E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

ANALISIS SASTRA TERHADAP AL-QUR`AN TAFSIR DAN SIRAH (John Wansbrough)

Dibaca: 77 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:36:22 wib


ANALISIS SASTRA TERHADAP AL-QUR`AN
TAFSIR DAN SIRAH
(John Wansbrough)

A. Pendahuluan
Berawal dari pandangan “What relly happened”, (Apa yang sesungguhnya terjadi), terhadap agama-agama yang ada, dan yang sudah ada. Yahudi dan Kristen yang merupakan agama-agama “dalam sejarah” sudah diterima banyak orang tanpa ada telaah ilmiah. Agama identik dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang dikafer dan diintervensi oleh Tuhan yang dianggap sebagai kebenaran mutlak yang telah dibuktikan melalui ajaran-ajaran kebaikan (misionaris). Dalam studi agama, yang memandang agama bukan sebagai teologis, akan tetapi memandang agama sebagai kajian sejarah agama sehingga akan menemukan kebenaran ultimo atau kepalsuan agama.
Upaya dalam akjian agama tergantung pada pandangan sejarah tertentu yang digunakan para sejarawan, karena akan membawa pada dugaan bahwa sumber yang tersedia untuk mengetahuinya adalah “kitab suci”. Kitab suci yang diyakini dalam agama terdapat sejarah-sejarah yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan akibat sejarah yang positif. Pandangan ini menggiring sejarawan untuk mengetahui tentang Islam. Karena Islam adalah agama memiliki “kitab suci” yang didalamnya terdapat sejarah-sejarah dan dijadikan pedoman, pandangan, perilaku hidup untuk mencapai keberhasilan yang dapat ditafsirkan dan disesuaikan dengan zaman.
Keinginan untuk merekan apa yang sedang terjadi pada masa lalu adalah suatu tugas yang tidak masuk akal atau secara teoritik adalah tugas yang tidak mungkin. Islam merupakan sejarah yang harus ditemukan. Tetapi untuk mencapai hasil positif tidak harus menyebabkan untuk mengabaikan sifat-sitaf sastra dari sumber-sumber yang ada, terutama Al-Qur`an.

B. Kegelisahan Akademik
Kegelisahan akademik John Wansbrough berawal dari kesulitan mengkaji Islam masa awal baik kuantitas data arkeologi, bukti numistik, dan dokumen-dokumen yang ada, karena sangat sedikit bahan-bahan yang tersedia yang dapat memberikan kesaksian “netral”, untuk mengkaji Islam. Bukti-bukti yang berasal dari sumber-sumber di luar komunitas itu sendiri tidaklah banyak dan upaya merekontruksi bahan-bahan ini kedalam kerangka historis juga mengahadapi kesulitan, karena adanya keterbatasan sumber. Sumber tersebut merupakan otentitas sejarah yang dapat dipertanyakan dan lebih penting lagi semua sumber itu adalah karya-karya yang dibangun atas dasar “polemik”.
Untuk menemukan kegelisahan yang dialaminya, John Wansbrough, memberikan solusi sebagai upaya yang terkenal dengan “Salvation History” (Sejarah Penyelamatan). Apapun sumber yang ada yang jelas mampu membantu dalam kajian Islam. Teks-teks yang ada merupakan literature yang berasal dari dua abad setelah fakta terjadi. Informasi yang terkandung dalam Al-Qur`an ditulis dalam dua abad yang mampu mendokumentasikan basis keimanan, validitas kitab suci dan bukti rencana Tuhan bagi manusia.

