E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Membangun Konsep Diri Pendidik dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Siswa di MIN 2 Kota Mataram

Dibaca: 172 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Henny Marlina lihat profil
pada tanggal: 2018-03-31 08:25:15 wib


Membangun Konsep Diri Pendidik dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Siswa di MIN 2 Kota MataramBAB I
PENDAHULUAN

Dalam iklim kehidupan berbangsa dan bernegara, sektor pendidikan memegang peranan penting dalam mengonstruksi pembangunan dan perkembangan. Keberadaan pendidikan seperti anak kunci yang akan membuka pintu gerbang menuju alam masa depan. Sebab, dalam pendidikanlah terjadi proses perekayasaan dan “pembentukan” manusia menjadi sumber daya yang berkemampuan sesuai dengan rumusan tujuan yang diharapkan.
Menurut UUGD No.14/2005 Pasal 28 ayat 3, guru wajib memiliki kompetensi yang meliputi kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dalam konteks kedua kebijakan tersebut, kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang untuk memangku jabatan guru sebagai profesi.
Mengajar adalah profesi yang paling indah di dunia. Sebagai guru, seseorang dapat membuat kontribusi langsung dan terukur bagi bangsa kita dan bagi dunia dengan membantu anak-anak mengenal pengetahuan dan keterampilan. Mengajar memberikan tantangan dan kesempatan yang tiada habisnya untuk berkembang.
Kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari keberadaan seorang guru (pendidik). Dimana unsur guru merupakan salah satu syarat terjadinya suatu proses pembelajaran. Tanpa adanya seorang guru, kegiatan pembelajaran tidak akan dapat berjalan. Adapun dalam hal ini para ahli memberikan beberapa pengertian dari istilah guru atau pendidik.
Guru dikenal dengan al-mu’alim atau al-ustadz dalam bahasa Arab, yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis taklim. Artinya, guru adalah seseorang yang memberikan ilmu. Pendapat klasik mengatakan bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar (hanya menekankan satu sisi lain sebagai pendidik dan pelatih). Namun, pada dinamika selanjutnya, definisi guru berkembang secara luas. Guru disebut pendidik profesional karena guru itu telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut melatih anak. Guru juga dikatakan sebagai seseorang yang memperoleh Surat Keputusan (SK), baik dari pemerintah atau swasta untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua 1991, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 Pasal 2, guru dikatakan sebagai tenaga profesional yang mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Selama ini peran guru merupakan aktor utama yang menjalankan fungsi edukatif dalam kegiatan kesehariannya di sekolah. Mereka menyiapkan materi ajar, menampilkan diri, menjelaskan, menganalisa dan mempertanggungjawabkan “body of material”nya. Selain sebagai aktor, guru-guru juga merupakan operator kurikulum yang bekerja berdasarkan petunjuk dan pengarahan, mengejar target dari rentangan waktu yang ada, sehingga terkadang mereka bagaikan “pengabar isi buku teks pelajaran” dengan memanggul pokok-pokok bahasan yang dimuat dalam kurikulum.
Berangkat dari definisi guru tersebut di atas, kita tidak akan terlepas dari sederetan perangkat pembelajaran, media, sumber, dan bagaimana profile guru (pendidik) yang sesungguhnya diinginkan serta diharapkan oleh para siswa dan kurikulum yang telah dirancang sedemikian rupa. Sebagai guru (pendidik), dominan kita memaknai profesi ini hanya sebatas mengajar, bukan mendidik. Sehingga dalam menjalankan tugas, seorang guru menjalankan tugasnya hanya sebagai penggugur kewajibannya belaka. Tidak menjiwai apa profesi guru yang sesungguhnya. Padahal bagaimanapun baiknya kurikulum yang ada, tanpa dilakoni oleh seorang guru yang memiliki keahlian (skill) memadai, maka akan sia-sialah rancangan kurikulum tersebut.
Satu di antara indikasi primanya performa adalah kegairahan yang tinggi atau dalam bahasa pendidikan dikenal dengan “motivasi yang tinggi”. Motivasi yang tinggi adalah sebuah keniscayaan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun demikian seringkali kegiatan pembelajaran menjadi kegiatan yang menjemukan dan sangat melelahkan. Jangankan mengharapkan hasil yang maksimal malah menjadikan siswa bosan bahkan membentuk image negatif seperti pelajaran ini neraka, pelajaran ini menyulitkan, sebutan guru killer, dan berbagai kesan negatif sehingga pembelajaran menjadi sangat tidak menarik. Celakanya jika kesan negatif tersebut terpatri begitu mendalam sehingga melahirkan rasa anti yang berlebih tidak hanya semasa menjadi siswa tapi terus berkekalan untuk masa selanjutnya. Tidak jarang dijumpai adanya siswa yang begitu mendengar nama pelajaran tertentu serta merta melontarkan pernyataan yang mencerminkan antipasti yang sangat terhadap pelajaran tersebut. Pernyataan keliru seperti ini semestinya menjadi tugas guru untuk meluruskannya. Bahwa semua pelajaran baik dan dapat dipelajari sepanjang ada keinginan kuat berupa motivasi tadi.
