bandung; buyut Kg. Dalem Koesoemahjoeda, wilayah Kabupaten Sumedang.
Bupati Wiratanuningrat adalah Bupati Tasikmalaya ke XIV dari Tahun 1908 – 1937. Terjadinya konflik antar sesama tokoh masyarakat dan tokoh agama diawali dengan didirikannya perkumpulan umat Islam saat itu yaitu bernama IDHARU BIATIL MULUKI WAL UMARO, yang artinya tunduk pada pimpinan, patuh pada pemerintah serta jajarannya. Anggotanya terdiri dari 1.350 orang kyai, belum termasuk lagi yang bukan golongan kyai. Perkumpulan ini bertugas menggerakkan partisipasi masyarakat dalam melaksanakan ajaran Islam.
Namun, setelah itu Bupati Wiratanuningrat membentuk juga anak organisasi Idharu Biatil Mulukil Wal Umaro yaitu PERKOEMPOELAN GOEROE NGAJI atau disingkat PGN pada 1926. Saat itu masyarakat Tasikmalaya beranggapan bahwa munculnya PGN lebih berorientasi mengakomodir kepentingan Bupati saat itu. Namun secara umum kegiatan PGN dicurahkan ke dalam aktifitas-aktifitas non-politik. Dalam pemikiran keagaamaan, PGN dapat dikatakan cenderung konservatif. Beberapa tokoh terkemukanya, seperti KH. M. Sudjai dan KH. M. Fachroedin adalah birokrat agama (penghulu) yang mempunyai hubungan dekat dengan para pejabat, termasuk Bupati Wiratanuningrat.
Gerakan perkumpulan PGN ini kemudian mendapat perlawanan dari kalangan NU. Sebagaimana diketahui, beberapa kyai pesantren mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) cabang Tasikmalaya pada 1928. Dengan munculnya NU di Tasikmalaya, maka gerakan peran kelembagaan agama Islam dalam pelaksanaan nilai-nilai ajaran Islam mengalami dinamika. NU menjadi penyeimbang gerakan keagamaan yang diperankan oleh PGN saat itu. Para kyai NU yang berasal dari pesantren tidak terlalu dekat dengan kekuasaan. Mereka lebih cenderung mengkritisi kebijakan-kebijakan Bupati dalam bidang keagamaan Islam saat itu.
Kendatipun saat itu mereka berseteru dalam pemikiran dan tidak menimbulkan anarkis dan radikal, namun mereka tetap berpegang pada konsep dasar nilai-nilai ajaran Islam (kulliyatul khams syari’ah), yaitu: jaminan atas jiwa seseorang dari penindasan dan kesewenang-wenangan (hifdz al-nafs), perlindungan terhadap kebebasan berpendapat secara rasional (hifdz al-‘aql), perlindungan atas harta benda sebagai hak milik (hifdz al-mâl), jaminan atas kepercayaan dan agama yang diyakini (hifdz al-dîn), dan jaminan atas kelangsungan hidup dan profesi (hifdz al-nasl wa al-‘rdl).
Atas dasar itu, implementasinya mengarah pada sikap toleran dalam menjalankan nilai-nilai ajaran Islam, yaitu lebih bersifat muta’addi bil bâ, artinya pelaksanaan syari’at Islam harus concern dengan nilai-nilai Islam serta memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip Islam, seperti musyawarah (al-syurâ), kebebasan (al-hurriyyah), keadilan (al-‘adalah), dan persamaan derajat (al-musawah). Oleh karena itu, implementasi nilai-nilai ajaran Islam di dalam kehidupan masyarakat akan harmonis dengan dasar Negara Indonesia Pancasila melalui sila-silanya, yaitu: tauhid (Sila Pertama), toleransi (Sila Kedua), ukhuwah (Sila Ketiga), musyawarah (Sila Keempat), dan keadilan (Sila Kelima). Inilah cita-cita dan harapan adanya aktualisasi sikap toleran yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh Islam pada masa itu di Kabupaten Tasikmalaya.
Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa sejarah tersebut di atas, adalah pentingnya Cinta Tanah Air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga ketika terjadi serangan dari dalam dan dari luar, maka mereka serentak Membela Negara nya, walaupun secara pribadi mereka memiliki perbedaan, baik perbedaan pemahaman agamanya, perbedaan pilihan politiknya, dan perbedaan lainyya, akan tetapi mereka sadar bahwa perbedaan adalah Sunnatullah.
