E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

MENGURAI PERSOALAN PENDIDIKAN MADRASAH DI INDONESIA

Dibaca: 214 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:00:50 wib


A. Judul : “MENGURAI PERSOALAN PENDIDIKAN MADRASAH DI
INDONESIA”

B. Pendahuluan
Perkembangan madrasah mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Semua perubahan itu disesuaikan dengan tuntutan keadaan yang kian maju; dari sistem pesantren ke madrasah; dari metode tradisional ke system klasikal; dari system halaqah ke bangku, meja dan papan tulis; dari kurikulum tradisional ke kurikulum modern; dari pendidikan klasik ke pembaharuan pendidikan, dan sebagainya. Semua itu bermuara pada keinginan untuk meningkatkan dan menyejajarkan madrasah dihadapan sekolah-sekolah umum, meskipun sampai saat ini, kesan ketertinggalan tetap saja belum dapat dihapuskan, Hingga saat ini, citra bahwa madrasah adalah “sekolah kepalang tanggung” masih melekat kuat dikalangan masyarakat.
Namun usaha konvergensi dan sintesa dibidang pendidikan madrasah terus dilakukan. Upaya-upaya untuk melakukan perimbangan antara pendidikan Timur dan Barat, pesantren dan sekolah, pelajaran umum dan agama, sebagaimana telah kita lihat dari berbagai kebijakan di atas, tetap menjadi bagian dari komitmen Departemen Agama RI untuk mencari formula-formula baru mengembangkan madrasah agar sesuai dengan harapan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan dan perubahan yang ditempuh itu merupakan langkah yang berani dari lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia, khususnya madrasah, di tengah keinginan untuk tetap mempertahankan identitasnyasendiri sebagai lembaga pendidikan Islam. Identitas keIslaman itu seringkali menjadi suatu kebanggaan tersendiri manakala diperbandingkan dengan kenyataan bahwa lembaga-lembaga pendidikan modern atau sekolah umum yang dikenal sekarang ini adalah warisan kolonial, yang dengan sendirinya juga masih mengandung ciri-ciri colonial, sekurang-kurangnya pada bentuk dan orientasi pendidikannya.
Akan tetapi kebanggaan itu segera harus berubah menjadi renungan manakala kita mendengar kritik-kritik yang dilontarkan bahwa madrasah belum siap menghadapi perkembangan dan perubahan zaman. Para lulusan madrasah dianggap belum siap untuk bersaing dengan lulusan sekolah umum dalam mengisi peran-peran yang ada ditengah masyarakat. Bahkan penguasaan mata pelajaran keagamaan dan berbagai penunjangnya seperti bahasa arab, yang menjadi ciri khas madrasah sepanjang sejarahnya, kini dianggap telah menurun jauh.
Persoalan tersebut membuat kita bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan system pendidikan di madrasah ? Bukankah telah banyak kebijakan telah dibuat, peraturan demi peraturan telah ditetapkan, dan kurikulumpun selalu disesuaikan pada setiap perubahan kurikulum yang terjadi ; bahkan dalam mata pelajaran umum madrasah sepenuhnya mengadopsi kurikulum nasional yang diterapkan

C. Mengurai Permasalahan Dunia Pendidikan Madrasah
1. Pendidikan yang dililit berbagai keterbatasan
Bukan rahasia umum lagi bahwa pada umumnya pendidikan madrasah itu diselenggarakan dengan berbagai keterbatasan sarana prasarana dan dukungan dana. Kedua kondisi ini menjadi faktor yang sangat menonjol pada pendidikan madrasah, walaupun sejak dua decade terakhir ini sudah banyak pula ditemui madrasah dengan kondisi sarana dan prasarana yang melebihi sekolah umum negeri. Namun masih banyak ditemui diberbagai tempat proses kegiatan belajar mengajar di madrasah, khususnya pada madrasah swasta,yang diselenggarakan didalam gedung madrasah dengan dinding yang terbuat dari papan atau anyaman bamboo serta dengan ruang kelas yang kusam, kumuh dengan sarana belajar seadanya. Murid-murid duduk berdesakan belajar di atas kursi papan atau bamboo dengan perlengkapan alat tulis seadanya. Bahkan tidak jarang ditemui seorang murid hanya memiliki sebuah buku tulis untuk mencatat semua pelajaran yang diberikan guru. Sementara guru mengajarkan pelajaran dengan perlengkapan kursi dan meja yang sudah tua serta masih menggunakan alat tulis kapur dan papan tulis hitam yang warnanya sudah mulai berubah kekuning-kuningan.