Membangun konsep diri sebagai guru (pendidik) merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru menjadi figur yang sangat lekat dalam keberhasilan dan pembentukan karakter peserta didiknya. Sadar atau tidak, profil guru menjadi sumber inspirasi seorang siswa. Segala tingkah laku, tutur kata, gaya bahasa, dan bahasa tubuh seorang guru dapat menjadi penyemangat luar biasa dalam diri para siswa. Bagaimana profil guru kreatif, inovatif, dan inspiratif yang diinginkan oleh para siswa selama ini? Para guru (pendidik) yang akan mampu menjawabnya.
Seiring perkembangan zaman, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skill, yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill (interaksi sosial). Hal ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Animo masyarakat tampaknya mulai berbalik arah melirik madrasah yang sebelumnya banyak mencari sekolah umum, kini berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak mereka di madrasah, khususnya di MIN 2 Kota Mataram terus meningkat. Namun, karena keterbatasan daya tampung/tempat (gedung), sehingga dalam dua tahun terakhir ini MIN 2 Kota Mataram hanya mampu menampung 5 rombel saja. Dalam Penerimaan Siswa Baru (PSB), para calon peserta didik harus melewati berbagai test seleksi akademik dan non akademik. Mulai dari seleksi umur, kemampuan calistung, dan kemampuan mengaji. Adapun seleksi penerimaan siswa baru dilakukan dengan tujuan untuk menekan kuantitas dan kualitas calon peserta didik yang akan masuk ke MIN 2 Kota Mataram.
Peningkatan minat dan motivasi masyarakat setiap tahunnya untuk menyekolahkan anak mereka di MIN 2 Kota Mataram tentu tidak terlepas dari beberapa faktor. Faktor-faktor inilah yang kerapkali menjadi tanda tanya penulis, mengapa MIN 2 Kota Mataram menjadi salah satu madrasah ibtidaiyah favorit di kota Mataram? Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sosok MIN 2 kota Mataram menjadi salah satu madrasah/sekolah favorit di kota Mataram?
Dalam hal ini penulis mengangkat masalah yaitu “bagaimana cara yang harus ditempuh pendidik dalam membangun konsep dirinya sebagai pendidik dalam menanamkan nilai-nilai karakter siswa di MIN 2 Kota Mataram?”.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan tentang Membangun Konsep Diri Guru (Pendidik)
Konsep diri merupakan “gubahan”--- keseluruhan gambaran diri yang terdiri dari serangkaian keyakinan, perasaan, nilai-nilai dan sikap yang dimiliki diri sebagai “self”--- diri sendiri. Kata lainnya adalah konsep diri merupakan gambaran diri (citra diri), intensitas afektif, evaluasi diri dan predisposisi tingkah laku. Untuk itu selalu diperhitungkan pemahaman akan masa lalu, pemahaman akan masa sekarang dan pemahaman kemampuan akan masa depan.
Seorang guru harus dapat mengenali konsep diri sebagai seorang guru (pendidik) agar menjadi guru-guru istimewa di sekolah dasar. Konsep diri ini merupakan faktor penting dalam mengajar dan proses pembelajaran. Inilah hal yang paling menakjubkan yang akan guru temukan dari keyakinan dan sikap diri yang muncul dari lubuk hati seorang guru yang paling dalam, yang merupakan sebuah kekuatan diri, apa adanya diri.
Gambaran diri, jika dapat digambarkan maka ia bagaikan sebuah--- gumpalan---yang terkapar rebah sebagai suatu kesatuan yang utuh, yang terorganisir, konsisten, permanen,…sebagai suatu yang mengalir dengan kualitasnya masing-masing. Sesuatu yang dikatakan sebagai “Strong Jellyfish”---ikan cumi-cumi yang tubuh lunaknya dipenuhi titik-titik yang sangat unik dan berbeda dengan gumpalan diri lain dengan titik-titik yang juga berbeda. Ini merupakan suatu pola bermakna atau suatu sistem yang saling mengisi sebagai suatu kesatuan yang utuh. Gumpalan diri inilah yang akan mendorong tampilnya sebuah pribadi dengan karakter yang berbeda-beda dan unik---tentunya juga istimewa.
Adapun gambaran guru yang memiliki konsep diri yang positif adalah sebagai berikut :