C. Pentingnya Topik Penelitian
Penelitian John Wansbrough penting untuk memberikan penjelasan bahwa Al-Qur`an itu terbatas. Keterbatasannya bukan pada tafsirnya, akan tetapi nilai sejarahnya.
Secara history anekdot-anekdot yang dikemukakan dalam Al-Qur`an, kemudian dicatat dan disampaikan dengan tujuan untuk memberikan gambaran-gambaran situasi di mana penafsiran Al-Qur`an dapat terbentuk. Materi-materi yang tercatat dalam tafsir bukan karena nilai sejarahnya tetapi nilai tafsirnya.
John Wansbrough mengemukakan kritik terhadap nilai sumber dari sudut pandang sastra dengan tujuan untuk melepaskan pandangan-pandangan teologis dari sejarah dalam asal-usul Islam. Fakta-fakta kesusastraan yang mendasar tentang materi yang ada dalam Al-Qur`an tersebut sering diabaikan dalam kajian Islam dengan maksud untuk menemukan akibat-akibat histories yang positif. Sebagai contoh tentang kategori informasi yang sering disebut dengan “asbaab al-Nuzul”, yang berguna untuk merekam peristiwa sejarah yang berkenaan dengan pewahyuan ayat-ayat Al-Qur`an.

D. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian John Wansbrough ini melanjutkan penelitian terdahulu mengenai analisis sastra terhadap Al-Qur`an yang dikemukakan dalam “Hagarism” (kekurangan atau masalah) oleh Patricia Crone dan Michael Cook yang mengupayakan rekontruksi masalah-masalah yang dihadapi dalam studi Islam. Akan tetapi John Wansbrough memandang bahwa penelitian terdahulu baru menyoroti rekontruksi bahan-bahan yang nampak saja dan kurang memberikan kesaksian tafsir, sehingga masih mengalami kesulitan-kesulitan karena keterbatasan sumber.
Untuk memberikan keleluasaan dalam memberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan tersebut, John Wansbrough juga mengeluarkan dua buku :
1. Qur`anic Studenes : Sources And Methods Of Spiritual Interpretation. Ditulis pada tahun 1968 dan 1977, yang isinya berkaitan dengan penyusunan/pembentukan Al-Qur`an bersama-sama dengan kesaksian tafsir atas proses pembentukan tersebut. Boleh dibilang buku ini adalah “Asbaab al-Nuzunya Asbabu Nuzul” (menerangkan sebab-sebab turunnya kejadian dengan menerangkan dengan memaparkan gagasan-gagasan yang bersifat “tentatif” (percobaan sementara sampai menemukan kebenaran)
2. The Secration Miliu : Content and Composition of Islamic Salvation History. Ditulis pada tahun 1973 dan 1977 dipublikasikan tahun1978. Buku ini merupakan tafsirnya buku yang pertama, yang berisikan tema evolusi Islam lebih jauh melebihi biografi Muhammad, kemudian melalui proses elaborasi teologi Islam sebagai komunitas keagamaan, menguji otoritasnya, identitas dan epistimologinya.
Kedua buku ini berusaha memberikan jawaban dari keraguan-keraguan para sejarawan yang tidak bisa dipaparkan dalam beberapa kajian-kajian Islam. Beberapa keraguan yang timbul sehingga kedua guku ini ada adalah sebagai berikut :
1. Apakah kita memiliki kesaksian atau sumber yang tidak memihak tentang pandangan muslim mengenai pembentukan komunitasnya ?
2. Apakah ada bukti yang mendukung akurasi histori pandangan-pandangan tradisional mengenai kompilasi kitab Al-Qur`an setelah nabi Muhammad wafat ?
3. Apakah teks Al-Qur`an bisa dijamin kelengkapannya, mengingat bukti manuskrip tidak menyediakan penanggalan awal ?.
Berdasarkan keraguan yang dialaminya, dalam buku ini, John Wansbrough menjawab secara mendasar dan radikal, yaitu semua korpus dokumentasi Islam pada masa awal harus dipandang sebagai “Salvation History “(Sejarah Penyelamatan). Apa yang dibuktikan dalam Al-Qur`an adalah apa yang dijelaskan oleh karya-karya tafsir, sirah dan teologi adalah bagaimana rangkaian peristiwa dunia yang terpusat pada masa Muhammad yang diarahkan oleh Tuhan. Seluruh sejarah penyelamatan sejarah Islam adalah sarana untuk menyaksikan titik iman yang sama yaitu pemahaman sejarah yang melihat peran Tuhan dalam mengarahkan urusan-urusan manusia.

E. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan oleh John Wansbrough adalah “literary analisis” (Analisis sastra) dengan alasan sebagai berikut :
1. Al-Qur`an berbentuk sastra yang memiliki konteks historisnya sendiri.
2. Karena sejarah penyelamatan yang sampai pada kita saat ini dalam bentuk sastra dan harus didekati dengan alat yang layak yaitu analisis sastra.
3. Analisis sastra telah dipergunakan para sejarawan terdahulu dalam studi injil dan studi Mishna. Sebagai contoh adalah Bultmann dan Neusner, yang mengemukakan bahwa segala catatan-catatan sastra tentang sejarah penyelamatan yang disajikan dalam kitab-kitab merupakan sesuatu yang kontemporer dengan peristiwa-peristiwa yang dijelaskan, sesungguhnya milik periode sesudah periode tersebut terjadi, yang menandakan bahwa catatan-catatan sejarah itu ditulis sesuai dengan sudut pandang dengan tujuan untuk menyesuaikan diri dengan tujuan-tujuan masa kemudian.
Terlepas dari ada atau tidak inti kebenaran histories tersebut, yang penting adalah bentuk “existence of such” (pengakuan eksistensi) yang dapat dibuktikan dengan catatan-catatan eksistensial tentang pemikiran dan keimanan generasi kemudian. Dukungan atas pemikiran John Wansbrough adalah Goldziher dan Scach yang menggunakan pendekatan analisis sastra, yang memahami bahwa Al-Qur`an adalah sabda-sabda yang disandarkan pada Muhammad untuk mendukung posisi hukum atau doktrin dalam Islam yang sebenarnya berasal dari periode kemudian, dari masa-masa ketika posisi hukum disebut sunnah.
Argumen John Wansbrough dalam memilih pendekatan kajian Islam melalui “literary analisis”, adalah “khusnudhon” . Secara murni ini adalah pendapat penulis makalah ini, yang ditangkap melalui penyataan John Wansbrough sendiri yaitu :
Kita tidak tahu dan mungkin tidak pernah dapat mengetahui apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi; semua yang kita ketahui sekarang adalah apa yang dipercaya telah terjadi oleh orang yang datang kemudian, seperti terekam dalam sejarah penyelamatan.
Literary analisis atau analisis sastra atas sumbangan bersumber semacam itu akan menyatakan pada kita komponen-komponen yang digunakan untuk menghasilkan pandangan-pandangan mereka dan mendefinisikan secara tepat apa yang mereka kemukakan, akan tetapi analisis sastra tidak akan bicara apa yang terjadi melainkan kemungkinan implikasi histories yang tidak boleh diabaikan.

F. Ruang Lingkup dan Istilah Kunci Penelitian
Ruang lingkup John Wansbrough tentang analisis sastra terhadap Al-Qur`an tafsir dan sirah dengan pendekatan “Literary Analisis” atau analisis sastra. Kata kunci yang digunakan adalah “metode skeptisisme sehat”, (kecurigaan yang sifatnya positif) yang dikembangkan dalam studi injil terhadap studi Islam dan Al-Qur`an, dengan tujuan untuk menggantikan metode positivisme. Metode positivisme yaitu segala kajian yang ada dalam teks Al-Qur`an bersepakat tanpa protes terhadap data normative yang berasal dari tradisi. Akan tetapi metode skeptitisme sehat yang dikemukakan oleh John Wansbrough, berusaha membebaskan seseorang dari praduga-praduga lama dan menerapkan praduga-praduga baru untuk membebaskan studi Al-Qur`an dari kecenderungan fundamentalis. Fundamentalis adalah perlakukan secara modern terhadap kitab Al-Qur`an dimana gagasan tentang makna atau maksud yang asli diburu tanpa kena lelah.
Pandangan fundamentalis menurut pandangan John Wansbrough secara “ultimo” tidak bermakna, karena ada beberapa kelemahan. Pandangan fundamentalis menggunakan pendekatan :
1. Hidtori filosofis, artinya peneliti akan terperangkap oleh konsekwensi spesialisasi yang sempit pada sebagian penganjurnya.
2. Filologi juga melahirkan stagnasi kajian Islam di dalam kerangka fundamentalis.
3. Irenic yang menurut Cahrles Adams bertujuan untuk menuju penghargaan yang besar atas keberagaman Islam dan membantu berkembangnya sikap baru terhadapnya, telah melahirkan keengganan sebagain sarjan untuk mengikuti semua cara penyelesaian pandanagn dan hasil-hasil mereka.
Analisis John Wansbrough tentang kunci penelitian masalah karakter Al-Qur`an menyatakan penilaian mengenai luasnya penggunaan beberapa pendekatan terhadap Al-Qur`an yang berasal dari “Traditional Stok Of Monotheistic Imagery” (bahan tamsil monoteistik tradisional) yang memandang Al-Qur`an sebuah gaya referensi yang mampu mengisi detail-detail yang hilang dalam narasi, sehingga kesejatiannya bisa mapan dan stabil (berdasarkan struktur politik) yang jauh dari lingkungan intelektualitas aslinya dan membutuhkan eksplikasi tertulis yang tersedia dalam tafsir dan sirah.