Seluruh penyelenggaraan pendidikan pada madrasah swasta dijalankan dengan dukungan dana yang minimyang hanya bersumber dari dana swasembada para pendiri, zakat dan sedekah masyarakat, serta iuran sekolah murid-murid yang tidak dapat dipastikan jumlahnya setiap bulan. Bahkan banyak diantara guru yang mengajar dengan honorarium sebesar Rp.200.000 s/d Rp.300.000 perbulan atau kurang lebih Rp. 5000 perjam, sebuah penghasilan yang tidak bisa diandalkan sebagai penghasialn yang dapat memenuhi kebutuhan hidup minimal sehari-hari yang layak. Dalam kenyataannya penghasilan yang ada itu kemudian hanya bisa menutup transportasi mengajar. Dapat dibayangkan kualitas output pendidikan seperti apa yang dapat dihasilkan oleh pendidikan madrasah seperti ini. Kondisi ini sedikit berbeda dengan madrasah yang sudah dinegerikan, dimana kegiatan penyelenggaraan kegiatan pendidikan sudah mendapat subsidi dari pemerintah, mulai dari penyelenggaraan KBM sampai pada pemeliharaan gedung. Bahkan sebagian para guru juga sudah berstatus PNS yang mendapat gaji dan tunjangan tetap dari pemerintah. Namun secara keseluruhan kondisi ini belum merata, karena jumlah madrasah yang berstatus negeri tidak lebih dari 15 % dari populasi yang ada. Jadi masalah keterbatasan sarana dan prasarana ini dialami oleh hampir 85 % madrasah yang berstatus swasta.

2. Kurikulum yang belum menjawab kebutuhan
Kelemahan system pendidikan madrasah, menurut Mastuhu, pada dasarnya sama dengan kelemahan umum yang disandang oleh system pendidikan di Indonesia. Kelemahan tersebut terletak pada hal-hal berikut :
a. Mementingkan materi diatas metodologi.
b. Mementingkan memori diatas analisis dan dialog.
c. Mementingkan pemikiran vertical diatas literal.
d. Mementingkan penguatan pada otak kiri diatas otak kanan.
e. Materi pelajaran agama yang diberikan masih bersifat tradisional, belum menyentuk aspek rasional.
f. Penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses metodologinya.
g. Mementingkan orientasi “memiliki” diatas “menjadi”.
Titik lemah itulah yang menyebabkan madrasah, disamping lembaga pendidikan lainnya di Indonesia, kurang mampu menghasilkan output atau lulusan sebagaimana yang diharapkan. Padahal sebuah lembaga pendidikan, apapun nama dan jenisnya, bagaimanapun harus mengaitkan keberadaanya dengan lingkungan sosial yang mengasuh dan membesarkannya. Sebab tanpa adanya kaitan yang jelas antara keduanya, maka keberadaan sebuah lembaga pendidikan menjadi tidak relevan, kalau bukan malah muspra atau sia-sia.
Disamping titik lemah diatas, hingga kini masih kuat anggapan dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa antara ‘agama’ dan ‘ilmu’, ‘madrasah’ dan ‘sekolah’ adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah sendiri-sendiri, terpisah antara satu sama lain, baik dari segi objek formal-material keilmuan, guru yang diangkat, metode pengajaran yang diterapkan, sampai pada bentuk perpustakaan yang perlu disediakan. Sementara itu, dalam merespon kondisi ini, dalam dunia pendidikan Islam muncul dua fenomena : pertama yang umum terjadi adalah pengajaran ilmu-ilmu agama Islam yang normative-tekstual baik disekolah maupun dimadrasah terlepas dari perkembangan ilmu-ilmu sosial, ekonomi, hokum, dan humaniora. Kedua pendidikan ilmu-ilmu kealaman dipaksa kawin dengan ilmu-ilmu keagamaan Islam yang normative tekstual dengan cara melekatkan atau menempelkan ayat-ayat al Quran pada temuan dan keberhasilan IPTEK, namun terlepas begitu saja dari perkembangan ilmu-ilmu sosial dean humaniora tersebut.
Kelemahan pokok pendidikan madrasah adalah kurangnya perhatian terhadap pengajaran bidang studi umum. Kekurang akraban madrasah dengan bidang studi umum tersebut, merupakan warisan sejarah Islam di Indonesia. Seperti diketahui bahwa Islam yang masuk dan berkembang di Indonesia adalah Islam yang bercorak tasauf atau sufistik, yang lebih mementingkan kehidupan agama dari pada kehidupan dunia. Oleh karena itu corak pendidikan Islam di Indonesia lebih berorientasi pada pengajaran agama. Masuknya pemerintah colonial Belanda dengan membawa system persekolahan yang sekuler, telah melahirkan dikotomi system madrasah dengan system sekolah. Keadaan ini telah mengiring pendidikan Islam (madrasah dan pesantren) menjadi terisolir dari mainstream pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda ; bahkan pada sebagian besarnya madrasah atau pondok pesantren sebagai benteng perlawan terhadap pemerintah colonial.
Keadaan ini menjadi salah satu penyebab kekurang tertarikan pendidikan madrasah terhadap bidang studi umum, seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Faktor penyebab lain adalah tidak terdapatnya guru bidang studi umum yang berkualitas pada gilirannya mempengaruhi sikap ketertarikan murid terhadap pengajaran bidang studi umum. Beberapa tahun terakhir ini, Departemen Agama RI melalui Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam (Ditbinrua), yang sekarang telah berubah nama menjadi Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama pada Sekoalah Umum, telah mengeluarkan berbagai kebijakan strategis untuk menghilangkan dikotomi dan disorientasi ilmu ini melalui pengembangan program Mafikibb (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan Bahasa Inggris) dengan nuansa Islam dan program pelajaran agama yang bernuansa IPTEK.
