E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Teori dasar Pendekatan dalam Pengkajian Islam Taalah pemikiran Richard M. Eaton : Religion and Society Dalam Buku : Approaches to the Study of Conversion to Islam in India

Dibaca: 295 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:34:45 wib


Teori dasar Pendekatan dalam Pengkajian Islam
Taalah pemikiran Richard M. Eaton : Religion and Society
Dalam Buku : Approaches to the Study of Conversion
to Islam in India

Oleh : Sumanto

1. Pendahuluan
Studi kawasan mengkaji masyarakat Islam Di wilayah tertentu. Misalnya Studi kawasan Timur Tengah, studi kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan dan lain-lainnya. Studi kawasan merupakan salah satu bidang kajian dalam disiplin tradisional. Metodologi studi Islam dengan pendekatan yang ditawarkan Richard Martin memperjelas kerangka studi ini. Dengan meminjam teori-teori ilmu social, seperti antropologi, sosiologi, psikologi, analisis yang didapatkan menjadi lebih tajam.
Artikel yang ditulis oleh Richard M. Eaton ini adalah sebuah contoh studi kawasan khususnya mengenai konversi Islam di Anak Benua India. Richard M. Eaton memberi bukti-bukti yang cukupotentik mengingat kapasitasnya sebagai seorang ahli sejarah dalam mematahkan teori-teori konversi yang telah ada, dengan mengemukakan teori baru yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Problem (Kegelisahan Akademik)
Konversi sebuah kawasan khususnya di India merupakan fenomena komplek yang melibatkan sejumlah proses memungkinkan bermainnya banyak variable. Hal ini diakui oleh Eaton sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak menggali seluruh proses di mana penduduk sunkontinen menjadi komunitas muslim. Ada beberapa aspek yang dia abaikan dalam kajian ini, diantaranya proses imigrasi ribuan muslim dari beberapa wilayah muslim seperti Iran, Afghan dan turki ke subkontinen pada abat ke-13. Begitu juga dengan konversi elite Hindu seperti Brahmana dan Kayashta di tempat-tempat seperti Allhabat, Kashmir dan Lucknow. Kajian Eaton terfokus pada bagaimana Islamisasi masal penduduk pinggiran Negara Indo-muslim dan hubungan perubahan ekologis dengan perubahan agama.
Secara lebih khusus RichardM. Eatin ingin menjawab beberapa persoalan :
a. Bagaimana proses konversi itu dapat dijelaskan ?
b. Bagaimana mengukur pertumbuhan gerakan konversi itu ?
c. Sikap agen/pelaku yang merangsang dan membentuknya ?
d. Bagaimana peta geografis konversi India ?

3. Pentinya Topik Penelitian
Kajian Richard M. Eaton ini penting dalam mematahkan anggapan barat yang cenderung mendiskreditkan Islam. Anggapan Islam sebagai agama pedang telah menjadi tema historiografi barat mengenai Islam. Eaton menggambarkan proses Islamisasi di India tidak hanya bermotif politik, tetapi mengalir secara cultural dengan perantara benda-benda mati (makam para sufi)


4. Hasil Penelitian Terdahulu
Ada beberapa studi terdahulu yang menjelaskan terjadinya konversi di India yaitu teori agama pedang, teori patronase politik dak teori agama pembebasan social.
a. Teori pedang
Teori ini adalah teori paling tua yang merupakan tema dalam penulisan sejarah Barat tentang Islam, digunakan sejak perang salib dan digunakan untuk menjelaskan masuknya Islam di India. Teori ini mengemukakan bahwa Islam masuk India melalui jalan kekerasan politik, dengan jalan paksaan.
b. Teori patronase politik
Teori ini menjelaska terjadinya konversi karena keinginan mendapat kemudahan dari penguasa, seperti promosi jabatan, hadiah, pembebasan dari membayar pajak dan sebagainya. Teori ini dapat di terima dalam kasus konversi individual sebagaimana dikatakan Richard mengutip dari Ibn Battutah bahwa seorang muallaf menunjukkan dirinya kepada sultan Khalaji dan mendapat hadiah jubah kehormatan.Namun teori ini sulit untuk menjelaskan konversi missal yang telah lama terjadi di wilayah pinggiran.
c. Teori agama pembebasan social
Teori ini menyatakan bahwa konversi Islam di India lebih banyak dilakukan oleh kasta rendah yang ingin keluar dari penindasan kelas Brahmana. Teori ini dilaborasi oleh etnografer Inggris, nasionalis Pakistan dan Muslim India.

