E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

KECERDASAN GANDA (MULTIPLE INTELEGENCIES), GAYA BELAJAR SISWA DAN PEMBELAJARAN ABAD 21

Dibaca: 66 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: MUHAMMAD ANWARUDIN, S.Pd lihat profil
pada tanggal: 2017-12-30 23:13:46 wib


KECERDASAN GANDA (MULTIPLE INTELEGENCIES), GAYA BELAJAR SISWA DAN PEMBELAJARAN ABAD 21


1. Kecerdasan Ganda (multiple intelegencies)

Penentuan ketuntasan dalam proses penilaian pembelajaran dengan mempergunakan kriteria ketuntasan minimal (KKM) menurut saya sudah mencerminkan konsep kecerdasan ganda. Ketuntasan pembelajaran dalam satu tingkat kelas untuk dapat melanjutkan ke tingkat kelas yang lebih tinggi dapat diukur tidak hanya dengan salah satu jenis muatan pembelajaran, namun seluruh muatan pembelajaran yang didalamnya terdapat kriteria ketuntasan minimal yang telah disusun oleh masing-masing guru muatan pembelajaran bersangkutan dengan memperhatikan aspek-aspek kompleksitas per sub materi, daya dukung sarana prasarana dalam menunjang pembelajaran per sub materi serta intake yang dimiliki siswa sesuai dengan hasil belajar kelas sebelumnya. Dengan kriteria per sub materi selanjutnya digabungkan menjadi kriteria ketuntasan materi dan sampai pada kriteria ketuntasan muatan pembelajaran.
Seorang siswa dapat dikatakan tuntas/ naik jika telah memenuhi dan atau melebihi kriteria ketuntasan yang telah ditentukan dengan pertimbangan mendalam atas ketiga aspek kriteria ketuntasan minimal tersebut di atas. Dengan adanya kriteria ketuntasan minimal pada masing-masing muatan pembelajaran yang diberikan, maka diharapkan siswa mampu melampaui batasan-batasan minimal setiap muatan pembelajaran tersebut dengan kata lain bukan hanya salah satu muatan pembelajaran saja yang harus tuntas. Dengan demikian maka dapat dikatakan dan disimpulkan bahwa sekolah tersebut telah memberlakukan aturan yang sesuai dengan teori multiple intelegencies (kecerdasan majemuk). Harapan sekolah dengan pemberlakuan aturan ini adalah memberikan sebanyak-banyaknya modal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada siswa untuk selanjutnya dapat dipilih dan dipilah muatan pembelajaran mana yang akan dikembangkan oleh siswa.
Hakikat dari multiple intelegencies (kecerdasan majemuk) menurut buku Integrasi Teori dan Praktek Pembelajaran, (Suciati, dkk. 2016) disebutkan bahwa kecerdasan yang tnggi bukan hanya ditunjukkan oleh mereka yang memiliki nilai tinggi dalam pelajaran berhitung atau bahasa atau muatan pembelajaran tertentu aja, namun kecerdasan tinggi bisa saja ditunjukkan oleh siswa pada muatan-muatan pembelajaran lainnya.
Masih dari rujukan yang sama, komponen-komponen multiple intelegencies (kecerdasan majemuk) meliputi sembilan (9) komponen sebagai berikut :
a. Kecerdasan Bahasa (Linguistic Intelligence)
Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan penggunaan kata-kata atau bahasa yang meliputi fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Individu dengan kecerdasan ini mempunyai kecakapan tinggi dalam merespon dan belajar dengan suara dan makna dari bahasa yang digunakan, nantinya kebanyakan bermetamorfosis menjadi ahli yang berbicara di depan publik, lebih terbiasa berola pikir dalam dalam bentuk kata-kata daripada gambar. Kecerdasan mutlak harus dimiliki oleh individu yang berprofesi sebagai jurnalis, pengacara, pencipta iklan.
Ciri utama dari kecerdasan bahasa meliputi kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif dalam membaca, menulis, dan berbicara. Keterampilan berbahasa penting sekali untuk memberikan berbagai penjelasan, deskripsi, dan ungkapan ekspresif, Shearer (2004: 4). Kemampuan lain untuk individu dengan kecerdasan bahasa adalah mempunyai kemampuan dalam bersyair, atau gaya menulis yang kaya ekspresi (Gardner, 2003).
Gardner (2003) mengemukakan bahwa “Kemampuan untuk mengingat informasi seperti daftar-daftar lisan yang panjang merupakan bentuk lain dari kecerdasan bahasa”. Bagi orang yang kuat memori lisannya maka gagasan mengalir dengan konstan hal ini disebabkan mereka mempunyai banyak kata-kata di dalam memori lisannya. Tanpa menghiraukan bagian khusus dari kekuatan memori lisan, penekanan terjadi baik pada bahasa tulis maupun bahasa lisan dalam kecerdasan bahasa.
b. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-Mathematical Intelligence)
Kecerdasan ini erat kaitannya dengan kemampuan penalaran, logika dan angka-angka matematis. Pola pikir kemampuan konseptual dalam kerangka logika dan angka yang digunakan untuk membuat hubungan antara berbagai informasi, secara bermakna merupakan pengembangan dari kecerdasan ini. Praktisi/ahli matematika, pemrogram komputer, analis keuangan, akuntan, insinyur dan ilmuwan memerlukan kecerdasan ini dalam menjalankan profesinya.
Pengembangan lain dari kecerdasan ini adalah kemampuan berhitung, berpikir logis dan ketermpilan pemecahan masalah. Praktisi/ahli matematika bukanlah satu-satunya ciri orang yang menonjol dalam kecerdasan logika-matematika. Siapapun yang dapat menunjukkan kemampuan berhitung dengan cepat, menaksir, melengkapi permasalahan aritmetika, memahami atau membuat alasan tentang hubungan-hubungan antar angka, menyelesaikan pola atau melengkapi irama bilangan, dan membaca penanggalan atau sistem notasi lain sudah merupakan ciri menonjol dari kecerdasan logika-matematika, (Gardner, 2003).