Kedua program ini bertujuan untuk menjembatani gap atau jurang antara pendidikan agama dengan bidang studi umum dan untuk memberikan nuansa IPTEK ke dalam mata pelajaran agama. Melalui kedua program ini diharapkan akan terjadi perpaduan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum dan teknologi. Bila upaya integrasi ilmu ini berhasil, maka diharapkan tidak ada lagi kesan dikotomi antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Perpaduan konsep mafakibb dengan nuansa agama dan konsep agama dengan nuansa iptek dimaksudkan agar dapat diserapnya nilai-nilai mafakibb yang agamis, dan nilai-nilai agama yang kontekstual dalam perilaku siswa, sebagai wujud penghayatan dan pengapdian kepada keagungan Allah SWT.
Jika semyla perbandingan muatan pelajaran agama dan umum 70 : 30, maka sejak tahun 1994 menjadi berbanding terbalik 30 : 70 dan mulai tahun ajaran 2000/2001 kurikulum madrasah 100% sama dengan kurikulum sekolah dengna penekanan pada pendidikan agama bercirikhas Islam. Dengan perubahan ini, maka para lulusan pendidikan madrasah mengalami perubahan orientasi dalam memilih program studi diperguruan tinggi, dimana sekarang ini di UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi Agama lainnya mulai tersedia berbagai pilihan program studi umum disamping program studi agama yang sudah berjalan selama ini, seiring dengan terbukanya peluang pilihan program studi yang lebih luas ditingkat perguruan tinggi, telah mendorong madrasah untuk juga membuka program-program studi umum. Maka sejak awal 1990an pada madrasah, khususnya ditngkat madrasah Aliyah telah dikembangkan program-program umum, seperti program IPA,program IPS, program Bahasa, serta program keterampilan, disamping program agama (reguler) yang tidak ada selama ini.
Perkembangan di atas pada satu sisi telah membawa perubahan wawasan keilmuan pada pendidikan madrasah, dimana pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi sekaligus juga telah mengambil peran ganda pula sebagai lembaga pendidikan umum. Perubahan ini telah menjadikan pendidikan pada madrasah tidak lagi hanya terfokus untuk menyiapkan row input yang akan masuk pada jurusan/program agama di tingkat perguruan tinggi agama, tetapi juga dituntut untuk menyiapkan row input yang akan memilih jurusan/studi umum ditingkat perguruan tinggi. Akibatnya nyatanya adalah perhatian pada pengembangan program agama mulai melemah, karena konsentrasi pembelajaran lebih difokuskan pada peningkatan program bidang studi umum. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan output pendidikan madrasah menjadi ‘serba tanggung’, dimana penguasaan mata pelajaran umum kurang mantap karena pembinaan bidang studi ini dilakukan oleh guru-guru yang bukan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang seharusnya; sebaliknya fokus pelajaran bidang studi agama, terutama penguasaan mata pelajaran bahasa arab mulai melemah, karena konsentrasi lebih banyak diberikan pada pengembangan materi pelajaran umum.
Sebagai lembaga pendidikan nasional berciri khas Islam, madrasah tentu identik dengan penguasaan ilmu-ilmu keagamaan beserta perangkat pendukung utamanya, yaitu bahasa arab. Para lulusan madrasah seyogyanya memiliki kebanggaan tersendiri karena kemampuannya dalam membaca, menulis, dan memahami bahasa arab, yang merupakan kunci untuk memahami Al Quran dan Hadits serta kitab-kitab keagamaan klasik. Sayangnya, beberapa penelitian muthakhir menunjukkan bahwa kemampuan bahasa arab para lulusan madrasah semakin menurun, kalau tidak bisa dikatakan sangat lemah.
Berangkat dari kondisi nyata ini, nampaknya sudah mendesak untuk dilakukan reposisi kembali pendidikan madrasah dengan merumuskan kembali visi dan misi serta tujuan pendidikan madrasah kedepan. Apakah orientasi akademis yang dikembangkan selama ini sudah tepat dan tetap dipertahankan ? nampaknya kita perlu melakukan pemikiran ulang tentang kebijakan pengembangan madrasah yang terlalu berat berorientasi kepada penyediaan pelayanan yang mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun setelah selesai kesulitan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai latar belakang pendidikannya. Padahal disisi lqain ada kebutuhan mendesak masyarakat akan tenaga-tenaga profesi keagamaan, seperti kebutuhan akan tenaga khotib yang mumpuni, tenaga dai yang terampil dan berwawasan luas; tenaga-tenaga yang professional untuk mengurus urusan jenazah dan masalah profesi agama lainnya.
Untuk itu sudah saatnya, penyeimbangan pengembangan kurikulum madrasah antara yang berorientasi pengenbangan akademik dengan yang berorientasi pengembangan profesi keagamaan. Perwujudannya dapat dilakukan dengan membuka unit madrasah baru atau dalam pembukaaan program-program studi bidang profesi keagamaan. Undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab VI Jalur dan jenis pendidikan, bagian ketiga mengenai Pendidikan Menengah, pasal 18 ayat (3) menyebutkan Pendidikan Menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Undang-undang ini memberi peluang baru bagi pendidikan madrasah untuk mendirikan MA kejuruan.
