E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Bukan Sekedar Slogan dan Tema

Dibaca: 137 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Henny Marlina lihat profil
pada tanggal: 2018-03-31 08:22:27 wib


Bukan Sekedar Slogan dan TemaBUKAN SEKEDAR SLOGAN DAN TEMA


Hidup adalah perjuangan. Tiada kehidupan yang lepas dari ujian dan cobaan. Kesadaran akan khilaf dan dosa akan melahirkan sikap evaluasi diri maksimal. Hidup harus senantiasa terus berbenah. Karena dengan berbenah melahirkan perubahan seseorang sehingga mampu menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari-hari sebelumnya. Berkarya dalam segala segi kehidupan merupakan panggilan jiwa. Bukan panggilan ambisi, gila hormat dan tanda jasa. Oleh karena itu, sebuah karya akan menjadi lebih bermakna manakala selalu diawali dengan niat tulus karena dan untuk-Nya semata. Begitu pun sebaliknya, sebuah karya yang dilakukan bukan karena-Nya semata, maka tak akan pernah memiliki makna dan akan terasa sia-sia belaka. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hati dan meluruskan niat kita sebelum berbuat hal apa saja.
Kodrat manusia, selalu cenderung pada kebaikan. Sifat hanif adalah karunia-Nya yang sangat berharga bagi kita semua. Bagaimanapun buruknya sifat dan perilaku seseorang, selalu tidak dapat memungkiri hati nuraninya bahwa kebaikan tetap bertengger dalam diri mereka. Walaupun kadar kebaikan itu akan berubah-ubah sesuai dengan suasana ritme kadar keimanan dan ketakwaannya.
Betapa indahnya hidup ini apabila kita dapat ikhtiarkan dengan maksimal untuk mengisi lembar demi lembar catatan harian amalan kita di dunia agar senantiasa berlandaskan iman dan taqwa pada-Nya semata. Berusaha untuk tidak mengkebiri hak sesama, saling berdampingan dalam kebajikan, serta menyeru pada kebenaran yang akan bermuara pada keridhoan-Nya.
Kementerian agama pada tanggal 3 Januari 2017 lalu memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) yang ke-71. Patut diacungkan jempol bagi seluruh karyawan dan guru yang bernaung di bawah logo Ikhlas Beramal. Karena semangat dan kiprah berkarya mereka dalam segala bidang menunjukkan persentase yang semakin signifikan. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan prestasi yang terus merangkak naik.
Pada peringatan HAB ke – 71 Kementerian Agama tahun ini mengambil tema “ Lebih Dekat Melayani Umat ”. Ruh dalam kalimat yang tertera pada tema tersebut menitipkan harapan yang besar dan sungguh mulia dimana aktifitas melayani umat lebih dekat diharapkan kiranya mampu mewarnai dan melekat pada setiap derap langkah abdi masyarakat di bawah naungan kementerian agama. Karena dengan melayani umat lebih dekat kita akan dapat mengenal lebih dalam lagi bagaimana keadaan masyarakat, apa keinginan, keluhan, dan harapan mereka pada kita yang nota bene sebagai pelayan masyarakat pada kementerian agama ini.
Menggerakkan jiwa untuk lebih bermartabat jauh lebih sulit dibandingkan dengan menggerakkan sebuah bangunan/benda/tubuh seseorang. Many mans many minds ! Dengan triliunan manusia melahirkan pola pemikiran yang beragam pula. Latar belakang, karakter, potensi, bakat, minat, kualitas imtaq, dan kemampuan ilmu pengetahuan seseorang akan banyak mempengaruhi bagaimana mindset dan sepak terjangnya dalam hidup. Realita sederhana, dalam resapel pejabat, pegawai negeri sipil (guru dan karyawan) pada sebuah organisasi (satuan kerja) merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun sangat disayangkan apabila mutasi dilakukan hanya dilatarbelakangi oleh emosi pribadi atau kepentingan sekelompok orang belaka. Beramai-ramai kita mendengungkan upaya untuk memberantas KKN (koruksi, kolusi, dan nepotisme). Namun di sisi lain, tak kalah ramai kita menciptakan birokrasi yang menyuburkan perilaku KKN itu sendiri. Bermain lumpur pada sawah ladang milik kita (kementerian agama,red). Sadar atau tidak, Kementerian Agama adalah Milik Kita Bersama, bukan milik sekelompok orang/keluarga tertentu. Maka sepatutnyalah segala kebijakan diberlakukan secara adil untuk kemaslahatan bersama.
Realita yang sering terjadi, apabila seorang oknum pegawai dianggap merugikan kredibelitas pimpinan/yayasan/organisasinya, maka tak segan-segannya dimutasi menuju tempat baru yang sebelumnya tidak dipertimbangkan apa nilai kurang-lebih dan baik-buruknya bagi oknum yang bersangkutan atau tanpa ada proses tabayyun sebelumnya. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah apabila oknum pejabat memiliki keluarga/kolega yang masih dekat, maka mereka akan melakukan mutasi sesuai dengan selera. Tanpa mempertimbangkan nilai objektivitas dari penanganan masalah sebelumnya, sehingga jauh dari nilai keadilan yang memang seharusnya dijunjung tinggi. Di sinilah kita dapati beragam simbiosis, baik parasitisme, komensalisme, maupun mutualisme.