G. Kontribusi Dalam Ilmu-Ilmu Keislaman
John Wansbrough memberi beberapa kontribusi dalam pengetahuan keislaman antara lain :
1. Memberikan arah baru bagi kajian Islam agar dapat merevitalisasi dirinya sendiri, artinya dunia Islam diarahkan untuk menyakini dengan sikap kecurigaan yang sifatnya positif, sehingga timbul kecenderungan untuk meneliti.
2. Memberikan ide pengkajian kitab suci Al-Qur`an dengan fenomena relasional (keterbukaan), karena teks-teks yang ada di Al-Qur`an merupakan literature yang mampu mendokumentasikan basis keimanan, validitas kitab suci dan bukti rencana Tuhan bagi manusia


H. Sistematika Penulisan
Penelitian yang ditulis John Wansbrough terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama membahas latar belakang yang mendorong John Wansbrough mengadakan penelitian yang berangkat dari “What relly happened”, (Apa yang sesungguhnya terjadi), terhadap agama-agama yang ada, dan yang sudah ada. Bagian kedua menjelaskan beberapa indikasi kelemahan pendekatan yang terdahulu tentang Al-Quran, kemudian John Wansbrough, memberikan solusi baru dengan manggunakan pendekatan baru pula. Bagian ketiga memaparkan lebih detail tentang pendekatan yang diberikan berupa “Literary Analisis” atau analisis sastra, tentunya tidak akan melepaskan beberapa pendekatan yang sudah ada.

I. Kesimpulan
Kajian yang dilakukan oleh John Wansbrough tentang analisis sastra terhadap Al-Qur`an tafsir dan sirah memiliki banyak manfaat. Penelitian yang dilakukan memilki kelebihan antara lain :
1. Segala kajian yang ada dalam teks Al-Qur`an bersepakat tanpa protes terhadap data normative yang berasal dari tradisi. Akan tetapi pendekatan yang diterapkan John Wansbrough, berusaha membebaskan seseorang dari praduga-praduga lama dan menerapkan praduga-praduga baru untuk membebaskan studi Al-Qur`an dari kecenderungan perlakuan secara modern dimana gagasan tentang makna atau maksud yang asli diburu tanpa menghirauan tafsir dan sirah.
2. Pendekatan tafsir dan sirah dalam Al-Qur`an dengan analisis sastra, mampu mengisi detail-detail yang hilang dalam narasi, sehingga komponen-komponen yang digunakan untuk menghasilkan pandangan-pandangan tafsir baru dapat didefinisikan secara tepat tanpa menghilangkan tanpa mengabaikan implikasi histories yang sudah ada.

J. Daftar Pustaka

Charles J. Adam, " Islamic Religiuos Tradition", dalam Leonard Binder (ed.), The Studi of the Middle-East, New York, Wiely & Sons, tt.

Djam'annuri, Studi Agama-agama : Sejarah dan Pemikiran, Pustaka Rihlah, 2003

John Wansbrough, The Secration Miliu : Content and Composition of Islamic Salvation History, Oxford University Press, 1978.

_____________, Qur`anic Studenes : Sources And Methods Of Spiritual Interpretation, Oxford University Press, 1978.

Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, Surakarta, UMS, 2007.






Bagikan Artikel ini ke Facebook