3. Kurang tersedianya SDM yang memadai
Masalah mendasar lain yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan pendidikan madrasah kedepan adalah pengembangan sumber daya manusia, khususnya tenaga guru, kepala madrasah dan tenaga pengawas.
a. Kualitas guru yang sangat rendah
Melihat gambaran kondisi tenaga guru dimadrasah saat ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori. Pertama guru yang tidak layak/dibawah kualifikasi ( auqualified/underqualified). Artinya guru tersebut belum mempunyai kualifikasi mengajar seperti yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku. Misalnya untuk mengajar di MI, guru minimal berijazah D II, di MTs lulusan D III dan di MA lulusan S I. kedua, guru layak tapi salah kamar (mismatch). Artinya latar belakang pendidikannya tidak cocok dengan bidang studi yang diajarnya. Misalnya lulusan Fakultas Syariah Tarbiyah jurusan PAI Mengajar Matematika, atau lulusan Fakultas Syariah mengajar IPS dan seterusnya. Ketiga, guru yang layak atau sesuai dengan kualifikasi dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
Jika dilihat data guru madrasah saat ini, hamper 60% guru madrasah negeri termasuk kategori tidak layak dan angka akan melonjak menjadi 80 % pada madrasah swasta. Sedangkan yand mismatch (salah kamar) sebesar 20 %. Jadi hanya 20 % guru madrasah yang benar-benar layak memenuhi kualifikasi mengakar. Inilah sebenarnya tantanngan berat yang dihadapi madrasah. Tantangan ini semakin berat bila melihatkualitas bidang studi umum yang masih sangat lemah, karena bidang studi ini ditangani oleh guru-guru dalam kategori mismatch tadi. Oleh karena itu wajar bila hasil ebtanas bidang studi umum pada madrasah lebih rendah dibandingkan dengan sekolah umum.
Keadaan ini semakin menonjol setelah diterapkannya kurikulum 1994, dimana kurikulum madrasah sama dengan kurikulum sekolah umum. Artinya murid madrasah dituntut harus mencapai standar kurikulum yang sama dengan siswa sekolah umum, padahal bagi madrasah (para guru dan siswa) penerapan kurikulum ini masih baru dan belum dapat dijalankan secara optimal dengan berbagai keterbatasan. Guru madrasah tidak dipersiapkan untuk melaksanakan kurikulum 1994 tersebut, begitu pula para siswa belumterbiasa dengan pendidikan yang bukan bidang studi agama.
Melihat kondisi ini, Departemen Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam sejak tahun 1995 melakukan beberapa upaya peningkatan kualitas guru madrasah dengan meluncurkan program sertifikasi bagi guru-guru yang salah kamar; pemberian beasiswa kejenjang D II, D III maupun S I, disampnig upgrading guru yang selama ini dilakukan. Program peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya mendapat momentum baru ketika DEpartemen Agama RI mulai mendapatkan dana bantuan/ pinjaman luar negeri melalui Asian Development Bank (ADB), World Bank dan Islamic Development Bank (IDB). ADB misalnya mulai membantu peningkatan mutu MTs melalui Junior Secondary Education Project (JSEP) pada tahun 1994, dan berlanjut kemudian dengan Basic Education Proyek (BEP) tahun 1996 dan Development of Madrasah Aliyah Project (DMAP).melalui kedua proyek yang terakhir ini dilakukanprogram peningkatan mutu guru secara massif melalui berbagai kegiatan dibawah kategori program staff development. Ribuan guru yang unqualified diikut sertakan dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan, seperti pelatihan guru bina (master teacher), guru bidang studi mafakibb, pendidikan S2, S3 diberbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Begitu pula melalui IDB telah dilakukan pula pelatihan berbagai program ketrampilan bagi guru-guru yang mengajar pada MA yang memiliki program ketrampilan.
Namun, dengan telah mulai berakhir program peningkatan SDM ini melalui pembiayaan bantuan luar negeri, maka program peningkatan mutu guru madrasah mengalami penurun jumlah dan pendanaan yang signifikan. Kendala pendanaan semakin sulit ketika terjadi pula perubahan manajemen pendidikan akibat tuntutan kebijakan otonomisasi daerah. Hal ini terlihat bahwa pola pembinaan yang dilakukan sekarang terhadap peningkatan mutu madrasah adalah melalui pola block grant (bantuan dana segar) langsung ke kabupaten atau madrasah. Masalahnya kemudian adalah tidak semua kabupaten madrasah mempunyai kesiapan untuk melaksanakan sesuai dengan tuntutan/kebutuhan program, tersebab berbagai kendala seperti kurangnya visi dalam melihat program, keterbatasan tenaga ahli, serta masih kuatnya mentalitas proyek dalam melaksanakan kegiatan pembinaan.