5. Kerangka Teori dan Pendekatan
Untuk memahami konversi Eaton,bahasan ini akan dijelaskan dalam empat sub bagian; penjelasan tentang teori konversi baru, ukuran perubahan dan agen perubah dan peta geogrfis konversi.
a. Teori Konversi Baru : Acretion dan Reform
Setelah mendobrak teori lama dalam menjelaskan konversi di India, Richard M Eaton mengemukakan satu teorinya : Acretion dan Reform (penambahan dan pembentukan kembali). Teori ini menjelaskan sebuah proses panjang konversi. Acretion atau penambahan adalah sebuah proses awal dari pertemuan Islam dengan agama local (Hindu). Gejala ini dapat dilihat dalam praktek penambahan dewa-dewa baru atau perantara-perantara adimanusiawi pada kosmologi yang ada atau mengidentifikasi dewa-dewa atau perantara-perantara baru dengan entitas yang ada atau kosmologi. Maka perantara supranatural, seperti Allah, Khidir, atau kawanan jin, dicangkokkan pada alam kosmologi yang sudah penuh, atau segi mana diidentikkan dengan perantara-perantara yang sudah ada.Identifikasi cukup dengan menyembah kepada Allah dan tidak mekan daging babi, manum masih berpartisipasi dalam ritual perdamaian desa terhadap dewa-dewa local untuk mencegah penyakit cacar atau bergabung dalam persembahan desa terhadap avatar Krisna.
Ada beberapa ciri yang dapat diidentifikasikan dalam proses penambahan ini. Dalam proses awal ini dapat dikatakan bahwa dalam aspek kehidupan personal adalah Islami seperti praktik Khitan, penguburan mayat, namun dalam kehidupan yang lebih luas masih bercampur dengan budaya (agama) lokal. Aspek penambahan juga tidak menuntut eksklusivitas komunitas muslim. Dalam bahasa social mereka masih merupakan komunitas yang tidak berbeda dengan budaya local.
Proses yang kedua, reform atau pembetukan kembali adalah proses identifikasi sebagai muslim. Komunitas muslim mempersepsi diri sendiri berbeda secara social dan bertindak secara sadar atas persepsinya tersebut. Penentangan terhadap praktik ritual non muslim menjadi contoh, sebagaimana juga pelaksanaan waris secara Islami yang berbeda dengan komunitas Hindu seperti pemberian setengah bagian bagi perempuan dari laki-laki. Juga praktik-praktik pola perkawinan silang keponakan yang dalam Hindu di pandan sebagai incest. Prktik-prakti semacan itu menjadi lazim sehingga komunitas Islam menjadi sadar untuk mengikuti satu model dalam tindakan dan ritual mereka, satu model yang mempunyai sumber otoritas yang sama sekali tidak berasal dari lokalitas nenek moyang mereka.
Ciri yang menonjol dalam masa ini, proses identifikasi muslim semakin jelas degan pelaksanaan Islam tidak hanya dalam aspek personal, namun juga dalam social kemasyarakatan. Proses pembentukan kembali ini terutama dipelopori oleh mereka yang pulang haji dari Makkah, suatu pengamalan yang mempertinggi kesadaran akan kebenaran universal Islam yang bertentangan dengan idiom-idiom local dan sangat particular.
b. Mengukur Gerakan Pertumbukan Konversi
Untuk mengetahui gerakan pertumbuhan konversi secara terukur, Eatin menggunakan perangkat symbol yang dijadikan petunjuk untuk melihat ekspansi geografis dan kronologis Islam di India, Berangkat dari pendekatan antropologi, seperti yang dikutip Eaton dari Melfo Spiro bahwa agama adalah institusi yang didalamnya terjadi interaksi manusiawi yang berpola secara cultural dengan wujud-wujud adimanusiawi yang dipostulatkan secara cultural, Eaton melihat tiga symbol atau mana yang menjadikan muslim berlawanan dengan Hindu (dalam hal ini) yaitu;