c. Kecerdasan Musik (Musical Intelligence)
Kecerdasan dalam menciptakan, mengkomunikasikan dan memahami makna yang dihasilkan oleh suara merupakan inti kecerdasan musikal. Pemprosesan informasi meliputi pitch, ritme dan timbre masuk dalam komponen kecerdasan ini. Komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik memerlukan/harus memiliki kecerdasan ini.
Bakat musik dipercaya sebagai kecerdasan yang muncul lebih awal pada manusia dibanding kecerdasan lain. “Kecerdasan musikal meliputi kepekaan terhadap tangga nada, irama, dan warna bunyi (kualitas suara) serta aspek emosional akan bunyi yang berhubungan dengan bagian fungsional dari apresiasi musik, bernyanyi, dan memainkan alat musik”, Shearer (2004 : 4). Kekuatan kecerdasan ini ada pada kemampuan auditorial tidak hanya menjadikan seseorang mampu mendengar dan merangkai musik saja, juga seseorang mampu mengingat pengalaman bermusik.
Bukan hanya komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik yang harus memiliki kecerdasan ini, karena kecerdasan musikal lebih mengarah kepada komponen memoeri, sehingga pesenetron dan pengarang lagu/musik juga mutlak harus memiliki kecerdasan musikal.

d. Kecerdasan Visual-Spasial (Visual-Spatial Intelligence)
Kecerdasan visual-spasial meliputi kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik. Ada banyak profesi atau ciri orang yang memerlukan kecerdasan ruang seperti, seorang pelaut memerlukan kemampuan untuk mengemudikan perahunya dengan bantuan peta, seorang arsitek dapat memanfaatkan sepetak ruang untuk membuat bangunan, dan seorang penyerang dalam olehraga sepak bola harus mampu memperkirakan seberapa jauh penyerang dapat menerima operan bola. Kecerdasan visual-spasial berhubungan dengan objek dan ruang yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

e. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence)
Kecerdasan kinestetik-tubuh ini berhubungan dengan pengendalian gerakan tubuh dan memainkan benda-benda secara mahir (canggih). Seseorang dengan kecerdasan ini akn mampu mengekspresikan diri melalui gerak-gerakan tubuh, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu melakukan berbagai maneuver fisik dengan baik/cerdik. Koreografer, penari, pemanjat tebing, sampai pada olahragawan profesional dapat dipastikan memiliki kecerdasan ini
Pengembangan lebih lanjut atas kecerdasan ini adalah mampu menggunakan otot-ototnya untuk mengendalikan gerak badannya, memiliki koordinasi tangan-mata, dan mampu menggerakkan objek untuk melengkapi sejumlah gerak kompleks atau mengatur sebuah pesan.