b. Kualitas Kepala dan Pengawas Madrasah yang rendah
Tidak jauh berbeda dengan kualitas guru, maka kualitas tenaga kependidikan lain seperti kepala madrasah dan tenaga pengawas juga sangat rendah. Data EMIS tahun 2003 menyebutkan bahwa pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) terdapat 23.093 kepala madrasah yang terdiri 62 % berpendidikan D II dan D III, dan sisanya berltar belakang pendidikan S I sebanyak 38 %; sedang pada tingkat MTs terdapat kepala madrasah, dengan latar belakang pendidikan D III ke atas 74,58 %, dan 25,42 % dibawah D III/Sarjana; sedangkan pada tingkat Madrasah Aliyah (MA) terdapat 4003 kepala madrasah dengan latar belakang pendidikan sarjana (S I) 87,5%, S II 5,8% dan sisanya 6,6% dibawah S I. secara formal kondisi ini sebenarnya cukup memadai, tetapi dari sudut kualitas kepemimpinan dan kemampuan manejerial masih sangat lemah, karena pada umumnya mereka adalah lulusan dari IAIN atau perguruan agama Islam lainnya. Artinya dari dimensi pengetahuan keagamaan tidak perlu diragukan lagi, tetapi dari dimensi kemampuan leadership dan manejerial sangat kurang sekali. Hal ini wajar, karena selama menuntut ilmu di IAIN atau perguruan agama Islam lainnya tidak pernah mendapatkan mata kuliah leadership dan manajemen. Bahkan lebih parah lagi banyak para kepala madrasah tersebut berasal dari mantan pejabat administrative pada kandepag atau kanwil yang memperpanjang dinas aktifnya dengan mutasi menjadi pejabat fungsional kepala madrasah. Akibatnya banyak madrasah yang dikelola dengan penekanan aspek administrative dari pada dimensi akademisnya. Yang terjadi adalah madrasah dikelola secara amatiran dan bernuansa sangat birokratis.
Dengan kondisi seperti dapat dibayangkan, kualitas penyelenggaraan pendidikan madrasah seperti apa yang akan muncul. Wajar bila kemudian tingkat kemajuan pendidikan madrasah sangat berjalan lamban dan tanpa adanya kreatifitas-kreatifitas yang muncul, karena pengelolaan pendidikan madrasah lebih bernuansa birokratis dari pada bernuansa akademis. Walaupun beratus-ratus program penataran dan up-grading diselenggarakan untuk meningkatkan mutu kepala madrasah, tetapi karena row inputnya sedang-sedang saja, maka sampai kapanpun mutu madrasah tidak akan banyak berubah. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan lagi terlalu lama, karena akan membawa madrasah akan semakin terpuruk mutunya. Untuk itu, sudah perlu dilahirkan sebuah kebijakan yang jelas dan terarah untuk prekrutan calon kepala madrasah. Misalnya perlu ditetapkan kualifikasi administrative, akademis, sosial, moral keagamaan yang ketat. Misalnya dari sudut persyaratan administrative, kandidat calon kepala madrasah Ibtidaiyah (MI) dan MTs misalnya lulusan S I dan kepala Madrasah Aliyah lulusan S2 dan semuanya harus berlatar belakang pendidikan dan keguruan serta mempunyai pengalaman mengajar sebagai guru kurang lebih lima tahun; sedangkan dari sudut moralitas keagamaan yang bersangkutan mempunyai integritas moral yang baik dan belum pernah terlibat dalam perbuatan yang melanggar moral dan etika sosial. Jika kondisi-kondisi ini bisa ditegakkan, baru kita bisa berharap pendidikan madrasah kedepan akan meningkat kualitasnya.
Kondisi yang sama juga terjadi pada mutu tenaga pengawas. Sudah bukan ragasia lagi bahwa, sebagian besar tenaga pengawas madrasah adalah berasal dari tenaga admistratif, seperti mantan kepala seksi atau kepala madrasah yang bermutasi menjadi tenaga pengawas dalam rangka memperpanjang usia dinas aktif (usia pensiun). Sudah dapat pula dibayangkan, kualitas pengawasan seperti apa yang dapat mereka lakukan. Dengan keterbatasan pengetahuan tentang seluk beluk proses belajar mengajar (KBM) ditambah dengan keterbatasan pengetahuan dibidang administrasi dan supervisi pendidikan, dapat diperkirakan hasil pengawasan seperti apa yang dapat dihasilkan. Dalam kenyataannya para tenaga pengawas tersebut tidak lebih hanya memain peran dan fungsi sebagai inspektur administrative dan tidak sempat mensupervisi masalah substansi dan proses KBM yang berlangsung pada pebdidikan madrasah. Kedepan perekrutmen calon pengawas perlu dirancang sedemikian rupa dengan persyaratan administrative dan akademis yang ketat. Ke depan tidak semua orang lagi berpeluang menjadi tenaga pengawas, tetapi jabatan pengawas merupakan tenaga professional dengan kualifikasi-kualifikasi yang jelas, baik secara administrative, akademis, maupun moral keagamaan.
4. Tantangan IPTEK dan Globalisasi
Pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Karena IPTEK adalah keseluruhan pengetahuan yang dapat melalui pengamatan, rasional, dan dilakukan pengujian secara kritis dan disepakati oleh para pakar dalam bidang ilmu. Dalam konteks ini, IPTEK memiliki fungsi yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Karena itu Tilaar, mengatakan bahwa IPTEK bagaikan pedang bermata tiga; pertama ia memberikan terobosan-terobosan yang besar yang dapat menguak dunia baru yang penuh potensi untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupan manusia. Kedua ia membuat terobosan baru bagi manusia terhadap rahasia alam semesta yang tidak atau belum terjangkau daya penalaran terbatas. Ketiga ia telah menimbulkan kegoncangan-kegoncangan terhadap pegangan-pegangan hidup manusia seperti sosial, budaya, politik dan kepercayaan atau agama, sehingga dapat menghancurkan kehidupan manusia.