1. Memiliki rasa senang dan cinta pada semua muridnya.
2. Bebas dari rasa cemas.
3. Menghargai profesional dan privacy.
4. Berani mengambil resiko.
5. Memiliki rasa humor.
6. Sehat dan bugar.
7. Kreatif dan selalu ingin belajar.
8. Sederhana.
9. Disiplin.
Sebagaimana gambaran guru yang memiliki konsep diri positif seperti telah disebutkan di atas, untuk menjadi guru-guru istimewa seorang guru (pendidik) dapat membangun konsep dirinya sebagai berikut :
1. Guru sebagai seorang Entertainer
Guru sebagai seorang “entertainer” berarti seorang guru harus dapat menghadirkan diri di hadapan anak-anak didiknya sebagai seorang “penghibur”. Seorang penghibur yang siap menghadapi suasana emosi anak, yang pintar membaca perasaan anak, apakah anak didiknya sedang bosan, lelah, kepanasan, sedih, kecewa, putus asa dan sebagainya. Adapun hal-hal yang harus dimiliki seorang guru (pendidik) sebagai penghibur adalah :
a. Tampilkan diri yang menarik di hadapan siswa
b. Pintar bercerita
c. Pintar menyanyi
d. Pintar berpuisi
e. Pintar menari
f. Pintar memainkan alat musik