f. Kecerdasan Interpesonal (Interpersonal Intelligence)
Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan dalam berhubungan dan memahami orang lain di luar dirinya. Kecerdasan tersebut menuntun individu untuk melihat berbagai fenomena dari sudut pandang orang lain, agar dapat memahami bagaimana mereka melihat dan merasakan. Sehingga terbentuk kemampuan yang baik dalam mengorganisasikan orang, menjalin kerjasama dengan orang lain ataupun menjaga kesatuan suatu kelompok.
Kemampuan tersebut ditunjang dengan bahasa verbal dan non-verbal untuk membuka saluran komunikasi dengan orang lain. Kecerdasan ini mampu menuntun individu untuk melihat berbagai fenomena dari sudut pandang orang lain, agar dapat memahami bagaimana mereka melihat dan merasakan.
Kecerdasan interpersonal dimiliki oleh individu-individu dengan profesi yang dalam menjalankan profesinya berhadapan dengan orang, seperti guru, dokter, polisi, atau pedagang perlu lebih trampil dalam kecerdasan interpersonal supaya lebih berhasil di tempat kerja.

g. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)
Dengan kecerdasan intrapersonal memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan dengan tepat perasaan-perasaan mereka, misalnya membedakan sakit dan senang dan bertingkah laku tepat sesuai pembedaan tersebut. Kecerdasan ini memungkinkan individu untuk membangun model mental mereka yang akurat, dan menggambarkan beberapa model untuk membuat keputusan yang baik dalam hidup mereka.
Manfaat penting dari kecerdasan intrapersonal ialah meliputi penilaian-diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami-diri atau instropeksi, dan mengatur emosi diri. Jika seseorang sudah memiliki kecerdasan intrapersonal yang kuat maka ia mampu memahami dirinya sebagai pribadi, apakah menyangkut potensi dirinya, bagaimana ia mereaksi terhadap berbagai hal, dan apa yang menjadi cita-citanya.

h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Kecerdasan naturalis adalah kecerdasan/kemampuan untuk menunjukkan rasa empati, pengenalan, dan pemahaman tentang kehidupan dan alam (tanaman, hewan, geologi). Bidang pekerjaan yang membutuhkan bakat kecerdasan naturalis adalah petani, ilmuwan, ahli tanah, dan orang yang berciri khas mengamati perilaku alam dan semua profesi yang berkaitan dengan pemahaman atas hakikat alam.

i. Kecerdasan Existensial (Existential Intellegence)
Kecerdasan existensial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemmpuan untuk membantu/mengabdikan diri serta memberikan kemanfaatan kepada orang lain atau masyarakat pada umumnya. Bakat kecerdasan ini menuntun seseorang untuk memberikan perlindungan dan melakukan protes atas ketiudakadilan yang terjadi. Kecerdasan ini erat kaitannya dengan kegiatan sosial, pendalaman agama/keyakinan.

Pada beberapa kasus, siswa/ murid bisa jadi memiliki salah satu, dua, atau bahkan semua kecerdasan sekaligus dengan kedalaman kecerdasan yang berbeda-beda tingkatnya, kecerdasan dalam bidang bahasa (Linguistic Intelligence), kecerdasan interpersonal (Interpersonal Intelligence), dan kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal Intelligence), Logika-Matematika (Logical-Mathematical Intelligence) dan kecerdasan naturalis (Naturalist Intelligence).