Dengan kata lain, kehadiran IPTEK yang merupakan piranti kehidupan manusia pada satu sisi dapat memberikan fasilitas atau kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengatasi problem kehidupan. IPTEK juga memiliki nilai positif dan kepraktisan lainnya bagi peningkatan kualitas sejarah peradaban manusia yang terus mengalami perubahan dan perkembangan. Futurolog Alvin Toefler dalam ceramahnya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada 28 oktober 1996 mengingatkan kembali bahwa perpindahan peradaban manusia dari gelombang pertama (first wave) ke gelombang kedua (second wave) manuju gelombang ketiga (third wave) sangat membutuhkan peran IPTEK. Modernisasi yang tengah melanda umat manusia dewasa ini pun akan semakin menghebat pada XXI di motori dengan perkembangan IPTEK.
Pengaruh positif dari kemajuan IPTEK, menjadikan masyarakat dunia kini sedang menuju masyarakat ke panca industri (Gailbraith), masyarakat informasi (koyama), abad sybernika dan abad elektronika (Marshal Me. Luhan), masyarakat ilmu pengetahuan (Peter Drucker), masyarakat tecnotonik (Zbigniew Brezezinski),masyarakat telematik (Nora dan Minc), abad infliggut (Marien) dan abad gelombang ketiga ( Alvin Toeffler). Apabila masyarakat industri relative telah siap menerima goncangan gelombang sekaligus, maka dampaknya sungguh sangat baik dalam arti positif maupun negative.
Disisi lain, kemajuan IPTEK justru telah menimbulkan dehumanisasi, demoralisasi, individualisme, materialisme dan nilai-nilai negative lainnya. Sehingga pada sisi ini kehadiran IPTEK menampilkan diri dengan wujud yang tidak ramah lingkungan. Suprojo Pusposutardjo melihat bahwa perkembangan IPTEK dapat saja mengancam korban jiwa, waktu dan material karena dipakai sebagai bahan uji yang tidak positif dan hal itu sangat bertentangan dengan jiwa Qurani. Jadi kehadiran IPTEK dapat menimbulkan krisis kehidupan umat manusia. Salah satu pengaruh yang sangat besar dari kemajuan IPTEK bagi kehidupan manusia adalah lahirnya sekularisme.
Persoalan tersebut kemungkinan tidak akan menimpa umat Islam apabila pengajaran IPTEK diberikan secara benar dilembaga-lembaga pendidikan madrasah. Karena itu, kalau para guru madrasah ingin mengajarkannya IPTEK kepada para muridnya tanpa menimbulkan kebingungan mereka, maka sains dan teknologi ini harus diajarkan dengan juga mengajarkan konteks kulturalnya.mengajarkan sains dan teknologi yang lepas dari konteks kulturalnya., selain membingungkan juga berbahaya. Penyalahgunaan sains dan teknologi saat ini dianggap sebaian kalangan, terutama dikalangan agamawan, karena lepas dari akar cultural, etika ilmunya.
Madrasah menjadi salah satu tumpuan untuk menyerap segala macam persoalan teknologi berikut etika dan filsafatnya untuk kemudian melakukan reorientasi pada model pengajarannya, sehingga ia mampu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Terkait dengan itu, pendidikan teknologi harus diimbangi pula dengan teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan adalah perangkat pendidikan dan pembelajaran yang menunjang terciptanya segala aktifitas belajar mengajar di madrasah. Teknologi pendidikan diperlukan untuk meningkatkan mutu dan daya saing madrasah, siswa dan juga alat untuk mengubah image masyarakat bahwa madrasahpun mempunyai kelengkapan sarana pendidikan. Sedangkan pendidikan teknologi merupakan materi pembelajaran yang tercermin pada perangkat-perangkat teknologi pendidikan yang tersedia sebagai media pembelajaran.
Pendidikan teknologi dan teknologi pendidikan menjadi materi yang dibutuhkan siswa dikelas untuk meningkatkan nilai tambah proses belajar mengajar. Peningkatan nilai tambah pendidikan teknologi dan teknologi pendidikan di madrasah menunjukkan adanya kesiapan secara cultural yang menguntungkan, yang penting sesuai dengan kaidah-kaidah agama dan kemanusiaan. Karena pendidikan, secara holistic, merupakan bagian dari kebudayaan bangsa yang membina dan mengembangkan secara intensif kemampuan, ketrampilan, dan intelektual siswa.