2. Berkomunikasi dengan efektif
Membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak yang masih duduk di bangku SD/MI bukanlah hal yang mudah. Namun karena kita (guru) setiap hari melakukannya maka sikap---alah bisa karena biasa---tanpa sengaja kita telah melakukan banyak hal yang tidak patut dan sering diabaikan begitu saja. Banyak komunikasi yang berlangsung setiap hari dan setiap saat antara guru dan anak membuat anak-anak kecewa dan kesal. Mereka tidak dapat menyalurkan isi hati dan pikiran mereka kepada gurunya. Hal ini terjadi karena dalam berkomunikasi guru sering kehilangan kemampuan untuk mendengar. Pada umumnya guru-guru mendominasi pembicaraan dan anak-anak didiknya hanya dapat menjadi pendengar yang pasif. Para guru lebih senang berbicara daripada mendengarkan anak didiknya. Miskinnya “kemampuan mendengar aktif” guru ini mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk dapat memahami perasaan anak.
Untuk membangun gaya komunikasi yang patut pada anak terlebih dahulu guru harus memiliki perilaku efektif. Perilaku efektif terbagi atas dua komponen, yaitu komponen verbal dan non verbal. Menurut Mehrabian, bahwa hampir 90% guru melakukan komunikasi non verbal kepada anak-anak didiknya, berupa tatapan mata, ekspresi wajah dan tubuh dibanding kalimat yang teratur yang diucapkannya. Sebagaimana Rasulullah saw berkomunikasi dengan sesama, yaitu : menghadapkan seluruh tubuhnya, menatap mata (eye contact), mencoba memahami bahasa tubuh lawan bicara, mengekspresikan wajah memahami perasaan, dan mendengarkan dengan aktif.
Sebagai guru (pendidik) di madrasah, sudah sepatutnya kita meneladani rasulullah saw. Sebagai pendidik yang penuh kasih sayang, rendah hati, dan tidak menyakiti. Dalam melakukan komunikasi verbal dapat dilakukan dengan menggunakan kata yang tepat, patut, dan tidak menyela. Sehingga komunikasi berlangsung secara efektif.
Selain menjadi entertainer pendidikan dan berkomunikasi dengan efektif, guru (pendidik) hendaknya berusaha menjadi seorang pendengar aktif. Mendengar aktif merupakan suatu teknik mendengar dengan seksama dalam membangun tumbuhnya afiliasi dan empati. Menjadi pendengar aktif sangat berguna ketika menghadapi anak didik yang tengah bermasalah. Untuk itu diperlukan suatu proses pemahaman diri tentang apa yang ingin disampaikan oleh anak. Mendengar aktif berarti benar-benar aktif dan tidak mendengar sepintas saja kata-kata yang diucapkan oleh anak.
Ada beberapa hal yang diharapkan saat menjadi pendengar aktif adalah :
- Berkonsentrasi pada anak dan masalahnya
- Membuka diri dengan sikap dan bahasa tubuh yang siap menerima anak.
- Berusaha memberi komentar yang patut sesuai dengan perasaan, pikiran yang tengah dimaksud anak.
Adapun hal-hal yang harus diingat dalam berkomunikasi dengan anak antara lain :
1. Jangan suka mengulang kata-kata yang diucapkan oleh anak.
2. Kenalilah sifat anak.
3. Jangan menambah daftar kekesalan anak dengan menampilkan reaksi yang dingin atau reaksi yang berlebihan.
4. Mencoba menebak dan membaca perasaan anak tanpa diketahuinya (bertindak seperti detektif).
5. Gunakan mendengar aktif dengan dosis yang tepat. Terlalu banyak diam dengan cara hanya mendengar aktif juga akan membosankan mereka, sehingga malah akan menghindari gurunya.
6. Hati-hatilah dengan masalah anak yang tersembunyi atau cuma berpura-pura bermasalah. Mungkin anak hanya mencari perhatian. Hal ini dapat ditandai dengan sikap anak yang berulangkali melakukan masalah yang sama dalam waktu beriringan. Untuk itu harus bersikap tegas dengan kata-kata.
7. Mendengar aktif merupakan salah satu cara terbaik untuk menggiring anak dapat menyelesaikan masalah pribadinya sendiri dan mandiri tanpa merasa digurui.
Berdasarkan analisa dan pengalaman penulis selama menjadi guru di madrasah ini terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dimana MIN 2 Kota Mataram banyak diminati oleh berbagai lapisan masyarakat kota Mataram, di antaranya : 1) Madrasah mampu bersaing dengan sekolah unggulan lainnya, 2) Meraih banyak prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik, baik di tingkat KKM, FKKMI, gugus, kecamatan/kabupaten/kota/provinsi/nasional, 3) Memberikan banyak konstribusi kepada masyarakat, lembaga/instansi pemerintahan terkait, 4) Menyediakan beragam kegiatan ekstrakurikuler (drumband, pramuka, qiro’ah. karate, kaligrafi, rebana kasidah, pembinaan olimpiade, teater, pasukan keamanan madrasah (PKM), english club, arabic club, dan dokter kecil, 5) Mempunyai banyak program kegiatan yang memfasilitasi perkembangan mental dan penanaman nilai-nilai karakter siswa, seperti morning qur’an setiap hari Selasa-Rabu, hafalan ayat-ayat pendek dan doa-doa pilihan setiap hari Kamis, pembinaan pildacil, pentas seni, kegiatan Imtaq, shalat dhuha, Tahajjud Call, 6) Pelayanan madarasah (kepala madrasah dan dewan guru) yang memuaskan, memiliki loyalitas yang tinggi, dan kolaborasi yang sangat baik dengan wali murid (komite madrasah), masyarakat, dan instansi terkait.
Keenam faktor di atas, tak luput dari sepak terjang para guru dan stakeholder lainnya di MIN 2 Kota Mataram. Guru adalah pondasi dasar yang menentukan kualitas madrasah. Guru yang digugu dan ditiru oleh para siswanya. Keakraban yang terjalin antara guru dan siswa serta orang tua/wali murid tampak begitu harmonis. Faktor-faktor tersebut di atas sangat terkait dengan bagaimana para pendidik membangun konsep diri sebagai guru (pendidik). Dan hal ini memegang peranan yang sangat penting dalam memajukan kualitas pendidikan di MIN 2 kota Mataram.
Oleh karena itu, sebagai pendidik penulis senantiasa melakukan evaluasi diri, merancang, berikhtiar, dan membangun konsep diri secara maksimal untuk melakukan hal-hal bermanfaat dan konstruktif bagi kemajuan madrasah di masa kini dan masa yang akan datang.