Bukan rahasia umum lagi, banyak orang berpandangan bahwa baik di daerah maupun pusat pemerintahan, berapa banyak generasi bangsa yang memiliki potensi dan prestasi di negeri ini, namun kerapkali luput dari perhatian dan apresiasi pemerintah/pejabat yang berwenang. Dominan pepatah yang mengatakan “siapa dekat dia dapat” masih berkumandang. Padahal sesungguhnya, apapun yang melekat dalam diri kita adalah titipan-Nya yang kelak akan dimintai pertanggunganjawab oleh-Nya. Keluarga pejabat walau tak memiliki potensi maksimal, sangat dengan mudah memperoleh kesempatan, tempat dan kursi hangat. Sedangkan bagi mereka yang memiliki potensi tapi tak memiliki keluarga/kolega pada suatu satuan kerja/instansi, akan bertahan menjadi buih di tengah lautan. Sungguh miris, betapa mahalnya nilai keadilan dalam menentukan suatu kebijakan di negeri ini. Slogan hanya dijadikan hiasan belaka.
Hidup tak akan pernah lepas dari masalah. Sebutan masalah itu besar atau kecilnya tergantung dari siapa dan dari sisi mana masalah tersebut dilihat. Ketika terjadi masalah dalam suatu satuan kerja, cenderung para pengambil kebijakan mendengar keterangan dari sebelah pihak saja. Walaupun kadang pihak yang didengarya tersebut berada di posisi salah, selalu dibela dan mendapatkan tempat. Apalagi yang bersengketa adalah termasuk gank atau koleganya si pengambil kebijakan. Maka kebijakan pun diputuskan dengan sebelah mata. Padahal sudah sangat jelas dan tegas ajaran agama pada kita untuk melakukan tabayyun ketika menerima kabar berita yang belum jelas kebenarannya. Hal inilah yang membuat hubungan dan suasana kerja menjadi tak sehat, penuh kepura-puraan, tekanan, dan tak jarang terjadi gesekan-gesekan yang hampir tak terdengar pengawas/pengambil kebijakan yang notabenenya adalah manusia biasa juga. Akhirnya semua bermuara pada kata “APA dan SIAPA dia ?”.
Tema HAB tahun ini janganlah cuma sekedar slogan pemanis dan penghias lembaran kinerja. Negeri kita membutuhkan bukti nyata dari tangan-tangan terampil untuk berkarya, semangat yang sehat, kejujuran berbuat, dan kebijakan yang terhormat serta berwibawa. Jangan sampai istilah “Aji Mumpung” disalahgunakan dalam suatu periode jabatan/masa kerja seseorang. Marilah menengok ke belakang, masyarakat di sekeliling kita. Betapa banyaknya mereka yang menitipkan harapan yang sama pada kementerian agama ini. Menyuarakan nyanyian kalbu. Tentang suatu keadilan yang terkebiri dan pemerataan yang terseok-seok atau tentang kisah memprihatinkan yang hampir tak terdengar oleh pendengaran dan tak terjangkau oleh penglihatan kita. Betapa indah dan mulianya apabila kebijakan yang kita berikan dapat menguntungkan semua pihak tanpa tendensi apapun dan diskriminasi pada siapa/golongan mana pun. Senyum pun akan mengirimkan doa-doa kesyukuran untuk para pemangku jabatan karena masyarakat/pegawai/karyawan yang dipimpin mereka merasa telah diperlakukan sama dan adil dalam perjalanannya sebagai abdi negara. Terlebih lagi, sebagai hamba-Nya yang senantiasa memiliki asa, rasa dan doa dalam keyakinan pada-Nya.
Lebih dekat melayani ummat, bukan hanya sekedar slogan/tema belaka. Melainkan menjadi ruh dalam berjihad meraih ridho-Nya. Tanpa ada campur tangan orang tak bertanggung jawab yang gemar meminjam beribu tangan orang lain untuk mencuci tangan-tangan kotor mereka. Sungguh, manusia tak akan mampu melihat batang hidung dan telinganya sendiri. Selalu membutuhkan cermin untuk dapat melihatnya. Tapi, jangan sampai salah memilih cermin (kaki tangan/orang kepercayaan, red). Karena cermin di sekeliling kita pada zaman ini banyak yang menipu. Hanya memperlihatkan keindahan di depan mata kita, tapi di belakang justru mereka memperlihatkan sisi-sisi kekurangan kita dengan tampak sangat jelas. Maka, berhati-hatilah dengan cermin yang justru banyak menyuguhkan/memperlihatkan pada diri kita beragam sajian ABS (Asal Bapak Senang).
Akhir kata, marilah berusaha untuk lebih banyak mendengar, jangan hanya mau didengar. Lebih banyak pandai merasa, tapi tidak merasa pandai. Sehingga tampak jelas dan nyata, mana bangkai dan mana durian, yang mana permata dan mana pembawa malapetaka.
Dirgahayu Kementerian Agama ke-71. Lebih dekat melayani umat, luruskan niat sepanjang hayat ! Bravo Kementerian Agama ! Semoga logo Ikhlas Beramal akan benar-benar mewarnai dan menjiwai sepak terjang kita sebagai abdi negara, agama, dan masyarakat, aamiin.
Wallaahu a’lam bishawwaab !


Edisi, 2017
(Henny Marlina, Guru MIN 2 Kota Mataram)

Bagikan Artikel ini ke Facebook