Di dalam proses pendidikan itu ditanamkan sikap dan gaya hidup tertentu sesuai dengan analogi nilai-nilai dan norma yang berlaku, agar siswa lebih sadar menggunakan penalaran dan kemampuan praktisnya dalam rangka mengembangkan kemampuannya. Sebab, pendidikan sebagaimana aspek kebudayaan lainnya cenderung tumbuh dan berkembang menyempurnakan nilai-nilai yang pernah sebelumnya. Dalam kerangka inilah, pemberdayaan maderasah atau pembaharuan dalam bidang pendidikan teknologi dan penerapan teknologi pendidikan di madrasah dapat dilihat sebagai kebutuhan sangat mendesak, dengan tujuan kedepan mampu bersaing di pasar pendidikan global untuk memenuhi tenaga professional dan peningkatan pembangunan bangsa. Pemberdayaan pendidikan madrasah diperlukan untuk membuka horizon baru yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Pendidikan teknologi dan peran teknologi pendidikan di madrasah bertanggung jawab memberi muatan-muatan kurikulum bernuansa sains dan teknologi. Pendidikan teknologi di madrasah akan menghasilkan lulusan yang professional dalam bidang teknologi, setidaknya bisa diharapkan punya kemampuan untuk bekerja karena memang memiliki keterampilan. Penerapan kurikulum pendidikan teknologi dan teknologi pendidikan di madrasah dikaitkan secara erat dengan pembangunan bangsa. Madrasah memang bukan tempat yang tepat untuk mengembangkan secara detail kedua kontruksi tersebut, tetapi madrasah dapat menjadi lembaga pendidik yang ikut memproses pembentukan sikap budaya siswa secara intensif menjadi ilmuan agamis yang memiliki komitmen terhadap kemanusiaan dan masyarakat.
Pendidikan teknologi dan teknologi pendidikan berarti suatu pengembangan kualitas siswa dimasa datang dengan menyadari sepenuhnya potensi dan batasan-batasan yang dimiliki. Pemberdayaan madrasah melalui pengembangan teknologi bertujuan menciptakan nilai-nilai baru yang selaras dengan sendi-sendi agama dan peradaban masyarakat akan dating, disaat IPTEK menjadi tulang punggung segala aktifitas kehidupan. Pemberdayaan manisia melalui teknologi merupakan tuntutan mendesak untuk meningkatkan peradaban bangsa, dan lebih khusus peradaban masyarakat Islam di Indonesia.
Penyikapan madrasah yang menerima teknologi sebagai bagian dari pengajarannya adalah dalam rangka membangun syahsyyah-Islamiyyah (Islamic personality) atau kepribadian paripurna Islam yang mengambil dan menjabarkan konsep-konsep Al Quran tentang kemajuan peradaban. Pesan-pesan Al Quran dalam bentuk pengajaran teknologi di madrasah ini menjadi sintesa tentang kebenaran bahwa umat Islam pun sebenarnya mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi sebagaimana yang telah dibuktikan dalam sejarahnya di masa lalu yaitu di masa renaissance Islam abad pertengahan.
Singkatnya, madrasah dalam arus perkembangan dan kemajuan IPTEK harus menjadi arena tempat anak didik belajar mengenal dsan mencintai teknologi. Dan tanpa perlu bersikap apriori, madrasahpun dapat mendudukkan keberadaan IPTEK secara proporsional. IPTEK dibutuhkan sebagai bagian dari tuntutan kehidupan modern yang tak terelakkan. Tapi IPTEK juga bisa dijadikan sarana untuk tumbuh dan tambahnya keimanan anak didik dan masyarakat Islam pada umumnya.
Tantangan lain yang sedang dan akan terus mempengaruhi perkembangan pendidikan Islam adalah trend globalisasi. Masalah globalisasi sebenarnya bukan masalah baru masyarakat muslim Indonesia. Pembentukan masyarakat muslim Indonesia bahkan bersamaan dengan datangnya gelombang global yang berasal dari timur tengah sejak akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. globalisasi yang terjadi pada masa ini lebih bersifat religio-intelektual. Tetap globalisasi yang melanda masyarakat muslim Indonesia sekarang ini menampakkan watak atau karakter yan berbeda. Proses globalisasi yang terjadi dewasa, tidak lagi dari Timur Tengah melainkan dari Barat yang sedang memegang supremasi dan hegemono dalam berbagai dalam berbagai lapangan kehidupan masyarakat dunia umumnya. Globalisasi yang bersumber dari barat tersebut tampil dengan watak ekonomi politik, dan sains teknologi. Hegemoni teknologi politik dan sains teknologi bukan hanya menghasilkan globalisasi ekonomi, dan sains teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti intelektual, sosial, nilai-nilai dan gaya hidup. Misalnya globalisasi Coca Cola dan Mac Donald, bukan hanya sekedar ekspansi ekonomi, tetapi juga gaya hidup dengan segala implikasinya.

