E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

EMPAT PILAR MENDIDIK ANAK DALAM KELUARGA

Dibaca: 286 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: SOERATMANTA, S.Pd, M.Pd lihat profil
pada tanggal: 2018-01-18 10:22:04 wib



Oleh
Soeratmanta

Banyak pasangan hidup yang baru saja menikah tidak berapa lama diberikan momongan atau yang kita sebut anak. Namun banyak juga pasangan hidup yang telah lama menikah belum juga diberikan kesempatan untuk memimiliknya. Meski telah berusaha kesana-kemari baik itu secara agama dengan doa-doa serta melalui pengobatan alternatif atau pun medis namun belum juga di kabulkan.
Anak adalah anugerah yang terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki intelegensi yang tinggi. Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya. Namun anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain.
Seharusnya orang tua bermuhasabah atau proses menilai diri sendiri,” sudahkah sampai saat ini kita (orang tua) memberikan kasih sayang dan mendidiknya dengan tepat dan baik?” Karena tiap manusia mempunyai sifat dan watak yang berbeda. Ada yang keras dan ada yang lembut. Sebagai orang tua, tentu kita juga harus sadar dengan sifat dan watak anak-anak kita. Memang, terkadang kita sering merasa jengkel saat anak tak menurut, namun bukan menjadi alasan kita harus berteriak atau memarahi anak dengan cara yang justru membuat mereka kian ‘menjadi’
Ada baiknya, saat kita memerintah anak untuk melakukan tindakan tertentu, jangan terlalu menekan atau memaksanya. Cukup memberikan perintah dengan cara yang lembut dan sabar. Pun, tak bisa ditolak mereka juga belum mengerti kewajiban untuk menuruti orang tua. Mereka belum paham apa yang kamu maksud. Nah, agar anak menjadi lebih patuh pada kita, sebaiknya perhatikan 3 faktor berikut : pertama karena pemahaman anak yang masih belum mengerti, ada baiknya menggunakan cara definitif ketika memerintahkannya. Terkadang, kita juga sering lupa kalau anak tidak bisa menangkap apa yang kita perintahkan mengingat mereka belum dewasa. Kata-kata yang sering kita lontarkan pada anak, seperti; “Ayo bersihkan kamar!”, “Jangan nakal!” dan lain sebaginya. Pada dasarnya ini adalah tindakan yang salah, karena tidak definitif. Anak tidak mengerti dengan apa yang kita katakan. Oleh sebab itu, cobalah untuk memerintah anak dengan definitif dan tentu saja lemah lembut, seperti: “Nah, kamarmu kok kurang bagus ya? Coba deh dibereskan biar tambah bagus,” kedua, Karena anak bukan robot, jadi tak ada gunannya meneriakinya. Cobalah untuk mengusap rambutnya dan yakinkan ia menatap mata kita.
Kadang, anak sering tak menghiraukan saat dipanggil atau disuruh. Kasus ini biasanya terjadi pada saat anak tengah konsen dengan sesuatu. Misalnya, kita memanggilnya saat anak sedang asyik bermain. Mereka pasti lebih fokus mainannya ketimbang suara kita. Dan biasanya kita sebagai orang tua langsung menghakimi anak dengan menyebutnya pembangkang atau tak menurut. Hal ini tentu saja bukanlah sesuatu yang baik, mengingat anak masih belum dewasa dan belum mengeti apa yang kita maksud. Ada baiknya, kita menasehatinya dengan cara berulang-ulang dan tanyakan pada anak apakah ia tahu bahwa kita sedang berbicara dengannya. Bila anak masih belum menyadarinya, maka jangan buru-buru meneriakinya. Sentuhlah kepalangan dengan usapan lembut, dan yakinkan matanya menatap mata kita. Rendam emosi dan jangan sekali-kali meneriakinya.
Ketiga, Meski jengkel, bukan hal yang baik untuk memaksa anak dengan perintah-perintah. Kadang, kita juga sering khilaf dengan meminta sesuatu pada anak untuk segera melakukan apa yang diperintahkan. Tapi mereka dalam situasi dimana tak ingin melakukan hal tersebut, dan lebih memilih menghiraukan perintah kita. Misalnya saat anak sedang bersama temannya dan kita menyuruhnya untuk segera mandi. Biasanya anak akan menghiraukannya dan tak jarang membuat kita merasa emosi. Percayalah, ini bukan sepenuhnya kesalahan si anak. Kitalah yang seharusnya lebih memperhatikan situasi si anak. Kita bisa mendatanginya dan mengucapakan kata-kata dengan cara lembut. Ajak si anak berkomunikasi dan jangan selalu memaksanya untuk melakukan apa yang kita perintahkan.
Ya, sejatinya anak adalah titipan dari Yang Kuasa. Kita sebagai orang tua dituntut untuk sabar dan tawaqal. Sebab, segala tindakan kasar yang kita lakukan biasanya akan ditiru oleh si anak. Nggak mau kan anak jadi liar dan kasar?
Dalam al-Quran, Allah swt. mengklasifikasikan kedudukan anak menjadi empat golongan, yaitu:
Pertama, ada anak sebagai musuh, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Taghabun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
Kedua, anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Taghabun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.
Ketiga, anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.
Keempat, anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Dari ke-empat kedudukan anak tersebut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun untuk mencapainya diperlukan keserisuan dan ketekunan orang tua dalam membina mereka. Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya. Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya. Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.
Semoga di bulan Juli yang sangat istimewa ini anak-anak Indonesia dapat merayakan Hari Anak Nasional dengan gembira tanpa balutan kekerasan bersama keluarga. Semoga!

Bagikan Artikel ini ke Facebook