Perbedaan umat manusia, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa serta agama dan sebagainya, merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan SWT. Al-Qur’an surat al-Hujurât ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.]الحخرات:١٣[
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurât: 13).
Mereka juga menyadari bahwa hanya Kuasa Allah SWT yang memberikan petunjuk dan manusia bertugas hanya mengajak kepada kebaikan. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 272:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ) البقرة:٢٧۲(
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya” (QS. 2 : 272).
Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan untuk memilih jalan kehidupan termasuk memilih agama merupakan hak asasi yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya dengan konsekuensi bahkan masing-masing manusia akan mempertanggungjawabkan sendiri pilihannya di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, sikap toleran merupakan wujud nyata dalam mensikapi kemajemukan atau perbedaan tersebut.
Berkaitan dengan kewajiban jihad membela negara, dalam kitab Fathul Muin karya Zainuddin Al-Malyabari, disebutkan bahwa jihad sesungguhnya kewajiban fakultatif yang bukan sebatas mengangkat senjata, melainkan juga menyasar aspek pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam berbangsa-bernegara, yang minimal terdiri atas sandang, pangan, papan, keamanan. Negara hadir sebagai penjamin ketersediaan dan stabilitas empat aspek itu. Dari sanalah sesungguhnya kita bisa memaklumi mengapa membela negara dikategorikan sebagai kewajiban. Negara yang paripurna adalah negara yang aman dan sentosa. Nabi Ibrahim AS secara eksplisit menyebut dalam do’anya: rabbij'al hadza baladan aminan: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman" (QS Al-Baqarah: 126). Keamanan dan ketenteraman adalah keadaan yang selalu diajarkan oleh Islam kepada pemeluknya.
Secara umum, sesungguhnya terma bela negara muradif dengan terma jihad. Muhammad Ad-Dawoody (2016) membagi jihad jadi dua kategori. Pertama, jihad difa'i (defensif). Kedua, jihad thalabi (ofensif). Kegiatan bela negara dalam terma jihad tersebut sesungguhnya masuk dalam kategori jihad difa'i yang bersifat defensif. Membela Negara artinya adalah membela kedaulatan segala aspek negara yang meliputi pendidikan, kebudayaan, politik, ekonomi, dan tentu saja termasuk kedaulatan militernya. Jihad defensif ini memiliki arti bahwa seluruh kegiatan bela negara ditujukan untuk membentengi negara dari pelbagai ancaman yang merongrong kedaulatan negara. Maka, dengan pemaknaan tersebut, tak benar jika jihad defensif hanya dimaknai sekadar mengangkat senjata. Ia bisa dilakukan dengan cara melestarikan tradisi baik dan juga mengembangkan pelbagai temuan baru yang dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) masyhur disebut dengan al mukhafadzatu alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidi ashlah (melestarikan tradisi dan mengembangkan temuan- temuan terkini).
Adapun jihad thalabi (ofensif) adalah jihad yang sifatnya menyerang. Ia biasanya menempatkan pihak lain sebagai oposisi atau lawan yang harus diserang. Hal yang demikian ini yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Jihad dalam Islam makna dasarnya adalah untuk mempertahankan diri, bukan untuk menyerang dan meneguhkan eksistensi.
Dalam konteks jihad difa'i, jihad defensif atau bela negara ini bisa dipahami mengapa kiai-kiai NU menghukuminya sebagai sebuah kewajiban. Hasil konferensi ulama internasional di Pekalongan, 27-29 Juli 2016, yang menghadirkan tokoh sufi dari 41 negara di dunia salah satunya adalah merumuskan bahwa hukum membela negara dan tanah air adalah wajib. Genealogi dan transmisi pewajiban bela negara dan tanah air sesungguhnya jika dilacak sudah sangat jauh dilakukan oleh kiai- kiai NU. Jika kita amati, dalam setiap doanya yang diamini jemaahnya, kiai-kiai selalu menyematkan redaksi cinta tanah air dan semangat nasionalisme di akhir doanya: "Jadikanlah negara ini negara yang baik dan diampuni Tuhan" (Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
Bukti semangat nasionalisme dan bela negara di kalangan kyai pesantren, tecermin dari pola penamaan pesantren yang dipilih kiai-kiai sepuh dalam memberikan nama pesantrennya dengan menggunakan nama daerah dimana pesantren tersebut berada, seperti Pesantren Awipari, Pesantren Sukamanah, Pesantren Sukahideng, Pesantren Cipasung, Pesantren Manonjaya, Pesantren Cintawana, Pesantren Tebuireng, Pesantren Lirboyo, Pesantren Jombang, Pesantren Ciwaringin, Pesantren Buntet, Pesantren Sempur, Pesantren Gentur, Pesantren Menes, dan lainnya.