B. Pengertian Nilai-Nilai Karakter
Berdasarkan kajian berbagai nilai agama, norma sosial, peraturan atau hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan.
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti adil, rendah hati, malu berbuat salah, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, dan tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadaran tersebut. Karakter adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan tindakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa antara usaha membangun konsep diri sebagai pendidik dan penanaman nilai-nilai karakter siswa di sekolah mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu sepatutnyalah sebagai seorang pendidik untuk membangun konsep diri dengan sebaik-baiknya sebelum memulai segala aktifitas sebagai pendidik. Tentu hal ini sangat bergantung pada iktikad baik sebagai seorang guru yang digugu dan ditiru. Sebagai agen of change dalam dunia pendidikan. Sehingga kualitas pendidikan bangsa kita di masa kini maupun masa yang akan datang dapat meningkat dengan maksimal.









BAB III
PENUTUP

a. Simpulan
Tuntutan kehidupan semakin meningkat. Kecanggihan teknologi sangat berpengaruh pada perkembangan peserta didik. Merupakan tantangan besar bagi seorang guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa di tengah arus globalisasi. Membangun konsep diri yang positif sebagai pendidik adalah salah satu alternatif terbaik dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik mulai sejak dini. Oleh karena itu, sebagai agen of change dalam dunia pendidikan, selayaknyalah sebagai seorang pendidik untuk senantiasa meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri, baik dari segi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun profesional.
Masa depan bangsa dan negara Indonesia tergatung dari bagaimana kualitas dunia pendidikan baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Melalui sikap membangun konsep diri yang positif sebagai pendidik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik akan dapat menyiapkan generasi bangsa yang siap menghadapi segala tantangan zaman. Karakter yang kuat akan membentuk mental yang kuat. Sedangkan mental yang kuat akan melahirkan spirit yang kuat pula.
Karakter yang kuat merupakan prasyarat untuk menjadi seorang pemenang dalam medan kompetisi pada era hiperkompetitif ini. Oleh sebab itu, implementasi pendidikan karakter menjadi keniscayaan untuk membangun bangsa Indonesia yang bermental pemenang di masa yang akan datang.
Membangun konsep diri sebagai pendidik merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah dalam menanamkan nilai-nilai karakter siswa di MIN 2 Kota Mataram khususnya dan pendidikan pada umumnya. Melalui keadaan dan realita yang kita temukan selama ini di lapangan, khususnya yang penulis alami sendiri di tempat tugas, sebagai pendidik kita akan senantiasa termotivasi untuk melakukan evaluasi diri, selalu mengamati dan merefleksi kembali pengalaman selama menjadi guru sampai sekarang ini. Tentu hal ini akan dapat kita lakukan dengan mudah apabila segala ikhtiar kita hanya atas dasar cinta pada pengabdian semata.

b. Saran
Kepada kepala madrasah, pengawas, rekan pendidik dan semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, hendaklah senantiasa :
1. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama.
2. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.
3. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.
Oleh karena itu, dengan maraknya kecanggihan teknologi yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak, hendaknya sebagai pendidik senantiasa meningkatkan kualitas diri, baik dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Tantangan zaman yang kian menantang dan hiperkompetitif membutuhkan karakter yang kuat untuk mampu bersaing di masa depan. Sebagai agen of change dalam dunia pendidikan, sudah selayaknya seorang pendidik membangun konsep diri positif dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik.






DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal, 2012. Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter. Bandung : Yrama Widya.
Maksum, Muhammad, 2014. Menjadi Guru Idola. Klaten : Cable Book.
Ma’mur Asmani, Jamil, 2016. Great Teacher !.Yogyakarta : Diva Press
Supihatiningrum, Jamil, 2013. Guru Profesional. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Utama Faizah, Dewi, 2004. Menjadi Guru-Guru Istimewa di SD. Jakarta : Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.












Makalah
Membangun Konsep Diri Pendidik dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Siswa di MIN 2 Kota Mataram








Oleh : Henny Marlina, S.Pd.I
NIP. 197603121999032001











KEMENTERIAN AGAMA KANTOR KOTA MATARAM
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) 2 KOTA MATARAM
TAHUN 2018

Bagikan Artikel ini ke Facebook