Pertama, seperangkat symbol yang merujuk dapa identitas manusia dalam hubungannya dengan wujud adimanusiawi, misalnya nama-nama orang seperti ‘Abd al-Rahman (hamba Tuhan). Kedua, seperangkat symbol yang merujuk bagi nama-nama bagi Tuhan seperti “Allah” sebagai ganti “Iswara” Ketiga, seperangkat symbol yang meruuk pada identitas tempat suci dimana interaksi terjadi, seperti dalam masjid sebagai pengganti kuil atau biara vaisnavite yang setia pada ibu-ibu dewa. Dari symbol pertama, dapat diketahui indeks proses pembentukan identitas muslim. Di Jat Punjab dari abad 13 hingga 19 awal identitas diri muslim berjalan lambat. Pada awal abad 15, 10 % pria sial mempunyai nama muslim, pada pertengahan abad 16, 56 % pada pertengahan abad 18, 75 % muslim dan awal abad 19, 100%. Angka pertumbuhan dari 10 %, 56 %, 75 % sampai 100 % menunjukkan sebuah proses dimana identitas diri muslim semakin terbentuk. Secara lebih jelas tergambar dalam grafik diatas.
Simbol kedua menjadi petunjuk untuk membedakan aspek pertambahan dan pertumbuhan kembali dalam proses konversi. Simbol ini dapat di ketahui penyebutan Tuhan Yang Maha Agung (Allah) oleh para penyair muslin local. Penyair abad ke-16 : Haji Muhammad menyebutkannya dengan, Khuda (Tuhan dalam bahasa Persia), dan Gosain (penguasa gembala). Penyair akhir abad-16 Sayyid Sulthan menyebut dengan nama Iswara (Tuhan Maha Agung), Khuda dan Prabu (penguasa), Niranjan (Tuhan Maha Agung). Penyair abad ke-18 Ali Riza menamainya Iswara, Allah Yagat Iswara (Raja Dunia), Niranjan dan Kartar (pencipta). Apa yang dilakukan para penyair tersebut merupakan peletakan fondasi intelektual bagi para pembacanya untuk dekat dengan Islam, yaitu dengan menyesuaikan kategori-kategori kognitif dari Islam dengan yang berasal dari tradisi local.
Simbol ketiga menunjukkan perkembangan Islamisasi, yaitu pada perubahan identitas tempat suci dimana interaksi keagamaan terjadi. Eaton menunjukkan perkembangan pembangunan masjid, baik masjid pribadi (kecil) maupun masjid jami’. Dua jenis masjid ii mempunyai nilai social berbeda. Pembangunan masjid kecil lebih mencerminkan keinginan sang pendiri untuk melaksanakan amal saleh dan tidak mencerminkan ekspresi ketaqwaan masyarakat luas. Sebaliknya, masjid maji’ dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan agama seluruh kota atau desa. Dari perkembangan pembangunan masjid jami’ ini, dapat dilihat perkembamngan kronologi dan juga geografi pertumbuhan komunitas muslim
c. Agen-agen Perubahan Konversi
Richard M Eaton mencatat tiga agen perubahan konversi di India, yaitu pedagang muslim, para kadi, dan sufi, khususnya makam suci orang-orang sufi. Sebagian penulis menurut Eaton menyakini bahwa pelaku perubahan adalah pedagang muslim yang maju pesat dibawah kondisi internal yang lebih stabil, yang tidak semata-mata bertujuan untuk evangelisme. Kontak social akibat dari ekspansi komersial dan kepercayaan dimana kemajuan komersial telah menciptakan kondisi yang tepat bagi akomodasi soaial dan dalam beberapa hal akulturasi. Proses ini lebih-lebih terjadi di sepanjang pesisir India –dari Gujarat hingga ke Malabar dan Coromandel, dan Bengal daripada daerah padalaman. Menurut Eaton peran pedagang yang melakuka perkawinan campur dengan penduduk local dapat meningkatkan jumlah penduduk muslim, namun tidak mempunyai peran penting dalam membangkitkan peranan agama dikalangan penduduk local.