Ala kullihal, narasi bela negara dan semangat nasionalisme sejak dulu sudah dibangun oleh para pendahulu bangsa ini. Tugas dan pekerjaan rumah besar kita sebagai generasi penerusnya adalah mempertahankan sekaligus mengembangkan nilai dan semangat tersebut dengan penuh kesadaran.
Ada beberapa kesadaran penting yang harus dibangun oleh generasi bangsa ditengah tantangan dan serangan dari luar maupun dalam negara. Kesadaran tersebut adalah:
1. KESADARAN WUJUD (Kesadaran Enlightenment). Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Kehadirannya di dunia senantiasa memberikan makna bagi setiap realitas kehidupan (the acquisition of new wisdom or understanding enabling clarity of perception). Manusia tidak hanya terkungkung dalam label agama, golongan, etnik, dan strata sosial. Manusia yang memiliki kesadaran wujud akan berposisi sebagai Pencerah, yaitu memberikan pencerahan atau brightening, sebagai juga fungsi cahaya, memberi kemilau bagi segala sesuatu sehingga ia bermakna.
2. KESADARAN PRIVAT (Kesadaran Equality). Efek pencerahan adalah perubahan substansial dalam diri seseorang yang ditandai dengan Equality, yaitu sebuah kesadaran eksistensial bahwa hakikat setiap makhluk adalah setara sejak keberadaannya dalam kehidupan agama dan sosial yang kemudian meluas ke equality of outcome, equality of opportunity, equality of treatment, equality before the law, racial equality, sexual equality, dan social equality. Sikap terbuka ini tidak saja pupusnya hambatan psikologis dan ewuh pakewuh untuk bertransformasi dan passing over ke wilayah kebenaran lain yang berbeda simbol dan lakunya.
3. KESADARAN PUBLIK (Kesadaran Pluralisme). Kesadaran kosmik dan individual akan berlanjut pada kesadaran Pluralism, bahwa there are several conflicting but still true descriptions of the world. Karena hakikatnya realitas yang diperebutkan adalah Realitas yang tidak bisa dijangkau oleh semua makhluk. Pluralisma adalah jejak untuk bekerjasama dengan semua kalangan “yang berbeda” dengan keyakinan bahwa “selalu ada sama”.
4. KESADARAN SISTEM (Kesadaran Welfare). Kesadaran manusia akan WUJUD dirinya, PRIVAT pribadinya, dan kesadaran adanya kebersamaan PUBLIK, pada akhirnya akan meniscayakan munculnya rahmat dan berkah bagi semesta (manusia, alam dan lingkungan), sehingga melahirkan kesejahteraan (Welfare) yaitu the well-being or quality of life yang tidak saja ditentukan oleh banyak faktor sosial dan ekonomi, melainkan juga terbukanya keran kebebasan, kebahagiaan, apresiasi seni, pendidikan, dan kesehatan lingkungan. Pada kesadaran SISTEM ini tidak boleh ada satu pun bagian dari alam semesta ini yang disia-siakan, dimiskinkan, dan dilupakan saat sebagian yang lain dimuliakan, dikayakan dan diingat.
5. KESADARAN RELIGI (Kesadaran Profetik). Kesadaran akan WUJUD dirinya, PRIVAT pribadinya, kebersamaan PUBLIK bangsanya, serta menyadari sebagai bagian dari SISTEM kehidupan berbangsa dan bernegara, maka kesemuanya semata karena untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai kesadaran RELIGI.
Itulah lima kesadaran dalam berbangsa sebagai wujud kesadaran beragama setiap warga bangsa Indonesia. Lima kesadaran tersebut merupakan driving force bagi warga bangsa dalam membela negaranya dari berbagai serangan dan rongrongan. Semoga.

Bagikan Artikel ini ke Facebook