2. Pentingnya guru mengetahui gaya belajar siswa

Sangat penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar siswa-siswanya, karena dengan mengetahui gaya belajar siswa, maka itu merupakan kunci yang sangat ampuh nagi guru dalam pengembangan kinerjanya sebagai pengajar dan pendidik. Ketika seorang guru telah mengetahui gaya belajar siswa-siswanya, maka guru dapat meramu dalam mempersiapkan, melaksanakan pembelajaran maupun mengevaluasi proses dan hasil pembelajarannya dengan tepat daa akurat serta sesuai dan mendapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki siswa.
Dengan pemenuhan kebutuhan pembelelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa, maka penyerapan, pengolahan, dan pengaplikasian hasil pembelajaran akan optimal diterima, dilaksanakan, dan diaplikasikan oleh siswa tanpa hambatan yang berarti. Di samping itu dengan telah diketahuinya gaya belajar siswa, maka komunikasi dan interaksi dalam pembelajaran akan daat dicapai secara maksimal.
Siswa yang beragam dalam sebuah kelas tentunya memiliki perbedaan (keunikan) mereka masing-masing yang dipengaruhi oleh faktor genetika maupun faktor lingkungan dan faktor-faktor lainnya, sehingga akan membentuk gaya belajar mereka masing-masing. Dalam mengakomodir kebutuhan belajar dengan gaya belajar masing-masing siswa, guru diharapkan memiliki kemampuan dalam menyampaikan pembelajaran sesuai gaya belajar siswa.
Teori gaya belajar yang dapat kita pelajari untuk mengembangkan dan meningkatkan pelayanan pendidikan kepada siswa sebagai berikut :

a. Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual adalah gaya belajar sisa yang lebih mengutamakan kekuatan penglihatan (mata). Siswa lebih mampu belajar melalui melihat sesuatu. Siswa dengan gaya belajar visual lebih menyukai penyampaian pembelajaran dengan media gambar, diagram, pertunjukkan, peragaan, pemutaran film atau video.
Karakteristik siswa dengan gaya belajar visual adalah suka membaca, menonton tayangan video (televisi/film), menerka teka-teki atau mengisi TTS, lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan orang lain, lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain, lebih mampu mengingat sesuatu melalui penglihatan, kebanyakan memiliki aktivitas kreatif seperti menulis, menggambar, melukis, merancang, melukis di udara dan cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.
b. Gaya Belajar Auditori
Gaya belajar Auditori adalah gaya belajar sisa yang lebih mengutamakan kekuatan pendengaran (telinga). Siswa dengan gaya belajar audiotori lebih menyukai pembelajaran disampaikan dengan media yang daat diakses dengan pendengaran seperti kaset audio, ceramah, diskusi, debat dan instruksi dalam proses belajar mengajar.
Siswa dengan gaya belajar audiotori rata-rata memiliki karakteristik suka mendengar berbagai sumber media seperti radio, musik, sandiwara, drama, debat, lebih mampu mendapatkan pengetahuan dari cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi, memiliki aktivitas kreatif seperti menyanyi, mendongeng, mengobrol, bermain musik, membuat cerita lucu, berdebat, berfilosofi, berbicara dengan kecepatan sedang, suka bicara (cerewet) bahkan dalam kelas.
c. Gaya Belajar Kinestetik
Gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan keterlibatan aktivitas fisik secara langsung. Belajar melalui aktivitas fisik. Media pembelajaran yang disukai antara lain bermain peran, kunjungan wisata, lebih menyukai pelajaran praktek daripada teori.
Karakteristik siswa dengan gaya belajar kinestetik adalah lebih menyukai kegiatan baik sosial maupun olahraga, seperti menari dan lintas alam, memiliki aktivitas kreatif seperti kerajinan tangan, berkebun, berbicara agak lambat, dalam keadaan diam selalu merasa gelisah, tidak bisa duduk tenang, dan suka melakukan urusan sambil mengerjakan sesuatu.