Agen yang disebu lebih verpengaruh adalah kadi desa, salah satu figure kunci yang mentertai kemampuan regim muslim sebagai penguasa local. Kadi sebagai ulama berperan utama dan berkesinambungan dalam membangun keseragaman dikalangan berbagai penduduk desa karena mengikuti Islam secara informal. Para Kadi diangkat oleh penguasa pusat dan propinsi untuk menerapkan hokum Islam diseluruh kota dan desa yang mempunyai penduduk muslim. Secara teritik qadi menerapkan hokum syariah Islam hanya pada kasus criminal dan sipil yang melibatkan muslim, juga memutuskan kasus-kasus yang melibatkan muslim dan non muslim. Dengan cara ini non muslim masuk dalam orbit agama dan hokum Islam. Dengan cara ini, semua cara dan hidup kelompok-kelompok yang berbeda denga berbagai urutan pentingnya diputuskan oleh para kadi yang mewakili tradisi keagamaan dan hokum Isla, setidaknya dalam teori. Para kadi tidak hanya berperan sebagai wakil pengadilan di kalangan petani, namun juga sebagai model agama mereka sebelum rakyat pedalaman menjadi semi muslim.
Agen ketiga yang merupakan agen paling besar adalah sufi. Thomas Arnold sebagaimana dikutip Eaton mengatakan bahwa sufi berperan besar sebagai misionaris Islam. Namun hal ini disanggah oleh kaum sufi sendiri. Eaton menguatkan hal ini dengan mengatakan bahwa sufi yang masih hidup memberikan pengaruh kecil dalam kehidupan keagamaan kaum muslim di India. Tidak demikian pula dengan sufi yang sudah meninggal, khususnya makam-makam sufi yang dianugerahi predikat wali oleh penduduk local. Karena makam yang dibangun dari batu bata dan semen lebih berumur panjang daripada daging dan tulang sufi, upaya mempertahankan pusat-pusat keagamaan dengan cara ini dapat merentang selama berabad-abat. Bahkan orang suci dapat diwariskankepada keturunan dan keluarganya yang mewarisi otoritas spiritual berkaitan dengan makam suci, yang juga memperluar panjang berkah.
Kepercayaan terhadap Crisna dan berkah makan orang suci ini menjelaskan perkembangan pesat ratusan makan suci diseluruh sub kontinen. Makam-makam suci itu mempunyai karamah yang berbeda-beda satu dari yang lain, sebagian ada diyakini sebagai tempat penyembuhan penyakit. Namun pada intinya makan suci dipercayai sebagai perantara antara manusian dengan Tuhan.
d. Geografis Konversi
Konversi paling luas di India tidak terjadi di dataran agraris yang luas, tetapi di dataran pastoral dan wilayah lintas, dengan kata lain wilayah-wilayah dimana pola keagamaan yidak di stabilisasi oleh melek huruf seperti yang diwakili dan dipertahankan oleh Brahmana. Karena itu yang melakukan konversi bukan orang Hindu tetapi penduduk hutan dan pedusunan non agraris yang tidak pernah kontak denagn Brahmanisme dan stratifikasi social. Proses penyerapan penduduk kedalam Islam serupa dengan integrasi penduduk asli ke dalam kasta Hindu dan struktur ritual lainnay yang terjadi dalam awal sejarah India.
Wilayah yang paling massif konversi Islaminya adalah Bengal Timur dan Punjab Barat, dimana wilayah tersebut adalah wilayah pinggiran baik sudut pandang perbatasan sosio-ekologis dari masyarakat Hindu agraris, maupun dari proses transpormasi dari masyarakat Hindu non agrikulturallis menjadi agrikulturalis muslim. Berdasar factor uini, Eaton menyebut Islam di India sebagai agama bajak, bukan agama Pedang.
Dimensi pembentukan kembali dalam proses konversi di India setidaknya membawa dua implikasi penting lainnya, yaitu politik dan cultural. Implikasi politik adalah tuntutan bagi pemisahan agama muslim terhadap Inggris pada tahun 1947. Hal ini merupakan implikasi logis dalam proses konvewrsi yang menekankan eksklusivitas social. Gerakan ini merupakan cermin hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah dan membentuk sebuah pemerintahan di Madinah. Implikasi kulturalnya adalah apa yang Eaton sebut dengan kesadaran diri untuk mengadopsi budaya Arab. Dari sudut pandang keagamaan, perkembangan politik dan budaya ini dipandang sebagai uapaya menyem[purnakan proses konversi yang berakar mendalam dalam sejarah sub kontinen.