Kini dunia kita seolah-olah tanpa memiliki lagi batas-batas wilayah dan waktu. Apa yang terjadi di belahan bumi lain dengan mudah dan jelasnya dapat kita ketahui pada waktu yang bersamaan. Kita bisa menyaksikan American Idol lewat siaran langsung TV, via satelit dari Indonesia. Begitu juga peristiwa peledakan bom di Bali pada tanggal 12 oktober 2003, tidak sampai hitungan jam informasinya sudah menyebar ke seluruh dunia. Kita sekarang bisa berkomunikasi dengan E-mail (surat elektronik) melalui internet. Jelasnya dengan berbagai perkembangan alat komunikasi modern kita bisa menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi dibelahan bumi yang lain. Arti dari semuanya ini adalah era globalisasi berarti terjadi pertemuan dan gesekan nilai-nilai sosial, budya dan agama yang memanfaatkan jasa komunikasi, transformasi dan informasi hasil modernisasi teknologi. Pertemuan dan pergesekan nilai-nilai budaya ini akan menghasilkan kopetisi liar, dimana yang kuat akan menelan yang lemah, yang kuat akan menekan yang lemah dan seterusnya. Tetapi gelombang globalisasi tidak hanya melahirkan tantangan, tetapi juga melahirkan peluang-peluang. Globalisasi musik dunia, misalnya memberi kemudahan masuknya musik-musik barat, yang kemudian mempengaruhi gaya hidup remaja Indonesia, pada sisi lain juga memberi peluang juga pada musik-musik tradisional Indonesia untuk dikenal oleh masyarakat dunia yang lain.
Implikasi permasalahan pendidikan madrasah di Indonesia sudah barang tentu juga akan mempengaruhi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Artinya pendidikan Islam ditantang harus juga siap menghadap pengaruh negative dari globalisasi, disamping dituntut pula kejeliannya untuk memanfaatkan peluang positif yang diciptakan globalisasi ini. Misalnya globalisasi internet, disamping membawa pengaruh negative bagi generasi muda muslim ketika sarana internet tersebut memberi kemudahan bagi para remaja untuk menjelajah dunia pornografi; pada sisi lain juga memberi peluang bagi anak muda untuk mempunyai akses yang tak terbatas untuk melakukan eksplorasi ilmu pengetahuan. Masalahnya sekarang adalah globalisasai ekonomi politik dan sain dan teknologi tersebut, kemudian menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan pelayanan pendidikan Islam kedepan. Untuk itu sudah saatnya pengembangan kualitas pendidikan Islam, khususnya pendidikan madrasah harus pula secara cermat mempertimbangkan pengaruh negative trend globalisasi tersebut, sambil memikirkan pula bagaimana memanfaatkan pengaruh globalisasitersebut untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah kedepan. Kehidupan dimasa depan adalah kehidupan yang penuh dengan persaingan yang ketat, dimana kompetisi kedepan tidak hanya terjadi antara lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, tetapi lembaga pendidikan Islam juga akan menghadapi persaingan yang lebih ketat dari lembaga pendidikan asing yang beroperasi di Indonesia. Sudah siapkah kita menghadapinya? Waktulah nantinya yang akan membuktikan.


D. Penutup
Berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah belum cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah. Keterbatasan dana yang dapat disediakan pemerintah serta rendahnya partisipasi masyarakat, khususnya dunia usaha terhadap perkembangan pendidikan madrasah. Oleh karena itu, disamping tetap memperjuangkan peningkatan subsidi biaya pendidikan dari pemerintah, maka perlu dikembangkan program peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bahwa perwujudan pendidikan agama yang berkualitas tidak hanya tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini hanya Departemen Agama RI saja, tetapi tanggung jawab bersama semua pihak, termasuk para orang tua, masyarakat Muslim dan masyarakat dunia usaha. Selain itu perlu dikembangkan pula program-program kemitraan denagn berbagai lembaga pendidikan dan usaha sehingga masalah keterbatasan sarana dan prasarana yang dialami tidak lagi menjadi persoalan klasik yang tidak pernah selesai.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat dikembangkan dari wadah yang telah tersedia ini. Pertama, berbentuk pendidikan kecakapan hidup (life skill), yaitu model pendidikan yang memeberikan kecakapan vokasional untuk bekerja atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Strateginya adalah mengubah program ketrampilan yang terdapat dibeberapa madrasah regular ditingkatkan menjadi Madrasah Aliyah Ketrampilan. Cara ini dipandang sangat memungkinkan karena sudah dibentuk workshop-workshop ketrampilan berbagai jenis program ketrampilan, seperti ketrampilan las, gas dan listrik; otomotif, perahu, temple, pertukangan, ternak unggas dan ikan air tawar, tata boga dan hasil pertanian. Kedua membuka unit madrasah baru (UMB) dengan corak kurikulum yang berorientasi kepada pengembangan tenaga-tenaga profesi keagamaan seperti disebutkan diatas. Pilihan ini dapat pula dilakukan dengan cara mengembangkan program profesi keagamaan pada sebagian Madrasah Aliyah Keagamaan yang sudah ada. Alternative terakhir nampaknya lebih memungkinkan untuk dilakukan dari pada membuka unit madrasah baru.

E. Kepustakaan
Botterman, Fricker. 2005. Membentuk Pribadi Unggul: Empat Pilar Utama Membangun Kompetensi Profesi dan pribadi. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Depag RI, 2004. Sejarah Madrasah, Jakarta, Dirjen Kelembagaan Agama Islam.
Hani Handoko, 2007, Managemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta.
Nawawi, Hadari. 2003. Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Toto Tasmara, 2004, Membudayakan Etos Kerja Islami,Jakarta, Gema Insani Press.


Bagikan Artikel ini ke Facebook