Dalam prakteknya, seorang peserta didik bisa saja memiliki sebagian karakteristik pelajar visual, auditori dan kinestetik sekaligus. Artinya, dia bisa saja menjadi pebelajar visual, sekaligus menjadi pebelajar auditori, atau pebelajar kinestetik yang juga mampu untuk belajar secara visual. Peserta didik bisa menggunakan salah satu gaya belajar dalam menyerap pelajaran, atau menggunakan kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut. Namun, tentu saja ada suatu kecenderungan dalam diri peserta didik, gaya belajar mana yang lebih sesuai dengan mereka.
Dalam hal ini guru diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan pelayanan pendidikan (pembelajaran) dengan mengedepankan kegiatan-kegiatan yang mengarah dan melayani kebutuhan siswa dengan gaya belajar siswa.

3. Mengefektifkan pembelajaran di abad 21
Tren pembelajaran abad 21 adalah hadirnya/ kemajuan atas teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan perubahan mindset pembelajaran dari yang berpusat pada guru/pendidik (teacher centered) menuju pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (student centered). Pada bidang pendidikan (pembelajaran) di abad 21 ini diperlukan perbaikan dalam bidang sarpras, pelibatan langsung (engaging) siswa dalam pembelajaran, dan yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan mutu guru/pendidik dalam pelaksanaan tugasnya.
Pada konteks kasus tersebut di atas, didasarkan pada karakteristik pembelajaran di abad 21 berupa 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, creativity and innovation). Maka pola-pola pemusatan pembelajaran kepada guru harus segera dirubah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta pelibatan (engaging) siswa dalam proses pembelajaran.
Maka beberapa cara untuk mengembangkan cara yang efektif dalam membelajarkan siswa pada abad 21 yang mana penyelenggara pendidikan diharuskan untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu dengan mengacu kepada persiapan peserta didik dalam dunia pasang surut, dinamis dan tidak bisa diramalkan; mengembangkan perilaku kreatif peserta didik; membebaskan kecerdasan individu yang unik; serta mampu menghasilkan peserta didik yang inovatif, dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut :

a. Komunikasi
Komunikasi yang merupakan karakter pertama dari pembelajaran abad 21 diterapkan dengan fasilitasi guru terhadap peserta didik untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah yang diberikan oleh pendidik. Dengan dukungan kemajuan teklnologi informasi dan komunikasi yang terarah, terkendali, serta kontrol yang rutin dan partisipatif baik dari guru, orang tua, dan semua pihak yang berkepentingan dalam perkembangan siswa maka sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa akan tereksplorasi secara maksimal.

b. Kolaborasi
Pada langkah kedua yang merupakan karakter kedua dari embelajaran abad 21 ini, guru diharapkan mampu memfasilitasi peserta didik untuk menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain.
c. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah
Pada tahap ini diharapkan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, guru diharapkan mampu memberikan contoh/teladan kepada peserta didik dalam mengaktifkan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem, menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, baik dalam menyusun, mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah yang hadir dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan berbagai sumber yang relevan.


d. Kreatif dan Inovatif
Guru/ pendidik harus mampu menanamkan sikap kreatif dan inovatif yang terintegrasi dalam setiap materi dan proses pembelajaran yang disampaikan supaya peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda yang mengarah kepada kemampuan peserta didik yang daat diaplikasikan dalam kehidupannya di masa mendatang.
Untuk menjalankan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran abad 21 tersebut di atas demi mencapai mencapai tujuan pendidikan, maka yang tidak kalah penting yaitu assessment atau penilaian. Pendidik harus mampu merancang sistem penilaian yang bersifat kontinu (dilakukan sejak peserta didik mulai melakukan kegiatan, sedang dan setelah selesai melaksanakan kegiatan). Penilaian bisa diberikan diantara peserta didik sebagai feedback, oleh pendidik dengan rubrik yang telah disiapkan atau berdasarkan kinerja serta produk yang mereka hasilkan.
Dengan niat tulus dari para guru/pendidik untuk mempersiapkan generasi penerus yang gemilang, memiliki sikap cerdas intelektual, cerdas vocational, cerdas emosional, cerdas moral, dan cerdas spiritual dan dengan mengambangkan diri serta berinovasi secara berkelanjutan, semoga mampu memberikan hasil yang maksimal yaitu lulusan yang cerdas, mandiri, unggul, dan tangguh yang mampu bertahan di abad 21 dan mampu mengharumkan nama bangsa.

Bagikan Artikel ini ke Facebook