6. Ruang Lingkup Dan Istilah Kunsi Penelitian
Ruang lingkup Studi Richard M. Eaton ini adalah konversi Islam di India dengan tawaran teori konversi baru dan metodologi yang lebih tepat dalam menjelaskan proses konversi tersebut. Kata kunci yang di gunakan Richard M. Eaton adalah konvversi Islam.



7. Kontribusi Dalam Ilmu-Ilmu Keislaman
Studi Richard M. Eaton ii memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu keislaman terutama dalam hal : pertama, menyumbangkan salah satu alternative pendekatan dalam pengkajian Islam. Khususnya studi kawasan. Dalam studi konversi ini, Richard menawarkan sebuah bangunan metodologi yang terbangun dari perangkat ilmu-ilmu social. Kedua, memberikan pandangan yang berbeda dengan woldview masyarakat Barat dalam menilai perkembangan Islam. Ketiga, menawarkan sebuah teori baru dalam studi konvers, yaitu accretion dan reform yang dapat di terapkan terutama dalam perubahan masyarakat beragama. Teori ini mungkin dapat di terapkan dalam mengkaji perubahan keberagamaan masyarakat di Indonesia dari pandangan-pandangan tertentu kepandangan-pandangan tertentu lainnya.

8. Logika Dan Sistematika Penulisan
Richard M. Eaton mengawali tulisannya Approarch to the study of Convertion to Islam in India, dengan memaparka sedikitnya keterkaitan intelektual dalam megkaji Islam di wilayah non Timur Tebngah. Dia mengungkapkan problem metodologi adalah salah satu alasannya, terutama ketika akan menjelaskan proses konversi yang terjadi di negara-negara seperti Anak benua India.
Selanjutnya Eaton memaparkan beberapa teori terdahulu yang dikatakannya gagal dalam menjelaskan proses konversi di India, dan memberikan bukti-bukti kegagalan tersebut. Eaton kemudian mengemukakan teori konversi barunya, yaitu accretion dan reform. Eaton memberikan bukti-bukti perubahan itu dengan menjelaskan bagaimana teori konversi itu bekerja, disamping mengungkapkan tiga agen perubah yang dari sana dapat diketahui proses ekspansi geografis dan kronologis Islam di India. Tidak lupa penjelasan tentang peta geografis muslim.

Bagikan Artikel ini ke Facebook