E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Guru teladan siswa

Dibaca: 204 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: ISMAIL, S.Ag lihat profil
pada tanggal: 2018-02-13 12:05:07 wib


Kurang lebih begitulah yang dituntut murid kepada gurunya. Mereka mendambakan seorang guru yang benar-benar bisa diteladani dan tidak punya cacat moral atau akhlak sedikitpun. Murid semakin kritis bersikap, mereka tidak segan-segan memprotes gurunya jika sikap dan perilakunya bertentangan dengan ucapannya.

Dalam Al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah, metode yang cukup besar pengaruhnya dalam mendidik anak. Allah telah menunjukkan bahwa contoh keteladanan dari kehidupan Nabi Muhammad saw adalah mengandung nilai pedagogis bagi manusia. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi dalam Surat Al-Ahzab: 21

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah saw itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dari hari akhir dan dia banyak mengingat (menyebut) Allah_. (Q.S. Al-Ahzab: 21)[2]

Sedangkan Hadits Nabi Muhammad saw yang telah menjadi dasar contoh suri tauladan anak didik adalah:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَهَا بُعِثْت ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلاَ ق (رواه الحاكم والبيهقى)

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: rasulullah bersabda: sesungguhnya aku diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik_.[3]

Itulah sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang dapat dikemukakan sebagai dasar suri tauladan, dimana kesemuanya itu mencerminkan atau tercermin dalam kepribadian Rasulullah saw. Metode keteladanan mampu mengarahkan manusia pada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syari’at Allah swt.

Sesuai dengan TAP MPR RI tentang GBHN dalam bidang pendidikan menetapkan diantaranya bahwa pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang seutuhnya. Sehingga bagi setiap pendidik harus mampu dengan penuh tanggung jawab menjalankan tugas-tugas tiap tiap sila dari Pancasila, sebagai berikut:

Tugas memenuhi sila pertama, yaitu tugas Ketuhanan Yang Maha Esa
Tugas memenuhi sila kedua, yaitu tugas kemanusiaan yang adil dan beradab
Tugas memenuhi sila ketiga, yaitu tugas persatuan Indonesia atau tugas negara yang dimiliki bangsa Indonesia.
Tugas memenuhi sila keempat, yaitu tugas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Tugas memenuhi sila kelima, yaitu tugas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.[4]
Sebagai manusia dewasa yang bermoral Pancasila diharapkan pendidik mempunyai sikap hidup yang sehat, yaitu tepat dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila tersebut dengan kelima sila-silanya. Sesuai dengan pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila dan demi suksesnya pendidikan, maka seorang pendidik wajib memiliki sifat-sifat budi pekerti manusia bermoral Pancasila.

Bagikan Artikel ini ke Facebook